Pages

8 December 2017

Trotoar untuk Siapa dan Apa?

Tanpa membuka definisi di dalam kamus, buku cetak, atau kebijakan publik, kita secara empiris telah mengetahui apa yang dimaksud dengan trotoar. Trotoar yang kita pahami sebagai istilah sehari-hari adalah jalur yang berada di pinggir jalan yang berguna untuk tempat pejalan kaki. Trotoar dibuat sedemikian rupa sehingga memisahkan pejalan kaki dari "kontak langsung" dengan badan jalan yang dilalui oleh kendaraan, baik yang bertenaga manusia (sepeda onthel, becak), hewan (andhong, dokar, delman), maupun mesin (motor dan mobil). 

Trotoar yang nyaman dan aman untuk dilalui tentunya menjadi dambaan para pejalan kaki. Trotoar yang diinginkan adalah trotoar yang mampu menetralisasi pejalan kaki (pedestrian) dari kemungkinan resiko bahaya akibat lalu-lintas di jalan. Terlebih lalu-lintas di kota besar, seperti Semarang, ibukota Provinsi Jawa Tengah. Di dalam kurun waktu satu dekade terakhir volume kendaraan yang melewati jalan-jalan utama pusat kota Semarang telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa pesatnya. Keberadaan trotoar yang nyaman dan menjamin keamanan pejalan kaki menjadi semakin penting. 

Pengamatan saya dengan mengambil contoh trotoar di ruas Jalan Jenderal Sudirman, Kota Semarang, ternyata tidak sesuai dengan harapan trotoar yang nyaman dan aman. Saya menemukan tiga hal yang mengurangi tingkat kenyamanan dan rasa aman saya pada saat berjalan menyusuri trotoar tersebut, yakni: (a) keberadaan pohon di tengah trotoar; (b) lintasan trotoar terhalang oleh papan niaga; dan (c) trotoar memiliki lintasan yang miring. Ketiga hal ini sangat mengganggu perjalanan dan membuat kesal.

Pohon-pohon yang ditanam dan tumbuh di pinggir jalan memiliki manfaat yang penting karena dapat berfungsi sebagai "paru-paru kota". But, that is not the case. Saya tidak mempermasalahkan pohonnya. Di dalam konteks yang saya alami di Jalan Jenderal Sudirman, jika pemerintah atau pihak-pihak terkait benar-benar berniat untuk melakukan penghijauan dan menyediakan tempat bagi pejalan kaki berupa trotoar, maka mereka harus membuat pertimbangan yang benar. Seperti yang nampak pada Gb. 1, tidaklah tepat kiranya jika pohon berada di tengah-tengah jalur trotoar. 

fungsi pohon menjadi hilang
Gb.1: Pohon menghalangi lintasan.

Pohon tersebut sepertinya telah menjadi "korban" pelebaran jalan sehingga kedudukannya terpojok. Pihak pembuat trotoar sepertinya juga memiliki "standar ganda", yakni antara menyediakan tempat bagi pedestrian dan mempertahankan pohon agar tumbuh di situ. Trotoar dibuat lurus searah dengan jalan dengan resiko menabrak pohon tersebut. Alhasil, jika dipandang sangat tidak asyik. Fungsi pohon menjadi kurang pas, nilai keberadaannya sebagai "paru-paru kota" pada suatu saat akan hilang karena pohon seperti pada gambar tersebut kelak akan tumbuh lebih besar dan cenderung merusak konstruksi trotoar. Pohon yang semestinya sangat berharga menjadi pihak yang kelak akan dipersalahkan karena merusak bangunan trotoar. 

Gb. 2 adalah contoh dari ketidaknyamanan kedua yang saya rasakan, yakni terhalangnya lintasan trotoar oleh papan niaga yang dipasang oleh pelaku niaga yang berada di pinggir trotoar tersebut. Papan tersebut adalah satu dari sekian banyak contoh yang dapat kita saksikan di pusat Kota Semarang. Pada saat saya mencapai ke papan tersebut langkah saya terhalang sehingga harus bergeser ke bagian aspal jalan. Sebuah keadaan yang menurut saya sangat berbahaya. Kita tidak boleh menyepelekan bahaya di jalan-raya, terlebih pada masa sekarang di mana pengguna kendaraan bermotor sering mengebut. Jika trotoar adalah lintasan yang semestinya disediakan bagi pejalan kaki maka keberadaan papan niaga yang menghalangi lintasan tersebut semestinya adalah pelanggaran. 

Gb.2: Papan  menghalangi lintasan
Saya tegaskan lebih lanjut, pelanggaran berat dan maha berat karena akibatnya dapat fatal: pejalan kaki terpaksa bergeser ke bagian aspal dan siap menerima resiko tertabrak oleh kendaraan yang melintas. Saya tidak mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang-orang yang memiliki kebiasaan menghalangi lintasan trotoar tersebut. Trotoar adalah milik umum, bukan milik pribadi yang dapat dikuasai semaunya. 

Masalah ketiga berhubungan dengan bentuk trotoar itu sendiri. Pada beberapa tempat, terlebih di tempat-tempat yang menyatu dengan lokasi untuk parkir mobil, saya mendapati lintasan trotoar yang miring. Semestinya bukan hanya di ruas Jalan Jenderal Sudirman. Kemiringan yang lebih curam dapat pembaca temui di ruas-ruas jalan lainnya di pusat kota Semarang. Terkesan tidak berarti karena sekedar miring. Namun, saya tidak sependapat! Seperti halnya lintasan untuk kendaraan bermotor, bilamana lintasan tersebut miring maka orang yang berkendarapun menjadi merasa tidak nyaman. 

Lantas, bagaimanakah perasaan kita sebagai pejalan kaki jika kita melintasi trotoar yang miring seperti pada Gb.3 tersebut? Bagaimanapun, kita pasti lebih memilih untuk berjalan kaki pada lintasan yang datar daripada lintasan yang miring. 
trotoar di Kota Semarang
Gb.3: Lintasan miring.

Saya merasakan bahwa semakin hari penghargaan kepada pejalan kaki semakin hilang. Bahkan, pada sejumlah kesempatan yang saya saksikan pejalan kaki menjadi pihak yang harus mengalah dan atau "disingkirkan" karena mengganggu kelancaran lalu-lintas jalan. 

Boleh jadi karena pada era kekinian ini berjalan kaki telah menjadi suatu kegiatan yang "aneh", maka banyak pihak, terlebih pemerintah, semakin tidak memberikan perhatian. Pada lokasi-lokasi tertentu --- yang tentunya lebih "menjual" dan berdekatan dengan institusi pemerintah, seperti Simpang Lima, Jalan Pahlawan, dan Jalan Pemuda, kondisi trotoar sangatlah memuaskan, akan tetapi standar kenyamanan tersebut tidak diberlakukan secara universal di seluruh trotoar yang ada di pusat Kota Semarang. 

7 December 2017

Lokomotif Era Klasik

Kereta api telah menjadi angkutan massal bagi masyarakat lokal, khususnya Pulau Jawa, sejak sebelum Republik Indonesia berdiri. 

Kereta api boleh dikatakan ikut ambil bagian di dalam perjalanan bangsa. Sebuah lagu klasik karya Ismail Marzuki (1946) berjudul "Sepasang Mata Bola" menyebutkan kata "kereta" di dalam syairnya. Hal ini membuktikan bahwa pada usaha pendirian negara dan masa mempertahankan kemerdekaan kereta api telah menjalankan perannya bagi bangsa Indonesia.

Kereta api beroperasi dengan cara ditarik -- terkadang pula didorong -- oleh lokomotif. Lokomotif inilah yang membawa gerbong-gerbong berisi penumpang atau barang dari tempat asal ke tempat tujuan. Tulisan kali ini akan menyajikan klasifikasi mesin dan desain -- atau, kita boleh katakan sebagai spesifikasi -- lokomotif seperti yang dikemukakan di dalam sebuah artikel berjudul "Mike's Railway History: A look at railways in 1935 & Before". Di sini terdapat belasan desain dan klasifikasi lokomotif yang pernah digunakan sebagai moda transportasi rel di negara yang berbeda, yakni Inggris, Kanada, Amerika Serikat, Belgia, India, dan Austria. Sudah barang tentu sebagian besar dari lokomotif yang diutarakan di sini sudah tidak lagi beroperasi pada era sekarang seiring dengan perubahan zaman dan perkembangan teknologi, baik mesin, transportasi, maupun perkeretaapian.

2-10-2 Santa Fe (mrr.trains.com)

Dwarfed. Lokomotif ini beroperasi di Kanada dan merupakan pelopor lokomotif di negara tersebut. Terdapat dua varian, yakni Trevitchik dan Confederation. Trevitchik memiliki konfigurasi 4-8-4 dan pembangkit tenaga dari kayu. Panjang keseluruhan adalah 60 kaki dan berat 33 ton. Sedangkan Confederation memiliki panjang 93 kaki dan berat 319 saat beroperasi.

No.5700, 4-6-4 Type Express Locomotive. Beroperasi di Kanada, tipe ini memiliki ukuran silider 23x28 inci dan roda penggerak berdiameter 6 kaki 8 inci. Mesinnya menghasilkan traksi sebesar 43.300 pound dengan traksi tambahan 10.000 pound jika dilengkapi dengan booster. Lokomotif ini memiliki panjang 92 feet dan berat lebih dari 331 ton.

"Shire" Class LNER. Merupakan lokomotif ekspres 4-4-0 tiga silinder. Ukuran silindernya adalah 17x26 inci dengan couple wheels berdiameter 6 kaki 8 inci. Panjang mesin 58 kaki 3/4 inci dengan total jarak dari landasan mesin 24 kaki 11 inci. Shire memiliki total pemanasan permukaan 1.669-1/2 kaki persegi. Orang yang merancangnya adalah H.N. Gresley yang pada waktu itu menjabat sebagai Chief Mechanical Engineer LNER. Daerah operasi lokomotif ini adalah dari London menuju Edinburgh.

"Gladstone" dan "Terrier". Lokomotif tipe ini merupakan pengembangan desain yang dibuat oleh W. Stroudly untuk London, Brighton and South Coast Railway pada tahun 1882. Gladstone dan Terrier terkenal dengan front-coupled driving wheels dan merupakan mesin lokomotif Britania Raya yang dibangun untuk kereta ekspres. Adapun pendahulunya adalah Terrier 0-6-0 yang memiliki ukuran mesin lebih kecil.

2-10-0 Locomotive. Tipe ini digunakan di jalur kereta api Great Indian Peninsula Railway. Jumlah lokomotif yang diproduksi adalah 70 unit. Jarak tempuh yang dilalui lokomotif tersebut saat beroperasi mencapai hampir 3.500 mil.

"Santa Fe". Lokomotif tipe Santa Fe memiliki konfigurasi roda 2-10-2 dan digunakan untuk angkutan berat oleh Canadian National Railways. Mesin bertenaga besar ini memiliki boilers berdiameter 8 kaki 8 inci. 

