Pages

25 February 2012

Indonesian Boxers Must Go Amateur First

Chris John, currently the only Indonesian boxer who hold the world title, has just been awarded the Asian best boxer. His great success has given a shed of light while, to larger extent, Indonesian boxing is in negative phases. However, Chris' achievement is more likely individual, not showing the massive success nationwide. At international level Indonesia has been more inferior nation in boxing. The development is stuck and the direction is uncertain. It is a very funny fact because Indonesian people like boxing. This sport ranks high, only below football and badminton as the most favorite sports to watch. In the era of Muhammad Ali, Larry Holmes, Mike Tyson, Julio Cesar Chaves, or Oscar De La Hoya, boxing live matches on television had a high rating. Not only as a show, boxing also used to pitch Indonesia as one of countries with talented boxers, especially at amateur level. But now it is all likely gone with the wind. There is always Chris John at any direction and always. This is how I call it individual, rather than communal success. Chris John has tended to self-help instead of to be the product of an established developmental output.

ONE OF A KIND: Not many boxers do Chris John can do


This fact raises a question: What is going to happen to Indonesian boxing post-Chris John's era? For soon or late his career must given in, Indonesia needs to find other candidates to keep the boxing flag standing still. In fact, there have been several boxers who followed Chris' step but eventually they were unable to compete longer at international competition.

One of factors will be poor preparation. Most Indonesian boxers today enter the professional career without being amateur athletes. For most world boxing legends were once amateurs, the current situation of the Indonesian boxing is not a good example. People can not always date back to The Chris John's past times as a Wushu athlete. To be a good athlete, one must get all knowledge on the sport he/she plays. In other words, one can not be a good professional if he/she does not dare to be good amateurs. Professionalism must come from amateurism. It also applies to boxing.

Professional life is a sweet temptation, which drives every boxer mad and crazy about dollars it offers. In case of Indonesia, this phenomenon often makes prospective boxers leave the very basic foundation of boxing. They only know how to punch the opponents on the rings, while lacking fundamental techniques where they should have learned from the amateur level. Chris John, like Mike Tyson, is another case in Boxing. 'The Dragon' and 'The Iron Man' are world champions who overlapped the amateur phase but they do not have many fellows in common worldwide. Let them be called 'born to box' or 'born to be champions', and anyone who is obsessed by them should not completely imitate their fates and ideas. Instead, one must past the primary examination like Ali, the Klitchkos, Holyfield, Lewis, and other boxing legends have done: learning to box from scratch as innocent amateurs.

Anarkisme kata mereka

Anarkisme dalam bahasa Inggris ditulis "anarchism". Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu gabungan antara "a" (tidak) dan "archos" (kepala, pemerintah, pengatur, penanggung jawab). Dari sudut pandang orang Yunani, "anarchos" atau "anarchia" berarti "tidak ada pemerintahan, tanpa pemerintahan."

Anarkisme memiliki makna positif dan makna negatif. Makna negatif dari anarkisme ialah keyakinan yang sama sekali tidak menghargai hukum atau tatanan. Anarkisme menambah kekacauan dengan menghancurkan tatanan masyarakat. Sedangkan anarkisme dalam makna positif ialah ideologi sosial yang tidak mau menerima pemerintahan yang berkuasa otoriter. Anarkisme berpendapat bahwa individu-individu akan mengorganisasi diri dengan cara sendiri guna memenuhi kebutuhan dan cita-citanya.

Secara doktrin politis dan filosofis, istilah "anarkisme" mulai dikenal pada abad XIX. Pertama kali digunakan dalam arti ini oleh Proudhon, dan diangkat oleh Bakunin. Sejak saat itu "anarkisme" digunakan untuk menunjuk berbagai macam doktrin yang berhubungan dengan keyakinan bahwa negara yang teratur merupakan penyebab utama/sumber dari ketidakadilan di tengah manusia dan karenanya harus dilenyapkan. Terdapat banyak cara untuk menghapuskannya sesuai dengan penganutnya: secara evolusioner, revolusioner, garis keras, atau garis lunak.

