Pages

10 September 2013

Kegalauan FIFA Tentang Piala Dunia Qatar 2022

Baru-baru ini Presiden Federation International de Football Association (FIFA), Joseph S. Blatter, mengeluarkan pernyataan yang "kontroversial" yang dilansir oleh SkySports. Blatter menyatakan bahwa penunjukan negara Qatar sebagai penyelenggara putaran final Piala Dunia 2022 boleh jadi merupakan sebuah "kesalahan". Blatter merujuk istilah "kesalahan" di sini semestinya dari kacamata sepakbola Eropa, yang mana biasanya menyelesaikan kompetisi liga domestik dan kawasannya menjelang Musim Panas. 

Di dalam wawancaranya dengan insideworldfootball.com, Sepp Blatter mengemukakan nada "penyesalan" mengapa Qatar yang dipilih di dalam bidding tuan rumah Piala Dunia 2022. Berkenaan dengan "situasi galau" yang nampaknya ditunjukkan oleh para petinggi FIFA, Blatter mengusulkan untuk mengubah jadual pertandingan putaran final Piala Dunia Qatar 2022 dari musim Panas ke musim Dingin. Usulan Blatter ini dilandasi oleh alasan cuaca, di mana di negara Qatar pada musim Panas suhu udara dapat mencapai 50 derajat Celsius. "Setelah melalui berbagai perundingan, pemaparan dan kajian kritis tentang semua faktor berpengaruh, saya menyimpulkan bahwa Piala Dunia di tengah teriknya cuaca musim Panas di Qatar akan sangat mengganggu."

Pendapat tersebut di atas jelas tidak mudah untuk dilaksanakan. Jika benar bahwa FIFA mengubah jadual pertandingan dari musim Panas ke musim Dingin, maka bagaimana dengan reaksi negara-negara Eropa? Kompetisi liga domestik dan liga kawasan tersebut biasanya berakhir menjelang musim Panas. Jika Piala Dunia Qatar 2022 melaksanakan kick-off pada musim Dingin (Desember-Februari) berarti liga-liga di Eropa baru melalui pertengahan musim. Akankah kompetisi liga dihentikan sejenak untuk memberikan waktu kepada Piala Dunia? Jika hal ini terjadi maka kita akan mendapatkan situasi yang lazim terjadi di negara kita, Indonesia, yakni adanya libur "sejenak" pada momentum tertentu, seperti bulan puasa dan libur Idul Fitri. Pengaruh dari "berhenti di tengah jalan" ini pasti sangat signifikan karena pesepakbola tidak akan mampu menunjukkan penampilan pucak mereka. Sangat mengecewakan jika kelak Piala Dunia Qatar 2022 menyajikan pertandingan-pertandingan yang kualitasnya tidak maksimal karena para pemain "belum saatnya" untuk tampil pada event tersebut. Memerlukan kerja ekstra keras dalam waktu 9 tahun mendatang (terlalu singkat untuk membangun suatu tradisi baru di dalam sepakbola) untuk mengubah kebiasaan para pesepakbola dari situasi siap tempur pada pertengahan tahun menjadi siap lebih awal. 

Sebaliknya, jika Piala Dunia Qatar 2022 tetap diselenggarakan pada musim Panas (Juni-Juli) maka resiko dehidrasi akan menghadang para pemain. Kita dapat membayangkan bagaimana rasanya bermain pada level tertinggi di tengah suhu 50 derajat Celsius. Bahkan, untuk kapasitas pesepakbola dari kawasan "kaya sinar matahari" pun suhu setinggi itu sangat menyiksa. Kelelahan akibat cuaca panas akan menimbulkan pengaruh negatif seperti cidera, penampilan tidak optimal, dan temperamen yang semakin tinggi. Mana mungkin mereka dapat menyuguhkan sebuah pertandingan sepakbola yang bermutu tinggi. 

Saat ini FIFA pasti sedang berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Organisasi tersebut terkenal dengan sikapnya yang visioner dan Qatar 2022 menjadi ujian terberat untuk mempertahankan reputasi tersebut. Semua telah telanjur sehingga FIFA dipastikan tidak akan begitu saja, misalnya, dalam keadaan yang paling 'gila', mengoreksi keputusan yang telah disepakati bersama dengan mengalihkan lokasi putaran final Piala Dunia 2022 dari Qatar ke negara yang "lebih ramah lingkungan bagi pesepakbola". 

Jika mengacu pada pendapat Blatter yang menyatakan bahwa sepakbola bukan lagi milik Eropa dan Amerika Selatan, dan hegemoni kekuasaan imperial Eropa telah berlalu, maka ia tidak akan berpihak kepada kepentingan Eropa. Resikonya, ialah kualitas pertandingan Piala Dunia yang jauh dari harapan. Katakanlah, jika Piala Dunia jadi dialihkan waktunya ke antara bulan Desember dan Februari, dengan asumsi pesepakbola terbaik berasal dari liga-liga Eropa, maka "peak performance" mereka tidak akan tercapai karena pada bulan-bulan tersebut kompetisi mereka masih berjalan. 

Still the greatest show on Earth??? Yang benar saja bung... :-)

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.