Express Passenger Work. Tipe dengan mesin LMS 4-6-0 tiga silinder yang dibuat di Derby, Britania Raya, pada tahun 1934. Disebut pula sebagai 5XP locomotive, tipe ini memiliki driving wheels berdiameter 6 kaki 9 inci, silinder 17x26 inci, total heating surface 1.853 kaki persegi, dan working pressure 225 pound per inci persegi. Berat mesin dan tender adalah 134-3/4 ton. 

4-6-0 Locomotives. Merupakan pelopor tipe 4-6-0 di Britania Raya yang awalnya dimiliki oleh Highland Railways sebelum kemudian pindah tangan ke LMS. Digerakkan oleh mesin buatan tahun 1894 dengan berat mesin 56 ton tanpa tender. Pada saat pembuatannya mesin tipe ini merupakan yang terbesar di Britania Raya dan saat ini masih dapat diperbandingkan dengan lokomotif modern 4-6-0 dan 4-8-2. 

"Mikado". Lokomotif dari Belgia buatan Ateliers Metatlurgiques, Tubize. Lokomotif jenis ini digunakan untuk mengangkut penumpang jalur Brussels-Arlon. Daya angkutnya mencapai 600 ton hingga gradien 1 inci 62-1/2 pada kecepatan 25 mil per jam. Mikado sempat menjadi lokomotif paling bertenaga di Benua Eropa. 

Eight-coupled wheels 6 ft. 5 in diameter. Merupakan lokomotif bermesin ekspres buatan Austria. Kekuatan angkutnya adalah 500-700 ton dan beroperasi di jalur kereta api Wina-Salzburg. Bagian firebox dan boiler memiliki berat 35 ton dengan panjang connecting rods 13 kaki 11 inci. 

International Limited. Lokomotif milik Canadian National Railways yang memiliki wilayah operasi hingga Amerika Serikat, yakni antara Port Huron dan Chicago. International Limited digerakkan oleh mesin yang sangat bertenaga dengan konfigurasi 4-8-4.

2-6-2 LNER. Lokomotif dengan ukuran silinder 16x26 inci. Memiliki total heating surface 1609 kaki persegi, grate area 22,08 kaki persegi, tekanan uap 180 pound per inci persegi dan berat working order 84 ton.

Passenger Tank Locomotive. Lokomotif ini memiliki konfigurasi roda 2-10-2 dan dioperasikan oleh Polish State Railways. Spesifikasinya adalah sebagai berikut: diameter coupled wheels 4 kaki 9-1/8 inci; silinder 24-7/8 inci x 27-5/8 inci; panjang mesin pada buffers 50 kaki 3-1/4 inci; dan traksi maksimum 37.919 pound.

"Mountain". Lokomotif tipe Mountain dirancang di Britania Raya dan memiliki konfigurasi 4-8-2 dan merupakan yang pertama pada kelasnya. Lokomotif ini memang dikhususkan untuk perjalanan melalui jalur pegunungan. Pada awal operasinya Mountain dikelola oleh Chesapeake and Ohio Railroads.

2-4-0 Locomotive. Merupakan tipe lokomotif yang tadinya dikelola oleh Midland Railway, salah satu perusahaan konstituen dari LMS. Pembuatannya dimulai pada tahun 1867 di Derby, Inggris dan dikenal dengan rangka luarnya yang dilengkapi oleh engkol dan bearing luar. Lokomotif tipe ini sangat sulit untuk dijumpai era kekinian. 

"Iron Duke" Class. Lokomotif buatan 1888 ini menggunakan mesin broad-gauge Great Western. Konfigurasnya sulit untuk dikelompokkan ke dalam tipe apa meskipun lebih mendekati 4-2-2. Iron Duke memiliki driving wheels 8 kaki sehingga mendukungnya untuk bergerak dengan cepat. 

4-4-0 Compound Locomotive. Hasil rancangan London, Midland and Scottish Railway di Derby, Inggris pada tahun 1925. Saat ini masih tersisa 230 unit. 4-4-0 Compound locomotive memiliki satu silinder bertekanan tinggi di bagian dalam dan dua silinder bertekanan rendah di bagian luar.

Referensi:
Mike's Railway History: A look at railways in 1935 & Before. Diakses 15 Juli 2017 dari
http://mikes.railhistory.railfan.net/r176.html. 
(2017). Mrr.trains.com. Diakses 6 Desember 2017, dari http://mrr.trains.com/-/media/import/images/5/3/f/mrr-pr0107_25.jpg.


21 November 2017

Price Alert Untuk Kepuasan Berwisata

Pariwisata merupakan salah satu prima donna bagi negara Indonesia. Wilayah dan masyarakat Indonesia yang memiliki kekayaan budaya dan potensi alam menjadikan kegiatan pariwisata sebagai andalan pengumpul devisa negara. Ulasan dari Indonesia Investments (indonesia-investments.com, 16 Desember 2016) menyebutkan bahwa kunjungan wisatawan ke daerah-daerah wisata di Indonesia sejak tahun 2013 terus mengalami pertambahan. Sebagai contoh, jumlah kunjungan wisatawan asing bertambah dari 8,8 juta pada tahun 2013 menjadi 9,4 juta pada bulan Oktober 2016. Sebagai wujud dari pemenuhan kebutuhan rekreasi, berwisata semakin hari semakin berperan signifikan bagi kehidupan manusia. Aktivitas sehari-hari masyarakat kekinian semakin dinamis dan beragam. Keadaan ini menambah tingkat stress sehingga orang memerlukan rekreasi  untuk, antara lain, menyegarkan ingatan, memulihkan energi, mencari inspirasi, dan memperbarui semangat untuk menjalani aktivitas berikutnya.

Hall dan Page (2014) berpendapat bahwa bidang pariwisata berhubungan dengan penyediaan rute atau jalur destinasi dan perjalanan. Parisiwata tidak hanya bergantung pada jejaring transportasi, jasa dan perdagangan, tetapi juga pada hubungan sosial, politik dan lingkungan antara produsen dan konsumen (wisatawan yang melakukan perjalanan atau memiliki pengalaman wisata). Berkenaan dengan pendapat ini individu atau kelompok individu yang bergerak di dalam penyediaan jasa informasi mengenai pariwisata dan perjalanan harus memperhatikan kebutuhan konsumen akan informasi yang berhubungan dengan fasilitas dan akomodasi. Pelayanan yang diberikan oleh Traveloka di dalam bentuk Price Alert sangat diperlukan oleh calon pengguna perjalanan dan atau wisata. Dengan informasi tersebut konsumen akan dapat menyusun anggaran dan menyesuaikan jadual perjalanan dan atau wisata sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi tingkat dan nilai kepuasan mereka pada saat menjalani kegiatan perjalanan dan atau wisata tersebut.

Pengalaman saya pada saat ikut mengurusi perjalanan wisata ke Pulau Bali dengan moda transportasi pesawat terbang ibu-ibu anggota Paguyuban Pedagang Pasar Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah dengan memanfaatkan jasa informasi Traveloka membuktikan bahwa Price Alert, yang compatible untuk diunduh menggunakan telepon selular berbasis Android™, sangat membantu kelancaran di dalam menentukan harga tiket. Tiga prinsip utama PriceAlert, yakni Smart Tracking, Instant Notifications, dan Easy to set up, membantu kedua belah pihak, penyedia layanan wisata dan konsumen wisata, untuk bersama-sama menentukan tarif tiket, perjalanan, dan kegiatan selama wisata berlangsung. Sebuah pengalaman yang baru dan melegakan, karena aplikasi tersebut membantu untuk menekan terjadinya konflik mengenai harga. Antara penyedia layanan dan pengguna layanan wisata tidak merasa ada yang dirugikan. Sebelum mempergunakan aplikasi Price Alert pihak penyedia layana wisata merasa kewalahan oleh terjadinya perubahan harga tiket pesawat sewaktu-waktu. Penyedia fasilitas pemesanan tiket sering memberitahukan terjadinya kenaikan harga. Bilamana terjadi kenaikan harga maka pihak yang pertama kali mendapatkan pemberitahuan adalah penyedia layanan wisata. Dengan diperkenalkannya fasilitas Price Alert antara penyedia dan pengguna layanan wisata akan mendapatkan informasi pada waktu yang relatif bersamaan dengan mengakses telefon selular pada saat dan di tempat masing-masing. Perkembangan ini mempermudah rancangan dan perencanaan anggaran antara kedua belah pihak.

Langkah Traveloka dengan menyediakan layanan digital berupa Price Alert sejalan dengan prinsip melakukan yang terbaik untuk segala sesuatu yang dianggap penting bagi konsumen ("do best what matters most to customers"). Pada skala makro, kepuasan konsumen akan mempengaruhi hal-hal lain yang terjadi di pasar, seperti ketenagakerjaan, harga, profit, suku bunga, produksi dan pertumbuhan ekonomi pelaku usaha (Hill et al., 2007).


Setelah kunjungan wisata ke Pulau Bali, sejumlah peserta wisata Paguyuban Pedagang Pasar Ngadirejo berpendapat bahwa mereka merasa puas terhadap transparansi – demikian istilah yang mereka gunakan – mengenai harga tiket yang dapat diakses dari fasilitas Price Alert. Perkembangan selanjutnya pada saat melaksanakan kegiatan serupa dengan konsumen yang sama antara penyedia layanan wisata dan pengguna layanan wisata memerlukan waktu yang lebih singkat di dalam melakukan negosiasi harga tiket perjalanan. Sebuah penghematan energi dan pikiran yang signifikan.

Bagi penyedia perjalanan wisata secara khusus Price Alert membantu di dalam penyusunan proposal kegiatan wisata terkait dengan platform harga tiket yang akan dipresentasikan kepada calon konsumen. Fluktuasi harga dan trend perubahan harga tiket di dalam kurun waktu tertentu dapat dipergunakan sebagai referensi untuk menentukan tarif yang realistis, dalam arti bahwa, pada satu pihak, usaha yang dijalani oleh penyedia perjalanan dan wisata akan berkelanjutan, sedangkan, pada pihak lain, konsumen perjalanan dan wisata tidak merasa terlalu dirugikan oleh harga tiket perjalanan yang akan dilakukan.

Bagi Traveloka sendiri, merujuk pada pendapat Hill et al. (2007) di atas, fasilitas Price Alert tentunya akan ikut berkontribusi di dalam meningkatkan profit dan pertumbuhan ekonomi usahanya. Aplikasi Price Alert wajib dipertahankan karena calon konsumen saat ini semakin peka dengan pengeluaran finansial mereka dengan semakin banyaknya ragam kebutuhan yang harus dipenuhi.

Referensi:
Hall C. M., Page S. J. (2014). The Geography of Tourism and Recreation: Environment, place, and space. Fourth edition. New York, United States: Routledge
Hill N., Roche G,  Allen R. (2007) Customer Satisfaction: The customer experience through the customer's eyes. London, Great Britain: Cogent Publishing
Industri Pariwisata Indonesia. Diakses dari [https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/industri-sektor/pariwisata/item6051?] pada tanggal 18 November 2017.