William Goldwin mengharapkan anarkisme dilahirkan oleh perkembangan moral manusia secara bertahap. Sementara itu Max Stirner berprinsip bahwa anarkisme akan timbul karena pemberontakan perseorangan, bukan revolusi. Pemberontakan seperti ini hendaknya mengikuti pengembangan individualisme.

Joseph Proudhon percaya pada pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap mengenai hubungan timbal-balik atau kegotong-royongan; sebuah rasa sosial yang semakin bertambah di tengah masyarakat manusia. Penyebaran dan persebaran kerjasama sukarela semacam ini akan menggantikan kedudukan negara.

Mikhail Bakunin menganut doktrin revolusioner yang menuju pada penghancuran sebuah negara.

Leo Tolstoy mengedepankan revolusi moral anti-kekerasan, yang mengarah pada penghapusan negara. Ia menganut aliran anarkisme religius.

Terakhir, Peter Kropotkin berpendapat bahwa teori Darwin terlalu melebih-lebihkan persaingan dan revolusi; padahal, menurutnya, gotong-royong juga sama pentingnya. Anarkisme adalah sebuah gerakan kembali kepada masyarakat alamiah.

(Dari berbagai sumber)

Inikah yang dinamakan Wayang?

Menurut Sri Mulyono, istilah "wayang" adalah sebuah kata bahasa Indonesia (Jawa) asli, yang berarti "bayang-bayang", atau bayang yang berasal dari akar ata "yang" mendapatkan imbuhan "wa" sehingga menjadi "wayang". Sri Mulyono mengatakan,

Kata wayang dalam bahasa Indonesia memiliki asal kata "yang". Akar kata ini memiliki variasi yung, yong, dan digunakan pula di dalam kata "layang" atau terbang, "doyong" atau miring, "royong" atau selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dan "poyang payingan" (sempoyongan). Dengan membandingkan beberapa pengertian akar kata dan variasinya tersebut, maka disimpulkan bahwa makna dasar "wayang" ialah "tidak stabil, tidak pasti, tidak tenang, terbang, bergerak kesana-kemari."



Kata wayang atau "hamayang" dahulunya digunakan untuk menyebutkan "pertunjukan bayang". Ungkapan ini kemudian berevolusi menjadi "pertunjukan bayang-bayang". Perkembangannya menjadi "seni pentas bayang-bayang".  RT Josowidagdo berpendapat bahwa wayang menurut bahasa Jawa adalah "ayang-ayang" atau bayangan, karena yang disaksikan ialah berupa bayangan dari balik layar. Sementara itu Ksumajadi mengatakan, "Wayang ialah bayangan orang yang telah meninggal dunia, sehingga orang yang digambar itu sudah meninggal.... Kata wayang tadi dari suku kata "wa" dan "yang". Wa berarti "trah" atau turunan; yang berarti "hyang atau eyang (kakek), atau lelulur yang telah meninggal." Sebagai contoh, Pandawa berasal dari kata "Pandu + wa", yang artinya "keturunan Pandu"; Kurawa berasal dari kata "Kuru + wa", yang berarti "keturunan Kuru". Dari asal-usul ini maka dapat dikatakan bahwa "wayang" adalah gambaran orang yang telah meninggal.

Pendapat lain menyatakan bahwa wayang adalah "bayangan angan-angan" yang menggambarkan nenek moyang (leluhur) di dalam angan-angan dengan terciptanya berbagai bentuk wayang sesuai dengan adat dan kelakuan tokoh yang dibayangkan di dalam angan-angan. Dari uraian tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa istilah "wayang" dipergunakan untuk sebutan gambar leluhur, yang selalu bergerak, menurut bayangan si pembuat, dan menghasilkan "ayang-ayang" atau bayangan di balik kelir.

Sumber bacaan:

Sunarto. 1989. "Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta: Sebuah tinjauan tentang bentuk, ukiran, sungingan." Balai Pustaka: Jakarta
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.