Pages

20 September 2014

Olahraga dan Perang

Pada titik nadir sejarah peradaban bangsa Barat, di sebuah "tempat yang tak bertuan" di antara parit-parit yang merupakan ladang pertempuran selama Perang Dunia I, tentara Inggris dan Jerman keluar dari persembunyian mereka selama berlangsungnya gencatan senjata untuk memperingati Natal dan menguburkan para serdadu yang tewas, menanam pohon, dan bermain sepakbola bersama-sama. Peristiwa tersebut merepresentasikan sebuah hal yang sangat penting mengenai sifat yang dimiliki oleh olahraga. Olahraga dan peperangan memiliki keterkaitan yang kuat di sepanjang sejarah umat manusia.

Era Klasik

Dalam budaya berburu dan meramu olahraga seperti lomba lari dan adu kekuatan merepresntasikan sebentuk permainan perang. Olahraga lainnya, seperti panahan, melempar tombak dan lempar lembing, perlombaan katapel, dan olahraga lainnya yang menggunakan filosofi pemerangan mengakrabkan orang dengan senjata. Kedua jenis olahraga ini sama-sama merupakan institusi dan sarana sosial yang penting untuk menularkan armada perang dari generasi ke generasi.

Permainan perang beradaptasi dengan lahirnya peradaban agraris (kira-kira 15.000-10.000 SM) untuk beradaptasi dengan pola-pola budaya alat peperangan yang lebih baru. Sebagian besar permainan perang masih berperan di dalam membentuk stamina fisik dan psikologis yang diperlukan untuk bertempur dan melatih orang untuk menggunakan persenjataan yang semakin canggih. Peradaban agraris juga memanfaatkan permainan perang untuk membangun solidaritas komunal dan menciptakan organisasi-organisasi sosial yang kompleks yang diperlukan untuk perlengkapan perang zaman kuno. Peradaban ini melahirkan permainan bola, perlombaan lari dan berkuda, dan berbagai macam olahraga lainnya yang merayakan keberhasilan para pejuang di medan perang.

Meskipun olahraga-olahraga kuno dipastikan memiliki komponen-komponen agama, politik dan sosial yang berhubungan secara tidak langsung dengan pertempuran, namun sebagian besar berhubungan dengan perang baik secara langsung maupun tidak langsung. Di Mesoamerika kuno dan Mesir kuno, permainan bola secara besar-besaran dilakukan untuk memberikan simulasi mengenai keadaan perang dan perlombaan untuk memberikan penghormatan kepada para dewa. Dalam perlombaan masyarakat Mesoamerika, pihak yang kalah, seperti halnya dalam pertempuran yang sesungguhnya, terkadang menghadapi kematian. Para juara atletik dan penakluk militer diangkat sebagai pahlawan yang patut dipuja. Dalam kenyataannya, istilah klasik Yunani untuk perlombaan olahraga, yaitu "agon", juga menggambarkan pertempuran militer.

Bangsa Yunani klasik mengembangkan sebuah sistem yang lebih sempurna tentang olahraga, yang memiliki signifikansi penting baik dalam bidang agama, politik, maupun militer. Festival olahraga Yunani memperlombakan olahraga-olahraga yang berhubungan langsung dengan aplikasi militer -- balap kereta, lomba lari, gulat dan tinju, duel dengan tombak, lembar lembing, dan panahan.. Festival dan kemudian Olimpiade yang mulai berkembang sejak tahun 776 SM berfungsi sebagai upacara keagamaan yang penting sekaligus perayaan "warrior prowess." Olimpiade memperlombakan event-event seperti lomba lari yang dilakukan oleh atlet yang mengenakan baju perang/zirah dan "pankration" yang penuh dengan kekerasan -- pertarungan brutal antar-atlet di mana hampir semua taktik diperbolehkan dan terkadang menyebabkan pesertanya terbunuh. Olimpiade kuno ini bertahan hingga setidaknya tahun 390 SM.