18 November 2017

Agenda OECD: Ekonomi Laut 2030

(Organisation for Economic Co-operation and Development) merupakan sebuah organisasi ekonomi lintas-pemerintah yang dibentuk pada tahun 1960 dengan misi mewujudkan kemajuan ekonomi dan perdagangan dunia. OECD saat ini beranggotakan 35 negara dari empat benua (Asia, Australia, Amerika, dan Eropa). Saat ini OECD bermarkas di kota Paris, Prancis.

Melalui dokumennya yang berjudul "The Ocean Economy 2030" organisasi ini menyajikan ulasan singkat tentang peran penting dari lingkungan laut sebagai pintu gerbang ekonomi era baru. Organisasi tersebut berkeyakinan bahwa laut, dengan kekayaan sumber dayanya, merupakan tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi, ketenagakerjaan dan inovasi. Laut telah lama diakui sebagai bagian yang tidak terpisahkan di dalam menjawab tantangan-tantangan global yang dihadapi oleh Planet Bumi di dalam dekade mendatang, berkenaan dengan isu-isu seperti ketahanan dan keamanan pangan, perubahan iklim, penyediaan energi, sumber daya alam, dan perawatan medis. Laut berpotensi untuk membantu manusia menjawab tantangan-tantangan besar pada masa mendatang. Namun, laut saat ini tengah menghadapi tekanan akibat eksploitasi yang berlebihan, pencemaran, penurunan keragaman hayati, dan perubahan iklim. Maka dari itu, OECD berpendapat bahwa pendekatan-pendekatan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan perlu digalakkan untuk memperkuat pembangunan ekonomi laut.

Ekonomi laut (Ocean economy) mencakup segala jenis industri yang berbasis laut (misalnya, shipping, penangkapan ikan, pembangkit energi tenaga angin lepas pantai (offshore wind), dan bioteknologi kelautan) dan segala hal yang berhubungan dengan alam dan ekosistem yang disediakan oleh laut (misalnya perikanan, absorpsi CO2).


Ekonomi laut global yang diukur dari kontribusi yang diberikan oleh industri-industri berbasis laut bagi hasil ekonomi dan ketenagakerjaan memiliki peran yang signifikan. Menurut Database Ekonomi Laut OECD 2010 ekonomi laut menghasilkan gross value added (GVA) 1,5 triliun dollar AS, atau sekitar 2,5% GVA total di dunia. Minyak dan gas lepas pantai berkontribusi hingga sepertiga dari total value added industri-industri berbasis laut. Pada periode yang sama tenaga kerja purna-waktu langsung di dalam ekonomi laut mencapai nilai sekitar 31 juta. Penyedia lapangan pekerjaan terbesar adalah perikanan tangkap industri dan pariwisata laut dan pantai.

Kegiatan ekonomi di kawasan laut sedang mengalami perkembangan yang pesat. Faktor pendorong utamanya ialah pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kenaikan perdagangan dan pendapatan, iklim dan lingkungan, dan teknologi. Namun, terdapat satu keterbatasan, yakni terganggunya kesehatan ekonomi laut tersebut. Dengan semakin tingginya emisi karbon antropogenik maka laut telah menyerap banyak karbon, sehingga laut mengalami asidifikasi. Suhu dan ketinggian laut juga bertambah, arus mengalami pergeseran, sehingga menyebabkan hilangnya keragaman hayati dan habitat, mengubah komposisi persediaan ikan dan pola migrasi, serta menaikkan frekuensi cuaca buruk pada lingkungan laut. Prospek untuk perkembangan laut pada masa mendatang akan diperburuk oleh pencemaran yang berasal dari daratan, khususnya limpahan kegiatan pertanian, bahan kimia, dan pencemar mikro-plastik dan makro-plastik yang mengalir ke laut melalui sungai, serta penangkapan berlebihan dan berkurangnya persediaan ikan di banyak tempat di dunia.

Menuju ke tahun 2030, banyak industri berbasis laut yang memiliki potensi untuk melampaui pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan, baik dalam value added maupun ketenagakerjaan. Sejumlah proyeksi menyatakan bahwa antara tahun 2010 dan 2030, menurut skenario "bisnis sebagaimana mestinya", ekonomi laut ditengarai akan melipatgandakan kontribusi value added global, mencapai nilai hingga lebih dari 3 triliun dollar AS. Pertumbuhan yang kuat khususnya diharapkan di dalam budidaya kelautan, offshore wind, pengolahan ikan dan pembuatan dan perbaikan kapal. Industri laut juga berpotensi untuk memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan tenaga kerja. Pada tahun 2030, industri laut diharapkan menampung sekitar 40 juta tenaga kerja purna-waktu di dalam skenario bisnis sebagaimana mestinya. Pertumbuhan tercepat dalam bidang lapangan pekerjaan diharapkan terjadi pada kegiatan-kegiatan pembangkit energi tenaga angin lepas pantai, budidaya kelautan, pengolahan ikan dan dermaga.

Di dalam beberapa dekade yang akan datang kemajuan sains dan teknologi diharapkan memberikan peranan yang penting, baik di dalam menjawab tantangan lingkungan laut maupun perkembangan kegiatan ekonomi berbasis laut. Inovasi-inovasi di dalam penyempurnaan bahan, rekayasa dan teknologi bawah laut, sensor dan pencitraan, teknologi satelit, komputerasi dan analitik data besar (big data analytics), sistem otonom, bioteknologi dan nanoteknologi -- setiap sektor dari ekonomi laut -- akan dipengaruhi oleh kemajuan-kemajuan teknologi.

Di dalam konteks perubahan yang pesat, regulasi dan tata kelola akan berusaha keras untuk mengimbangi. Dunia semakin menjadi multi polar dan sedang mengalami kesulitan di dalam memperkuat konsensus internasional terhadap isu-isu global dan regional yang signifikan bagi lingkungan laut dan industri laut. Setidaknya untuk masa mendatang, regulasi mengenai kegiatan-kegiatan laut diharapkan terus menjadi sektor andalan, dengan usaha-usaha difokuskan pada integrasi industri-industri baru laut ke dalam kerangka regulasi yang berlaku dan yang terfragmentasi.

Pertumbuhan mendatang dari industri-industri berbasis laut pada skala yang direkomendasikan oleh laporan ini mencakup prospek dari semakin besarnya tekanan terhadap sumber daya laut dan ruang laut (ocean space), terlebih di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE), di mana sebagian besar aktivitas berlangsung. Ketidakmampuan sejauh ini untuk mengantisipasi tekanan dengan cara efektif dan tepat waktu sebagian besar terkait dengan pengertian secara historis mengenai pengelolaan sektor demi sektor kegiatan kelautan. Semakin banyak negara dan kawasan yang mencanangkan kerangka kebijakan strategis untuk pengelolaan laut yang lebih baik di dalam ZEE mereka. Akan tetapi, banyak hambatan yang menghadang pengelolaan laut yang lebih efektif dan terpadu, yang harus dibereskan sesegera mungkin.

Guna mendorong prospek pembangunan jangka panjang dari industri laut dan kontribusi mereka bagi pertumbuhan dan ketenagakerjaan, namun tetap dengan mengelola laut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, laporan ini mengedepankan sejumlah rekomendasi untuk mendorong pembangunan berkelanjutan ekonomi laut, sebagai berikut: 1) Memperkuat kerjasama internasional di dalam sains dan teknologi kelautan sebagai sarana untuk merangsang inovasi dan memperkuat pembangunan ekonomi laut yang berkelanjutan, antara lain dengan melakukan kajian dan studi perbandingan mengenai peran dari kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan klaster-klaster maritim seluruh dunia; 2) Memperkuat pengelolaan laut yang terpadu, khususnya dengan cara semakin mengoptimalkan analisis ekonomi dan instrumen ekonomi di dalam pengelolaan laut yang terpadu, misalnya dengan membuat platform internasional untuk alih pengetahuan, pengalaman dan best practice; 3) Menyempurnakan dasar statistik dan metodologis pada skala nasional dan internasional untuk mengukur skala dan kinerja industri berbasis laut serta kontribusinya bagi ekonomi secara keseluruhan; dan 4) Mengembangkan kapasitas untuk membuat rancangan prediksi mengenai industri laut pada masa mendatang, antara lain dengan mengadakan kajian terhadap perubahan-perubahan masa depan dalam industri berbasis laut, serta memperkuat pengembangan kapasitas OECD untuk pemodelan tren-tren masa depan di dalam ekonomi laut pada skala global.

18 October 2017

Hubungan Ekspor-Impor Jerman dengan Hindia Timur

Sumber: Geerken H. H. (2017). Hitler's Asian Adventure. Norderstedt, Germany: BoD. pp: 66-68.

Jerman pada abad ke-19 adalah negara yang mengalami kelangkaan cadangan bahan mentah. Karena keadaan tersebut maka Kaisar Wilhelm II mengambil inisiatif dengan mendirikan sebuah lembaga untuk transportasi perdagangan dan maritim yang diberi nama "Koniglische Institut fuer Seeverkehr und weltwirtschaft", atau, dalam bahasa Inggris bernama "Royal Institute for Maritime Transport and World Trade". Peresmian lembaga ini berlangsung pada tahun 1914 di Kiel dengan tujuan untuk mencari sumber bahan mentah untuk mendukung industri negara Jerman. Perubahan nama terjadi pada tahun 1934 pada era pemerintahan Adolf Hitler, yakni menjadi "Institute fuer Weltwirtschaft an der Universitaet Kiel" (Kiel University Institute for World Trade).

Hubungan perdagangan dengan Hindia Timur dilakukan oleh Jerman di dalam berbagai bentuk. Jerman mengimpor banyak hasil bumi untuk bahan makanan dari Hindia Timur, antara lain tebu, tembakau, kopi, teh, karet, kelapa, dan rempah-rempah (Loeber,1939). Kegiatan ekspor bahan mentah dari Hindia Timur ke Jerman mencapai puncaknya pada era 1930an sebelum terjadinya Perang Dunia Kedua. Literatur teknik berbahasa Jerman yang ditulis selama periode Third Reich mengenai Hindia Timur menyebutkan bahwa pemerintah kolonial Belanda memiliki hubungan yang baik dengan Jerman, misalnya, Loeber (1939) menuliskan bahwa sumber daya alam yang melimpah di Hindia Timur menjadi tujuan utama Jerman. Selanjutnya,  kegiatan ekspor bahan mentah berupa hasil tambang dari Hindia Belanda menuju Jerman berlangsung secara intensif. Volume ekspor bahan mentah yang tercatat pada waktu itu adalah 11.3000 ton bijih mangan, 23.000 ton bijih nikel, 23.000 ton magnesium, 2,3 ton emas, 127.640 ton bauksit dan 20,6 ton perak, selain juga krom, kobalt, dan molybdenum. Daerah penambangan utama antara lain terdapat di Toli-Toli dan Riau. Usaha penambangan dilakukan oleh Mijnbouw Maatschapij dan Nederlansch-Indische Bauxiet (Museum Geologi Bandung, tanpa tahun; www.abnnewswire.net).

