Pages

3 March 2019

Peristiwa 1998 di mata saya

Prologue

Sebagai seseorang yang dilahirkan pada era 1970an dan berkesempatan ikut mengenyam pendidikan dan memperoleh akses informasi saya memiliki hak dan suara, sedikit apapun itu bagiannya, untuk mengemukakan Peristiwa 1998. Peristiwa 1998 telah berlalu lebih dari dua dasawarsa, namun bilamana peristiwa tersebut masih diperbincangkan hingga saat ini maka Peristiwa 1998 merupakan sebuah masa yang berarti bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Peristiwa 1998 merupakan konsekuensi dari sebuah perubahan dan menjadi salah satu wujud dari usaha revolusioner. Di banyak tempat revolusi memerlukan biaya yang mahal. Berulangkali revolusi menyebabkan terjadinya kekacauan. Terlalu rumit jika saya menanggapi Peristiwa 1998 sebagai sebuah grand design dari pihak-pihak asing. Hal yang lebih penting ialah kita selaku warga negara di dalam merespon grand design tersebut (jika memang ada). Peristiwa 1998 bukan sepenuhnya kehendak rakyat melainkan persetujua rakyat kepada ajakan dari pihak luar untuk melakukan perubahan. Ini merupakan konsekuensi bagi Indonesia selaku warga masyarakat internasional. Namun, sudahlah jika memang demikian. Menuduh pihak luar sebagai aktor intelektual Peristiwa 1998 bukanlah langkah yang memecahkan masalah. Sebesar apapun desakan dari pihak luar, apabila kita memiliki ketahanan, maka kita akan menolaknya.

Secara teknis rakyat telah mengerti bahwa revolusi adalah perubahan yang besar-besaran. Bahkan, sebagian rakyat pernah mengalaminya pada masa sebelum 1998. Rakyat telah mengerti akibat dari revolusi tersebut namun mereka tidak dapat berbuat lebih dari sekedar mengerti. 

Jika pembahasan kali ini mengarah kepada sinyalemen pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pihak tertentu kepada mahasiswa, masyarakat, warga, maka pembahasannya akan tidak menarik dan menjurus kepada aksi sepihak, sehingga mengaburkan hakikat dari peristiwa itu sendiri. Jatuhnya korban manusia adalah sebuah bencana. Peristiwa 1998 bagi para korban adalah kejadian yang memilukan. Akan tetapi, di dalam kehidupan bernegara, peristiwa berikut konsekuensinya merupakan bagian dari perubahan. Kita tidak mengerti perubahan tersebut menuju ke arah perbaikan atau sebaliknya, pengrusakan, keadaan. 

Mempelajari peristiwa Kerusuhan 1998 tidak akan lebih sempurna jika orang terpaku perhatiannya pada jatuhnya korban jiwa warga sipil dan tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan (dan warga sipil itu sendiri). Mempelajari Peristiwa 1998 wajib dilakukan secara menyeluruh dalam arti bahwa orang harus menelaahnya secara politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. 

Semenjak bubarnya negara Uni Soviet dan Yugoslavia yang menganut pemerintahan sentralistik, seperti halnya model pemerintahan yang berlaku saat itu di Albania, Panama, Rumania, dan Filipina, sebagian besar masyarakat dunia merasa perlu mengikuti arus perubahan. Masyarakat tergoda untuk mengambil langkah yang serupa bagi Indonesia yang pada saat itu masih berada di bawah kekuasaan sentralistik. Kecenderungan tersebut lantas ditangkap, dipelajari, dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang terpelajar di dalam bidang politik dan tata negara serta memiliki dukungan yang kuat (termasuk dukungan finansial) untuk mencoba membuat perubahan secara nasional. Usaha tersebut berhasil dengan segala konsekuensinya, termasuk tindakan represif dari pihak pemerintah atas dasar antisipasi terhadap usaha-usaha subversif. 

