Pages

31 August 2012

Usaha Menyelamatkan Eksistensi Bahasa Inferior


Bahasa sebagai identitas diri

Saya pernah mendapati pernyataan "bahasa menunjukkan bangsa". Ya, menurut pendapat saya pernyataan tersebut memang benar. Salah satu faktor yang membedakan -- atau menciptakan keragaman -- bangsa-bangsa yang ada di dunia ini ialah bahasa. Ketika kita berjumpa dengan seseorang yang berbicara bahasa A maka kita dapat menerka bahwa orang tersebut berasal dari bangsa A, atau sekurang-kurangnya memiliki hubungan dengan bangsa A. Terlepas dari kefasihan seseorang mempergunakan bahasa selain bahasa ibunya dengan jalan mempelajari bahasa tersebut, sebuah bahasa adalah penunjuk identitas seseorang, dan lebih luas lagi, suatu masyarakat.

Bahasa sebagai alat komunikasi

Dapat kita bayangkan jika suatu masyarakat tidak memiliki bahasa, akan bagaimanakah masyarakat tersebut berkomunikasi? Mempergunakan bahasa isyarat memang mungkin terjadi namun manusia dianugerahi oleh alat wicara yang dapat memproduksi bahasa. Kedudukan bahasa sebagai alat komunikasi menciptakan hubungan antarpersona dan antarkelompok, di mana masing-masing orang dapat berdiskusi, bercurah hati, bertukar pendapat, bahkan beradu pendapat. Bahasa sebagai alat komunikasi dapat pula menunjukkan warna budaya suatu kelompok masyarakat yang menjadikannya unik. Setiap kelompok masyarakat memiliki bahasa tersendiri sehingga membuatnya berdiri sendiri sebuah sebuah bangsa yang melengkapi keragaman kehidupan umat manusia di dunia.

Tanpa mengecilkan makna dan keberadaan setiap bahasa, memang harus diakui bahwa dari waktu ke waktu terjadi dominasi sejumlah bahasa. Di antara bahasa-bahasa yang saat ini menempatkan diri sebagai bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi internasional adalah bahasa Prancis, Spanyol, Latin, dan tentu saja bahasa Inggris. Hal demikian sedikit-banyak tidak terlepas dari perjalanan sejarah masa lalu, yakni terjadinya imperialisme oleh bangsa Spanyol, Portugis, Prancis, Belanda dan Inggris terhadap bangsa-bangsa lain. Alhasil, pengaruh imperialisme tersebut praktis menjadi sangat signifikan terhadap wilayah yang didudukinya. Bahasa pada masa kolonial menjadi salah satu unsur penting untuk memperkuat hegemoni imperialis terhadap wilayah jajahan. Sebagai contoh, banyak bangsa di kawasan Afrika yang menjadikan bahasa Prancis dan Inggris sebagai bahasa resmi nasional karena mereka dahulunya adalah jajahan Prancis dan Inggris. Situasi yang sama terjadi pula di Amerika Selatan dengan bahasa Spanyol dan Portugis yang berakar dari bahasa Latin. Bahkan kawasan tersebut sampai dikenal pula sebagai Amerika Latin. Sebagai tambahan, elemen bahasa Yunani dan Latin juga masih dipergunakan sebagai lambang rumus dalam ilmu-ilmu pasti dan nama ilmiah spesies flora dan fauna.

Ancaman kepunahan bahasa

Menurut laporan UNESCO Ad Hoc Expert Group of Endangered Language (2003), suatu bahasa dikatakan "terancam" adalah jika bahasa tersebut beranjak menuju kepunahan. Punahnya bahasa adalah suatu kejadian yang tak dapat dihindari jika tidak ada usaha yang serius untuk mendokumentasikan dan menyelamatkannya. Laporan tersebut menambahkan bahwa sebuah bahasa dikatakan terancam adalah jika para penggunanya tidak malu lagi mempergunakannya, jarang menggunakannya sebagai alat komunikasi massal, dan tidak mau menularkannya kepada generasi penerus. Dengan tidak adanya pembelajaran yang berkelanjutan maka generasi berikutnya akan tidak mengenal lagi eksistensi bahasa dimaksud. Hasil penelitian Bernard (1996:142) melaporkan bahwa 97% dari jumlah penduduk dunia pada era 1990an lalu mempergunakan 4% dari seluruh bahasa yang ada.