Ekspor kina untuk bahan baku obat-obatan pada tahun 1937 mencapai nilai 10.000 ton dan hampir semuanya dipasok ke perusahaan kimia IG-Farben. Hubungan dagang Jerman-Hindia Timur berlangsung dua arah, di mana Jerman mengekspor barang-barang hasil industri, antara lain senjata dan mesin produksi. Volume impor barang-barang produksi Jerman sangat besar dan berlangsung selama bertahun-tahun. Barang impor yang didatangkan ke Hindia Timur bermacam-macam dari mesin berat hingga pisau, bahkan jarum jahit. Memasuki abad ke-19 Jerman mengekspor lokomotif uap, rel kereta api, dan trem (menjadi pelopor transportasi trem di Batavia). Perusahaan AEG menjadi penyedia jalur kereta api bertenaga listrik dari Batavia menuju Bogor. Perusahaan Telefunken membangun sistem transmisi dan penerima informasi, seperti transmitter utama "Malabar" di dekat Bandung, yang memungkinan sambungan radio dari Pulau Jawa ke Belanda. Jerman juga membangun sejumlah stasiun pembangkit tenaga dan memelopori jalur telepon di Hindia Timur.

Selama berlangsungnya Perang Dunia Kedua fokus pertambangan Jerman di Hindia Timur adalah molybdenum. Bahan tambang ini dikirimkan ke Jermanmelalui Jepang. Setelah Perang Dunia Kedua berakhir dan Jerman dinyatakan kalah perang, usaha penambangan molybdenum diambilalih oleh pihak-pihak dari Sekutu, yakni Inggris, Australia (Santos), Spanyo, dan Amerika Serikat (Rio Tinto).

Bacaan pendukung:
Loeber I. (1939). Das niederlaendsche Kolonialreich.
Institut fuer Weltwirtschaft an der Universitaet Kiel. (Tanpa tahun). Verfasser: Zottmann, Dokumen C 6461, Info durch Herrn Prof. Dr Frederico Foders.
Museum Geologi Bandung. (Tanpa tahun). Daftar.
The Malala Molybdenum Project, www.abnnewswire.net. Diakses tanggal 11 Oktober 2017.

1 August 2017

Kejuaraan Dunia Atletik 2017 - Skuad Asia

Berikut ini adalah daftar atlit berbendera negara Asia yang lolos kualifikasi Kejuaraan Dunia Atletik 2017 di London (Britania Raya) berdasarkan daftar resmi yang dirilis oleh International Association of Athletic Federations (IAAF) pada tanggal 30 Juli 2017, beserta catatan terbaik musim ini (Season Best).

ATLIT PUTRA

100m:
10.05 Yoshihide Kiryu (Jepang)
10.05 Abdul Hakim Sani Brown (Jepang)
10.06 Shu Bingtian (Cina)
10.07 Kim Kuk Young (Korea Selatan)
10.08 Aska Cambridge (Jepang)
10.08 Shuhei Tada (Jepang)
10.10 Xie Zhenye (Cina)
10.12 Andrew Fiher (Bahrain)
10.25 Hassan Taftian (Iran)
10.28 Abdullah Abkar Mohammed (Arab Saudi)
10.37 Hassan Saaid (Maladewa)
10.88 Masbah Ahmmed (Bangladesh)
10.61 Hanh Bui Ba (Vietnam) - catatan Personal Best.
10.87 Phearath Nget (Kamboja) - catatan Personal Best.
11.33 Said Gilani (Aghanistan) - catatan Personal Best.

200m
20.33 Abdul Hakim Sani Brown (Jepang)
20.40 Shota Iizuka (Jepang)
20.40 Salem Eid Yaqoob (Bahrain)
20.40 Xie Zhenye (Cina)
21.12 Mohamed Alsadi (Oman)
21.66 Muhd Noor Firdaus Ar-Rasyid (Brunei)

400m
45.15 Abdelalah Haroun (Qatar)
45.32 Muhammed Anas Yahiya (India)
45.48 Takamasa Kitagawa (Jepang)

800m
1:47.04 Wesam Almassri (Palestina)
1:49.47 Ebrahim Alzofairi (Kuwait)
1:49.51 Saud Alzaabi (Uni Emirat Arab)
1:58.32 Mikhail Soloshenko (Kyrgyzstan)
2:00.01 Pyae Sone Maung (Myanmar)

1500m
3:35.23 Benson Kiplagat Seurei (Bahrain)

5000m
13:04.82 Albert Kibichii Rop (Bahrain)
13:09.93 Birhanu Balew (Bahrain)
13:15.53 Zouhair Aouad (Bahrain)
14:02.90 Lakhsmanan Govindan (India)

10.000m
27:38.76 Abraham Naibei Cheroben (Bahrain)

Marathon
2:08:22 Hiroto Inoue (Jepang)
2:09:18 Yuki Kawauchi (Jepang)
2:09:32 Kentaro Nakamoto (Jepang)
2:14:01 Yu Seung Yeop (Korea Selatan)
2:14:58 Hassan Chani (Bahrain)
2:15:12 Ser-Od Bat-Ochir (Mongolia)
2:15:35 Shumi Dechasa (Bahrain)
2:15:37 Thanackal Gopi (India)
2:16:43 Shin Kwang Sik (Korea Selatan)
2:17:48 Byambajav Tseveenravdan (Mongolia)
2:18:17 Kim Hyo Su (Korea Selatan)
2:18:54 Munkhbayar Narandulam (Mongolia)
2:24:13 Bhumiraj Rai (Nepal)
2:13:47 Anuradha Indrajith Cooray (Sri Lanka) - catatan Personal Best.

3000m-steeplechase
8:29.05 Hironori Tsuetaki (Jepang)
8:43.82 Hossein Keyhani (Iran)

110m-gawang
13.31 Xie Wenjun (Cina)
13.39 Kim Byoung Jun (Korea Selatan)
13.39 Abdulaziz Al Mandeel (Kuwait)
13.40 Genta Masuno (Jepang)
13.44 Shunya Takayama (Jepang)
13.48 Siddhanth Thingalaya (India)
13.48 Yaqoub Mohamed Al-Youha (Kuwait)
14.45 Xaysa Anousone (Laos)

400m-gawang
48.31 Abderrahman Samba (Qatar)
48.94 Takatoshi Abe (Jepang)
49.33 Ryo Kajiki (Jepang)
49.35 Yusuke Ishida (Jepang)
49.57 Eric Cray (Filipina)
51.15 Mehboob Ali (Pakistan)

Lompat tinggi
2,38m Mutaz Essa Barshim (Qatar) - world lead.
2,38m Majd Eddin Ghazal (Syria)
2,31m Zhang Guowei (Cina)
2,30m Wang Yu (Cina)
2,30m Takashi Eto (Jepang)
2,30m Woo Sang Hyeok (Korea Selatan)
2,30m Nauraj Singh Randhawa (Malaysia)

Lompat galah
5,72m Seito Yamamoto (Jepang)
5,70m Xue Changrui (Cina)
5,70m Ding Bangchao (Cina)
5,70m Yao Jie (Cina)
5,70m Hiroki Ogita (Jepang)

Lompat jauh
8,31m Shi Yuhao (Cina)
8,29m Wang Jianan (Cina)
8,26m Huang Changzhou (Cina)
8,22m Gao Xinglong (Cina)
8,11m Kim Deok Hyeon (Korea Selatan)

Lompat jangkit
17,27m Dong Bin (Cina)
17,18m Wu Ruiting (Cina)
16,87m Ryoma Yamamoto (Jepang)
16,86m Fang Yaoqing (Cina)

Lempar cakram
64,54m Ehsan Hadadi (Iran)
60,89m Mustafa Kazem Dagher (Irak)

Lontar martil
77,81m Dilshod Nazarov (Tajikistan)
76,14m Ashraf Amgad Elseify (Qatar)

Lempar lembing
86,92m Cheng Chao Tsun (Cina Taipei)
85,63m Neeraj Chopra (India)
85,23m Ahmed Bader Magour (Qatar)
84,57m Devender Singh (India)
82,19m Waruna Rankoth Pedige (Sri Lanka)
82,13m Ryohei Arai (Jepang)

Dasalomba
7827 Akihiko Nakamura (Jepang)
7807 Keisuke Ushiro (Jepang)
7732 Sutthisak Singkhon (Thailand)

20km-jalan cepat
1:17:54 Wang Kaihuang (Cina) - world lead.
1:18:18 Eiki Takahashi (Jepang)
1;18:23 Isamu Fujisawa (Jepang)
1:19:12 Jin Xiangqian (Cina)
1:19:23 Wang Rui (Cina)
1:19:40 Daisuke Matsunaga (Jepang)
1:19:50 Kim Hyun Sub (Korea Selatan)
1:20:47 Georgiy Sheiko (Kazakhstan)
1:20:59 Irfan Kolothum Thodi (India)
1:21:38 Singh Devender (India)
1:22:58 Ganapathi Krishnan (India)
1:23:49 Kim Dae Ho (Korea Selatan)
1:29:52 Choe Byeong Kwang (Korea Selatan)

50km-jalan cepat
3:46:12 Niu Wenbin (Cina)
3:48:38 Wu Qianlong (Cina)
3:49:17 Satoshi Maruo (Jepang)
3:59:50 Park Chil Sung (Korea Selatan)
3:42:08 Kai Kobayashi (Jepang) - catatan Personal Best.
3:42:54 Yu Wei (Cina) - catatan Personal Best.

4x100m-relay
38.19 Cina
39.08 Jepang

4x100m-relay
3:02.92 India
3:06.04 Jepang

ATLIT PUTRI

100m
11.30 Dutee Chand (India)
11.32 Wei Yongli (Cina)
11.72 Yelena Ryabova (Turkmenistan) - catatan Personal Best

200m
22.95 Edidiong Ofonimue Odiong (Bahrain)
23.01 Viktoriya Zyabkina (Kazakhstan)
24.94 Ulfa Silviana (Indonesia)
25.92 Regina Tugade (Guam)

400m
51.28 Nirmla Nirmla (India)
51.33 Salwa Eid Naser (Bahrain)

800m
2:02.58 Nimali Arachchige (Sri Lanka)

5000m
15:09.93 Kalkidan Gezahegne (Bahrain)
15:19.87 Rina Nabeshima (Jepang)
15:20.50 Ayuko Suzuki (Jepang)
15:21.69 Bontu Rebitu (Bahrain)
15:26.49 Mimi Belete (Bahrain)

10.000m
31:19.00 Desi Mokonin (Bahrain)
31:39.41 Mizuki Matsuda (Jepang)
31:41.65 Ayuko Suzuki (Jepang)
31:48.81 Miyuki Uehara (Jepang)
31:54.95 Shitaye Eshete (Bahrain)
32:21.21 Garya Maslova (Kyrgyzstan)
31:57.77 Sitora Hamidova (Uzbekistan) - catatan Personal Best

