Pages

30 January 2013

Batik Bukan Busana Kondangan

""

Sebelum membahas tentang judul tulisan ini terlebih dahulu kita definisikan secara singkat istilah kondangan. Kondangan kemungkinan berasal dari kata dasar undang. Kemudian dari kata tersebut mendapatkan akhiran -an, sehingga menjadi 'undangan'. Dari akar istilah ini kita dapat memaknakan kondangan sebagai menghadiri undangan. Nah, kondangan di sini merujuk pada kehadiran pada acara-acara khusus yang tidak terjadi setiap hari, seperti acara pernikahan, sunatan, dan acara-acara lain yang bersifat seremonial.

Kondangan berhubungan erat dengan busana batik. Khususnya di masyarakat tempat tinggal penulis, yakni wilayah Jawa Tengah, busana batik dikenakan hanya untuk acara-acara tertentu, seringnya pada acara resepsi pernikahan. Tidak mengherankan jika sebagian orang sering mengajukan pertanyaan bernada candaan ketika menyaksikan orang lain mengenakan busana batik, seperti "Dari mana kamu kok berbatik? Kondangan ya?". Menurut pandangan penulis sikap masyarakat yang menganggap busana batik sebagai busana seremonial, dalam hal ini dispesialisasikan maknanya sebagai "busana kondangan", akan bertentangan dengan misi penyematan status batik sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia. Seperti halnya Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang harus senantiasa kita bawa dan/atau pergunakan setiap hari sebagai bukti identitas, batik juga harus kita kenakan dalam berbagai suasana. Inilah salah satu identitas bangsa yang menghuni wilayah Nusantara.

Kebiasaan yang sering penulis jumpai di masyarakat ialah merasa jengah untuk menjadikan batik sebagai busana harian. Pendapat banyak orang yang sering penulis dengar dengan melontarkan candaan "Mau pergi kondangan ya, kok berbaju batik?" mengkerdilkan makna batik di tengah masyarakat. Jika pengerdilan, yang berarti membatasi lingkup penggunaan busana batik, tetapi diteruskan, maka sikap tersebut akan membatasi eksistensi batik sebagai bagian dari identitas bangsa. Batik tidak akan mendapatkan status yang nyata sebagai warisan budaya jika masih diperlakukan secara terbatas, terlepas dari statusnya kini yang telah memperoleh pengakuan internasional.

Kita perlu melakukan perubahan sikap terhadap busana batik jika ingin membuat busana tersebut semakin melekat pada jiwa dan raga masyarakat yang mengaku sebagai bagian dari bangsa Nusantara. Dengan berbatik tanpa batasan waktu maka misi untuk menjadikan batik sebagai warisan budaya, bahkan warisan dunia, akan semakin tercapai.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.