Pages

18 September 2019

Orang berkebutuhan khusus itu sumber inspirasi yang fenomenal!

Inspirasi #1 : Aksara Braille

Saya adalah pengunjung rutin Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah yang berlokasi di Jalan Sriwijaya No. 24, Semarang, Jawa Tengah. Perpustakaan tersebut telah mengalami perkembangan yang sangat drastis semenjak pertama kali saya berkunjung lebih kurang 20 tahun yang lalu. Seiring dengan perkembangan jaman, Perwil -- demikian sebutan yang saya dan kawan-kawan segenerasi berikan, merujuk pada nama sebelumnya, yakni Perpustakaan Wilayah -- senantiasa mengalami modernisasi. Lebih lanjut, seiring dengan menguatnya kepedulian terhadap warga berkebutuhan khusus, Perwil baru-baru ini memperlekapi diri dengan fasilitas baca untuk pengunjung yang berkebutuhan khusus. 

Terilhami oleh inisiatif pengelola Perwil, angan saya melayang seandainya saya dapat memiliki kemampuan untuk mempergunakan aksara Braille yang kegunaan khususnya diperuntukkan bagi orang tunanetra. Saya kemudian berbincang dengan salah seorang kawan, Bung P, tentang keinginan untuk mempelajari aksara Braille. Bung P menambahkan bahwa pada saat bulan Ramadhan beliau mendapati seorang tunanetra yang ikut kegiatan tadarus di Masjid. Ketika terjadi padam listrik yang menyebabkan lampu masjid menjadi padam, orang tersebut lah yang melanjutkan tadarus. Suasana gelap bukanlah halangan karena orang tersebut mengaji dengan menggunakan Al-Qur'an beraksara Braille. 

Saya berkontemplasi mengenai kelangkaan energi yang menyebabkan pemadaman listrik. Bagi orang yang gemar membaca sudah barang tentu padamnya listrik akan menghambat kegiatannya. Saya berpikir, alangkah menguntungkannya jika saya membekali diri dengan penguasaan aksara Braille, untuk mengantisipasi keadaan darurat seperti listrik padam, terutama pada malam hari, sementara saya perlu membaca. 

Inspirasi #2 : Bahasa Isyarat

Dua hari yang lalu pada saat saya berangkat ke sekolah dengan menumpang bus Trans Semarang (jaringan BRT yang beroperasi di Kota Semarang) saya duduk bersebelahan dan berhadapan dengan tiga orang siswa Sekolah Luar Biasa dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Saya kemudian mendapati bahwa mereka adalah siswa tunawicara. Ketiga adik yang sekiranya berjenjang pendidikan SLTA tersebut (jika ditilik dari seragam yang mereka kenakan) berbincang asyik menggunakan bahasa isyarat. Mesin bus menderu bergantian dengan bunyi bising di sepanjang jalan. Ketiga adik tersebut tanpa hambatan berkomunikasi, bercanda, dan saling melempar argumen. 

Saya memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan berpikir keras: seandainya saya mampu mempergunakan bahasa isyarat maka komunikasi pada situasi apapun akan lancar tanpa hambatan berarti. Terlalu sering saya mendapati keadaan di mana orang berbincang dengan suara yang lantang, bahkan terkesan "menyiksa diri" di tengah kebisingan. Terlebih di dalam lingkup kota Semarang, kebisingan adalah makanan sehari-hari kehidupan masyarakat yang berada di kota tersebut. Bahasa isyarat boleh jadi merupakan salah satu jembatan penolong untuk membatu efektivitas berkomunikasi. 

Bulan September yang terlalu ceria. Sebuah inspirasi yang fenomenal dari saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus. Mereka memang khusus, The Special Ones.