Marathon
2:21:36 Yuka Ando (Jepang)
2:23:47 Mao Kiyota (Jepang)
2:24:22 Risa Shigetomo (Jepang)
2:24:27 Eunice Chebichii Chumba (Bahrain)
2:29:06 Jo Un Ok (Korea Utara)
2:31:49 Kim Hye Gyong (Korea Utara)
2:32:20 Kim Seong Eun (Korea Selatan)
2:32:27 Choi Kyung Sun (Korea Selatan)
2:32:59 Munkhzaya Bayartsogt (Mongolia)
2:33:02 Lim Kyung Hee (Korea Selatan)
2:36:06 Cao Mojie (Cina)
2:39:08 Monika Athare (India)
2:39:21 Khishigsaikhan Galdabrakh (Mongolia)
2:43:31 Hiruni Kesara Wijavaratne (Sri Lanka)
2:44:12 Yelena Nanaziashvili (Kazakhstan)
2:24:14 Rose Cheimo (Bahrain) - catatan Personal Best
2:27:58 Kim Hye Song (Korea Utara) - catatan Personal Best
2:30:58 Iuliia Andreeva (Kyrgyzstan) - catatan Personal Best
2:40:00 Mayada sayyad (Palestina) - catatan Personal Best
2:40:35 Viktoriia Poliudina (Kyrgyzstan) - catatan Personal Best
2:43:14 Liu Qinghong (Cina) - catatan Personal Best
2:43:25 Hsieh Chien Ho (Cina Taipei) - catatan Personal Best

3000m-steeplechase
9:01.99 Ruth Jebet (Bahrain)
9:22.82 Winfred Mutile Yavi (Bahrain)
9:26.00 Tigest Getent (Bahrain)
9:59.47 Sudha Singh (India)

110m-gawang
13.03 Hitomi Shimura (Jepang)
13.06 Ayako Kimura (Jepang)
13.10 Jung Hye Lim (Korea Selatan)

400m-gawang
54.57 Oluwakemi Adekoya (Bahrain)
56.08 Aminath Yusuf Jamal (Bahrain)
59.34 Kristina Pronzhenko (Tajikistan)

Lompat tinggi
1,90m Nadiya Dusanova (Uzbekistan)

Lompat jangkit
13,94m Mariya Ovchinnikova (Kazakhstan)

Tolak peluru
19,56m Gong Lijiao (Cina)
18,34m Gao Yang (Cina)
18,18m Bian Ka (Cina)
17,69m Noora Salem Jasim (Bahrain)

Lempar cakram
64,08m Su Xinyue (Cina)
63,06m Feng Bin (Cina)
62,90m Chen Yang (Cina)
56,82m Subenrat Insaeng (Thailand)

Lontar martil
76,25m Wang Zheng (Cina)
72,12m Zhang Wenxiu (Cina)
70,66m Luo Na (Cina)

Lempar lembing
66,47m Liu Shinyi (Cina)
64,10m Li Lingwei (Cina)
62,07m Lyu Huihui (Cina)
61,95m Yuki Ebihara (Jepang)
61,86m Anu Rani (India)
61,07m Marina Saito (Jepang)
60,03m Risa Miyashita (Jepang)

Saptalomba
5942 Swapna Barman (India)

20km-jalan cepat
1:26:28 Lyu Xiuzhi (Cina) - world lead
1:26:29 Wang Na (Cina)
1:26:35 Yang Jiayu (Cina)
1:29:40 Kimiko Okada (Jepang)
1:34:01 Khushbir Kaur (India)
1:35:13 Ching Siu Nga (Hong Kong)
1:35:35 Regina Rykova (Kazakhstan)
1:37:38 Lee Da Seu (Korea Selatan)
1:39:00 Diana Aydosova (Kazakhstan)
1:39:50 Polina Repina (Kazakhstan)

50km-jalan cepat
4:22:22 Yin Hang (Cina)
4:27:24 Yang Shuqing (Cina)

4x100m-relay
43.02 Kazakhstan
43.11 Cina

4x400m-relay
3:31.34 India

31 July 2017

Kejuaraan Dunia Atletik - London 2017 - Top 20 Atlit Event Lempar

Daftar 20 atlit dengan catatan terbaik (menurut Season Best IAAF 2017) yang akan bertanding pada Kejuaraan Dunia Atletik di London pada tanggal 4-13 Agustus 2017 untuk event lempar cakram, lempar lembing, lontar martil dan tolak peluru.
Angka di depan menunjukkan catatan terbaik musim (Season Best) 2017.

Datar di bawah ini berpedoman pada rilis IAAF tertanggal 30 Juli 2017.

TOP 20 LEMPAR CAKRAM PUTRA (dalam meter)
1) 71,29 Daniel Stahl (Swedia)
2) 68,88 Fredrick Dacres (Jamaika)
3) 68,61 Andrius Gudzius (Lithuania)
4) 67,68 Piotr Malachowski (Polandia)
5) 67,05 Philip Milanov (Belgia)
6) 66,73 Robert Urbanek (Polandia)
7) 66,61 Andrew Evans (Amerika Serikat)
8) 66,52 Lukas Weisshaidinger (Austria)
9) 66,30 Robert Harting (Jerman)
10) 65,87 Gerd Kanter (Estonia)
11) 65,72 Niklas Arrhenius (Swedia)
12) 65,67 Zoltan Kovago (Hungaria)
13) 65,56 Martin Wierig (Jerman)
14) 65,48 Mason Finley (Amerika Serikat)
15) 65,37 Rodney Brown (Amerika Serikat)
16) 65,13 Apostolos Parellis (Siprus)
17) 65,13 Brian Williams (Amerika Serikat)
18) 65,10 Lolassonn Djouhan (Prancis)
19) 65,07 Victor Butenko (ANA)*
20) 65,00 Travis Smikle (Jamaika)

TOP 20 LEMPAR CAKRAM PUTRI (dalam meter)
1) 71,41 Sandra Perkovic (Kroasia)
2) 69,19 Yaime Perez (Kuba)
3) 66,78 Dani Stevens (Australia)
4) 65,78 Gia Lewis-Smallwood (Amerika Serikat)
5) 65,76 Denia Caballero (Kuba)
6) 65,76 Nadine Mueller (Jerman)
7) 64,69 Valarie Allman (Amerika Serikat)
8) 64,68 Andressa De Morais (Brasil)
9) 64,45 Claudine Vita (Jerman)
10) 64,09 Natalia Semenova (Ukraina)
11) 64,08 Su Xinyue (Cina)
12) 63,90 Anna Rueh (Jerman)
13) 63,85 Whitney Ashley (Amerika Serikat)
14) 63,63 Julia Fischer-Harting (Jerman)
15) 63,63 Melina Robert-Michon (Prancis)
16) 63,06 Fen Bing (Cina)
17) 62,90 Chen  Yang (Cina)
18) 62,73 Kellion Knibb (Jamaika)
19) 62,59 Shadae Lawrence (Jamaika)
20) 62,29 Fernanda Martins (Brasil)

TOP 20 LEMPAR LEMBING PUTRA (dalam meter)
1) 94,44 Johannes Vetter (Jerman)
2) 93,90 Thomas Roehler (Jerman)
3) 88,79 Andreas Hofmann (Jerman)
4) 88,27 Tero Pitkamaki (Finlandia)
5) 88,09 Marcin Krukowski (Polandia)
6) 88,01 Jakub Vadlech (Republik Ceko)
7) 87,97 Julius Yego (Kenya)
8) 86,92 Cheng Chao Tsung (Cina Taipei)
9) 86,71 Lars Hamann (Jerman)
10) 86,61 Keshorn Walcott (Trinidad & Tobago)
11) 85,63 Neeraj Chopra (India)
12) 85,23 Ahmed Bader Magour (Qatar)
13) 84,94 Petr Frydrych (Republik Ceko)
14) 84,81 Anderson Peters (Grenada)
15) 83,78 Edis Matusevicius (Lithuania)
16) 84,57 Devender Singh (India)
17) 84,34 Hamish Peacock (Australia)
18) 84,09 Rocco van Rooyen (Afrika Selatan)
19) 84,08 Magnus Kirt (Estonia)
20) 83,93 Andrian Mardare (Moldova)

TOP 20 LEMPAR LEMBING PUTRI (dalam meter)
1) 68,43 Sara Kolak (Kroasia)
2) 68,26 Barbora Spotakova (Republik Ceko)
3) 67,21 Eda Tugsuz (Turki)
4) 66,47 Liu Shying (Cina)
5) 66,30 Tatsiana Khaladovich (Belarus)
6) 66,12 Kathryn Mitchell (Australia)
7) 64,85 Martina Ratej (Slovenia)
8) 64,80 Kara Winger (Amerika Serikat)
9) 64,47 Elizabeth Gleadle (Kanada)
10) 64,47 Anete Kocina (Latvia)
11) 64,38 Kelsey-Lee Roberts (Australia)
12) 64,18 Christin Hussong (Jerman)
13) 64,10 Li Lingwei (Cina)
14) 63,92 Madara Palameika (Latvia)
15) 63,49 Sunette Viljoen (Afrika Selatan)
16) 63,43 Asdis Hjalmsdottir (Islandia)
17) 63,28 Sigrid Borge (Norwegia)
18) 63,07 Marharyta Dorozhon (Israel)
19) 63,03 Marcela Witek (Polandia)
20) 62,52 Laila Domingos (Brasil)

TOP 20 LONTAR MARTIL PUTRA (dalam meter)
1) 83,44 Pawel Fajdek (Polandia)
2) 80,47 Wojciech Nowicki (Polandia)
3) 79,32 Valeriy Pronkin (ANA)*
4) 78,85 Bence Halasz (Hungaria)
5) 78,04 Pavel Bareisha (Belarus)
6) 78,00 Esref Apak (Turki)
7) 77,92 Marcel Lomnicky (Slovakia)
8) 77,87 Quentin Bigot (Prancis)
9) 77,81 Dilshod Nazarov (Tajikistan)
10) 77,72 Mihail Anastasakis (Yunani)
11) 77,70 Serghei Marghiev (Moldova)
12) 77,52 Siarhei Kalamoyets (Belarus)
13) 77,51 Nick Miller (Britania Raya)
14) 77,32 Sergej Litvinov (ANA)*
15) 77,24 Wagner Domingos (Brasil)
16) 77,24 Marco Lingua (Italia)
17) 76,92 Serhii Reheda (Ukraina)
18) 76,84 Krisztian Pars (Hungaria)
19) 76,61 Ozkan Baltaci (Turki)
20) 76,27 Diego Del Real (Meksiko)

TOP 20 LONTAR MARTIL PUTRI (dalam meter)
1) 82,87 Anita Wlodarczyk (Polandia)
2) 76,77 Gwen Berry (Amerika Serikat)
3) 76,25 Wang Zheng (Cina)
4) 75,29 Hanna Skydan (Azerbaijan)
5) 75,11 Malwina Kopron (Polandia)
6) 75,09 Joanna Fiodorow (Polandia)
7) 74,94 Hanna Malyshik (Belarus)
8) 74,56 Madalyn Ewen (Amerika Serikat)
9) 74,40 DeAnna Price (Amerika Serikat)
10) 73,97 Sophie Hitchon (Britania Raya)
11) 73,80 Zalina Petrivskaya (Moldova)
12) 73,58 Amber Campbell (Amerika Serikat)
13) 72,53 Iryna Klymets (Ukraina)
14) 72,50 Jillian Weir (Kanada)
15) 72,37 Al'ona Shamotina (Ukraina)
16) 72,12 Zhang Wenxiu (Cina)
17) 71,88 Kivilcim Kaya Salman (Turki)
18) 71,71 Alexandra Tavernier (Prancis)
19) 71,58 Marina Nikisenko (Moldova)
20) 71,52 Ida Storm (Swedia)