Riset berikutnya yang dilakukan oleh UNESCO melalui "UNESCO Project: Atlas of the World's Languages in Danger" (2011) melaporkan bahwa di seluruh dunia saat ini terdapat sekitar 6.000 bahasa yang dipergunakan oleh manusia di dalam berkomunikasi. Dari jumlah tersebut hampir separuhnya terancam kepunahan. Secara lebih detil UNESCO melaporkan bahwa jumlah bahasa yang terancam kepunahan saat ini telah mencapai 2.473, yang terdiri atas 178 bahasa yang digunakan oleh 10-50 orang, 146 bahasa yang digunakan oleh kurang dari 10 orang, 577 bahasa yang terancam kepunahan, dan 230 bahasa yang telah punah terhitung sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Usaha mencegah kepunahan bahasa

Menanggapi ancaman hilangnya bahasa sebagai identitas suatu bangsa dan masyarakat ini, pada awal dekade ini UNESCO memperkenalkan inisiatif dan proyek yang memiliki jangkauan global. Unsur utama dari usaha penyelamatan bahasa tersebut adalah akademisi, khususnya pada tingkat pendidikan tinggi, dengan kerjasama yang dilakukan oleh sejumlah institusi pendidikan tinggi di berbagai negara, terutama yang memiliki tingkat resiko kepunahan bahasa yang relatif tinggi. Mereka menjalankan inisiatif dan proyek penyelamatan eksistensi bahasa dalam tiga bentuk kegiatan, yaitu: a) proyek riset mahasiswa; b) proyek riset fakultas; dan c) proyek bentuk lain.

a) Riset tingkat mahasiswa

Riset pada tingkat mahasiswa yang diselenggarakan saat ini adalah sebagai berikut (institusi di dalam kurung adalah pelaksana dan/atau lokasi riset):
- Riset tentang Bahasa Indonesia (University of Hamburg, Jerman)
- Riset tentang kepunahan bahasa (University of Karachi, Pakistan)
- Riset tentang bahasa yang terancam kepunahan di Selandia Baru (University of Greenwhich, Britania Raya)
- Riset tentang bahasa Tikuna (National University of Colombia, Kolombia)
- Riset tentang bahasa, budaya, dan identitas yang terancam kepunahan di Indonesia (London School of Public Relations, Britania Raya)
- Riset tentang bahasa isyarat (University of Quebec)
- Riset tentang Perbandingan situasi-situasi linguistik di negara Iran dan Afghanistan masa kini (Uppsala University, Swedia)
- Riset tentang bahasa yang terancam kepunahan di Vietnam (University Paris VII, Prancis)
- Riset tentang teori penerjemahan pascakolonial (South-Western University of Finance and Economics, Republik Rakyat Cina)
- Riset tentang ancaman kepunahan bahasa dan gangguan lingkungan di Brasil (University of Michigan, Amerika Serikat)
- Riset tentang perbandingan deskriptif gramatikal antara bahasa Inggris dan bahasa Nafara (yang digunakan oleh bangsa Gur di Afrika) (University of Bouake, Pantai Gading)

