Pages

21 November 2017

Price Alert Untuk Kepuasan Berwisata

Pariwisata merupakan salah satu prima donna bagi negara Indonesia. Wilayah dan masyarakat Indonesia yang memiliki kekayaan budaya dan potensi alam menjadikan kegiatan pariwisata sebagai andalan pengumpul devisa negara. Ulasan dari Indonesia Investments (indonesia-investments.com, 16 Desember 2016) menyebutkan bahwa kunjungan wisatawan ke daerah-daerah wisata di Indonesia sejak tahun 2013 terus mengalami pertambahan. Sebagai contoh, jumlah kunjungan wisatawan asing bertambah dari 8,8 juta pada tahun 2013 menjadi 9,4 juta pada bulan Oktober 2016. Sebagai wujud dari pemenuhan kebutuhan rekreasi, berwisata semakin hari semakin berperan signifikan bagi kehidupan manusia. Aktivitas sehari-hari masyarakat kekinian semakin dinamis dan beragam. Keadaan ini menambah tingkat stress sehingga orang memerlukan rekreasi  untuk, antara lain, menyegarkan ingatan, memulihkan energi, mencari inspirasi, dan memperbarui semangat untuk menjalani aktivitas berikutnya.

Hall dan Page (2014) berpendapat bahwa bidang pariwisata berhubungan dengan penyediaan rute atau jalur destinasi dan perjalanan. Parisiwata tidak hanya bergantung pada jejaring transportasi, jasa dan perdagangan, tetapi juga pada hubungan sosial, politik dan lingkungan antara produsen dan konsumen (wisatawan yang melakukan perjalanan atau memiliki pengalaman wisata). Berkenaan dengan pendapat ini individu atau kelompok individu yang bergerak di dalam penyediaan jasa informasi mengenai pariwisata dan perjalanan harus memperhatikan kebutuhan konsumen akan informasi yang berhubungan dengan fasilitas dan akomodasi. Pelayanan yang diberikan oleh Traveloka di dalam bentuk Price Alert sangat diperlukan oleh calon pengguna perjalanan dan atau wisata. Dengan informasi tersebut konsumen akan dapat menyusun anggaran dan menyesuaikan jadual perjalanan dan atau wisata sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi tingkat dan nilai kepuasan mereka pada saat menjalani kegiatan perjalanan dan atau wisata tersebut.

Pengalaman saya pada saat ikut mengurusi perjalanan wisata ke Pulau Bali dengan moda transportasi pesawat terbang ibu-ibu anggota Paguyuban Pedagang Pasar Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah dengan memanfaatkan jasa informasi Traveloka membuktikan bahwa Price Alert, yang compatible untuk diunduh menggunakan telepon selular berbasis Android™, sangat membantu kelancaran di dalam menentukan harga tiket. Tiga prinsip utama PriceAlert, yakni Smart Tracking, Instant Notifications, dan Easy to set up, membantu kedua belah pihak, penyedia layanan wisata dan konsumen wisata, untuk bersama-sama menentukan tarif tiket, perjalanan, dan kegiatan selama wisata berlangsung. Sebuah pengalaman yang baru dan melegakan, karena aplikasi tersebut membantu untuk menekan terjadinya konflik mengenai harga. Antara penyedia layanan dan pengguna layanan wisata tidak merasa ada yang dirugikan. Sebelum mempergunakan aplikasi Price Alert pihak penyedia layana wisata merasa kewalahan oleh terjadinya perubahan harga tiket pesawat sewaktu-waktu. Penyedia fasilitas pemesanan tiket sering memberitahukan terjadinya kenaikan harga. Bilamana terjadi kenaikan harga maka pihak yang pertama kali mendapatkan pemberitahuan adalah penyedia layanan wisata. Dengan diperkenalkannya fasilitas Price Alert antara penyedia dan pengguna layanan wisata akan mendapatkan informasi pada waktu yang relatif bersamaan dengan mengakses telefon selular pada saat dan di tempat masing-masing. Perkembangan ini mempermudah rancangan dan perencanaan anggaran antara kedua belah pihak.

Langkah Traveloka dengan menyediakan layanan digital berupa Price Alert sejalan dengan prinsip melakukan yang terbaik untuk segala sesuatu yang dianggap penting bagi konsumen ("do best what matters most to customers"). Pada skala makro, kepuasan konsumen akan mempengaruhi hal-hal lain yang terjadi di pasar, seperti ketenagakerjaan, harga, profit, suku bunga, produksi dan pertumbuhan ekonomi pelaku usaha (Hill et al., 2007).


Setelah kunjungan wisata ke Pulau Bali, sejumlah peserta wisata Paguyuban Pedagang Pasar Ngadirejo berpendapat bahwa mereka merasa puas terhadap transparansi – demikian istilah yang mereka gunakan – mengenai harga tiket yang dapat diakses dari fasilitas Price Alert. Perkembangan selanjutnya pada saat melaksanakan kegiatan serupa dengan konsumen yang sama antara penyedia layanan wisata dan pengguna layanan wisata memerlukan waktu yang lebih singkat di dalam melakukan negosiasi harga tiket perjalanan. Sebuah penghematan energi dan pikiran yang signifikan.