Mitologi di dalam tradisi bangsa Jepang

Olimpiade Tokyo 2020 akan menjalani upacara pembukaannya kurang dari satu tahun lagi semenjak tulisan ini diunggah. Jepang merupakan sebuah bangsa di kawasan Asia yang yang memiliki tradisi kebudayaan yang sangat panjang. Di dalam menyambut Olimpiade 2020 dan untuk lebih mendekatkan diri pada bangsa Jepang perlulah kiranya kita mengetahui banyak hal mengenai bangsa dan masyarakat Jepang. Hal ini penting terutama bagi siapa saja yang berencana untuk mengunjungi negara tersebut selama Olimpiade berlangsung. Tulisan kali ini menyajikan mitologi bangsa Jepang. 


Sebelum masuk kepada pembahasan tentang mitologi, kita perlu mempelajari tentang pengelompokan tradisi yang berlaku bagi bangsa Jepang. Terdapat dua kelompok tradisi, yakni Tradisi Besar dan Tradisi-tradisi kecil. Pada awal abad ke-20, Yanagita Kunio, dan kemudian dilanjutkan oleh Origuchi Shinobu, menghimpun cerita rakyat (folklore) yang berasal dari petani dan masyarakat biasa, yang menurut keyakinan Yanagita keberadaannya tidak bertahan lama. Yanagita khususnya berpendapat bahwa folklore tersebut adalah cerita "asli" dan "otentik" masyarakat jepang, dan maka dari itu merupakan inti dari karakteristik Jepang (Japaneseness) yang tradisional dan riil yang membentuk bangsa Jepang. Banyak dari mitos yang dihimpun oleh Yanagita dan Origuchi yang berkarakteristik unik dan tempatan, cerita-cerita yang tidak selamanya mencerminkan hal-hal yang diajarkan di institusi sekolah yang menjadi sekumpulan tradisi Jepang, setidaknya menurut versi pemerintah. Di luar dugaan, banyak dari mitos tersebut bertolak belakang dengan mitos-mitos yang lazim diajarkan dan secara berulang kali disebutkan di dalam kompilasi-kompilasi monumental tradisi-tradisi Jepang, seperti Kojiki dan Nihonshoki. Kompilasi-kompilasi tersebut telah berulang kali diterbitkan dan disebarkan pada abad ke-18 sebagai bagian dari usaha ideologis untuk "merenovasi" masyarakat Jepang. Cara membedakan antara Tradisi Besar dan Tradisi-tradisi Kecil diperkenalkan oleh seorang pakar antropologi bernama  Robert Redfield. Ia boleh dikatakan hidup sejaman dengan Yanagita, namun memilih lokasi penelitiannya di Meksiko (Ashkenazi, 2003: 4). 

"Tradisi-tradisi kecil" merupakan sejumlah rangkaian kepercayaan dan praktek tempatan yang ditemukan di semua kelompok manusia, namun secara lebih khusus lazim di dalam masyarakat yang relatif mandiri, meskipun masyarakat tersebut tidak kemudian terpencil. Tradisi-tradisi kecil berbeda antara masyarakat satu dan yang lain, cenderung sangat luwes dan dapat berubah, serta jarang dicatat karena orang-orang yang menuturkannya sering kali tidak mengenal baca-tulis. Tradisi-tradisi kecil menitikberatkan pada masalah-masalah langsung di dalam masyarakat: yakni keluarga, tanggung jawab, pertanian, dan kesehatan. Tradisi-tradisi kecil pada hakekatnya adalah mitologi dari masyarakat kebanyakan. Sebaliknya, 

Tradisi Besar dari suatu bangsa atau kebudayaan cenderung ditulis, dicetak di dalam buku-buku, mengalami kodifikasi, dan sifatnya hampir "beku". Tradisi besar dikendalikan oleh masyarakat kelompok elite (yang biasanya melek huruf, dan selalu berkuasa) serta cenderung menanfaatkan tradisi tersebut untuk glorifikasi bangsa, agama, kebudayaan, yang menurut pendapat kelompok elite, menentukan tujuan mereka sendiri (Ashkenazi, 2003: 4). 


