Pages

26 March 2016

Kajian Aspek Lingkungan Olimpiade | Studi Kasus Olimpiade Beijing 2008

A. Latar Belakang

Kajian aspek lingkungan penyelenggaraan multievent olahraga dunia, Olimpiade, bertujuan untuk menelaah proyek-proyek yang dilaksanakan oleh kota penyelenggara Olimpiade yang berwawasan lingkungan yang lestari (sustainable environment). Kajian ini mengambil studi kasus Olimpiade Musim Panas 2008 yang berlangsung di kota Beijing, Republik Rakyat Cina. Olimpiade berwawasan lingkungan lestari merupakan bentuk komitmen insan olahraga kepada lingkungan. Kajian ini dilakukan oleh lembaga PBB yang membidangi masalah lingkungan, yaitu United Nations Environment Programme (UNEP) pada bulan Oktober tahun 2007.

UNEP mulai terlibat di dalam isu lingkungan dan olahraga sejak tahun 1994. Tujuan keterlibatannya ialah sebagai berikut: a) mempromosikan integrasi pertimbangan-pertimbangan lingkungan di dalam bidang olahraga; b) memanfaatkan popularitas olahraga untuk mempromosikan kepedulian dan penghargaan kepada lingkungan di kalangan publik, terutama generasi muda; dan c) mempromosikan pembangunan fasilitas-fasilitas olahraga yang ramah lingkungan dan pengelolaan komoditi yang berhubungan dengan kegiatan olahraga yang ramah lingkungan.

UNEP mengadakan mitra dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC = International Olympic Committee) di dalam penyusunan strategi olahraga dan lingkungan. Sejak tahun 1994 kedua lembaga global tersebut menandatangani Kesepakatan Kerjasama (Agreement of Cooperation) untuk menyertakan isu-isu lingkungan ke dalam multievent Olimpiade, baik musim panas (Summer Games) maupun musim dingin (Winter Games). Selanjutnya IOC membentuk Komisi Olahraga dan Lingkungan (SEC = Sport and Environment Commission) untuk membantu kinerja Dewan Eksekutif (Executive Board) tentang isu-isu lingkungan yang berhubungan dengan Olimpiade. Di dalam komisi tersebut terdapat perwakilan dari UNEP. Pada tahun 1999 UNEP berkolaborasi dengan IOC di dalam penyusunan Agenda 21 for Sport and the Environment, yang saat ini diimplementasikan oleh Olympic Family dan sejumlah organisasi olahraga lainnya.

Sejak tahun 1995 IOC telah menyelenggarakan World Conference of Sport and Environment yang  kemudian berlangsung dua tahun sekali dan mendapatkan dukungan resmi dari UNEP pada tahun 2003. Konferensi tersebut diikuti oleh ratusan perwakilan dari Komite Olimpiade Nasional (NOC = National Olympic Committee) dan federasi serta asosiasi olahraga yang berafiliasi dengan IOC untuk melakukan telaah mengenai pengaruh kegiatan olahraga terhadap lingkungan dan kontribusinya bagi kelestarian. Konferensi-konferensi yang telah dilakukan antara lain berlangsung di Torino, Italia (2003), Nairobi, Kenya (2005). Untuk edisi tahun 2007, konferensi berlangsung di Beijing, RRC dengan tema 'From Plan to Action'.

UNEP dan Komite Olimpiade Beijing untuk Olimpiade (BOCOG = Beijing Olympic Committee of the Olympic Games) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada bulan November tahun 2005 dengan tujuan menjadikan Olimpiade 2008 sebagai multievent olahraga yang ramah lingkungan. Dalam konteks MoU tersebut UNEP berperan membantu BOCOG untuk mengimplementasikan rencana-rencana dan proyek-proyek lingkungan selama persiapan untuk Olimpiade, termasuk menjalankan kajian independen tentang komitmen dan tindakan berwawasan lingkungan. Selain itu, UNEP juga membantu menggalakkan komunikasi antara berbagai organisasi non pemerintah (NGO) dalam bidang lingkungan dan BOCOG, dan bekerja sama dengan BOCOG untuk menggugah kepedulian dan pemahaman media tentang pencapaian dan tantangan lingkungan yang berhubungan dengan Olimpiade Beijing 2008.

B. Hasil dan Pembahasan

Kota Beijing mencapai kemajuan yang signifikan di dalam perencanaan dan pembangunan 31 arena perlombaan (venue) untuk Olimpiade, yang terdiri atas 12 venue baru, 11 venue hasil renovasi dan penambahan, dan 8 venue sementara yang akan dipugar kembali setelah Olimpiade berakhir. Sejalan dengan komitmen pencalonan sebagai tuan rumah, BOCOG telah mengambil langkah-langkah untuk membangun venue-venue yang lestari dengan memberikan perhatian khusus kepada efisiensi energi, penggunaan bahan-bahan yang ramah ekologi (eco-friendly), konservasi air, dan pengelolaan serta pengendalian lokasi-lokasi bangunan yang berwawasan lingkungan.