Bagi penyedia perjalanan wisata secara khusus Price Alert membantu di dalam penyusunan proposal kegiatan wisata terkait dengan platform harga tiket yang akan dipresentasikan kepada calon konsumen. Fluktuasi harga dan trend perubahan harga tiket di dalam kurun waktu tertentu dapat dipergunakan sebagai referensi untuk menentukan tarif yang realistis, dalam arti bahwa, pada satu pihak, usaha yang dijalani oleh penyedia perjalanan dan wisata akan berkelanjutan, sedangkan, pada pihak lain, konsumen perjalanan dan wisata tidak merasa terlalu dirugikan oleh harga tiket perjalanan yang akan dilakukan.

Bagi Traveloka sendiri, merujuk pada pendapat Hill et al. (2007) di atas, fasilitas Price Alert tentunya akan ikut berkontribusi di dalam meningkatkan profit dan pertumbuhan ekonomi usahanya. Aplikasi Price Alert wajib dipertahankan karena calon konsumen saat ini semakin peka dengan pengeluaran finansial mereka dengan semakin banyaknya ragam kebutuhan yang harus dipenuhi.

Referensi:
Hall C. M., Page S. J. (2014). The Geography of Tourism and Recreation: Environment, place, and space. Fourth edition. New York, United States: Routledge
Hill N., Roche G,  Allen R. (2007) Customer Satisfaction: The customer experience through the customer's eyes. London, Great Britain: Cogent Publishing
Industri Pariwisata Indonesia. Diakses dari [https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/industri-sektor/pariwisata/item6051?] pada tanggal 18 November 2017.

18 November 2017

Agenda OECD: Ekonomi Laut 2030

(Organisation for Economic Co-operation and Development) merupakan sebuah organisasi ekonomi lintas-pemerintah yang dibentuk pada tahun 1960 dengan misi mewujudkan kemajuan ekonomi dan perdagangan dunia. OECD saat ini beranggotakan 35 negara dari empat benua (Asia, Australia, Amerika, dan Eropa). Saat ini OECD bermarkas di kota Paris, Prancis.

Melalui dokumennya yang berjudul "The Ocean Economy 2030" organisasi ini menyajikan ulasan singkat tentang peran penting dari lingkungan laut sebagai pintu gerbang ekonomi era baru. Organisasi tersebut berkeyakinan bahwa laut, dengan kekayaan sumber dayanya, merupakan tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi, ketenagakerjaan dan inovasi. Laut telah lama diakui sebagai bagian yang tidak terpisahkan di dalam menjawab tantangan-tantangan global yang dihadapi oleh Planet Bumi di dalam dekade mendatang, berkenaan dengan isu-isu seperti ketahanan dan keamanan pangan, perubahan iklim, penyediaan energi, sumber daya alam, dan perawatan medis. Laut berpotensi untuk membantu manusia menjawab tantangan-tantangan besar pada masa mendatang. Namun, laut saat ini tengah menghadapi tekanan akibat eksploitasi yang berlebihan, pencemaran, penurunan keragaman hayati, dan perubahan iklim. Maka dari itu, OECD berpendapat bahwa pendekatan-pendekatan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan perlu digalakkan untuk memperkuat pembangunan ekonomi laut.

Ekonomi laut (Ocean economy) mencakup segala jenis industri yang berbasis laut (misalnya, shipping, penangkapan ikan, pembangkit energi tenaga angin lepas pantai (offshore wind), dan bioteknologi kelautan) dan segala hal yang berhubungan dengan alam dan ekosistem yang disediakan oleh laut (misalnya perikanan, absorpsi CO2).


Ekonomi laut global yang diukur dari kontribusi yang diberikan oleh industri-industri berbasis laut bagi hasil ekonomi dan ketenagakerjaan memiliki peran yang signifikan. Menurut Database Ekonomi Laut OECD 2010 ekonomi laut menghasilkan gross value added (GVA) 1,5 triliun dollar AS, atau sekitar 2,5% GVA total di dunia. Minyak dan gas lepas pantai berkontribusi hingga sepertiga dari total value added industri-industri berbasis laut. Pada periode yang sama tenaga kerja purna-waktu langsung di dalam ekonomi laut mencapai nilai sekitar 31 juta. Penyedia lapangan pekerjaan terbesar adalah perikanan tangkap industri dan pariwisata laut dan pantai.

Kegiatan ekonomi di kawasan laut sedang mengalami perkembangan yang pesat. Faktor pendorong utamanya ialah pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kenaikan perdagangan dan pendapatan, iklim dan lingkungan, dan teknologi. Namun, terdapat satu keterbatasan, yakni terganggunya kesehatan ekonomi laut tersebut. Dengan semakin tingginya emisi karbon antropogenik maka laut telah menyerap banyak karbon, sehingga laut mengalami asidifikasi. Suhu dan ketinggian laut juga bertambah, arus mengalami pergeseran, sehingga menyebabkan hilangnya keragaman hayati dan habitat, mengubah komposisi persediaan ikan dan pola migrasi, serta menaikkan frekuensi cuaca buruk pada lingkungan laut. Prospek untuk perkembangan laut pada masa mendatang akan diperburuk oleh pencemaran yang berasal dari daratan, khususnya limpahan kegiatan pertanian, bahan kimia, dan pencemar mikro-plastik dan makro-plastik yang mengalir ke laut melalui sungai, serta penangkapan berlebihan dan berkurangnya persediaan ikan di banyak tempat di dunia.