Olahraga-olahraga Romawi lebih erat kaitannya dengan pelatihan bagi tentara dibandingkan olahraga-olahraga Yunani. Orang Romawi membangun coliseum-coliseum di seluruh pelosok kerajaan untuk dijadikan arena perlombaan menyerupai perang seperti balap kereta perang, pertarungan hewan, pertempuran maritim buatan, dan, yang paling populer dari itu semua, gladiator. Tontonan-tontonan brutal tersebut bertahan selama beberapa abad, meskipun ditentang oleh sejumlah kritikus Yunani, intelektual Romawi sendiri, dan masyarakat Kristen yang terus menjadi martir di dalam sirkus coliseum. Pada abad V, setelah agama Kristen mencapai zaman keemasan di Kerajaan Romawi, tontonan-tontonan pagan dilarang untuk diadakan. Bahkan Olimpiade sendiri, yang oleh masyarakat Kristen dianggap berhubungan dengan paganisme, lambat laun menjadi tidak terdengar gaungnya.

Bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Romawi, kelas-kelas pejuang elit pada abad pertengahan -- para ksatria feudal -- ikut serta dalam lomba-lomba yang berhubungan langsung dengan bentuk dominan perlengkapan perang -- pertarungan tentara bersenjata yang mengendarai kuda. Balap kuda, berburu secara berkelompok, dan "mock combats" pada turnamen-turnamen yang diadakan melatih aristokrasi tentang cara bertempur. Mereka menunjukkan kedudukan sosial mereka di dalam permainan perang yang diadakan oleh para penguasa feudal. Para ksatria berkompetisi di dalam "melees" -- pertarungan satu lawan satu di tengah-tengah para petarung yang lain. Mereka juga berkompetisi dalam perlombaan "jousts" -- perlombaan di mana dua pengendara kuda yang diperlengkapi dengan "lances" saling menyerang untuk menjatuhkan lawan dari "steed". Permainan-permainan abad pertengahan diadakan untuk mengobarkan semangat rivalitas kehormatan, kelas, dan kewajiban. Para ksatria bertarung untuk kehormatan peremuan atau wilayah. Tidak ada satupun orang yang pangkatnya lebih rendah dari kesatria yang boleh ikut berlomba, dan konsepsi-konsepsi kavaleri tentang kewajiban mewajibkan para kesatria untuk ikut serta di dalam permainan perang yang terkadang berakibat fatal.

Era Modern

Pada era modern Eropa (kira-kira 1400-1750) kerajaan-kerajaan baru terus memberikan dukungan dan mempertahankan olahraga-olahraga menyerupai perang, namun perlombaan yang mengharuskan kontak jarak dekat digantikan dengan perlombaan-perlombaan yang menggunakan teknologi yang lebih baru seperti anggar dan menembak. Di Britania Raya "seni kejantanan (manly art)" dalam bentuk olahraga tinju berkembang dan diselenggarakan perlombaannya pertama kali sejak runtuhnya Kerajaan Romawi.

Seiring dengan penaklukan oleh bangsa Eropa dan kolonisasi terhadap benua Amerika, mereka dihadapkan oleh penduduk pribumi yang juga memainkan olahraga-olahraga yang berhubungan dengan gaya peperangan masyarakat setempat. Berbagai bentuk permainan bola, gulat, lomba lari, dan lempar tombak dan panahan melatih para pejuang Amerika Pribumi di dalam seni berperang.

Hubungan dengan bangsa Eropa sering mengubah atau menghilangkan budaya asli berikut olahraga-olahraga unik masyarakat setempat. Di Jepang budaya Samurai feudal yang begitu luas pengaruhnya dalam bentuk olahraga-olahraga yang berfungsi melatih kelas-kelas pejuang -- yang hampir menyerupai olahraga-olahraga kavaleri Eropa -- punah pada abad XIX setelah Jepang memutuskan untuk melakukan modernisasi dan Westernisasi. Sebagai contoh kasus olahraga baseball, pertama kali dimainkan orang Jepang pada tahun 1873, dengan segera menggantikan dominasi olahraga-olahraga Samurai "tradisional."

Revolusi industri dan lahirnya nasionalisme, yang mengubah peradaban dunia dari akhir abad XVIII hingga akhir abad XX, menyebabkan berubahnya sifat baik perang maupun olahraga. Pola-pola baru peperangan membuat pertempuran semakin jauh dari pertarungan fisik dan lebih mengarah pada adu stamina psikologis, moral sosial, dan permesinan yang efisien. Meskipun tentara modern masih memerlukan dukungan dan stamina fisik, namun mereka mulai berpaling ke energi yang lebih patriotik, ketahanan mental, dan kerjasama tim. Olahraga-olahraga modern menekankan pada rekreasi sosial dan psikologis peperangan dibandingkan pada praktek keterampilan fisik yang aktual yang diperlukan oleh pertempuran modern.