TOP 20 TOLAK PELURU PUTRA (dalam meter)
1) 22,65 Ryan Crouser (Amerika Serikat)
2) 22,57 Joe Kovacs (Amerika Serikat)
3) 22,04 Tomas Walsh (Selandia Baru)
4) 22,01 Tomas Stanek (Republik Ceko)
5) 21,97 Konrad Bukowiecki (Polandia)
6) 21,91 O'Dayne Richards (Jamaika)
7) 21,88 Darrel Hill (Amerika Serikat)
8) 21,87 Michal Haratyk (Polandia)
9) 21,82 David Storl (Jerman)
10) 21,65 Darlan Romani (Brasil)
11) 21,65 Ryan Whiting (Amerika Serikat)
12) 21,56 Tsanko Arnaudov (Portugal)
13) 21,48 Stipe Zunic (Kroasia)
14) 21,40 Mesud Pezer (Bosnia & Herzegovina)
15) 21,36 Alexandr Lesnoi (ANA)*
16) 21,31 Mostafa Amr Hassan (Mesir)
17) 21,30 Filip Mihaljevic (Kroasia)
18) 21,20 Damien Birkinhead (Australia)
19) 21,12 Orazio Cremona (Afrika Selatan)
20) 21,07 Chukwuebuka Enekwechi (Nigeria)

TOP 20 TOLAK PELURU PUTRI (dalam meter)
1) 19,76 Raven Saunders (Amerika Serikat)
2) 19,64 Daniella Bunch (Amerika Serikat)
3) 19,63 Anita Marton (Hungaria)
4) 19,56 Gong Lijiao (Cina)
5) 19,34 Michelle Carter (Amerika Serikat)
6) 19,15 Danniel Thomas (Jamaika)
7) 19,01 Aliona Dubitskaya (Belarus)
8) 18,92 Yaniuvis Lopez (Kuba)
9) 18,89 Monique Riddick (Amerika Serikat)
10) 18,83 Dimitriana Surdu (Moldova)
11) 18,58 Brittany Crew (Kanada)
12) 18,46 Sara Gambetta (Jerman)
13) 18,39 Yuliya Leantsiuk (Belarus)
14) 18,37 Auriole Dongmo (Kamerun)
15) 18,36 Radoslava Mavrodieva (Bulgaria)
16) 18,34 Gao Yang (Cina)
17) 18,31 Melissa Boekelman (Belanda)
18) 18,28 Ursula Ruiz (Spanyol)
19) 18,24 Paulina Guba (Polandia)
20) 18,18 Bian Ka (Cina)


Keterangan:
*ANA (as neutral athlete) merupakan status sementara bagi para atlit dari Rusia dikarenakan skorsing terhadap negara tersebut oleh IAAF akibat skandal doping.

5 July 2017

IAAF Top Lists U20 - Asia - Juni 2017 - Putra

100m (WR 9.97; Travyon Bromell, 2014)
10.05 Abdul Hakim Sani Brown (Jepang)
10.23 Daisuke Miyamoto (Jepang)
10.30 Yusuke Tanaka (Jepang)
10.31 Khairul Hafiz Jantan (Malaysia)
-
200m (WR 19.93; Usain Bolt, 2004)
20.32 Abdul Hakim Sani Brown (Jepang)
20.63 Yusuke Tanaka (Jepang)
20.91 Yoshihiro Someya (Jepang)
20.92 Daisuke Miyamoto (Jepang)
-
400m (WR 43.87; Steve Lewis, 1988)
45.83 Wu Yuang (Cina)
46.15 Naoki Kitadani (Jepang)
46.22 Mo Il Hwan (Korea Selatan)
46.26 PA Amoj Jacob (India)
46.59 Feng Zhiqiang (Cina)
46.59 Yushi Uike (Jepang)
46.82 Shio Hanada (Jepang)
-
800m (WR 1:41.73, Nijel Amos, 2012)
1:48.01 Takuto Hanamura (Jepang)
-
1500m (WR 3:28.81, Ronald Kwemoi, 2014)
3:42.98 Hyugo Endo (Jepang)
3:45.71 Kazuyoshi Tamogami (Jepang)
3:45.96 Yudai Noguchi (Jepang)
-
110m gawang (WR 12.99; Wilhem Belocian, 2014)
13.72 Chen Jianhang (Cina)
13.76 Lu Hao Hua (Cina Taipei)
13.76 Vyacheslav Zems (Kazakhstan)
13.77 Wu Jui Feng (Cina Taipei)
-
Lompat tinggi (WR 2,37m; Dragutin Topic, 1990/Steve Smith, 1992)
2,17m Anh Vu Duc (Vietnam)
2,17m Andu Nuh (Qatar)
2,15m Tejaswin Shankar (India)
2,15m Ushan Thiwanka Perera (Sri Lanka)
-
Lompat galah (WR 5,90m; Armand Duplantis, 2017)
5,50m Masaki Ejima (Jepang)
5,20m Keisuke Okubo (Jepang)
5,10m Muntadher Falih Abdulwahid (Irak)
5,05m Teuku Tegar Abadi (Indonesia)
-
Lompat jauh (WR 8,35m; Sergey Morgunov, 2012)
8,31m Shi Yuhao (Cina)
8,05m Yuki Hashioka (Jepang)
7,82m Zhu Keqi (Cina)
7,70m Du Mingze (Cina)
7,68m Hibiki Tsuha (Jepang)
7,68m Yugo Sakai (Jepang)
7,65m Sreeshankar M (India)
7,61m Daiki Kobayashi (Jepang)
7,57m Yu Bingcan (Cina)
7,55m Kim Young Bin (Korea Selatan)
7,54m Hiromasa Oda (Jepang)
7,53m Masashi Miyauchi (Jepang)
7,53m Wen Hua Yu (Cina Taipei)
7,52m Nipun Kavindu Kaldera (Sri Lanka)
-
Lompat jangkit (WR 17,50m; Volker Mai, 1985)
16,15m Du Mingze (Cina)
16,04m Yuta Takenouchi (Jepang)
15,93m Muhammad Afzal (Pakistan)
15,80m K Kamalraj (India)
15,79m Sonu Kumar (India)
15,75m Nam Su Hwan (Korea Selatan)
15,74m Kim Jang Woo (Korea Selatan)
-
Tolak Peluru (WR 23,00m; Jacko Gill, 2013)
18,80m Xu Liyang (Cina)
18,71m Tian Yanheng (Cina)
18,28m Yeo Jin Sung (Korea Selatan)
-
Lontar martil (WR 85,57m; Ashraf Amgad Elseify, 2012)
55,84m Wang Yuhan (Cina)
-
Lempar cakram (WR 70,73m; Mykyta Nesterenko, 2008)
69,48m Jung Min Wook (Korea Selatan)
68,22m Yoshifumi Nakamura (Jepang)
-
Lempar Lembing (WR 86,48m; Neeraj Chopra, 2016)
77,64m Vladislav Palyunin (Uzbekistan)
74,02m Mohammad Yasir Sultan (Pakistan)
71,88m Artur Gafner (Kazakhstan)
71,45m Gen Naganuma (Jepang)
71,23m Abhishek Drall (India)
70,36m Hu Haoran (Cina)
70,03m Kim Da Ni (Korea Selatan)
68,65m Kentaro Nakamura (Jepang)
68,56m Zhu Kai (Cina)
68,15m Jang Jun Ho (Korea Selatan)
68,07m Arshdeep Singh (India)
-
Dasalomba (WR 8397 poin; Torsten Voss, 1982)
6958 poin Yisikandaer Aihaiti (Cina)

IAAF Top Lists U20 - Asia - Juni 2017 - Putri

400m (WR 49.42; Grit Breuer, 1991)
51.33 Salwa Eid Naser (Bahrain)
52.65 Jisna Mathew (India)
-
800m (WR 1:54.01; Pamela Jelimo, 2008)
2:05.23 Ayaka Kawata (Jepang)
2:05.47 Ayano Shiomi (Jepang)
2:05.71 Arina Kleshchukova (Kyrgyzstan)
2:05.93 Lili Das (India)
-
1500m (WR 3:51.34; Lang Yinglai, 1997)
4:17.77 Yuna Wada (Jepang)
4:18.32 Nozomi Tanaka (Jepang)
4:19.17 Yume Goto (Jepang)
4:20.75 Winfred Mutile Yvi (Bahrain)
4:20.84 Wakana Kabasawa (Jepang)
4:21.06 Rinzy Helena Mei (Jepang)
4:21.14 Hikari Onishi (Jepang)
-
5000m (WR 14:30.88; Tirunesh Dibaba, 2004)
15:23.26 Shuri Ogasawara (Jepang)
15:40.59 Mikuni Yada (Jepang)
15:41.27 Rika Kaseda (Jepang)
15:52.70 Nozomi Tanaka (Jepang)
15:55.06 Miku Kobayashi (Jepang)
16:06.19 Ajia Miyagi (Jepang)
-
100m gawang (WR 12.83; Oluwatobiloba Amusan, 2016)
13.49 Yumi Tanaka (Jepang)
13.63 Lin Shih Ting (Cina Taipei)
-
400m gawang (WR 53.82; Sydney Mclaughlin, 2017)
57.87 Kana Koyama (Jepang)
58.57 Wang Chen (Cina)
58.98 Adelina Akhmetova (Kazakhstan)
59.15 Mo Jiadie (Cina)
59.16 Natsumi Murakami (Jepang)
59.62 Moeka Sekimoto (Jepang)
59.65 Eriko Fukushima (Jepang)
-
Lompat galah (WR 4,71m; Wilma Murto, 2016)
4,40m Chen Qiaoling (Cina)
4,15m Wu Zuocheng (Cina)
4,15m Niu Chunge (Cina)
4,00m She Chenyao (Cina)
4,00m Shu Xinxin (Cina)
4,00m Misako Morota (Jepang)
-
Lompat jauh (WR 7,14m; Heike Drechsler, 1983)
6,34m Gong Luying (Cina)
6,30m Priyanka Kerketta (India)
6,14m Sayaka Takayoshi (Jepang)
6,13m Kayla Anise Richardson (Filipina)
6,13m Mariya Ovchinnikova (Kazakhstan)
-
Lompat jangkit (WR 14,62m; Tereza Marinova, 1996)
13,94m Mariya Ovchinnikova (Kazakhstan)
13,46m Chen Jie (Cina)
13,20m Hashini Praboda Balasooriya (Sri Lanka)
13,19m Zheng Rui (Cina)
13,16m Chai Yuyuei (Cina)
13,07m Pan Youqi (Cina)
13,00m Viktoriya Dirdina (Uzbekistan)
12,99m Cai Linxia (Cina)
12,87m Zhao Meng (Cina)
-
Tolak peluru (WR 20,54m; Astrid Kumbernuss, 1989)
16,47m Zhang Linru (Cina)
16,13m Chen Xiarong (Cina)
16,05m Jiang Yue (Cina)
15,75m Dong Yu (Cina)
15,33m He Bing (Cina)
14,93m Wang Yameng (Cina)
14,89m Sun Yue (Cina)
14,86m Honoka Oyama (Jepang)
-
Lempar cakram (WR 74,40m; Ilke Wyludda, 1988)
52,41m Yin Yuanyuan (Cina)
51,83m Dong Xiaocen (Cina)
50,33m Liu Quantong (Cina)
-
Lontar martil (WR 73,24m; Zhang Wenxiu, 2005)
63,20m Zhou Mengyuan (Cina)
62,81m Shang Ningyu (Cina)
60,00m Li Jiangyan (Cina)
59,19m Huang Weilu (Cina)
59,13m Li Tongtong (Cina)
58,28m Ji Li (Cina)
57,51m Yu Hang (Cina)
56,37m Lu Tingting (Cina)
-
Lempar lembing (WR 63,86; Yulenmis Aguilar, 2015)
59,59m Haruka Kitaguchi (Jepang)
56,57m Yu Yuzhen (Cina)
55,71m Sanobarhon Erkinova (Uzbekistan)
55,25m Cai Qing (Cina)
55,01m Sae Takemoto (Jepang)
54,37m Li Hui Jun (Cina Taipei)
54,24m Dai Qianqian (Cina)
54,03m Mahiro Osa (Jepang)
53,90m Zhuoma Renqing (Cina)
53,78m Momone Ueda (Jepang)
53,04m Yuka Kuwazoe (Jepang)
52,61m Li Huei Chun (Cina Taipei)
52,31m Liu Xinai (Cina)
52,31m Nargiza Kuchkarova (Uzbekistan)
50,98m Wu Xiaoqian (Cina)
50,90m Lee Woo Jin (Korea Selatan)
50,75m Chen Jiajia (Cina)
50,31m Wu Mingyue (Cina)
50,13m Akiho Hyodo (Jepang)
50,08m Liu Lu (Cina)
-
Saptalomba
5578 poin Du Jiani (Cina)
5305 poin Luo Ying (Cina)
5072 poin Zhou Jinjing (Cina)
5046 poin Kaho Mizutani (Jepang)
5011 poin Hsiang Chia Li (Cina Taipei)