Namun demikian terdapat satu hal yang menimbulkan permasalahan. Meskipun BOCOG telah menyusun pedoman untuk menggalakkan prinsip kelestarian di dalam sebagian besar aspek Olimpiade 2008, banyak ketentuan yang tidak bersifat wajib atau dapat diberlakukan. Keputusan-keputusan akhir tentang aspek-aspek lingkungan, misalnya, transportasi, konstruksi, akomodasi dan catering, dilakukan secara sukarela oleh para pelaku yang terlibat di dalam penyelenggaraan Olimpiade. UNEP menganggap kebergantungan pada niat baik dan kepercayaan ini, meskipun patut diberikan penghargaan, akan memiliki resiko tinggi terjadinya konflik yang berhubungan dengan batas waktu dan pemborosan anggaran. Aspek lain yang dirasa kurang ialah komitmen dan tindakan BOCOG terkait dengan pemberlakuan batasan emisi karbondioksida.

Berkenaan dengan kualitas udara, pihak Beijing menjalankan sejumlah inisiatif untuk meningkatkan kualitas udara dan mengurangi polusi udara. Dari relokasi dan penataan ulang industri-industri penghasil polusi utama, hingga konversi coal burning boilers menjadi bahan bakar yang lebih bersih serta implementasi standar emisi kendaraan bermotor. Penggunaan secara besar-besaran batu bara dan semakin banyaknya jumlah kendaraan bermotor menyebabkan keterlambatan usaha peningkatan kualitas udara. Lokasi geografis Beijing semakin mempersulit usaha tersebut. Daerah pegunungan yang mengelilingi Beijing menghambat sirkulasi udara dan mencegah dispersi polutan serta pembersihan udara oleh alam. Kadar materi partikulat kecil (PM10) di dalam atmosfer, yang sangat mengancam kesehatan, berada pada keadaan yang menghawatirkan. Selanjutnya, meskipun konsentrasi polutan seperti sulfurdioksida (SO2), karbonmonoksida (CO) dan nitrogendioksida (NO2) mengalami penurunan dalam periode tahun 2000-2006, kadar PM10 masih berada di atas standar yang ditetapkan oleh World Health Organization Air Guidelines, terkadang hingga mencapai 200 persen atau lebih.

Bidang transportasi telah mencapai hasil yang menggembirakan dengan dilakukannya renovasi transportasi publik. Jalur-jalur baru dan jaringan kereta bawah tanah direncanakan sebelum Olimpiade berlangsung, begitu pula lokasi penghubung transportasi publik untuk mengatasi kepadatan lalu lintas Beijing. Akan tetapi, pembangunan jalur transportasi baru ternyata justru menambah kerumitan lalu lintas karena volume kendaraan yang melintas juga ikut bertambah.

Beijing mencapai hasil yang menggemberikan dalam memperbaiki pengelolaan air dengan banyaknya pusat pengolahan limbah cair baru yang dibangun. Pemerintah kota mengambil langkah penting dengan menampung dan mendaur ulang sumber daya air yang semakin dibutuhkan oleh kota tersebut karena sebelumnya Beijing dilanda oleh kekeringan panjang. Berbagai skema penampungan air dan air hujan serta sistem penggunaan kembali (re-use system) didesain untuk kepentingan kebutuhan air di Perkampungan Olimpiade (Olympic Village) dan berbagai arena perlombaan. Kualitas air minum juga ditingkatkan dengan mengadakan reservoir-reservoir air minum dan perbaikan kualitas air. Namun demikian, terdapat masalah yang harus ditanggulangi yakni dalam hal jaringan distribusi air minum dan kualitas air kepada pengguna akhir. Dari sumber air, Beijing telah mematuhi standar dari WHO, namun, karena jaringan distribusinya masih dilakukan secara tradisional, maka pada saat pendistribusian kualitas airnya berubah.

C. Simpulan

Beijing telah memenuhi sejumlah komitmennya, misalnya dalam pengelolaan limbah cair, perlindungan sumber air dan pengelolaan limbah.  Akan tetapi hasil telaah menunjukkan bahwa kota tersebut tidak mampu memenuhi semua komitmen yang telah ditetapkan. UNEP menyadari bahwa ketidakmampuan untuk menjawab semua komitmen bukanlah hal yang baru dalam penyelenggaraan Olimpiade karena pada edisi-edisi sebelumnya, terutama Summer Games, pihak penyelenggara juga tidak mampu menjalankan semua komitmen. Infrastruktur kota, percepatan pembangunan dan kondisi geografis yang menghambat pencapaian target menjadi tantangan yang berat bagi Beijing, terutama yang berhubungan dengan masalah kualitas udara dan air.

Terlepas dari tidak sempurnanya capaian komitmen, Beijing telah berusaha secara optimal untuk menetapkan standar emisi kendaraan. Jika standar dan takaran lingkungan baru yang ditetapkan di Beijing selama Olimpiade berlaku pula di tempat-tempat lain di seluruh wilayah Republik Rakyat Cina, maka konsekuensinya akan membantu mempengaruhi dinamika pembangunan negara tersebut. Dari sudut pandang lingkungan dapat disimpulkan bahwa usaha Beijing untuk mewujudkan Olimpiade 2008 sebagai multievent yang ramah lingkungan telah tercapai.

Referensi:
United Nations Environment Programme (2007). Beijing 2008 Olympic Games: An Environmental Review. UNEP Division of Communications and Public Information.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.