Pages

8 December 2017

Trotoar untuk Siapa dan Apa?

Tanpa membuka definisi di dalam kamus, buku cetak, atau kebijakan publik, kita secara empiris telah mengetahui apa yang dimaksud dengan trotoar. Trotoar yang kita pahami sebagai istilah sehari-hari adalah jalur yang berada di pinggir jalan yang berguna untuk tempat pejalan kaki. Trotoar dibuat sedemikian rupa sehingga memisahkan pejalan kaki dari "kontak langsung" dengan badan jalan yang dilalui oleh kendaraan, baik yang bertenaga manusia (sepeda onthel, becak), hewan (andhong, dokar, delman), maupun mesin (motor dan mobil). 

Trotoar yang nyaman dan aman untuk dilalui tentunya menjadi dambaan para pejalan kaki. Trotoar yang diinginkan adalah trotoar yang mampu menetralisasi pejalan kaki (pedestrian) dari kemungkinan resiko bahaya akibat lalu-lintas di jalan. Terlebih lalu-lintas di kota besar, seperti Semarang, ibukota Provinsi Jawa Tengah. Di dalam kurun waktu satu dekade terakhir volume kendaraan yang melewati jalan-jalan utama pusat kota Semarang telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa pesatnya. Keberadaan trotoar yang nyaman dan menjamin keamanan pejalan kaki menjadi semakin penting. 

Pengamatan saya dengan mengambil contoh trotoar di ruas Jalan Jenderal Sudirman, Kota Semarang, ternyata tidak sesuai dengan harapan trotoar yang nyaman dan aman. Saya menemukan tiga hal yang mengurangi tingkat kenyamanan dan rasa aman saya pada saat berjalan menyusuri trotoar tersebut, yakni: (a) keberadaan pohon di tengah trotoar; (b) lintasan trotoar terhalang oleh papan niaga; dan (c) trotoar memiliki lintasan yang miring. Ketiga hal ini sangat mengganggu perjalanan dan membuat kesal.

Pohon-pohon yang ditanam dan tumbuh di pinggir jalan memiliki manfaat yang penting karena dapat berfungsi sebagai "paru-paru kota". But, that is not the case. Saya tidak mempermasalahkan pohonnya. Di dalam konteks yang saya alami di Jalan Jenderal Sudirman, jika pemerintah atau pihak-pihak terkait benar-benar berniat untuk melakukan penghijauan dan menyediakan tempat bagi pejalan kaki berupa trotoar, maka mereka harus membuat pertimbangan yang benar. Seperti yang nampak pada Gb. 1, tidaklah tepat kiranya jika pohon berada di tengah-tengah jalur trotoar. 

fungsi pohon menjadi hilang
Gb.1: Pohon menghalangi lintasan.

Pohon tersebut sepertinya telah menjadi "korban" pelebaran jalan sehingga kedudukannya terpojok. Pihak pembuat trotoar sepertinya juga memiliki "standar ganda", yakni antara menyediakan tempat bagi pedestrian dan mempertahankan pohon agar tumbuh di situ. Trotoar dibuat lurus searah dengan jalan dengan resiko menabrak pohon tersebut. Alhasil, jika dipandang sangat tidak asyik. Fungsi pohon menjadi kurang pas, nilai keberadaannya sebagai "paru-paru kota" pada suatu saat akan hilang karena pohon seperti pada gambar tersebut kelak akan tumbuh lebih besar dan cenderung merusak konstruksi trotoar. Pohon yang semestinya sangat berharga menjadi pihak yang kelak akan dipersalahkan karena merusak bangunan trotoar. 

Gb. 2 adalah contoh dari ketidaknyamanan kedua yang saya rasakan, yakni terhalangnya lintasan trotoar oleh papan niaga yang dipasang oleh pelaku niaga yang berada di pinggir trotoar tersebut. Papan tersebut adalah satu dari sekian banyak contoh yang dapat kita saksikan di pusat Kota Semarang. Pada saat saya mencapai ke papan tersebut langkah saya terhalang sehingga harus bergeser ke bagian aspal jalan. Sebuah keadaan yang menurut saya sangat berbahaya. Kita tidak boleh menyepelekan bahaya di jalan-raya, terlebih pada masa sekarang di mana pengguna kendaraan bermotor sering mengebut. Jika trotoar adalah lintasan yang semestinya disediakan bagi pejalan kaki maka keberadaan papan niaga yang menghalangi lintasan tersebut semestinya adalah pelanggaran. 

Gb.2: Papan  menghalangi lintasan
Saya tegaskan lebih lanjut, pelanggaran berat dan maha berat karena akibatnya dapat fatal: pejalan kaki terpaksa bergeser ke bagian aspal dan siap menerima resiko tertabrak oleh kendaraan yang melintas. Saya tidak mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang-orang yang memiliki kebiasaan menghalangi lintasan trotoar tersebut. Trotoar adalah milik umum, bukan milik pribadi yang dapat dikuasai semaunya. 

Masalah ketiga berhubungan dengan bentuk trotoar itu sendiri. Pada beberapa tempat, terlebih di tempat-tempat yang menyatu dengan lokasi untuk parkir mobil, saya mendapati lintasan trotoar yang miring. Semestinya bukan hanya di ruas Jalan Jenderal Sudirman. Kemiringan yang lebih curam dapat pembaca temui di ruas-ruas jalan lainnya di pusat kota Semarang. Terkesan tidak berarti karena sekedar miring. Namun, saya tidak sependapat! Seperti halnya lintasan untuk kendaraan bermotor, bilamana lintasan tersebut miring maka orang yang berkendarapun menjadi merasa tidak nyaman. 

Lantas, bagaimanakah perasaan kita sebagai pejalan kaki jika kita melintasi trotoar yang miring seperti pada Gb.3 tersebut? Bagaimanapun, kita pasti lebih memilih untuk berjalan kaki pada lintasan yang datar daripada lintasan yang miring. 
trotoar di Kota Semarang
Gb.3: Lintasan miring.

Saya merasakan bahwa semakin hari penghargaan kepada pejalan kaki semakin hilang. Bahkan, pada sejumlah kesempatan yang saya saksikan pejalan kaki menjadi pihak yang harus mengalah dan atau "disingkirkan" karena mengganggu kelancaran lalu-lintas jalan. 

Boleh jadi karena pada era kekinian ini berjalan kaki telah menjadi suatu kegiatan yang "aneh", maka banyak pihak, terlebih pemerintah, semakin tidak memberikan perhatian. Pada lokasi-lokasi tertentu --- yang tentunya lebih "menjual" dan berdekatan dengan institusi pemerintah, seperti Simpang Lima, Jalan Pahlawan, dan Jalan Pemuda, kondisi trotoar sangatlah memuaskan, akan tetapi standar kenyamanan tersebut tidak diberlakukan secara universal di seluruh trotoar yang ada di pusat Kota Semarang. 
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.