Perubahan yang terjadi

Bidang ekonomi mengalami perubahan berupa kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. Kenaikan harga ini menyebabkan krisis. Ekonomi nasional menjadi melemah dan nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang asing tidak terkendali. Menyertai krisis ini adalah kelangkaan barang kebutuhan, termasuk bahan bakar. 

Kehidupan sosial masyarakat mengalami perubahan. Sentimen sesama warga muncul. Apa yang dinamai sebagai angin perubahan atau era kebebasan beranjak membentuk diri. Masyarakat yang semula takut kepada pemerintah menjadi berani mengemukakan pendapat. 

Kehidupan bernegara, dalam lingkup politik, mengalami perubahan. Sebelum Peristiwa 1998 masyarakat cenderung merasa takut mengemukakan sikap politik yang bertentangan dengan pemerintah. Pada tahun 1998 keadaan berubah, yakni setidaknya masyarakat merasa lebih aman untuk tidak berpihak kepada pemerintah. Hal inilah yang luput dari perhatian. 

Sikap aparat keamanan yang semula sebatas mengamankan berubah menjadi semakin riil terhadap warga sipil. Di bawah rezim dictatorship masyarakat merasa aman di bawah perlindungan aparat keamanan. Pada saat rezim sentralistik mulai tumbang ternyata aparat keamanan itu sendiri seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Mereka tidak mampu melindungi masyarakat. Justeru sebaliknya, mereka melakukan tindak kekerasan kepada masyarakat. Apapun situasinya aparat keamanan tetaplah merupakan alat keamanan dan pengamanan negara. Mereka bertindak demi ketertiban negara dan berdirinya negara.

Budaya mencakup hal-hal/kebiasaan-kebiasaan masyarakat secara turun-temurun. Terkhusus warga Jawa, budaya tepa salira, andhap asor, dan unggah-ungguh pada saat Peristiwa 1998 terjadi beranjak menghilang. Terbentuklah kebiasaan baru yang cenderung njangkar (tidak sopan). Pendapat dikemukakan tanpa rasa rikuh dan pakewuh. Era keterbukaan menciptakan nuansa egaliter yang tidak terbiasa dipraktekkan.

Epilogue

Masa depan ekonomi nasional berada di tangan ekonomi global. Keadaan ini adalah akibat dari kedudukan Indonesia selaku negara periphery, bukan negara center. Hal demikian ini masih berlanjut hingga saat ini. Dengan demikian Peristiwa 1998 memiliki pengaruh, namun tidak terlalu, signifikan terhadap keadaan ekonomi nasional kekinian. Peristiwa Kerusuhan 1998 hanya semacam obat penawar rasa sakit (pain killer) dari sudut pandang ekonomi.

Hubungan sosial masyarakat Indonesia menjadi semakin egaliter. Namun, perubahan sikap sosial tersebut muncul dan terjadi setelah mendapatkan angka mayoritas. Dengan demikian Kerusuhan 1998 berpengaruh signifikan terhadap perubahan sosial.

Sikap politik yang semakin berani untuk berseberangan dengan kehendak pemerintah menunjukkan bahwa Peristiwa 1998 tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan sikap politik karena pada hakikatnya masyarakat tetap berada di bawah ancaman. Pada era sebelum 1998 masyarakat diancam oleh tuduhan subversif, sedangkan pada momentum 1998 tersebut masyarakat terancam pula jika masih berpihak pada pemerintah. Sikap politik masyarakat berpihak kepada siapa yang menang, menguasai mayoritas, dan memiliki suara terbanyak. Hal ini berlangsung hingga saat ini meskipun di dalam tingkat kebebasan yang lebih tinggi.