b) Riset pada fakultas

Riset pada tingkat fakultas yang diselenggarakan saat ini adalah sebagai berikut (institusi di dalam kurung adalah pelaksana dan/atau lokasi riset):
- Riset tentang bahasa (Meikai University, Jepang)
- Riset tentang bahasa yang terancam kepunahan (Eastern Michigan University, Amerika Serikat)
- Riset tentang revitalisasi bahasa (Georgia Southern University, Amerika Serikat)
- Riset tentang perbandingan kebijakan pemerintah Australia dan Cina tentang bahasa (Monash University, Australia)
- Riset tentang program perkuliahan bahasa-bahasa yang terancam kepunahan pada jenjang pendidikan Master (University of Cambridge, Britania Raya)
- Riset tentang etnologi bahasa-bahasa penduduk asli Amerika: daerah yang dihuni oleh suku Maya (Meksiko) dan Amazonas (Peru) (University of Georgia, Amerika Serikat)
- Riset tentang perkuliahan untuk mahasiswa (Independent University, Bangladesh)
- Riset tentang bahasa di wilayah timur-laut India (North-Eastern Hill University, India)
- Riset penyusunan buku tentang linguistik (University of Oxford, Britania Raya)
- Riset statistik tentang populasi manusia/budaya yang terancam kepunahan dan hubungannya dengan wilayah biogeografi (Community College, Vermont, Amerika Serikat)
Riset tentang pembuatan GIS data set di dalam Pelajaran Geografi pada jenjang sekolah menengah atas (Virginia Beach City Public Schools, Amerika Serikat)

3. Riset bentuk lainnya

Riset bentuk lain yang diselenggarakan saat ini adalah sebagai berikut (institusi di dalam kurung adalah pelaksana dan/atau lokasi riset):
- Riset tentang kartografi (National Geographic's College Atlas)
 - Riset tentang aksi peduli di Coimbatore, Tamul Nadu, India (Professional Group of Institutions)
- Riset tentang dialek Chippewa/Ojibwe pada suku asli Amerika Grand Portage (Grand Portage Band of Cippewa Indians, Amerika Serikat)
- Riset tentang bahasa Punjabi (Daily Times, Pakistan)
- Riset tentang penyusunan peta tujuan riset dan pendidikan (Gobaia, Kanada)
- Riset, pengajaran publik, penulisan (K. David Harrison, penulis "When Languages Die")
- Riset tentang bahasa di Meksiko (CIMMYT, Meksiko)
- Riset jurnalis (www.slon.ru, Moskow, Rusia; derStandanl.at, Wien, Austria; Business Standard Ltd, New Delhi, India)
- Riset tentang masyarakat pengguna bahasa Telugu (Telugu Association of London)
- Serial laporan tentang bahasa penduduk asli India yang terancam kepunahan (HT Media, New Delhi, India)
- Fitur cerita tentang bahasa-bahasa yang terancam kepunahan (News Corp, New-York, Amerika Serikat)
- Riset tentang pelestarian bahasa-bahasa penduduk asli dan pedalaman di Amerika Utara (Mazinaate, Inc; Kanada)

Pengaruh Krisis Global Terhadap Pendidikan Tinggi Negara Thailand


Akibat dari krisis keuangan global bagi negara Thailand sangatlah nyata. Di antaranya ialah terjadinya pengurangan permintaan untuk barang-barang olahan dari pembeli-pembeli utama seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan Jepang. Sektor lain yang terkena dampak krisis adalah pariwisata. Angka pengangguran di negara Thailand, khususnya yang berasal dari masyarakat terdidik, juga mengalami peningkatan. Data tahun 2008 menyebutkan bahwa angka pengangguran Thailand mencapai 28,98 persen.

