Pages

5 April 2012

Earth Hour Untuk Apa???

Beberapa tahun belakangan semakin banyak orang Indonesia yang mengetahui kampanye atau gerakan tingkat internasional. Salah satu bentuk gerakan yang populer ialah gerakan "pembelaan" terhadap lingkungan, seperti penanggulangan pemanasan global, penolakan terhadap pembangkit tenaga nuklir, dan sebagainya.

Bentuk gerakan lain yang memiliki hubungan dengan lingkungan ialah "Jam Bumi" atau "Earth Hour". Gerakan ini, salah satunya dan yang dilakukan di negara kita, ialah pemadaman lampu selama 1 (satu) jam. Sebuah gerakan yang positif sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan. Pemadaman lampu juga bertujuan untuk melakukan penghematan energi.

Pertanyaannya ialah, apakah kampanye tersebut efektif? Berdampak signifikan? Ataukah sekedar ikut-ikutan orang Barat yang selama ini begitu gencarnya melakukan "intimidasi" kepada masyarakat Timur perihal masalah lingkungan?

Dari layar televisi saya menyaksikan daerah di sekitar Bundaran Hotel Indonesia yang biasanya gemerlap dengan lampu yang beraneka warna menjadi gelap gulita ketika berlangsung "Earth Hour". Akan tetapi, pada waktu yang bersamaan saya juga menemukan sejumlah, atau mungkin lebih banyak dari pandangan mata saya yang sebatas layar televisi, yang berlalu-lalang di jalan lingkar tersebut. Jadi, apa gunanya "Earth Hour"?

Jika kampanye ini sekedar ditandai dengan pemadaman lampu, alangkah dangkalnya nalar kita.
Bagi orang yang terbiasa hidup di bawah gemerlap lampu, gerakan pemadaman merupakan aksi yang sangat luar biasa. Kemudian coba kita saksikan sebagian masyarakat kita yang setiap hari "gelap-gelapan" karena tidak mendapatkan asupan energi listrik, terutama di daerah pelosok dan pedalaman. Bagi masyarakat kelompok ini "Earth Hour" terjadi setiap saat sehingga bukan merupakan kejadian yang luar biasa. Sehingga, tak perlu kita buru-buru mengaku peduli kepada lingkungan, kepada bumi.

Gerakan "Earth Hour" tidak jauh berbeda dari gerakan "anti Global Warming", "anti Gas Rumah Kaca (Greenhouse Gas)", anti pembalakan hutan, anti nuklir, yang dihembuskan dari arah Barat. Padahal, selama ini, selama berpuluh-puluh tahun, mereka juga ikut "menyumbang" pengrusakan lingkungan. Salah satu bentuknya ialah dengan adanya industrialisasi sejak terjadi "Revolusi Industri".

Terlepas dari aksi apapun yang dikampanyekan selama ini, masyarakat tradisional kita sebenarnya telah memiliki cara sendiri untuk menyelamatkan lingkungan. Kitalah orangnya, yang mengaku sebagai "manusia modern" yang sering mengada-ada, padahal pada lain hal kita terus merusak lingkungan dengan gaya hidup "masa kini" kita, seperti mencemari udara dengan emisi gas buang dan dengan radiasi gelombang dari alat komunikasi, mengganggu lingkungan dengan keramaian dan kebisingan, meracuni tanah dengan sampah sintetis yang tidak atau sulit diuraikan.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.