Pages

7 April 2016

Olimpisme dan Gerakan Olimpiade

A. Olimpisme (Olympism)

Olimpisme mengandung arti filosofi kehidupan. Gagasan ideal olimpisme adalah perpaduan antara olahraga, budaya, dan pendidikan. Olimpisme mengandung nilai-nilai, simbol dan elemen-elemen identifikasi Olimpiade.

Filosofi menjadi elemen dasar bagi Gerakan Olimpiade dan perayaan perlombaan Olimpiade serta menciptakan keunikan bagi Olimpiade. Usaha untuk mewujudkan gagasan ideal dan prinsip-prinsip dasar lainnya dari Olimpisme, seperti yang ditetapkan di dalam Piagam Olimpiade, melahirkan sejumlah nilai yang dapat diterapkan baik di dalam perlombaan maupun di dalam kehidupan sehari-hari.

Komite Olimpiade Internasional mencanangkan tiga nilai dasar Olimpiade yaitu: a) kesempurnaan (excellence), b) persaudaraan (friendship), dan c) penghargaan (respect). Ketiga nilai dasar tersebut dikedepankan di dalam setiap penyelenggaraan Olimpiade. Nilai dan makna dari Olimpisme diungkapkan melalui simbol Olimpiade berbentuk lima lingkaran dan elemen-elemen identifikasi lainnya, seperti obor, estafet obor, motto, maksim, lagu resmi dan janji atlit/ofisial pertandingan. Kesemua hal ini menciptakan identitas unik bagi Olimpiade.

B. Gerakan Olimpiade (Olympic Movement)

Gerakan Olimpiade adalah sebuah gerakan yang berhubungan dengan kegiatan multi-event olahraga dunia yang melibatkan tiga struktur utama, yaitu komite Olimpiade internasional (IOC), komite Olimpiade nasional (NOC), dan Federasi olahraga Internasional (IF), yang didukung oleh panitia penyelenggara Olimpiade (OCOG), atlit peserta perlombaan, ofisial pertandingan, dan institusi-institusi yang mendapatkan kepercayaan.

Gerakan Olimpiade juga mencakup kegiatan-kegiatan di luar penyelenggaran perlombaan, seperti Sport for All, pembangunan melalui bidang olahraga, pemberian kesempatan yang setara, pendidikan dan kebudayaan, olahraga untuk perdamaian, lingkungan dan pembangunan lestari, perlindungan kesehatan bagi atlit, dan pemberantasan perjudian ilegal dalam bidang olahraga.

Otoritas tertinggi Gerakan Olimpiade berada di tangan IOC, yang memegang hak atas penyelenggaraan Olimpiade, simbol Olimpiade dan elemen-elemen identifikasi lainnya dari Gerakan Olimpiade. Keputusan utama IOC (termasuk dalam memilih kota tuan rumah, komposisi perlombaan olahraga dan pemilihan anggota baru) dilakukan pada saat berlangsungnya Sesi, yang merupakan sidang umum IOC, yang diselenggarakan setiap tahun dan diikuti oleh 115 perwakilan negara anggota.

Daftar singkatan:
IF = International Federation (of sports).
IOC = International Olympic Committee.
NOC = National Olympic Committee.
OCOG = Organizing Committee for the Olympic Games.

Referensi:
The Olympic Museum (2012), Olympism and The Olympic Movement. Dalam http://www.olympic.org, diakses pada 25 Maret 2016.

6 April 2016

Pencetak Gol Euro 1988 | Di manakah mereka sekarang?

Daftar pencetak gol kejuaraan sepakbola antarnegara Eropa tahun 1988 (Euro 1988) yang berlangsung di Jerman Barat dan status terkini masing-masing.

