Pages

8 August 2012

Daftar Rekor Renang Dalam Olimpiade London 2012

Ye SW
YE SHIWEN. Rekor Dunia, Olimpiade, dan Asia 400m ind. medley putri

Cabang olahraga Renang adalah arena yang sangat menjanjikan pemecahan rekor, baik Dunia, Olimpiade, maupun Kontinental/zona. Dari waktu ke waktu rekor terus diperbarui. Sebelum Olimpiade London 2012 berlangsung sempat muncul asumsi bahwa dengan dilarangnya pakaian renang yang berteknologi mempercepat laju perenang akan menghambat pemecahan rekor. Namun, ternyata faktor 'swimsuit' tidaklah terlalu signifikan. Rekor tetap diciptakan dan ini adalah hasil kerja keras dan keseriusan para perenangnya, bukan sekedar fashion atau gaya pakaian ataupun teknologi yang dipergunakan untuk membuat pakaian.  Berikut ini adalah daftar pencetak rekor cabang olahraga Renang pada Olimpiade London 2012 yang berlangsung antara tanggal  28 Juli dan 10 Agustus 2012. Rekor di bawah ini di luar rekor marathon putra/putri yang finalnya belum berlangsung pada saat tulisan ini diunggah. 

Total terdapat 8 Rekor Dunia, 20 Rekor Olimpiade, dan 24 Rekor Kontinental baru yang tercipta di Aquatics Centre.

RENANG PUTRI

Rekor Dunia

200m gaya punggung : Missy Franklin (USA) 2:04,06 menit
200m gaya dada : Rebecca Soni (USA) 2:19,59 menit
100m gaya kupu-kupu : Dana Vollmer (USA) 55,98 detik
400m gaya ganti perorangan : Ye Shiwen (CHN) 4:28,43 menit
4x100m gaya ganti estafet : Amerika Serikat (USA) 3:52,05 menit

Rekor Olimpiade

50m gaya bebas : Ranomi Kromowidjojo (NED) 24,05 detik
100m gaya bebas : Ranomi Kromowidjojo (NED) 53,00 detik
200m gaya bebas : Allison Schmitt (USA) 1:53,61 menit
400m gaya bebas : Camille Muffat (FRA) 4:01,45 menit
100m gaya punggung : Emily Seebohm (AUS) 58,23 detik
200m gaya punggung : Missy Franklin (USA) 2:04,06 menit
200m gaya dada : Rebecca Soni (USA) 2:19,59 menit
100m gaya kupu-kupu : Dana Vollmer (USA) 55,98 detik
200m gaya kupu-kupu : Jiao Liuyang (CHN) 2:04,06 menit
200m gaya ganti perorangan : Ye Shiwen (CHN) 2:07,57 menit
400m gaya ganti perorangan : Ye Shiwen (CHN) 4:28,43 menit
4x100m gaya bebas estafet : Australia (AUS) 3:33,15 menit
4x200m gaya bebas estafet : Amerika Serikat (USA) 7:42,92 menit
4x100m gaya ganti estafet : Amerika Serikat (USA) 3:52,05 menit

Rekor Kontinental/Zona

Amerika 

200m gaya bebas : Allison Schmitt (USA) 1:53,61 menit
400m gaya bebas : Allison Schmitt (USA) 4:01,77 menit
800m gaya bebas : Katie Ledecky (USA) 8:14,63 menit
100m gaya punggung : Missy Franklin 58,33 detik
200m gaya dada : Rebecca Soni (USA) 2:19,59 menit
100m gaya kupu-kupu : Dana Vollmer (USA) 55,98 detik
4x100 gaya bebas estafet : Amerika Serikat (USA) 3:34,24
4x100m gaya ganti estafet : Amerika Serikat (USA) 3:52,05 menit

Oceania

800m gaya bebas : Lauren Boyle (NZL) 8:22,72 menit
100m gaya punggung : Emily Seebohm (AUS) 58,23 detik

Asia

100m gaya punggung : Aya Terakawa (JPN) 58,83 detik
200m gaya dada : Satomi Suzuki (JPN) 2:20,72 detik
200m gaya ganti perorangan : Ye Shiwen (CHN) 2:07,57 menit
400m gaya ganti perorangan : Ye Shiwen (CHN) 4:28,43 menit

Eropa

100m gaya dada : Ruta Meilutyte (LTU) 1:05,21 menit
200m gaya dada : Iuliia Efimova (RUS) 2:20,92 detik

Afrika

200m gaya dada : Suzaan van Biljon (RSA) 2:23,21 menit

RENANG PUTRA

Rekor Dunia

1500m gaya bebas : Sun Yang (CHN) 14:31,02 menit
100m gaya dada : Cameron van der Burgh (RSA) 58,46 detik
200m gaya dada : Daniel Gyurta (HUN) 2:07,28 menit

Rekor Olimpiade

400m gaya bebas : Sun Yang (CHN) 3:40,14 menit
1500m gaya bebas : Sun Yang (CHN) 14:31,02 menit
100m gaya punggung : Matthew Grevers (USA) 52,16 detik
200m gaya punggung : Tyler Clary (USA) 1:53,41 menit
100m gaya dada : Cameron van der Burgh (RSA) 58,46 detik
200m gaya dada : Daniel Gyurta (HUN) 2:07,28 menit

Rekor Kontinental/Zona

Asia

400m gaya bebas : Sun Yang (CHN) 3:40,14 menit
1500m gaya bebas : Sun Yang (CHN) 14:31,02 menit
400m gaya ganti perorangan : Kosuke Hagino (JPN) 4:08,94 menit