Menuju ke tahun 2030, banyak industri berbasis laut yang memiliki potensi untuk melampaui pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan, baik dalam value added maupun ketenagakerjaan. Sejumlah proyeksi menyatakan bahwa antara tahun 2010 dan 2030, menurut skenario "bisnis sebagaimana mestinya", ekonomi laut ditengarai akan melipatgandakan kontribusi value added global, mencapai nilai hingga lebih dari 3 triliun dollar AS. Pertumbuhan yang kuat khususnya diharapkan di dalam budidaya kelautan, offshore wind, pengolahan ikan dan pembuatan dan perbaikan kapal. Industri laut juga berpotensi untuk memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan tenaga kerja. Pada tahun 2030, industri laut diharapkan menampung sekitar 40 juta tenaga kerja purna-waktu di dalam skenario bisnis sebagaimana mestinya. Pertumbuhan tercepat dalam bidang lapangan pekerjaan diharapkan terjadi pada kegiatan-kegiatan pembangkit energi tenaga angin lepas pantai, budidaya kelautan, pengolahan ikan dan dermaga.

Di dalam beberapa dekade yang akan datang kemajuan sains dan teknologi diharapkan memberikan peranan yang penting, baik di dalam menjawab tantangan lingkungan laut maupun perkembangan kegiatan ekonomi berbasis laut. Inovasi-inovasi di dalam penyempurnaan bahan, rekayasa dan teknologi bawah laut, sensor dan pencitraan, teknologi satelit, komputerasi dan analitik data besar (big data analytics), sistem otonom, bioteknologi dan nanoteknologi -- setiap sektor dari ekonomi laut -- akan dipengaruhi oleh kemajuan-kemajuan teknologi.

Di dalam konteks perubahan yang pesat, regulasi dan tata kelola akan berusaha keras untuk mengimbangi. Dunia semakin menjadi multi polar dan sedang mengalami kesulitan di dalam memperkuat konsensus internasional terhadap isu-isu global dan regional yang signifikan bagi lingkungan laut dan industri laut. Setidaknya untuk masa mendatang, regulasi mengenai kegiatan-kegiatan laut diharapkan terus menjadi sektor andalan, dengan usaha-usaha difokuskan pada integrasi industri-industri baru laut ke dalam kerangka regulasi yang berlaku dan yang terfragmentasi.

Pertumbuhan mendatang dari industri-industri berbasis laut pada skala yang direkomendasikan oleh laporan ini mencakup prospek dari semakin besarnya tekanan terhadap sumber daya laut dan ruang laut (ocean space), terlebih di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE), di mana sebagian besar aktivitas berlangsung. Ketidakmampuan sejauh ini untuk mengantisipasi tekanan dengan cara efektif dan tepat waktu sebagian besar terkait dengan pengertian secara historis mengenai pengelolaan sektor demi sektor kegiatan kelautan. Semakin banyak negara dan kawasan yang mencanangkan kerangka kebijakan strategis untuk pengelolaan laut yang lebih baik di dalam ZEE mereka. Akan tetapi, banyak hambatan yang menghadang pengelolaan laut yang lebih efektif dan terpadu, yang harus dibereskan sesegera mungkin.

Guna mendorong prospek pembangunan jangka panjang dari industri laut dan kontribusi mereka bagi pertumbuhan dan ketenagakerjaan, namun tetap dengan mengelola laut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, laporan ini mengedepankan sejumlah rekomendasi untuk mendorong pembangunan berkelanjutan ekonomi laut, sebagai berikut: 1) Memperkuat kerjasama internasional di dalam sains dan teknologi kelautan sebagai sarana untuk merangsang inovasi dan memperkuat pembangunan ekonomi laut yang berkelanjutan, antara lain dengan melakukan kajian dan studi perbandingan mengenai peran dari kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan klaster-klaster maritim seluruh dunia; 2) Memperkuat pengelolaan laut yang terpadu, khususnya dengan cara semakin mengoptimalkan analisis ekonomi dan instrumen ekonomi di dalam pengelolaan laut yang terpadu, misalnya dengan membuat platform internasional untuk alih pengetahuan, pengalaman dan best practice; 3) Menyempurnakan dasar statistik dan metodologis pada skala nasional dan internasional untuk mengukur skala dan kinerja industri berbasis laut serta kontribusinya bagi ekonomi secara keseluruhan; dan 4) Mengembangkan kapasitas untuk membuat rancangan prediksi mengenai industri laut pada masa mendatang, antara lain dengan mengadakan kajian terhadap perubahan-perubahan masa depan dalam industri berbasis laut, serta memperkuat pengembangan kapasitas OECD untuk pemodelan tren-tren masa depan di dalam ekonomi laut pada skala global.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.