Pages

6 April 2016

Kontribusi Antarktika bagi ketinggian permukaan air laut

Berita ini dilansir dari The Guardian (30/03/2016).

Ketinggian permukaan air laut ditengarai melebihi perkiraan akibat melelehnya es di Antartika. Perkiraan sebelumnya menyebutkan bahwa kemampuan Antartika untuk menjaga keseimbangan iklim melalui gunung es dianggap memadai, terlebih pada saat terjadi hujan salju. Para ilmuwan menganggap turunnya salju di benua tersebut dapat memperkuat keberadaan es untuk menghalau pemanasan global dan perubahan iklim.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature menyajikan sejumlah faktor yang menyebabkan bertambahnya ketinggian permukaan air laut karena runtuhnya beting es di Antartika. Hasil penelitian melaporkan bahwa permukaan air laut global pada tahun 2100 akan mencapai kenaikan hingga 2 meter dari kondisi saat ini. Adapun penyebab dari runtuhnya beting es Antartika adalah emisi karbon yang memicu pemanasan global.

Badan PBB yang membidangi perubahan iklim sebelumnya pernah membuat perkiraan tentang bertambahnya ketinggian permukaan air laut hingga 1 meter pada abad ini. Namun, para peneliti PBB ternyata tidak mengantisipasi peran signifikan dari Antartika. Mereka mengharapkan bahwa turunnya salju di benua tersebut dapat mempertahankan keberadaan dan keseimbangan beting es.

Seorang pakar lingkungan dari University of Massachusetts, Robert DeConto, berpendapat bahwa bertambahnya ketinggian permukaan air laut memberikan ancaman bagi kota-kota di daerah pesisir dan/atau dataran rendah. Jika pemanasan global tidak dapat ditahan maka kota-kota tersebut akan terancam banjir karena ketinggian air akan berubah dari hitungan milimeter menjadi hitungan sentimeter dalam setiap tahunnya.

Perubahan iklim tidak saja menyebabkan ketinggian permukaan air laut bertambah, tetapi juga menyebabkan badai yang lebih besar. Kota-kota di dataran rendah seperti New York (Amerika Serikat), Mumbai (India) dan Guangzhou (Cina) rawan terhadap bahaya ini. Lebih lanjut, hasil penelitian dari Bank Dunia dan OECD melaporkan bahwa bahaya banjir mengancam kota-kota di wilayah pesisir. Penelitian tersebut memperkirakan tentang banyaknya korban bilamana terjadi banjir besar, karena kepadatan penduduk di kota-kota pesisir sangat tinggi. Kerugian yang diderita dapat mencapai $ 1 triliun pada tahun 2050 mendatang.

Diberitakan pula bahwa kota-kota di kelompok negara kaya yang beresiko kebanjiran antara lain Miami dan Boston (Amerika Serikat) dan Nagoya (Jepang). Sedangkan untuk kelompok negara berkembang meliputi kota-kota di Cina, Vitnam, Bangladesh, dan Pantai Gading.

DelConto menjelaskan bahwa mengandalkan Antartika untuk menghambat kenaikan permukaan air laut tidaklah cukup jika emisi karbon tidak dihentikan. Bahkan jika emisi benar-benar dapat dihentikan, ketinggian air laut akan tetap bertambah dengan peluang kejadian hingga 10 persen.

Peneliti dari British Antarctic Survei, David Vaughan, berpendapat bahwa teori baru memproyeksikan masa depan beting es Antartika. Kejadian runtuhnya dan melelehnya beting es merupakan penyebab awal dari kenaikan permukaan air laut yang kemudian akan menyebabkan terjadinya banjir di daratan. Teori-teori terkini juga menyinggung tentang hilangnya bongkahan es yang mengapung dari pantai Antartika, yang saat ini menahan es di daratan. Pecahnya bongkahan es dapat menyebabkan terbentuknya tebing es besar setinggi 1.000 meter di laut, yang kemudian runtuh karena bebannya sendiri, sehingga membuat ketinggian permukaan air laut semakin bertambah. Kenaikan permukaan air laut juga disebabkan oleh ekspansi air karena cuaca yang lebih hangat pada bulan Januari. Para ilmuwan berpendapat bahwa faktor inilah yang telah diabaikan.

Diakses 4 April 2016 dari http://www.theguardian.com/environment/2016/mar/30/sea-levels-set-to-rise-far-more-rapidly-than-expected.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.