5 gol:
Marco van Basten (Belanda) | Asisten Pelatih Tim Nasional Belanda

2 gol:
Oleg Protasov (Uni Soviet) | Pelatih Aris Thessaloniki (Yunani)
Rudi Voller (Jerman Barat) | Direktur Olahraga Bayer Leverkusen (Jerman)

1 gol:
Tonny Adams (Inggris) | Pelatih FK Gabala (Azerbaijan)
Sergei Aleinikov (Uni Soviet) | Pelatih FK Dainava Alytus (Lithuania)
Alessandro Altobelli (Italia) | Pengamat sepakbola untuk beIN Sports
Andreas Brehme (Jerman Barat)
Emilio Butragueno (Spanyol) | Humas Real Madrid (Spanyol)
Luigi De Agostini (Italia) | Pelatih Udinese Youth (Italia)
Rafael Gordillo (Spanyol)
Ruud Gullit (Belanda) | Pelatih Terek Grozny (Rusia)
Ray Houghton (Republik Irlandia) | Pengamat sepakbola untuk RTE Sport.
Wim Kieft (Belanda) | Pengamat sepakbola untuk Sport1 dan RTL
Jurgen Klinsmann (Jerman Barat) | Pelatih Tim Nasional Amerika Serikat
Ronald Koeman (Belanda) | Pelatih Southampton (Inggris)
Michael Laudrup (Denmark) | Pelatih klub Lekhwiya SC (Qatar)
Gennadiy Lytovchenko (Uni Soviet) | Asisten Pelatih FC Volga Nizhny Novgorod (Rusia)
Roberto Mancini (Italia) | Pelatih Internazionale Milan (Italia)
Lothar Matthaus (Jerman Barat) | Pengamat sepakbola untuk IRIB
Michel (Spanyol) | Pelatih Olympique de Marseille (Prancis)
Alexei Mikhailichenko (Uni Soviet) | Direktur Olahraga Dynamo Kiev (Ukraina)
Viktor Pasulko (Uni Soviet) | Pelatih Orlandina (Italia)
Flemming Povlsen (Denmark) | Tim pelatih AGF  Youth (Denmark)
Vasyl Rats (Uni Soviet) | Pelatih FC Obolon Kiev (Ukraina)
Bryan Robson (Inggris) | Pelatih Tim Nasional Thailand
Olaf Thon (Jerman Barat) | Pelatih VfB Huls (Jerman)
Gianluca Vialli (Italia) | Pelatih Watford (Inggris)
Ronnie Whelan (Republik Irlandia) | Pelatih Apollon Limassol (Siprus)

Euro 2016 | Pesta sepakbola pasca skandal FIFA

Skandal sepakbola yang terungkap pada tahun lalu menjadi lembaran hitam sejarah olahraga terpopuler di dunia ini. Sebuah skandal yang sangat menggemparkan karena melibatkan puncak pimpinan Federation International de Football Association, yang menyebabkan Sepp Blatter selaku Presiden FIFA mengundurkan diri dari jabatannya tidak lama setelah dinyatakan terpilih kembali. Kelanjutan dari skandal ini adalah sanksi kepada Presiden Union Europeen de Football Association (UEFA), Michel Platini. Lengkap sudah penderitaan sepakbola dalam setahun belakangan. Reputasi sepakbola sebagai prima-dona olahraga dunia mendapatkan guncangan yang dahsyat.

Pada tahun ini, 2016, insan sepakbola akan disuguhkan sebuah event kuadrenial yang ditunggu-tunggu, yakni kejuaraan antarnegara Eropa, yang sekian lama mendapatkan julukan "Piala Dunia mini" karena reputasi tim-tim Eropa di sepanjang sejarah sepakbola dunia. Euro 2016, demikian sebutan yang lebih populer dari kejuaraan edisi tahun ini, akan memasuki putaran final di Prancis, negara asal Michel Platini. Prancis mendapatkan tantangan yang berat untuk mengembalikan nama baik sepakbola, khususnya sepakbola Eropa, setelah Platini mendapatkan hukuman karena diduga terlibat skandal. Pada era 1980an Platini adalah ikon keberhasilan tim sepakbola Prancis karena berhasil mengantarkan Les Bleus sebagai juara Eropa 1984. Di samping itu ia juga menjadi pesepakbola pertama dari Prancis yang meraih predikat European Player of the Year sebanyak 3 (tiga) kali atas kegemilangannya dalam skala antarklub. Euro 2016 dan Prancis secara bersamaan memiliki tanggung jawab yang berat untuk mengembalikan hegemoni sepakbola yang sejenak terombang-ambing oleh perilaku sejumlah pengelolanya yang tidak mengindahkan sportivitas dan fair play, setidaknya menurut pandangan komisi disiplin FIFA maupun UEFA. Lebih luas lagi, Eropa dibebani sebuah tugas yang lebih berat daripada sebelumnya untuk menunjukkan kepada insan olahraga dunia bahwa sepakbola masih menjadi perlombaan olahraga yang layak untuk difavoritkan. Euro 2016 akan berlangsung di tengah kecaman terhadap penyelenggara organisasi sepakbola internasional.

