Pages

23 June 2012

Perencanaan Pembangunan Wilayah Perkotaan

"Perencanaan adalah menghubungkan antara pemikiran dan tindakan", demikian dikemukakan oleh John Friedman (1973), mengacu pada gerakan para aktivis yang lebih mengarah pada praktek perencanaan dibandingkan pada pendekatan regulasi/teknokratik yang mewarnai profesi yang tumbuh dan berkembang di tengah tradisi Town dan County Inggris. Di negara-negara yang telah mengalami industrialisasi, label "rencana tindak (action planning)" cukup menyita perhatian para akademisi, yang menyebutnya sebagai permasalahan, prosedur, dan teknik-teknik perencanaan gaya baru, dan dalam prakteknya merupakan struktur institusional baru yang berhubungan dengan isu-isu lokal (rehabilitasi, penciptaan zona usaha, pembaruan wilayah perkotaan) serta tujuan-tujuan sosial yang lebih besar (masalah lingkungan, alternatif transportasi, pemberian layanan sosial, dan isu-isu minoritas). Rencana tindak menjadi sangat identik dengan sikap para aktivis terhadap perencanaan, yang menganggap tindakan perencanaan lebih menyerupai pemecahan masalah daripada pendefinisian masalah (Faludi, 1978).

Pada wilayah akademik, orang mengenal teori perencanaan analitik. Logika tentang perencanaan analitik ini berhubungan dengan perjalanan menuju tingkat "pemahaman" yang lebih tinggi, yang merupakan konsekuensi dari rasionalisasi terhadap sentralisasi kewenangan di dalam merencanakan dan mistifikasi kewenangan teknokrasi. Hasil dari perencanaan analitik termuat di dalam Rencana Induk (Master Plan). Namun oleh kalangan praktisi perencanaan analitik dinilai terlalu kaku untuk dilaksanakan.

Para wilayah praktek, rencana tindak diperuntukkan bagi kerangka institusi manajemen wilayah perkotaan di negara-negara industri dengan konotasi yang tidak terlalu radikal. "Demokratisasi pemerintahan" sebagai sebuah proyek sosial berjalan dengan cukup baik di Eropa dan Amerika Serikat pada era 1960an. Wilayah perkotaan mendapatkan otonomi yang lebih luas di dalam menentukan nasib dan identitas sendiri. Meskipun perencanaan analitik tidak terhapus dari struktur institusional manajemen wilayah perkotaan, (rencana induk dan rencana struktur masih menjadi sarana untuk perencanaan indikatif jangka panjang) rencana tindak memperkenalkan sebuah kerangka adaptif yang mengutamakan resolusi konflik dan koordinasi konsultatif (Friend, dan Jessop, 1969).

Konsep tentang rencana tindak adalah hasil perubahan secara bertahap dari eksperimentasi-eksperimentasi praktis yang berbeda di dalam situasi di mana sejumlah masalah perkotaan muncul atau di mana perubahan terjadi terlalu cepat sehingga perencanaan analitik tidak mampu meresponnya. Landasan kontekstual -- yakni stagnasi lingkungan sekitar dan kemunduran yang terjadi di kota-kota industri di negara-negara maju serta cepatnya laju pertumbuhan perkotaan di negara-negara berkembang -- membagi rencana tindak ke dalam dua jenis praktek yang cenderung berbeda, yakni: rencana tindak mikro (micro action planning) dan rencana tindak strategis (strategic action planning). Rencana tindak mikro (MAP) fokus pada unit-unit ruang yang telah pasti yang memiliki batas-batas yang tidak ada sangkut-pautnya dengan batas operasi lembaga-lembaga yang terkait. MAP merupakan artikulasi sosial terhadap 'masalah' yang biasanya dipicu oleh terjadinya tekanan politik dalam waktu yang relatif lama. Sedangkan rencana tindak strategis (SAP) adalah hasil perubahan secara bertahap dari agenda yang jauh lebih besar dibandingkan rehabilitasi bagian-bagian kecil dari kota. Arahnya ditujukan pada manajemen wilayah kota secara keseluruhan, atau setidaknya berhubungan dengan fungsi sub-komponen utamanya; antara lain, perumahan, lahan, infrastruktur, sumber daya keuangan atau administrasi, yang biasanya digabungkan ke dalam suatu usaha yang terpadu.

Referensi:

Pal Baross, "Action Planning", Working Papers, Institute for Housing and Urban Development Studies.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.