Pages

1 May 2012

Memperkuat Muatan Lokal Pendidikan Indonesia

Kedudukan sebagai negara yang berkembang (developing) dari kacamata negara lain yang menganggap diri sebagai negara maju (developed) membuat Indonesia lebih sering menjadi negara "periphery" yang dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh negara "center".

Memperingati Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei, saya ingin memberikan sedikit usulan kepada pengelola pendidikan nasional berupa inisiasi pemberdayaan muatan lokal pada pendidikan tingkat internasional. Tujuannya ialah untuk memperkuat jatidiri bangsa dan memperjelas "aksen" pendidikan Indonesia. Latar belakang dari usulan ini ialah perkembangan yang dialami oleh negara Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia telah mencapai kemerdekaannya sebagai "sovereign country" selama lebih dari setengah abad. Menurut saya telah tiba saatnya untuk belajar "melepaskan diri" dari kebergantungan yang teramat sangat dari negara-negara yang selama ini menjadi "model" bagi bangsa kita.

Pemberdayaan muatan lokal di arena internasional untuk memperjelas "aksen" pendidikan Indonesia adalah salah satu usaha yang dapat ditempuh dengan alasan bahwa Indonesia memiliki peran yang aktif di dalam dinamika kehidupan dunia. Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah memprakarsai Gerakan Non Blok, membentuk ASEAN, ikut serta aktif dalam FAO, OKI, dan OPEC. Mengapa kita tidak memanfaatkannya sebagai modal untuk tampil sebagai "model"?

Indonesia memiliki sumber daya pendidikan yang sangat banyak karena negara ini terbentuk oleh beragam suku bangsa yang di dalamnya terangkum bermacam-macam adat istiadat dan nilai kehidupan.

Memang benar bahwa muatan lokal bukan sebuah hal yang baru. Akan tetapi sejauh ini perhatian kepada kelompok bahan ajar ini, menurut pengamatan saya, tidak serius. Eksistensinya tenggelam oleh "euforia" standar pendidikan berbasis internasional. sepertinya segala sesuatu yang berlabel internasional itu lebih baik. Akhirnya terjadilah "pemaksaan" sedemikian rupa pada peserta didik demi tercapainya status internasional ("internationalized"). Padahal tidak demikian semestinya. Saya memandang langkah yang ditempuh oleh pembuat kebijakan pendidikan nasional menuju ke arah yang kurang tepat. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Hans De Wit (2011), telah terjadi "miskonsepsi tentang internasionalisasi (di dalam pendidikan)".

Muatan lokal pendidikan Indonesia tidak hanya sebatas penyelenggaraan pendidikan/pelajaran bahasa daerah dan kesenian daerah. Lebih dari itu, muatan lokal akan lebih bernilai jika penyelenggara pendidikan juga mengajarkan tentang cara pandang, adat istiadat, dan kebiasaan masyarakat lokal (budaya nusantara) dalam disiplin ekonomi, sosial, politik, bahkan pertahanan dan keamanan, bilamana perlu.

engan mengubah pandangan bahwa muatan lokal identik dengan primitivisme, anti-modern, "kuno", atau "ndeso", pendidikan Indonesia akan memiliki senjata yang ampuh untuk memperkuat identitas bangsa. Lebih lanjut, pengenalan muatan lokal ke lingkungan pendidikan internasional akan membantu mengangkat "pamor" pendidikan nasional Indonesia.

Salah satu contoh pemberdayaan muatan lokal, yang mungkin juga telah dirintis oleh para cendekia Indonesia, ialah dengan mengadakan uji kompetensi/kemampuan berbahasa Indonesia bagi pelajar internasional yang bersekolah/kuliah di Indonesia. Uji kompetensi ini mirip dengan uji kemampuan berbahasa Inggris (contoh, TOEFL, IELTS). Cara seperti ini mungkin dapat pula diterapkan oleh disiplin ilmu selain bahasa.

Karena kita pasti tidak ingin selamanya mendapatkan diktasi dari negara-negara "model", sementara arus globalisasi teramat deras untuk dapat dibendung, maka kita, bangsa Indonesia, harus mencari jalan keluar agar berbicara lebih lantang di panggung pendidikan internasional. Ini bukan berarti bahwa muatan lokal dijadikan sebagai penghambat internasionalisasi, melainkan sebagai unsur penggerak internasionalisasi pendidikan nasional.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.