Salah satu modal yang dapat diberdayakan oleh penyelenggara Euro 2016 ialah keikutsertaan sejumlah tim yang merupakan kekuatan masa lalu, yang telah sekian lama tenggelam oleh kekuatan-kekuatan baru. Secara bersamaan Austria, Hungaria, dan Irlandia Utara, akan tampil dalam satu edisi Piala Eropa. Ketiga negara tersebut terasa asing bagi telinga pencinta olahraga era sekarang, namun bagi generasi yang mengalami perkembangan sepakbola era 1950an-1980an, kehadiran mereka menggugah ingatan tentang kekuatan yang pernah ditunjukkan di arena sepakbola internasional. Austria adalah tim yang pernah diperhitungkan, bahkan sejak era 1930an. Kekuatan mereka mendapatkan julukan "Wunderteam". Negara ini melahirkan sejumlah pelaku sepakbola internasional yang bermutu tinggi seperti Ernst Happel, Herbert Prohaska, dan Toni Polster. Hungaria merupakan fenomena sepakbola Eropa dan dunia pada masa kejayaan Ferenc Puskas dan kawan-kawan, yang membentuk sebuah tim hebat yang berjuluk "Magical Magyar". Hungaria memiliki Florian Albert, salah satu peraih European Player of The Year. Sementara itu, Irlandia Utara mewarnai persaingan sepakbola pada era 1960an-1980an. Sejumlah bintang mereka, seperti George Best, Pat Jennings, dan Gerry Armstrong, sangat familiar bagi penggemar sepakbola pada era tersebut. Negara ini juga melahirkan Norman Whiteside, salah satu pesepakbola termuda yang bermain dalam Piala Dunia. Nostalgia dengan kekuatan lama ini dapat menggugah minat pencinta sepakbola generasi lama untuk menyaksikan, menyimak, bahkan menelaah pertandingan yang berlangsung.

Euro 2016 ditandai dengan "serbuan massal" tim-tim dari British Isles. Meskipun tanpa Skotlandia yang kandas dalam babak kualifikasi, tampilnya Inggris, Wales, Republik Irlandia, dan Irlandia Utara merupakan fenomena yang jarang terjadi di dalam event besar sepakbola internasional. Seandainya Tartan Army berhasil lolos ke Prancis, maka akan lengkap komposisi pasukan dari kawasan Laut Utara. Dengan keikutsertaan empat tim tersebut maka hampir dipastikan bahwa liga sepakbola Inggris akan menjadi penyumbang terbanyak pemain di dalam skuad tim, karena di luar keempat negara tersebut, tim-tim lain juga memiliki "perwakilan" dari liga sepakbola Inggris.

Ketidakhadiran salah satu tim favorit yang merupakan "sweetheart" dalam sepakbola, Belanda, memang sangat disayangkan. Akan tetapi dalam kenyataan De Oranje tidak mampu bersaing di dalam babak kualifikasi, pun ketika terdapat tiga slot untuk lolos ke putaran final. Belanda ternyata sedang mengalami masa sulit berprestasi semenjak sukses mereka menembus empat besar dalam dua Piala Dunia terakhir. Akan tetapi, Piala Eropa akan selalu menghadirkan fenomena kebaruan yang membedakannya dari edisi sebelumnya. Kita mendapati aksi memukau kuartet Prancis di Euro 1984, gol spektakuler van Basten di Euro 1988, perjalanan fantastis Denmark di Euro 1992, hingga gol sudden-death Trezequet yang menyakitkan Italia di Euro 2000 dan kejutan Yunani di Euro 2004. Sedangkan dua edisi terakhir, 2008 dan 2012, mengilustrasikan kejayaan generasi emas Spanyol. Pun meski sepakbola dunia tengah dililit oleh skandal berikut usaha penguraiannya, sepakbola telah membuktikan diri sebagai pemberi solusi "kegalauan". Euro 2016 dapat menjadi momentum kebangkitan sepakbola internasional dengan suguhan aksi-aksi yang menarik dengan menjunjung sportivitas dan fair play. Semoga.