Aparat keamanan adalah government issue (GI), demikian istilah yang dipergunakan di Amerika Serikat. Artinya, aparat keamanan adalah alat negara. Di dalam dua era, sebelum dan setelah 1998, kedudukan aparat keamanan tidak mengalami perubahan. Mereka tetap berfungsi sebagai government issue

Pendidikan Vokasi

Bilamana pendidikan vokasi memiliki tujuan untuk mempersiapkan siswa untuk memperoleh pekerjaan atau ruang berkarya di dalam industri dan kegiatan komersial maka frasa pendidikan vokasi ini tidak berbeda jauh dengan pendidikan kejuruan. Artinya, siswa dibekali dengan keahlian khusus guna mampu menjalankan tanggung jawab pekerjaan di dalam bidang tertentu manakala telah terjun ke lapangan pekerjaan. Maka dari itu telah semestinya jika masyarakat Indonesia tidak merasa asing dengan frasa "pendidikan vokasi" atau "sekolah vokasi" karena hal tersebut sekedar perubahan istilah. Jauh waktu sebelum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dipopulerkan penggunaannya masyarakat telah secara dekat mengenal Sekolah Teknik Menengah (STM) dan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) yang sesungguhnya merupakan perwujudan dari pendidikan vokasi. 

Secara historis istilah pendidikan vokasi (vocational education) di dalam prakteknya bukanlah hal yang baru. Pendidikan vokasi telah dikenal sejak abad ke-19. Pada waktu itu pelatihan vokasi (vocational training) diselenggarakan sendiri oleh orang tua anak usia sekolah melalui kegiatan serupa magang. Tak lama setelah itu terjadilah perubahan besar berupa usaha untuk melatih orang untuk menjadi pekerja terampil yang melebihi keterampilan yang dimiliki oleh peserta magang. Momentum perubahan ini mengilhami berdirinya lembaga-lembaga pelatihan vokasi yakni Gardiner Lyseum di Maine (1821), Franklin Institute di Philadelphia (1824), dan Rensselaer Institute di New York (1824). Ketiga lembaga tersebut menjadi perintis sekolah teknik kejuruan di Amerika Serikat. 

Pada saat Morrill Act diberlakukan pada tahun 1862 di Amerika Serikat terjadi perkembangan dengan munculnya lembaga pendidikan yang diberi sebutan Land-Grand Colleges. 

Gaung pendidikan vokasi terdengar hingga benua Eropa. Pada tahun 1876, yakni ketika berlangsung Centennial Exhibition di Philadelphia, pemerintah negara Rusia mendemonstrasikan proyek-proyek siswa dari Moscow Imperial Technical School. Langkah Rusia ini menarik perhatian publik akademisi Amerika Serikat. Setidaknya terdapat dua akademisi Amerika Serikat yang terinspirasi oleh demonstrasi proyek mahasiswa Moskow tersebut, yakni John Runkle dan Calvin Woodward. Runkle menyelenggarakan kursus kepelatihan di kampus yang dipimpinnya, Massachusetts Institute of Technology (MIT), sedangkan Woodward mendirikan St. Louis Manual Training School.

Pendidikan vokasi semakin berkembang memasuki pergantian abad. Sejumlah sekolah milik pemerintah mulai memperkenalkan program-program pendidikan vokasi, terutama bidang pertanian. Tuntutan yang semakin mendesak akan kebutuhan program-program pendidikan yang berorientasi pada lapangan pekerjaan membuat pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan Smith-Hughes Act pada tahun 1917, yang mengatur ketentuan yang harus dipatuhi oleh program-program persiapan tenaga kerja agar memperoleh bantuan dari pemerintah federal. Di dalam perkembangan selanjutnya Smith-Hughes Act memperluas cakupan ketentuannya hingga mengatur tentang bantuan federal untuk program-program vokasi bagi siswa berkebutuhan khusus, program-program khusus di dalam lembaga-lembaga swasta, dan layanan dukungan seperti konseling dan penempatan kerja. 

Referensi:
Vocational education. Grolier Family Encyclopedia. Uni-Woo. 1995: 224-225.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.