Hubungan antara Tradisi Besar dan Tradisi-tradisi Kecil bersifat dinamis. Melalu para pendukungnya, yakni para elit melek huruf, berusaha memobilisasi orang di seluruh masyarakat untuk mencapai tujuan yang mereka pimpin. Tradisi Besar mencakup elemen-elemen cerita dan mitos tempatan sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk mendukung mitos-mitos sentral dari elite dan bangsa. Tradisi-tradisi Kecil masuk ke dalam Tradisi Besar namun sering bermuatan tema-tema yang sifatnya tidak sentral bagi Tradisi Besar. Di antara muatan Tradisi-tradisi Kecil tersebut adalah kelaparan, patriotisme tempatan, masalah yang dihadapi oleh petani dan produsen. Bahkan, boleh jadi Tradisi-tradisi Kecil sering menjadi antithesis bagi Tradisi Besar, yakni melalui tema-tema pemberontakan. Pada waktu yang sama, Tradisi-tradisi kecil dapat mengambil dan beradaptasi dengan mitos-mitos yang lahir dari Tradisi Besar sesuai dengan tujuan tempatannya masing-masing (Azhkenasi, 2003: 5).

Di dalam lingkup bangsa Jepang, keberadaan lokalisme (paham tempatan) senantiasa bersitegang dengan paham/semangat bangsa Jepang (Japanism). Artinya, bahwa sebagian besar kepentingan pribadi dan investasi  emosional (emotional investment) ditujukan pada masyarakat tempatan (buraku [desa] dan ie [rumah tangga/keluarga]). Masyarakat yang ukurannya lebih luas, dalam hal ini bangsa (domain feudal: han), tidak begitu diperhatikan oleh sebagian besar orang kecuali mereka yang berada di dalam kekuasaan. Sebagai hasil langsung dari dikotomi ini, pemerintah pusat (bilamana sangat berkuasa dan mampu menjalankan kekuasaan tersebut) senantiasa harus berusaha keras untuk melakukan "nasionalisasi" mitos-mitos tempatan guna membentuk dan memperkuat bangsa sebagai satu kesatuan ketimbang sebagai kelompok masyarakat yang terpisah (Ashkenazi, 2003: 5). 

Tradisi-tradisi bangsa Jepang, termasuk yang bersifat mitos, dipengaruhi oleh banyak sumber dari luar, terutama dari India dan Cina. Kedua bangsa luar ini menyumbang banyak sekali mitos bagi bangsa Jepang melalui ajaran Buddha. Mitologi Ainu adalah sebuah kristalisasi dan ungkapan dari tradisi-tradisi yang dapat dijumpai di masyarakat Jepang yang berada di daerah Utara dan Barat Laut. Terdapat pula kemungkinan melacak kesamaan antara mitos-mitos bangsa Jepang, misalnya mitos dua bersaudara Izanagi dan Izanami sebagai pencipta tanah, dan mitos-mitos dari kebudayaan proto-Polynesia yang berkedudukan di rantai pulan yang membentang ke arah Selatan, yakni dari Jepang melalui orang Ryukyu, menuju Taiwan, kemudian ke Filipina di mana mitos ini dituturkan kembali dalam banyak varian (Ashkenazi, 2003: 5-6).

Salah satu dari mitos-mitos utama bangsa Jepang adalah mitos Jepang itu sendiri. Jepang secara kesatuan adalah sebuah bangsa, yang memiliki keunikan dalam hal kebudayaan. Mitos ini merupakan bagian dari Tradisi Besar, seperti yang dituturkan di dalam dokumen-dokumen tertulis, yakni Kojiki dan Nihonshoki. Tradisi Besar dari mitos-mitos bangsa Jepang sangatlah hidup di dalam masyarakat modern bangsa tersebut. Sebagian besar orang Jepang akan masih mempercayai hal-hal berikut ini:
  • Bahasa Jepang unik, tidak memiliki kesamaan dengan bahasa-bahasa lain.
  • Kebudayaan Jepang, dan khususnya cara berpikir orang Jepang, tidak dapat dipahami oleh bangsa lain. Hal ini khususnya benar berkenaan dengan komunikasi bahasa Jepang, yang sangat mengandalkan emosi yang tak tersurat yang ditularkan di antara orang Jepang.
  • Asal-usul bangsa Jepang unik. 
  • Rangkaian perkembangan kebudayaan Jepang sebagian besar tidak berhubungan dengan perkembangan-perkembangan bangsa lain di dunia.