Kontribusi Antarktika bagi ketinggian permukaan air laut

Berita ini dilansir dari The Guardian (30/03/2016).

Ketinggian permukaan air laut ditengarai melebihi perkiraan akibat melelehnya es di Antartika. Perkiraan sebelumnya menyebutkan bahwa kemampuan Antartika untuk menjaga keseimbangan iklim melalui gunung es dianggap memadai, terlebih pada saat terjadi hujan salju. Para ilmuwan menganggap turunnya salju di benua tersebut dapat memperkuat keberadaan es untuk menghalau pemanasan global dan perubahan iklim.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature menyajikan sejumlah faktor yang menyebabkan bertambahnya ketinggian permukaan air laut karena runtuhnya beting es di Antartika. Hasil penelitian melaporkan bahwa permukaan air laut global pada tahun 2100 akan mencapai kenaikan hingga 2 meter dari kondisi saat ini. Adapun penyebab dari runtuhnya beting es Antartika adalah emisi karbon yang memicu pemanasan global.

Badan PBB yang membidangi perubahan iklim sebelumnya pernah membuat perkiraan tentang bertambahnya ketinggian permukaan air laut hingga 1 meter pada abad ini. Namun, para peneliti PBB ternyata tidak mengantisipasi peran signifikan dari Antartika. Mereka mengharapkan bahwa turunnya salju di benua tersebut dapat mempertahankan keberadaan dan keseimbangan beting es.

Seorang pakar lingkungan dari University of Massachusetts, Robert DeConto, berpendapat bahwa bertambahnya ketinggian permukaan air laut memberikan ancaman bagi kota-kota di daerah pesisir dan/atau dataran rendah. Jika pemanasan global tidak dapat ditahan maka kota-kota tersebut akan terancam banjir karena ketinggian air akan berubah dari hitungan milimeter menjadi hitungan sentimeter dalam setiap tahunnya.

Perubahan iklim tidak saja menyebabkan ketinggian permukaan air laut bertambah, tetapi juga menyebabkan badai yang lebih besar. Kota-kota di dataran rendah seperti New York (Amerika Serikat), Mumbai (India) dan Guangzhou (Cina) rawan terhadap bahaya ini. Lebih lanjut, hasil penelitian dari Bank Dunia dan OECD melaporkan bahwa bahaya banjir mengancam kota-kota di wilayah pesisir. Penelitian tersebut memperkirakan tentang banyaknya korban bilamana terjadi banjir besar, karena kepadatan penduduk di kota-kota pesisir sangat tinggi. Kerugian yang diderita dapat mencapai $ 1 triliun pada tahun 2050 mendatang.

Diberitakan pula bahwa kota-kota di kelompok negara kaya yang beresiko kebanjiran antara lain Miami dan Boston (Amerika Serikat) dan Nagoya (Jepang). Sedangkan untuk kelompok negara berkembang meliputi kota-kota di Cina, Vitnam, Bangladesh, dan Pantai Gading.

DelConto menjelaskan bahwa mengandalkan Antartika untuk menghambat kenaikan permukaan air laut tidaklah cukup jika emisi karbon tidak dihentikan. Bahkan jika emisi benar-benar dapat dihentikan, ketinggian air laut akan tetap bertambah dengan peluang kejadian hingga 10 persen.

Peneliti dari British Antarctic Survei, David Vaughan, berpendapat bahwa teori baru memproyeksikan masa depan beting es Antartika. Kejadian runtuhnya dan melelehnya beting es merupakan penyebab awal dari kenaikan permukaan air laut yang kemudian akan menyebabkan terjadinya banjir di daratan. Teori-teori terkini juga menyinggung tentang hilangnya bongkahan es yang mengapung dari pantai Antartika, yang saat ini menahan es di daratan. Pecahnya bongkahan es dapat menyebabkan terbentuknya tebing es besar setinggi 1.000 meter di laut, yang kemudian runtuh karena bebannya sendiri, sehingga membuat ketinggian permukaan air laut semakin bertambah. Kenaikan permukaan air laut juga disebabkan oleh ekspansi air karena cuaca yang lebih hangat pada bulan Januari. Para ilmuwan berpendapat bahwa faktor inilah yang telah diabaikan.

Diakses 4 April 2016 dari http://www.theguardian.com/environment/2016/mar/30/sea-levels-set-to-rise-far-more-rapidly-than-expected.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.