Pages

3 June 2012

Eco-Feminism

Perlunya peran serta perempuan di dalam pengelolaan lingkungan dilandasi oleh pendapat bahwa perempuan memiliki 'pengetahuan dan pengalaman di dalam menjalankan aktivitas mereka berdekatan dengan lingkungan' (Braidotti et al. 1994:2). Akan tetapi dalam perkembangannya ternyata perempuan dapat memiliki peran yang lebih, yakni karena perempuan memiliki hubungan yang khusus dengan lingkungan. Dari sinilah istilah eco-feminism berasal.

Eco-feminism dapat diartikan sebagai analisis mengenai hubungan-hubungan masyarakat dan alam dan sebagai syarat bagaimana hubungan yang terjadi dapat ditransformasikan (Buckingham-Hatfield 2000).

Analisis tentang eco-feminism sangatlah dekat dengan sikap filosofis dan budaya yang mendasar yang menjadi pedoman bagi ideologi-ideologi barat tentang perempuan, dunia alami dan hubungan timbal-baliknya (Baker 2004). Eco-feminism berpedoman pada teori feminis tentang patriarkhi dan menggabungkannya dengan pandangan-pandangan yang diperoleh dari aktivisme lingkungan dan perdamaian. Satu pendapat penting mengenai hal ini adalah sistem kepercayaan dualistik, yang berakar dari prinsip dominasi dan subjugasi, yang menjadi dasar sikap-sikap negatif modern terhadap perempuan dan alam (Plumwood 1986).

Guna mengimbangi ideologi yang dominan, eco-feminism memiliki tujuan untuk merekonstruksi sebuah pemahaman baru tentang tempat manusia di dalam dunia alami. Tujuan yang lebih spesifiknya ialah menempatkan perempuan, alam dan, kadang-kadang, laki-laki di dalam hubungan yang lebih seimbang dan lebih adil satu sama lain (Diamond dan Orenstein 1990).

Eco-feminism sebagai aktivisme politik muncul dari dua momentum sosial yang berbeda: gerakan lingkungan dan gerakan perempuan. Eco-feminism banyak dipengaruhi oleh gerakan-gerakan perdamaian dan spiritualitas perempuan. Gerakan ini berusaha menangkal pengaruh lingkungan alam yang cenderung merugikan kaum perempuan, khususnya di masyarakat Dunia Ketiga.

Sebuah konvensi di dalam tataran teori membagi eco-feminism menjadi dua kelompok besar: 'cultural eco-feminism' dan 'socialist eco-feminism'. Cultural eco-feminism sangat dipengaruhi oleh tradisi feminisme radikal (Spretnak 1990). Analisis feminisme radikal menempatkan perempuan pada situasi tertindas oleh laki-laki, khususnya dalam masalah seksualitas, dan dianggap sebagai kekuasaan laki-laki. Sementara itu Cultural eco-feminism berpendapat bahwa perempuan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan dunia alam dibandingkan laki-laki. Kedekatan hubungan ini sangat penting bagi aktivitas gerakan sosial karena memberikan kesempatan kepada perempuan untuk tetap ikut serta di dalam hubungan saling bergantung yang terjadi antara kemanusiaan dan dunia alam (Merchant 1980). Sehingga perempuan berada pada kedudukan yang unik dan menguntungkan untuk terlibat secara politik, budaya dan sosial atas nama dan untuk melestarikan alam. Teori ini dilandasi oleh kepercayaan bahwa hanya mereka yang tertindaslah yang dapat memahami dan menangkal hubungan penindasan tersebut.


Banyak feminis kontemporer yang sangat tidak percaya kepada rekoneksi eko-feminis terhadap kerempuanan dengan ruang reproduksi dan dengan alam. hubungan semacam itu dianggap kaku, yang menunjukkan antitesis terhadap tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh gerakan Pembebasan Perempuan setelah perang berakhir.

Sumber bacaan:

Baker, S. 2004. The challenge of ecofeminism for European politics, dalam J. Barry, B. Baxter dan R. Dunphy (eds) Europe, Globalization and Sustainable Development, London: Routledge, 14-30.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.