Di negara Thailand terdapat 8 (delapan) kategorisasi pendidikan tersier, sebagai berikut:
- universitas publik
- universitas publik otonom
- universitas terbuka
- Rajabhat University
- Rajamongala University of Technology
- sekolah tinggi kejuruan publik
- universitas swasta, dan
- sekolah tinggi swasta

Jumlah total institusi pendidikan tinggi yang terdapat di negara Thailand adalah 143 buah, terbagi atas 77 swasta dan 66 publik (atau di Indonesia disebut perguruan tinggi negeri). Pada periode 2006-2009 terjadi penurunan jumlah mahasiswa pendaftar pendidikan tinggi, yakni dari 2,05 juta (2006) menjadi 2,00 juta (2008). Pada tahun 2006 jumlah belanja pemerintah Thailand untuk pendidikan adalah 21,7 persen dari belanja total, kemudian bertambah menjadi 22,7 persen pada tahun 2009 dan kemudian 23,7 persen pada tahun 2010. Sebagian besar belanja dialokasikan untuk penyelenggaraan pendidikan dasar. Belanja pemerintah untuk universitas publik masih dikatakan belum memenuhi kebutuhan dan di negara tersebut sedang terjadi krisis potensi sumber daya manusia karena terlalu banyaknya peserta didik pendidikan tinggi yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang mereka masing-masing.

Menanggapi minimnya kualitas tersebut sejumlah langkah telah ditempuh, antara lain dengan memberlakukan dana pinjaman kuliah, pendirian universitas-universitas baru, transformasi institusi publik menjadi universitas swasta, reformasi sistem pendaftaran, hingga penggalakan riset dan inovasi. Akan tetapi, seperti halnya yang dialami oleh negara lain pada saat menderita krisis ekonomi, langkah-langkah tersebut tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

Akibat terjadinya krisis keuangan global ialah berkurangnya dana alokasi institusi pendidikan tinggi. Penurunan dana ini membuat pelaksanaan program-program yang telah direncanakan menjadi terhambat. Krisis ekonomi global telah benar-benar mempengaruhi situasi pendidikan tinggi di negara Thailand dan banyak pihak, terutama akademisi di negara tersebut, terus mendorong pemerintah untuk melakukan reformasi struktural. Meskipun langkah ini tidak muda namun merupakan tindakan yang signifikan guna memperkuat sistem administrasi dan memperbaiki kualitas pendidikan, terutama pendidikan tinggi.

Dokumen rujukan:

UNESCO Bangkok. 2009. Concept Note. Consultation Meeting on the Impact of the Economic Crisis on Higher Education in Asia and the Pacific. Bangkok, Thailand, 22-23 October. www.unescobkk.org/education/apeid/news/news-details/article/consultation-meeting-on-the-impact-of-theeconomic-
crisis-on-higher-education-in-asia-and-the-pacific
UNESCO Bangkok. 2010. Information Note. Regional Seminar on the Impact of the Economic Crisis on Higher Education and the Use of ICT in Universities in Asia and the Pacific. Bangkok, 30 June – 2 July. www.unescobkk.org/?id=9709
OECD. 2010. Education at a Glance. OECD, Paris.
Schneller, C. (2010), “Introductory Paper”, in C. Schneller and S. Golden, The Impact of the Financial Crisis to Higher Education, Asia-Europe Foundation, Singapore, pp. 8 – 24.
Schneller, C. and Golden, S., eds. (2010), “Workshop Summary”, in C. Schneller and S. Golden, The Impact of the Financial Crisis to Higher Education, Asia-Europe Foundation, Singapore, pp. 25 – 42.
UNESCO (2009), Quick Survey, UNESCO, Paris.
Union of Colleges and Universities (UCU) United Kingdom (2011), “Draft Resolution on Higher Education and Research and the Global Financial Crisis”, in Congress Book 5: Draft Congress Resolutions, Education International 6th World Congress, Education International, Brussels, p. 43.
Varghese, N.V. (2010) Running to stand still: Higher education in a period of global economic crisis, UNESCO: International Institute for Educational Planning, Paris.
Varghese, N.V. (2001) Impact of the economic crisis on higher education in East Asia: Country experiences, UNESCO: International Institute for Educational Planning, Paris.

Sumber:
The Impact of Economic Crisis on Higher Education
Asia and Pacific Regional Bureau for Education
UNESCO Bangkok 2012
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.