Gerakan senam massal yang menyebar luas pada awal abad XIX di Jerman dan wilayah Skandinavia mencirikan sebuah bentuk permainan perang modern. Para instruktur memimpin kelompok melalui serangkaian gerakan/latihan olahraga yang didesain sebagai versi olahraga dari latihan militer; hal demikian menuju pada terciptanya masyarakat-masyarakat "Turnen" (sebutan untuk klub-klub olahraga senam di Jerman) di Jerman dan Skandinavia. Gerakan "turnen" segera masuk ke dalam latihan militer untuk kesatuan tentara era baru seperti yang ditunjukkan oleh legiun-legiun yang berada di bawah komando Napoleon Bonaparte (1769-1821).

Di Britania Raya dan koloni-koloninya modernisasi versi-versi permainan lokal tradisional dapat dikatakan sebagai produk dari  militer nasional.  Inggris memproklamasikan bahwa "pertempuran di Waterloo dimenangkan di arena permainan di Eton." Gagasan bahwa olahraga-olahraga Anglo-Amerika membentuk militer dapat menjadi sebuah ideologi yang kuat di dalam dunia era industrialisasi memasuki pertengahan abad XIX. Kekuasaan kolonial, termasuk di antaranya Amerika Serikat, juga memanfaatkan olahraga untuk mempertunjukkan gaya peradaban Barat di hadapan bangsa Asia, Afrika dan Pasifik.

Dengan diterapkannya permainan-permainan peran di dalam bentuk olahraga guna mempersiapkan tentara menuju ke medan pertempuran dan mengajarkan keahlian beladiri melalui simulasi perang, perdebatan muncul mengenai sistem keolahragaan apa yang menghasilkan prajurit yang lebih baik. kekalahan Prancis dalam Perang Prancis-Prusia (1870-1871) memberikan keyakinan kepada banyak nasionalis dan militeris Prancis bahwa mereka semestinya mengadopsi praktek-praktek olahraga Jerman atau Anglo-Amerika untuk melahirkan bakat beladiri bangsa dan mengembalikan prestise Prancis. Meskipun beberapa pengamat, khususnya kritikus Anglo-Amerika, secara sarkastis mengklaim bahwa bangsa Prancis gagal mengadopsi gaya olahraga, Prancis menyerap permainan-permainan gaya Anglo-Amerika ke dalam budaya olahraga unik negara tersebut. Pada dekade 1890an Baron Pierre de Coubertin (1863-1937) menghidupkan kembali Olimpiade. Olahraga-olahraga Anglo-Amerika memberikan landasan bagi sebagian besar perlombaan Olimpiade. Secara paradoks, de Coubertin menegakkan kembali Olimpiade yang pernah runtuh untuk memperkecil kemungkinan adanya perang antarbangsa dan membangun nasionalisme Prancis bilamana Olimpiade gagal mengamankan perdamaian internasional. Dengan menggalakkan nasionalisme Olimpiade modern telah senantiasa, setidaknya sebagian, menjadi sebentuk permainan perang.

Selama Restorasi Meiji (1868) di tengah usaha Jepang untuk melakukan modernisasi pada akhir abad XIX, para kaum elite Jepang meminjam olahraga-olahraga Barat untuk mereorganisasi sistem pendidikan dan militer mereka. Diilhami oleh pemikiran-pemikiran Amerika yang menghubungkan keterampilan yang dibentuk oleh olahraga baseball dengan pelaksanaan tugas-tugas yang dibutuhkan oleh praktek peperangan modern, para pemimpin bangsa Jepang menganggap bahwa baseball akan mengajarkan disiplin, bakat, dan pengetahuan teknologis bagi massa, di mana kesemua elemen tersebut diperlukan untuk bersaing di dalam peperangan modern.

