Pages

18 October 2017

Hubungan Ekspor-Impor Jerman dengan Hindia Timur

Sumber: Geerken H. H. (2017). Hitler's Asian Adventure. Norderstedt, Germany: BoD. pp: 66-68.

Jerman pada abad ke-19 adalah negara yang mengalami kelangkaan cadangan bahan mentah. Karena keadaan tersebut maka Kaisar Wilhelm II mengambil inisiatif dengan mendirikan sebuah lembaga untuk transportasi perdagangan dan maritim yang diberi nama "Koniglische Institut fuer Seeverkehr und weltwirtschaft", atau, dalam bahasa Inggris bernama "Royal Institute for Maritime Transport and World Trade". Peresmian lembaga ini berlangsung pada tahun 1914 di Kiel dengan tujuan untuk mencari sumber bahan mentah untuk mendukung industri negara Jerman. Perubahan nama terjadi pada tahun 1934 pada era pemerintahan Adolf Hitler, yakni menjadi "Institute fuer Weltwirtschaft an der Universitaet Kiel" (Kiel University Institute for World Trade).

Hubungan perdagangan dengan Hindia Timur dilakukan oleh Jerman di dalam berbagai bentuk. Jerman mengimpor banyak hasil bumi untuk bahan makanan dari Hindia Timur, antara lain tebu, tembakau, kopi, teh, karet, kelapa, dan rempah-rempah (Loeber,1939). Kegiatan ekspor bahan mentah dari Hindia Timur ke Jerman mencapai puncaknya pada era 1930an sebelum terjadinya Perang Dunia Kedua. Literatur teknik berbahasa Jerman yang ditulis selama periode Third Reich mengenai Hindia Timur menyebutkan bahwa pemerintah kolonial Belanda memiliki hubungan yang baik dengan Jerman, misalnya, Loeber (1939) menuliskan bahwa sumber daya alam yang melimpah di Hindia Timur menjadi tujuan utama Jerman. Selanjutnya,  kegiatan ekspor bahan mentah berupa hasil tambang dari Hindia Belanda menuju Jerman berlangsung secara intensif. Volume ekspor bahan mentah yang tercatat pada waktu itu adalah 11.3000 ton bijih mangan, 23.000 ton bijih nikel, 23.000 ton magnesium, 2,3 ton emas, 127.640 ton bauksit dan 20,6 ton perak, selain juga krom, kobalt, dan molybdenum. Daerah penambangan utama antara lain terdapat di Toli-Toli dan Riau. Usaha penambangan dilakukan oleh Mijnbouw Maatschapij dan Nederlansch-Indische Bauxiet (Museum Geologi Bandung, tanpa tahun; www.abnnewswire.net).

Ekspor kina untuk bahan baku obat-obatan pada tahun 1937 mencapai nilai 10.000 ton dan hampir semuanya dipasok ke perusahaan kimia IG-Farben. Hubungan dagang Jerman-Hindia Timur berlangsung dua arah, di mana Jerman mengekspor barang-barang hasil industri, antara lain senjata dan mesin produksi. Volume impor barang-barang produksi Jerman sangat besar dan berlangsung selama bertahun-tahun. Barang impor yang didatangkan ke Hindia Timur bermacam-macam dari mesin berat hingga pisau, bahkan jarum jahit. Memasuki abad ke-19 Jerman mengekspor lokomotif uap, rel kereta api, dan trem (menjadi pelopor transportasi trem di Batavia). Perusahaan AEG menjadi penyedia jalur kereta api bertenaga listrik dari Batavia menuju Bogor. Perusahaan Telefunken membangun sistem transmisi dan penerima informasi, seperti transmitter utama "Malabar" di dekat Bandung, yang memungkinan sambungan radio dari Pulau Jawa ke Belanda. Jerman juga membangun sejumlah stasiun pembangkit tenaga dan memelopori jalur telepon di Hindia Timur.

Selama berlangsungnya Perang Dunia Kedua fokus pertambangan Jerman di Hindia Timur adalah molybdenum. Bahan tambang ini dikirimkan ke Jermanmelalui Jepang. Setelah Perang Dunia Kedua berakhir dan Jerman dinyatakan kalah perang, usaha penambangan molybdenum diambilalih oleh pihak-pihak dari Sekutu, yakni Inggris, Australia (Santos), Spanyo, dan Amerika Serikat (Rio Tinto).

Bacaan pendukung:
Loeber I. (1939). Das niederlaendsche Kolonialreich.
Institut fuer Weltwirtschaft an der Universitaet Kiel. (Tanpa tahun). Verfasser: Zottmann, Dokumen C 6461, Info durch Herrn Prof. Dr Frederico Foders.
Museum Geologi Bandung. (Tanpa tahun). Daftar.
The Malala Molybdenum Project, www.abnnewswire.net. Diakses tanggal 11 Oktober 2017.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.