14 May 2017

Buku: Hukum Pengadaan Tanah

Judul buku: "Hukum Pengadaan Tanah: Pengadaan Hak Atas Tanah untuk Kepentingan Umum Pra dan Pasca Reformasi".
Penulis: Umar Said Sugiharto; Suratman; Noorhudha Muchsin.
Penerbit: Setara Press, Malang.
Tahun terbit: 2015.
---
Buku ini memiliki tebal 316 halaman dan terbagi ke dalam  6 (enam) bab.

Bab pertama, Pendahuluan, memuat pembahasan tentang pengertian hak menguasai negara, konstitusionalitas hak menguasai oleh negara, hak menguasai oleh negara menurut UUD 1945 dan UUPA, dan tujuan negara menguasai tanah.

Bab kedua, Pengadaan Hak Atas Tanah Negara, berisi tentang konsep pengadaan hak atas tanah untuk kepentingan umum, pengertian pengadaan hak atas tanah, dasar hukum pengadaan tanah, dan prinsip untuk kepentingan umum.

Bab ketiga, Bentuk Pengadaan Hak Atas Tanah, memuat peralihan hak atas tanah, pembebasan tanah, pelepasan hak atas tanah, dan pencabutan hak atas tanah.

Bab keempat, Tata Cara Pengadaan Hak Atas Tanah, mendeskripsikan pengadaan hak tersebut menurut Perpres No.36/2005, Perpres No.65/2006, dan UU No.2/2012.

Bab kelima, Pengadaan Tanah untuk Infrastruktur Jalan Tol, membahas tentang panitia pengadaan tanah, perencanaan pengadaan tanah, pelaksanaan pengadaan tanah, prosedur pemberian ganti rugi, dan hambatan dan dampak pengadaan tanah untuk infrastruktur jalan tol.

Bab keenam, Pendaftaran Tanah, berisi uraian mengenai pendaftaran tanah dan pengaturannya, pengertian dan tujuan pendaftaran tanah, asas-asas pendaftaran tanah, obyek pendaftaran tanah, kegiatan pendaftaran tanah, pendaftaran tanah secara sistematik, pendaftaran tanah secara sporadik, dan sertifikat sebagai tanda bukti hak.

Topik yang senantiasa hangat di dalam era kekinian negara Indonesia ialah pembangunan jalan tol. Pengadaan jalan tol hampir selalu diwarnai oleh sengketa yang melibatkan masyarakat, pemerintah dan pihak pengembang jalan tol. Dengan alasan dan latar belakang yang berbeda-beda pertikaian terjadi berkenaan dengan pembangunan jalan tol, seperti yang terjadi di Palembang, Medan, Tangerang, dan banyak lagi tempat yang lain.

Pertikaian yang terjadi menunjukkan bahwa pihak-pihak yang terkait tidak memahami secara baik tentang dasar hukum pengadaan jalan tol. Di dalam Peraturan Presiden No.65/2006 disebutkan bahwa masyarakat harus mendapatkan penjelasan atau penyuluhan (Sugiharto et al., 2015: 163). Jika akhirnya sengketa yang terjadi maka kemungkinan kegiatan penyuluhan tersebut tidak dilakukan, atau dilakukan namun tidak mencakup seluruh masyarakat yang terkena dampak dari pengadaam tanah untuk jalan tol. Lebih lanjut, Perpres ini juga mewajibkan penelitian dan inventarisasi. Lantas penelitian dan inventarisasi macam apakah yang dilakukan sehingga hasilnya justeru menimbulkan sengketa?

Di dalam merencanakan pengadaan tanah untuk kepentingan umum pembuat rencana harus mempertimbangkan prinsip-prinsip pengadaan tanah, antara lain penghormatan terhadap hak-hak atas tanah yang dimiliki rakyat dan musyawarah dengan para pemegang hak atas tanah (Sugiharto et al., 2015: 166). Kenyataan yang terjadi menandakan bahwa prinsip-prinsip tersebut tidak dipatuhi.

Hal yang perlu dipertanyakan ialah mengapa penetapan lokasi tidak diatur secara rinci di dalam ketentuan resmi (Sugiharto et al., 2015: 169), dalam hal ini Keputusan Presiden No.55/1993 dan Keputusan Presiden No.36/2005? Apakah cukup dengan berpedoman kepada Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RUTRW) atau Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI No.3/2007? Kejadian sengketa sepertinya memerlukan penawar hukum yang lebih tinggi daripada setingkat RUTRW dan atau BPN.

Sengketa pembangunan jalan tol tidak akan berhenti dengan pemberian ganti rugi. Perencana pembangunan jalan tol harus lebih mengedepankan hak warga untuk menduduki dan berdiam pada suatu tempat. Prinsip untuk kepentingan umum terkait pembangunan jalan tol sebenarnya berlaku bagi siapa dan pihak mana? Hingga seberapa jauh dan luas cakupan dari "kepentingan umum" tersebut? Mengingat bahwa jalan tol nantinya akan dimanfaatkan oleh pengguna jalan yang meliwati jalan tol tersebut, kemudian pengaruh langsung dari pungutan yang diambil dari pengguna sebatas pada perawatan jalan berikut pembiayaan untuk sarana penunjang. Tidak ada kedalaman makna dari istilah "kepentingan umum".

11 May 2017

Kawasan Bebas Yurisdiksi Nasional


Kawasan bebas yurisdiksi nasional (Areas Beyond National Jurisdiction; ABNJ) merupakan sebuah kawasan perairan yang di dalam pengelolaannya di luar tanggung jawab negara manapun. Kawasan ini sering dinamakan pula sebagai "high seas". ABNJ memiliki cakupan 40 persen dari total kawasan perairan di dunia. Di dalamnya memuat 64 persen dari total luas permukaan laut global. Dengan demikian kawasan tersebut memiliki kontribusi yang besar bagi keanekaragaman hayati akuatik berikut manfaatnya. Sebagai contoh, salah satu ABNJ, yakni perairan di Pasifik Barat dan Tengah (WCP) memiliki potensi besar ikan tuna, hiu, berbagai ikan predator ("billfish") dan pelagis (Global Environment Facility, 2017).

Definisi dari United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) menyebutkan bahwa ABNJ meliputi kolom air di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan dasar laut yang berada di luar batas paparan benua (Biodiversity A-Z, 2014)

Pelestarian ABJN sangat penting untuk menjamin ketahanan pangan, kesejahteraan manusia dan pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut mengingat ABJN sekarang ini terancam kelestariannya karena pencemaran, penangkapan yang tidak bertanggung jawab dan kegiatan penelitian yang cenderung merusak ekosistem (Global Ocean Forum, 2017).

Referensi:
*Biodiversity A-Z (2014). "ABNJ". http://biodiversitya-z.org. Diakses tanggal 11 Mei 2017.
*Global Environment Facility. "Areas Beyond National Jurisdiction". http://thegef.org. Diakses tanggal 11 Mei 2017.
*Global Ocean Forum. "Areas Beyond National Jurisdiction". http://www.globaloceanforum.com. Diakses tanggal 11 Mei 2017.

10 May 2017

Resolusi PBB 66/288 Terkait Kehutanan dan Wilayah Pegunungan

Resolusi Majelis Umum Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) 66/288 tanggal 27 Juli 2012 yang berjudul "The future we want" dikeluarkan dengan latar belakang Resolusi 64/236 tanggal 24 Desember 2009, yang memutuskan UN Conference on Sustainable Development pada tahun 2012, dan Resolusi 66/197 tanggal 22 Desember 2011 (United Nations, 2012).

Resolusi Majelis Umum Persatuan Bangsa Bangsa (MU PBB) 66/288 berisi pernyataan para pemimpin negara anggota PBB mengenai cita-cita yang hendak dicapai pada masa mendatang, sebuah keadaan yang diinginkan dengan mendasarkan keadaan saat ini. Resolusi 66/288 memuat harapan mengenai praktek keberlanjutan di dalam menjalankan kegiatan berbagai bidang kehidupan dan kegiatan manusia.