Di Amerika Serikat sepakbola Amerika modern berperan sebagai permainan perang bagi budaya beladiri Amerika. Dipromosikan oleh para militeris nasionalistik seperti Theodore Roosevelt (1858-1919), ethos dan struktur sepakbola Amerika digunakan sebagai simulasi organisasi militer. Kompetisi tahunan diselenggarakan oleh dua akademi militer tertua negara Amerika Serikat, yakni angkatan darat dan angkatan laut. Kompetisi tersebut telah menjadi semacam ritual penting di dalam budaya populer Amerika. Di negara-negara Persemakmuran dan bekas koloni Britania Raya olahraga rugby merepresentasikan organisasi dan ethos militer yang sama seperti yang ditunjukkan oleh sepakbola Amerika. Di Jepang era demiliterisasi olahraga baseball masih berperan sebagai pengganti bagi permainan perang.

Di banyak negara di dunia, ideologi-ideologi militeristik lahir dalam permainan sepakbola. Bangsa-bangsa Afrika, Asia, Eropa dan Amerika Latin menganggap World Cup (Piala Dunia) sebagai ujian utama kemampuan bangsa dan indikasi dari kekuatan militer. Pada tahun 1936, pertandingan sepakbola Olimpiade antara Peru dan Austria mengobarkan sentimen Jerman terhadap Austria. Pada tahun 1970, El Salvador dan Honduras terlibat di dalam sebuah konflik militer (dikenal sebagai "Soccer War") menyusul kontroversi dan sengketa pertandingan kedua tim di dalam Kualifikasi Piala Dunia.

Pada tahun Olimpiade musim panas (Summer Olympic Games) 1912 diperkenalkanlah olahraga baru, pancalomba modern ("modern pentathlon"), sebuah permainan perang yang dianggap menirukan tugas tentara di dalam sebuah pertempuran. Modern pentathlon menggabungkan olahraga berkuda, renang, dan lomba lari; anggar; dan menembak. Pertandingan ini masih menjadi cabang olahraga resmi Olimpiade dan terus didominasi oleh para atlet yang berlatar belakang militer. Sebelum Olimpiade 1952 Helsinki Olimpiade tidak diikuti oleh atlet militer. Adalah Lars Hall, seorang tentara yang merupakan atlet kontingen Swedia, yang menjadi militer pertama yang meraih medali emas Olimpiade musim panas.

Olahraga biathlon menggabungkan olahraga lintas alam ("cross country"), ski, dan menembak. Biathlon berkembang sejak awal abad XX di kawasan Skandinavia dalam bentuk perlombaan patroli ski militer. Kejuaraan internasional biathlon diawali pada era 1950an, dan, pada tahun 1960 resmi terdaftar sebagai cabang olahraga Olimpiade musim dingin (Winter Olympic Games).

Semakin mendekati abad XXI, olahraga-olahraga modern terus dimainkan di seluruh dunia di dalam program-program persiapan yang menyerupai militer. Event-event olahraga internasional, khususnya pertandingan sepakbola dan Olimpiade, terus menumbuhkan nasionalisme yang terkadang menyebabkan konflik senjata. Barangkali olahraga internasional akan terus mendukung terciptanya dunia yang harmonis. Barangkali usaha untuk membuat olahraga menjadi permainan perdamaian belum berhasil untuk mengenali keterkaitan historis kuno antara olahraga dan perang. Pastinya, selama olahraga masih melahirkan nasionalisme, maka olahraga akan kesulitan untuk memperkecil potensi terjadinya konflik antarbangsa.

Sumber tulisan:
Dyreson, Mark (1999). "Encyclopedia of World of Sport, From Ancient Times to the Present." Editors David Levinson & Karen Christensen.

Referensi pendukung:
Baker, William (1982). "Sports in the Western World." Totowa, NJ: Rowman and Littlefield.
Carter, John Marshall (1988). "Sports and Pastimes of the Middle Ages." New York: University Press of America.
Guttmann, Allen (1994). "Games and Empires: Modern Sports and Cultural Imperialism." New York: Columbia University Press.
Hoberman, John (1984). "Sport and Political Ideology." Austin: University of Texas Press.
Holt, Richard (1989). "Sport and the British: A Modern History." Oxford: Clarendon.
Keegan, John (1993). "A History of Warfare." New York: Alfred A. Knopf.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.