(Ashkenazi, 2003: 7).

Seperti halnya mitologi-mitologi lainnya, mitologi bangsa Jepang memiliki latar belakang kejadian nyata. Dalam prakteknya, sekurang-kurangnya sejumlah figur yang dianggap pahlawan (hero) di dalam mitos bangsa Jepang merupakan figur nyata di dalam sejarah (Azhkenazi, 2003: 12). 

Selain ajaran Buddha, ajaran Shinto juga menyumbang kekayaan mitologi bangsa Jepang. Shinto merupakan agama asli bangsa jepang, namun tidak diakui keberadaannya hingga masyarakat merasa perlu membedakan praktek-praktek keagamaan mereka dari ajaran Buddha (orang Jepang menyebutnya Bukkyo atau Butsu-do). Agama tempatan berpedoman pada pemuliaan, dan pujian kepada, roh-roh tempatan yang menghuni di dalam objek-objek materiil, biasanya bersifat alami (natural) maupun peri-natural. Pegunungan, pepohonan yang tidak lazim, air terjun, air, bebatuan yang bentuknya unik, dan objek-objek lainnya dianggap memiliki kekuatan (kami) yang mempengaruhi kehidupan manusia. Roh-roh orang yang telah meninggal juga memiliki kedudukan yang sama di dalam mitologi; orang yang telah meninggal dianggap hidup di dalam sebuah tempat yang gelap dan lembab, seperti halnya konsep klasik Yunani mengenai neraka. Kami dapat dan benar-benar bersemayam di segala hal dan apapun yang mengilhami perasaan kagum atau bahkan kepentingan besar. Hingga kini di Jepang masih terdapat pepohonan, bebatuan, air terjun, dan batu-batu yang berbentuk aneh yang dianggap sebagai kami. Menambah deretan benda tersebut, bangsa Jepang juga memiliki mitos yang berhubungan dengan matahari, pegunungan, dan sifat-sifat geografi dan alam lainnya (Ashkenazi, 2003: 27).

Pelaku mitologi Shinto adalah individu, baik dewa, manusia, maupun hewan, ayang memiliki kami. Semua pelaku harus memiliki kemurnian untuk mencapai kedudukannya, apakah itu dewa maupun manusia. Menurut mitologi bangsa Jepang, manusia dapat saja memiliki kami yang lebih dibandingkan dewa (Ashkenazi, 2003: 29).

Istilah kami memiliki sifat yang kompleks; kata ini dapat berkedudukan sebagai kata benda maupun kata sifat. Sebagai kata benda, kami berarti sesuatu yang memiliki kekuatan yang memiliki kepentingan di dalam kehidupan manusia dan kemampuan untuk mempengaruhi hubungan manusia, baik secara langsung maupun tidak, dengan mempengaruhi kegiatan-kegiatan kami, hewan, atau kejadian-kejadian dan sifat-sifat alam lainnya: singkatnya, kami setara dengan dewa. Sebagai kata sifat, kami memiliki kedekatan makna dengan "suci": sebuah kualitas yang misterius dan lebih yang dimiliki oleh berbagai makhluk hidup, termasuk hewan dan manusia. Kami [kata benda] merasuk ke dalam kami [kata sifat] dalam beberapa aspek, meskipun keduanya dapat kehilangan kualitasnya (Ashkenazi, 2003: 29).

Referensi:
Ashkenazi M. (2003). Handbook of Japanese Mythology. Santa Barbara, CA: ABC-CLIO. 
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.