Isu kehutanan dan wilayah pegunungan tidak luput dari perhatian sebagai salah satu unsur penting di dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Para pemimpin negara anggota mengeluarkan pernyataan yang berhubungan dengan bidang kehutanan di dalam ayat 193, 194, 195 dan 196. Sedangkan wilayah pegunungan tercantum di dalam ayat 210, 211 dan 212.

a. Isu Kehutanan di dalam Resolusi MU PBB 66/288

Ayat 193 menjelaskan manfaat sosial, ekonomi dan lingkungan dari hutan bagi manusia. Pengelolaan hutan secara berkelanjutan menjadi tujuan yang hendak dicapai oleh United Nations Conference on Sustainable Development. Usaha pengelolaan hutan secara berkelanjutan digalakkan melalui penyusunan kebijakan lintas sektoral dan antarlembaga. Setiap negara diharapkan melakukan praktek pengelolaan berkelanjutan terhadap hutan dengan cara penanaman kembali, restorasi dan aforestasi, dan pengendalian usaha-usaha penebangan hasil hutan dan tindakan-tindakan lain yang berpotensi untuk menyebabkan degradasi hutan. Penggundulan dan degradasi hutan dapat menyebabkan emisi sehingga setiap negara anggota wajib untuk melakukan konservasi. Penguatan kerangka tata kelola hutan alat implementasi sesuai dengan instrumen yang tidak mengikat secara hukum dari semua jenis hutan (Resolution 62/98, annex) bertujuan untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Cita-cita tersebut dapat tercapai dengan komitmen untuk meningkatkan taraf hidup manusia dan masyarakat dengan menciptakan kondisi-kondisi yang diperlukan, termasuk di antaranya dengan memperkuat kerjasama di dalam bidang-bidang keuangan, perdagangan, alih teknologi berbasis lingkungan, pengembangan kapasitas dan tata kelola, serta usaha kepemilikan resmi atas tanah (land tenure), khususnya yang berhubungan dengan pembuatan keputusan dan pembagian manfaat, sesuai dengan undang-undang dan prioritas masing-masing negara.

Di dalam ayat 194 Resolusi meminta implementasi sesegera mungkin instrumen yang tidak mengikat secara hukum untuk semua jenis hutan dan deklarasi tingkat menteri yang disampaikan pada sesi kesembilan United Nations Forum on Forests sebagai rangkaian dari acara International Year of Forests (United Nations, 2011).

Ayat 195 menyebutkan bahwa United Nations Forum on Forests berikut keanggotaannya secara universal dan mandatnya yang komprehensif, berperan penting di dalam menanggapi isu-isu yang berhubungan dengan kehutanan dengan cara yang menyeluruh dan terpadu serta mengadakan koordinasi dan kerjasama kebijakan internasional untuk mewujudkan pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Collaborative Partnership on Forests diharapkan terus memberikan dukungan kepada Forum dan mendorong stakeholders agar tetap aktif terlibat di dalam kegiatan Forum.

Ayat 196 berisi tentang pernyataan pentingnya integrasi tujuan dan praktek pengelolaan hutan secara berkelanjutan ke dalam arusperdana kebijakan dan pembuatan keputusan ekonomi. Lembaga-lembaga yang berwenang dari semua organisasi anggota Collaborative Partnership on Forests harus mengintegrasikan pengelolaan berkelanjutan terhadap semua jenis hutan ke dalam strategi dan programa.

b. Isu Wilayah Pegunungan di dalam Resolusi MU PBB 66/288

Ayat 210 menyatakan bahwa para pemimpin negara anggota mengakui manfaat yang diberikan oleh kawasan pegunungan bagi pembangunan berkelanjutan. Ekosistem pegunungan berperan penting di dalam menyediakan sumber daya air bagi populasi dunia. Oleh karena itu ekosistem pegunungan yang rapuh akan lebih mudah menerima dampak negatif dari perubahan iklim, penggundulan dan degradasi hutan, pengalihan tataguna lahan, degradasi lahan dan bencana alam.

Ayat 211 menyebutkan bahwa pegunungan merupakan rumah/kediaman bagi masyarakat, termasuk di antaranya masyarakat asli dan tempatan. Mereka telah memanfaatkan sumber daya pegunungan secara berkelanjutan lintas generasi. Akan tetapi, kelompok masyarakat tersebut sering terpinggirkan dan oleh sebab itu mereka rawan terhadap bahaya kemiskinan, kelangkaan pangan dan kekurangan gizi, pengucilan sosial dan degradasi lingkungan. Dengan demikian semua negara anggota wajib memperkuat tindakan kooperatif dengan pelibatan yang efektif dan tukar pengalaman antar stakeholders yang terkait dengan memperkuat rancangan, perjanjian dan pusat-pusat studi yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan wilayah pegunungan.

Ayat 212 menuntut usaha yang lebih giat lagi untuk konservasi ekosistem pegunungan dan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya. Semua negara anggota diharapkan mengambil visi jangka panjang dan pendekatan yang menyeluruh, antara lain dengan mencantumkan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan wilayah pegunungan ke dalam strategi nasional pembangunan berkelanjutan, yang dapat meliputi, antara lain, rencana penurunan angka kemiskinan dan programa-programa untuk daerah pegunungan, khususnya di negara-negara berkembang. Berkenaan dengan hal tersebut dukungan skala internasional akan ikut melancarkan pembangunan wilayah pegunungan secara berkelanjutan di negara-negara berkembang.

Referensi:

United Nations. Resolution 62/98, annex.
United Nations. Decision 66/543.
United Nations. 2011. Official Records of the Economic and Social Council, Supplement No. 22 (E/2011/42), chap. I, sect. A., draft decision I.
United Nations. 2012. General Assembly, A/RES/66/288 "The future we want", Sixty-sixth session, Agenda item 19.

8 May 2017

Confederation of Independent Football Associatons

ConIFA (Confederation of Independent Football Associatons) merupakan sebuah NGO olahraga sepakbola yang menampung tim-tim dari kelompok masyarakat, bangsa, terutama masyarakat minoritas, yang tidak termasuk ke dalam keanggotaan FIFA.

Perasaan senasib mungkin menjadi semangat bagi pembentukan organisasi ini. Resmi berdiri pada tahun 2013, ConIFA segera mengadakan turnamen World Football Cup pada tahun 2014 bertempat di Ostersund, Swedia. Markas besar ConIFA berada di Luleå, Swedia.

Saat ini ConIFA memiliki 42 anggota tersebar di kawasan Asia, Afrika, Amerika Utara dan Eropa. Tim-tim dari Asia adalah sebagai berikut: Arameans Suryoye; Kurdistan; Lezhgian; Panjab; Ryukyu; Tamil Eelam; Tibet; United Koreans in Japan; dan Uyghur.
---
Referensi: Situs resmi ConIFA.

13 February 2017

Sekelumit tentang Co-Management

Prinsip collaborative management (co-management), sebuah tindakan pelibatan bersama antara pemerintah dan masyarakat lokal saat ini telah menjadi agenda penting sebagian besar program pembangunan yang didukung secara internasional (Brown, 1999). Carter (1999) mendefinisikan co-management sebagai "kerjasama kerja antara stakeholder kunci di dalam manajemen". Titik berat dari co-management ialah kontribusi penting (meskipun tidak sepenuhnya) dari masyarakat yang terlibat di dalam kemitraan tersebut. Sementara itu Borrini-Feyerabend et al. (2004) mengartikan co-management sebagai "sebuat keadaan di mana terdapat sekurang-kurangnya dua pelaku sosial yang bernegosiasi, menetapkan, dan menjamin satu dengan yang lain sebuah pembagian fungsi-fungsi, tugas dan tanggung jawab manajemen untuk kawasan, wilayah, atau sumber daya alam tertentu.". 

Pelibatan bersama antara pemerintah dan masyarakat di dalam pembuatan keputusan dan pembangunan semakin digalakkan semenjak terbitnya Brundtland report 1987 yang mengungkapkan pentingnya konsep pembangunan berkelanjutan. Selanjutnya, Rio Conference 1992 memperkuat implikasi dari tata kelola partisipatif (participatory governance) dan pentingnya peran dari semua stakeholder di dalam mengelola sumber daya alam (Ballet et al., 2009). 

Menurut pendapat Pinkerton (2003), terdapat tujuh aspek yang menentukan rancangan co-management, sebagai berikut: (a) pemerintah sebagai co-manager yang menjalankan peran kunci, terlibat di dalam penyusunan co-management sebagai mitra, lebih dari sekedar sebagai institusi yang mendelegasikan wewenang; (b) co-management, seperti halnya manajemen itu sendiri, melibatkan lebih dari sekedar pengendalian; (c) rancangan co-management yang berkelanjutan melibatkan sejumlah pengendalian oleh mitra masyarakat atas syarat dan ketentuan; (d) keberhasilan di dalam mewujudkan hak atas satu tingkat bergantung pada perwujudan hak atas tingkat yang lebih rendah dan lebih tinggi, termasuk hak masyarakat untuk ikut serta di dalam pengumpulan/analisis data di dalam menetapkan kebijakan pada tingkat yang tertinggi; (e) co-management seharusnya mencakup berbagai bentuk negosiasi horisontal yang menghasilkan aktivitas-aktivitas kerjasama dengan para pelaku lain dan demokratisasi yang lebih luas dari civil society; (f) kekuasaan untuk tidak menyertakan para pengguna dari sejumlah kawasan bersifat optimal; dan (g) co-management yang sempurna lebih berpijak pada hak kolektif dari sebuah kelompok dibandingkan pada hak perorangan.

Co-management berhubungan dengan pembagian tanggung jawab yang berbeda-beda, dari tanggung jawab instruktif hingga tanggung jawab informatif antara pemerintah dan masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, Pomeroy dan Rivera-Guieb (2006) memperkenalkan enam jenis co-management, sebagai berikut: (a) instruktif; (b) konsultatif; (c) kooperatif; (d) advisori; dan (e) informatif. 

Penjelasan dari kelima jenis co-management berdasarkan pembagian tanggung jawab antara pemerintah dan masyarakat adalah sebagai berikut. Pertama, di dalam co-management konsultatif terdapat sebuah mekanisme dialog antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah mengadakan konsultasi dengan masyarakat namun proses pembuatan keputusan dipandu oleh pemerintah. Kedua, co-management kooperatif mengedepankan kesetaraan antara pemerintah dan masyarakat di dalam pembuatan keputusan. Namun, identifikasi mengenai "kesetaraan" antara masyarakat dan pemerintah perlu dilakukan, khususnya di dalam hal pembagian kekuasaan. Ketiga, di dalam co-management advisori, masyarakat memberikan himbauan/masukan kepada pemerintah di dalam proses pembuatan keputusan dan pemerintah menyetujui keputusan. Keempat, co-management informatif menitikberatkan pendelegasian proses pembuatan keputusan dari pemerintah kepada kelompok-kelompok masyarakat. Sebagai imbalannya, masyarakat memberikan informasi kepada pemerintah mengenai hasil dari proses pembuatan keputusan. 

Co-management memerlukan rencana yang strategis yang melibatkan semua stakeholder untuk merumuskan tujuan bersama (ProCEEd, 2016). Perumusan yang  matang akan membantu di dalam resolusi konflik yang kerap kali terjadi. 

Referensi:
Ballet J, Kouamekan J. M. K, Komena K. B. 2009. Co-management of natural resources in developing countries: the importance of context. Economie internationale, 120: 53-76.
Borrini-Feyerabend et al. (2004). ...
Brown D. 1999. Principle and practice of forest co-management: evidence from West-Central Africa. European Union Tropical Forestry Paper 2. 
Carter J. 1999. Recent experience in collaborative forest management approaches: a review of key issues. World Bank Forest Policy Review.
Pinkerton (2003) ...
Pomeroy, Rivera-Guieb. 2006. ... 
ProCEED. 2016. 10 Facts on co-management of national protected areas in Lao DPR. Department of Environmental Quality Promotion, Ministry of Natural Resources and Environment, Lao DPR. 


Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.