Pages

28 June 2012

Berita Buruk adalah Berita Baik

Pada awal tahun 2012 saya memiliki harapan besar terhadap media massa Indonesia. Harapan tersebut ~ yang kata orang "resolusi", tetapi saya lebih suka menyebutnya sebagai "harapan" ~ berupa keinginan agar media massa pada tahun yang baru menyajikan informasi yang menyenangkan hati sekaligus menggugah semangat untuk apa saja (bekerja, belajar, berkarya, dsb.). Belum kering bibir saya selesai berucap harap, buru-buru seorang kawan memberikan sangkalan (dalam makna positif tentunya). Bung Iyel, sebut saja kawan saya demikian, kira-kira mengatakan, "Menurut saya 'bad news is still good news'."

Tahun 2012 telah berjalan satu semester. Ternyata sangkalan dari Bung Iyel tersebutlah yang memenangkan 'polling'. Prediksinya sangat tepat, bahwa media massa nasional masih bertahan memegang prinsip "bad news is good news". Pemberitaan sehari-hari didominasi oleh masalah-masalah yang sebenarnya kurang baik untuk membangun mentalitas masyarakat. Pembunuhan, penipuan, tindak kekerasan, sengketa, korupsi, dan tindakan-tindakan yang beresiko tinggi menimbulkan perasaan 'tidak enak di hati' lainnya menjadi ujung tombak penyajian kabar kepada masyarakat. Tidak ada perbedaan prinsip antara media cetak dan media elektronik. Kalaupun ada perbedaan, mungkin itu dapat kita temukan dalam berita radio, di mana porsi siaran lebih diwarnai oleh hiburan.

Sebuah kenyataan yang menarik, tetapi 'menarik' di sini lebih bermakna negatif. Apakah kita perlu bertanya, atau, apakah layak kita bertanya, atau mempertanyakan, tentang kecenderungan media menjadikan "berita buruk" sebagai sajian andalan mereka? Apakah hal demikian wajar adanya? Mengingat media sering dikatakan sebagai "agen perubahan", maka perannya pasti sangat signifikan di dalam merubah keadaan. Jika berita yang disajikan didominasi oleh masalah-masalah yang beresiko tinggi menyebabkan perasaan negatif, maka peran media sebagai agen perubahan akan menuju pada "merubah hal menjadi lebih buruk keadaannya".

Contoh dari dekonstruksi mentalitas oleh media ialah dalam hal kesukaan, keceriaan, dan kegembiraannya menyebarkan kabar buruk, misalnya kasus pembunuhan sadis, pada waktu pagi hari. Pagi hari adalah saat untuk memulai kegiatan baik kegiatan belajar maupun berkarya. Dalam percakapan sehari-hari masyarakat sekitar saya sering muncul pernyataan, "Pagi-pagi kok sudah ribut.". Pernyataan ini menyiratkan bahwa seyogianya pagi hari diwarnai dengan hal-hal yang tidak menimbulkan kekacauan karena pagi hari adalah awal perjalanan sepanjang hari seseorang di dalam menjalani kehidupannya. Kemudian kita saksikan pada layar kaca dan/atau pada surat kabar. Di situ terpampang pemberitaan yang negatif seperti kasus pembunuhan sadis tadi. Menurut saya, ini sebuah awal yang tidak baik. Pagi hari yang seharusnya penuh keceriaan menjadi terganggu, baik secara langsung maupun tidak langsung, oleh berita pembunuhan tersebut. Selanjutnya, pada siang hari, sore, petang, malam, bahkan dini hari pun rumah kita masih kedatangan berita-berita yang 'berasa masam'. Intinya, "bad news" menghuni hampir semua penjuru mata angin. Seperti tidak ada ruang gerak yang luas bagi kita untuk menghela napas keceriaan selepas penat bekerja, selepas lelah berkarya atau belajar. Begitu berulang-ulang setiap hari.

Dari tinjauan fenomena di atas, saya kemudian ingin mengajukan pertanyaan berikutnya: "Apakah berita-berita buruk memang disukai oleh penerima berita?" Jika sebagian besar penerima berita menjawab "Ya", mungkin kita perlu mempertanyakan sikap mereka. Sedangkan katanya dalam ajaran agamapun berita buruk itu sebaiknya tidak disebarluaskan, apalagi secara bombastis dan vulgar. Vulgar di sini maksudnya disertai dengan bukti-bukti yang dahulunya "kurang layak" untuk dipertontonkan. Misalnya, penemuan mayat pada sebuah rawa-rawa, liputan tentang korban pemerkosaan, dan sebagainya. Itu vulgar dan satu-satunya pihak yang mendapatkan untung adalah media! Ketika seorang korban kecelakaan yang tengah dirawat di rumah sakit didatangi oleh wartawan dan diwawancarai, pihak yang untung adalah media. Apakah harus dengan cara menyebar berita buruk agar mendapatkan oplah penjualan banyak? mendapatkan rating siaran tinggi? Sementara pihak-pihak yang bersangkutan dengan kejadian, misalnya korban dan/atau keluarga korban, merasakan kepedihan atas peristiwa nahas yang menimpanya?

Menyebarkan kabar baik pasti lebih berarti karena membuat orang yang mendengarnya berpikir positif. Kabar baik diharapkan oleh banyak orang. Buktinya, sering kita jumpai lawan bicara kita "terpaksa berbohong" ketika kita menanyakan tentang kabarnya. Berbohong untuk membuat hati kita senang dan tenang. Kita bertanya, "Apa kabarmu?"; lawan bicara kita lebih suka menjawab, "Kabar baik." Jika kita mengharapkan jawaban yang negatif maka kita perlu memeriksakan kita ke Rumah Sakit Jiwa.

Era keterbukaan informasi tidak selalu harus demikian. Era keterbukaan informasi sebaiknya diisi dengan penularan kabar-kabar yang menggugah semangat, apalagi kehidupan sehari-hari kita, khususnya masyarakat Indonesia, belum benar-benar tertata dengan permasalahan yang beragam. Media diharapkan menjadi "penghibur" masyarakat.



Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.