Pages

1 January 2012

Kejahatan di Angkot, Sebuah Pertanyaan

Menyedihkan sekali bahwa tindak kejahatan hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa masih mewarnai pemberitaan media massa. Salah satu bentuk kejahatan yang baru saja terjadi ialah tindak asusila terhadap perempuan di angkutan kota (angkot). Kejahatan yang terjadi lebih dari satu kali ini tak ayal membuat masyarakat sedikit enggan untuk menggunakan jasa angkot sebagai alat transportasi, terutama perempuan.

Ada hal yang janggal karena tindak asusila pada tempat yang sama (baca: angkot) terjadi lebih dari satu kali dengan interval waktu yang berdekatan. Wajarkah ini? Secara logika, angkot tergolong ke dalam media transportasi kelas menengah ke bawah dalam strata ekonomi dan karena itu, strata sosial pula. Harga jasanya relatif terjangkau oleh pengguna dan angkot identik dengan media transportasi masyarakat kelas bawah. Penghasilan sopir dan kernet angkot boleh dikatakan tidak terlalu berlebihan. Dari fakta ini maka akan menjadi hal yang ironis jika terdapat orang dari pihak angkot sendiri yang melakukan kejahatan, apalagi hingga membunuh korbannya. Biaya ekonomi dan biaya sosial yang kelak mereka tanggung jauh melebihi penghasilan sehari-hari.

Ulasan ini bukan sebuah pembelaan, melainkan usaha untuk mencari jalan tengah. Persaingan transportasi massa di kota besar sangatlah keras dan salah satu pihak yang sering mengalami kekalahan adalah angkot. Karena fasilitas yang terbatas dan tarif jasa yang murah, maka standar keamanan dan keyamanannya rendah. Di samping harus bersaing dengan alat transportasi lain, angkot juga terancam oleh semakin banyaknya kendaraan pribadi. Akibat dari banyaknya volume kendaraan di jalan, maka posisi angkot semakin terdesak.

Perilaku sopir angkot yang melanggar peraturan lalu-lintas, seperti parkir, menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat adalah gambaran betapa sulitnya keberadaan mereka di jalan. Angkot sering dituduh sebagai penyebab kemacetan lalu-lintas padahal jumlah kendaraan pribadi lebih banyak. Media transportasi masyarakat bawah ini menjadi pihak yang sering "dikorbankan (expendable)".

Di tengah desakan dari pesaing yang lebih nyaman, kini angkot mendapatkan pukulan berat dari oknum-oknum kriminal yang melakukan kejahatan asusila. Akibatnya, keberadaan angkot menjadi semakin terancam. Ini bukan semata kejahatan melainkan masalah sosial. Adakah konspirasi di sana untuk menyingkirkan keberadaan angkot di jalan? Adakah pihak-pihak yang berkepentingan untuk menghapus keberadaan angkot dengan cara mencemarkan reputasinya? Ini sekedar pertanyaan, bukan asumsi.

Kita tidak dapat begitu saja menimpakan kesalahan pada angkot. Orang memilih angkot karena media transportasi ini relatif paling bersedia untuk mengangkut apa saja. Namun, perhatian kepada pelaku usaha angkot sangat minim sehingga sering menyebabkan mereka frustrasi. Andaikata kita bersedia bersikap adil kepada angkot, maka media transportasi tersebut akan menjadi seaman dan senyaman taksi,busway dan kendaraan pribadi.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.