Pages

8 June 2012

Faktor-faktor Resiko Pneumonia Pada Balita

Infeksi saluran pernapasan akut merupakan penyebab utama kematian anak di bawah usia 5 tahun (balita) di seluruh dunia, mencapai angka kematian 4,3 juta jiwa per tahun, atau > 10.000 per hari; hampir semua jenis kematian ini terjadi di negara-negara berkembang dan sebagian besar disebabkan oleh pneumonia. Dalam studi-studi epidemiologis, pneumonia, bronkitis, dan brongkiolitis lazimnya dimasukkan ke dalam kategori yang lebih luas dari infeksi saluran pernapasan bawah akut (ALRI), berdasarkan laporan maternal dan laporan medik tentang tanda dan gejala (khususnya batuk dengan nafas cepat atau kesulitan bernafas. Studi-studi semacam ini telah menunjukkan bahwa faktor-faktor resiko utama untuk morbiditas dan mortalitas bagi infeksi saluran pernapasan bawah akut meliputi status sosial-ekonomi rendah, malnutrisi, berat lahir rendah, pemberian ASI kurang, crowding dan polusi biomassa dalam ruangan, yakni asap di dalam ruangan dari pembakaran, kayu, manure, atau bahan bakar alami lainnya.

Meksipun demikian pneumonia cenderung berbeda dari jenis-jenis lain ALRI, bukan karena etiologi mikrobialnya saja, tetapi juga karena determinan-determinannya. Kriteria-kriteria diagnostik klinis, bagaimanapun sensitifnya, dapat menunjukkan spesifisitas rendah. Studi-studi epidemiologis yang khusus membahas pneumonia sangat diperlukan, namun keberadaannya masih jarang.

Uraian berikut ini adalah hasil penelitian yang dilakukan di Porto Alegre, sebuah daerah metropolitan yang terletak di negara Brasil, mengenai kejadian faktor-faktor resiko penyebab kejadian Pneumonia pada anak, khususnya anak usia balita.

Peran dari variabel-variabel sosial-ekonomi terhadap morbiditas dan mortalitas ALRI telah ditunjukkan baik di dalam satu wilayah negara, maupun melalui perbandingan internasional. Pneumonia lebih dekat hubungannya dengan pendidikan ayah dibandingkan pendidikan ibu, yang sejalan dengan studi sebelumnya tentang kematian akibat ALRI di daerah yang sama. Hal demikian secara langsung menunjukkan bahwa di dalam masyarakat wilayah tersebut standar hidup secara keseluruhan yang dimiliki oleh keluarga berperan lebih penting dibandingkan pendidikan.

Anak-anak dari ibu usia remaja memiliki resiko pneumonia yang lebih tinggi; ini menjadi temuan yang belum pernah dicatat dalam literatur terdahulu. Pengaruh ini dapat saja disebabkan oleh tidak adanya pengalaman merawat anak, karena adjustment terhadap faktor-faktor sosial-ekonomi.

Peran berat lahir terhadap angka kematian akibat ALRI juga dilaporkan dengan baik. Bayi dengan berat lahir rendah memiliki resiko pneumonia sekitar 50% lebih besar dibandingkan dengan bayi baru lahir yang memiliki berat badan > 2500 g. Mengingat bahwa sifat retrospektif dalam penelitian ini, tidak ada kemungkinan untuk memisahkan preterm dari bayi yang pertumbuhannya terganggu. Berat lahir rendah dapat menyebabkan pneumonia melalui terjadinya pengurangan respon kekebalan pada bayi lahir dengan berat badan rendah dan melalui gangguan fungsi paru-paru yang disebabkan oleh berkurangnya diameter jalan udara utama atau obstruksi (kerusakan) jalan udara pendukung.

Hasil penelitian membuktikan bahwa kejadian pneumonia yang dikonfirmasi secara radiologis berhubungan dengan rendahnya pendidikan orang tua, jumlah anggota di dalam keluarga, mudanya umur ibu saat melahirkan, kehadiran ke pusat perawatan harian, berat lahir dan berat-terhada-umur rendah, kurangnya pemberian ASI dan suplemen selain susu, serta riwayat terdahulu kejadian pneumonia dan wheezing. Untuk mendukung usaha-usaha kontinyu untuk mencapai manajemen kasus yang lebih baik, tindakan-tindakan yang diarahkan pada faktor-faktor resiko ini dapat membantu mencegah penyebab utama kematian anak-anak di bawah usia 5 tahun (balita) di dunia. Untuk mendukung perbaikan menyeluruh kondisi-kondisi sosial-ekonomi, intervensi1 yang tepat yang perlu dilakukan meliputi: (1) pelayanan keluarga berencana yang lebih baik dan pengurangan ukuran keluarga, sehingga mengurangi paparan dengan patogen. Intervensi ini juga cenderung mengurangi kehamilan usia remaja. (2) Kemungkinan perbaikan pusat perawatan harian yang diarahkan pada penghindaran crowding, misalnya, dengan memiliki jumlah anggota keluarga sedikit. Para pekerja pelayanan harian harus dilatih untuk mengenali tanda-tanda pneumonia seperti tachypnea. (3) Pencegahan terjadinya berat lahir rendah dan malnutrisi menjadi dua sasaran yang pantas dicanangkan, namun sejauh ini efektivitasnya bagi skala kesehatan masyarakat masih terbatas. (4) Promosi pemberian ASI harus lebih digalakkan, khususnya di negara-negara seperti Brasil, di mana median durasi (lama waktu) pemberian ASI hanya berlangsung kira-kira 3 bulan. Suplementasi yang tepat dimulai pada umur 4 bulan hingga 6 bulan harus digalakkan.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.