Pages

6 April 2016

Euro 2016 | Pesta Sepakbola Setelah Skandal FIFA

Skandal sepakbola yang terungkap pada tahun lalu menjadi lembaran hitam sejarah olahraga terpopuler di dunia ini. Sebuah skandal yang sangat menggemparkan karena melibatkan puncak pimpinan Federation International de Football Association, yang menyebabkan Sepp Blatter selaku Presiden FIFA mengundurkan diri dari jabatannya tidak lama setelah dinyatakan terpilih kembali. Kelanjutan dari skandal ini adalah sanksi kepada Presiden Union Europeen de Football Association (UEFA), Michel Platini. Lengkap sudah penderitaan sepakbola dalam setahun belakangan. Reputasi sepakbola sebagai prima donna olahraga dunia mendapatkan guncangan yang dahsyat.

Pada tahun ini, 2016, insan sepakbola akan disuguhkan sebuah event kuadrenial yang ditunggu-tunggu, yakni kejuaraan antarnegara Eropa, yang sekian lama mendapatkan julukan "Piala Dunia mini" karena reputasi tim-tim Eropa di sepanjang sejarah sepakbola dunia. Euro 2016, demikian sebutan yang lebih populer dari kejuaraan edisi tahun ini, akan memasuki putaran final di Prancis, negara asal Michel Platini. Prancis mendapatkan tantangan yang berat untuk mengembalikan nama baik sepakbola, khususnya sepakbola Eropa, setelah Platini mendapatkan hukuman karena diduga terlibat skandal. Pada era 1980an Platini adalah ikon keberhasilan tim sepakbola Prancis karena berhasil mengantarkan Les Bleus sebagai juara Eropa 1984. Di samping itu ia juga menjadi pesepakbola pertama dari Prancis yang meraih predikat European Player of the Year sebanyak 3 (tiga) kali atas kegemilangannya pada level antarklub. Euro 2016 dan Prancis secara bersamaan memiliki tanggung jawab yang berat untuk mengembalikan hegemoni sepakbola yang sejenak terombang-ambing oleh perilaku sejumlah pengelolanya yang tidak mengindahkan sportivitas dan fair play, setidaknya menurut pandangan komisi disiplin FIFA maupun UEFA. Lebih luas lagi, Eropa dibebani sebuah tugas yang lebih berat daripada sebelumnya untuk menunjukkan kepada insan olahraga dunia bahwa sepakbola masih menjadi perlombaan olahraga yang layak untuk difavoritkan. Euro 2016 akan berlangsung di tengah kecaman terhadap penyelenggara organisasi sepakbola internasional.

Salah satu modal yang dapat diberdayakan oleh penyelenggara Euro 2016 ialah keikutsertaan sejumlah tim yang merupakan kekuatan masa lalu, yang telah sekian lama tenggelam oleh kekuatan-kekuatan baru. Secara bersamaan Austria, Hungaria, dan Irlandia Utara, akan tampil dalam satu edisi Piala Eropa. Ketiga negara tersebut terasa asing bagi telinga pencinta olahraga era sekarang, namun bagi generasi yang mengalami perkembangan sepakbola era 1950an-1980an, kehadiran mereka menggugah ingatan tentang kekuatan yang pernah ditunjukkan di arena sepakbola internasional. Austria adalah tim yang pernah diperhitungkan, bahkan sejak era 1930an. Kekuatan mereka mendapatkan julukan "Wunderteam". Negara ini melahirkan sejumlah pelaku sepakbola internasional yang bermutu tinggi seperti Ernst Happel, Herbert Prohaska, dan Toni Polster. Hungaria merupakan fenomena sepakbola Eropa dan dunia pada masa kejayaan Ferenc Puskas dan kawan-kawan, yang membentuk sebuah tim hebat yang berjuluk "Magical Magyar". Hungaria memiliki Florian Albert, salah satu peraih European Player of The Year. Sementara itu, Irlandia Utara mewarnai persaingan sepakbola pada era 1960an-1980an. Sejumlah bintang mereka, seperti George Best, Pat Jennings, dan Gerry Armstrong, sangat familiar bagi penggemar sepakbola pada era tersebut. Negara ini juga melahirkan Norman Whiteside, salah satu pesepakbola termuda yang bermain dalam Piala Dunia. Nostalgia dengan kekuatan lama ini dapat menggugah minat pencinta sepakbola generasi lama untuk menyaksikan, menyimak, bahkan menelaah pertandingan yang berlangsung.

Euro 2016 ditandai dengan "serbuan massal" tim-tim dari British Isles. Meskipun tanpa Skotlandia yang kandas dalam babak kualifikasi, tampilnya Inggris, Wales, Republik Irlandia, dan Irlandia Utara merupakan fenomena yang jarang terjadi di dalam event besar sepakbola internasional. Seandainya Tartan Army berhasil lolos ke Prancis, maka akan lengkap komposisi pasukan dari kawasan Laut Utara. Dengan keikutsertaan empat tim tersebut maka hampir dipastikan bahwa liga sepakbola Inggris akan menjadi penyumbang terbanyak pemain di dalam skuad tim, karena di luar keempat negara tersebut, tim-tim lain juga memiliki "perwakilan" dari liga sepakbola Inggris.

Ketidakhadiran salah satu tim favorit yang merupakan "sweetheart" dalam sepakbola, Belanda, memang sangat disayangkan. Akan tetapi dalam kenyataan De Oranje tidak mampu bersaing di dalam babak kualifikasi, pun ketika terdapat tiga slot untuk lolos ke putaran final. Belanda ternyata sedang mengalami masa sulit berprestasi semenjak sukses mereka menembus empat besar dalam dua Piala Dunia terakhir. 

Akan tetapi, Piala Eropa akan selalu menghadirkan fenomena kebaruan yang membedakannya dari edisi sebelumnya. Kita mendapati aksi memukau kuartet Prancis di Euro 1984, gol spektakuler van Basten di Euro 1988, perjalanan fantastis Denmark di Euro 1992, hingga gol sudden-death Trezequet yang menyakitkan Italia di Euro 2000 dan kejutan Yunani di Euro 2004. Sedangkan dua edisi terakhir, 2008 dan 2012, mengilustrasikan kejayaan generasi emas Spanyol. Pun meski sepakbola dunia tengah dililit oleh skandal berikut usaha penguraiannya, sepakbola telah membuktikan diri sebagai pemberi solusi "kegalauan". Euro 2016 dapat menjadi momentum kebangkitan sepakbola internasional dengan suguhan aksi-aksi yang menarik dengan menjunjung sportivitas dan fair play. Semoga.

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.