Amerika

1500m gaya bebas : Ryan Cochrane (CAN) 14:39,63 menit

Afrika

100m gaya dada : Cameron van der Burgh (RSA) 58,46 detik
200m gaya kupu-kupu : Chad le Clos (RSA) 1:52,96 menit

Eropa 

200m gaya dada : Daniel Gyurta (HUN) 2:07,28 menit

London 2012: Asia Tenggara Harus Introspeksi


Menyaksikan kegagalan Kontingen Indonesia untuk mempertahankan tradisi medali Emas dalam Olimpiade memang cukup membuat hati kecewa. Namun, dalam kesempatan ini saya ingin mengutarakan pendapat tentang prestasi yang diraih oleh negara-negara Asia Tenggara, yang notabene adalah 'alumni' SEA Games. Pada Olimpiade London 2012 ini tidak satupun negara (selanjutnya saya tulis NOC) regional Asia Tenggara (selanjutnya ditulis 'Astra') yang berhasil membawa pulang medali Emas. Raihan tertinggi NOC Astra adalah medali Perak, yaitu sebanyak 3 keping atas nama Triyatno (angkat besi, Indonesia), Pimsiri Sirikaew (angkat besi, Thailand), dan Lee Chong Wei (bulutangkis, Malaysia). Raihan berikutnya adalah 3 keping medali perunggu berasal dari Eko Yuli Irawan (angkat besi, Indonesia) dan Feng Tianwei (Singapura) dari tenis meja tunggal putri dan beregu putri.

Berdasarkan hasil yang diperoleh -- yang berarti penurunan dibandingkan Olimpiade Beijing 2008 -- seluruh NOC Astra hendaknya melakukan introspeksi bahwa iklim persaingan olahraga multievent pada area SEA Games, yang notabene merupakan 'seleksi dan uji kelayakan tidak resmi' menuju multievent yang lebih besar, seperti Asian Games dan Olimpiade, tidak lagi mendukung sehingga perlu dirubah. Saya mengamati, terutama dalam beberapa edisi SEA Games terakhir, iklim persiangan yang berbau hegemoni kebangsaan lebih mendominasi warna perlombaan dibandingkan target prestasi global. Hal demikian dapat dilihat dari 'kengototan' hampir setiap negara penyelenggara SEA Games untuk mencantumkan sejumlah cabang olahraga yang menjadi 'tambang medali' demi meraih predikat juara umum. Alhasil, persaingan yang sesungguhnya dalam semangat sportivitas menuju kompetensi yang maksimal sebagai seorang olahragawan/olahragawati menjadi terkaburkan. 

Telah tiba saatnya bagi seluruh NOC Astra melakukan reformasi sikap antarsesama, bahwa sentimen kebangsaan hanya akan memperburuk prestasi masing-masing. Tidak ada greget sama sekali jika kita melihat hasil akhir yang dicapai oleh masing-masing NOC Astra selama Olimpiade London 2012. Dari sini dapat disimpulkan bahwa 'ajang seleksi melalui SEA Games' belum memberikan hasil yang nyata. 

SEA Games sebenarnya merupakan arena yang sangat potensial untuk memperbaiki rekor dan mengukur kompetensi setiap atlet guna berangkat ke ajang yang lebih besar. Mungkin telah menjadi target dan misi yang dicanangkan sejak lama bahwa adanya SEA Games salah satunya bertujuan untuk mencapai prestasi yang lebih baik pada multievent yang lebih besar. Boleh dikatakan, SEA Games, dan juga Asian Games, merupakan bagian integral dari Olimpiade -- atau, dalam beberapa aspek, World Games. Aneh rasanya jika ada orang berpendapat bahwa SEA Games adalah SEA Games, Olimpiade itu perkara lain. Pendapat seperti ini sangat dangkal dan tidak memahami makna pembinaan dan prestasi yang berkelanjutan. 

Dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, merupakan sebuah kerugian bagi NOC Astra secara kolektif mengirimkan atlet ke Olimpiade dengan jumlah kumulatif tidak lebih banyak daripada, misalnya, Kontingen Cina, Amerika Serikat, atau Rusia. Kemana sajakah para atlet itu berada? Bukankah mereka berkiprah dalam SEA Games? Ini adalah bukti 'ketidakseriusan' di dalam mengusahakan prestasi sebaik-baiknya. 

Mengamati kiprah para atlet dari NOC kawasan di luar Astra, seperti misalnya dalam cabang olahraga Panahan, Menembak, Senam, Loncat Indah, dan Berkuda, sebenarnya para atlet NOC Astra mampu mengimbangi. Perbedaannya adalah kompetensi para atlet dari NOC di luar kawasan Astra tersebut, yang sepertinya sangat sadar dengan kelebihan dan kekurangan; artinya, memaksimalkan kelebihan untuk memberikan hasil yang maksimal bagi kontingennya. 

Belum terlambat bagi NOC Astra untuk bersikap lebih selektif di dalam menyelenggarakan multievent regional, salah satunya dengan memperlombakan cabang-cabang olahraga yang resmi dipertandingkan di dalam multievent yang lebih tinggi tingkatannya. Tidak lagi tepat bagi NOC Astra mengedepankan reputasi sebagai juara umum dengan memperlombakan cabang-cabang olahraga yang 'tidak signifikan', yang tidak setiap negara mampu melakukannya. Hasil akhir Olimpiade London 2012 adalah bukti yang nyata dan valid, bahwa kegagalan kolektif NOC Astra adalah akibat dari ketidakseriusan di dalam menargetkan prestasi pada multievent yang lebih tinggi.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.