Pages

12 September 2012

Pengertian, Dampak, dan Pengukuran Kebisingan

Kebisingan adalah salah satu bentuk pencemaran yang terjadi di dalam lingkungan tempat tinggal kita. Istilah bahasa Inggris untuk kebisingan ialah noise pollution, sehingga kita dapat pula menyebutnya dengan polusi suara. Kebisingan dapat didefinisikan sebagai suara yang tidak dikehendaki atau suara yang salah tempat dan salah waktu.

Kebisingan dapat dikategorikan berdasarkan kontinuitas, intensitas, dan spektrum frekuensi suara.

1) Steady state and narrow band noise

Adalah jenis kebisingan yang terus-menerus dengan spektrum suara yang sempit, misalnya suara mesin dan kipas angin.

2) Nonsteady state and narrow band noise

Adalah jenis kebisingan yang terjadi tidak terus-menerus dengan spektrum suara yang sempit, misalnya suara mesin gergaji dan katup uap.

3) Intermitten noise

Adalah jenis kebisingan yang terjadi sewaktu-waktu dan terputus-putus, misalnya suara pesawat terbang dan kereta api.

3) Impulsive noise

Adalah jenis kebisingan yang memekakkan telinga, misalnya suara tembakan senapan, meriam, dan ledakan bom.

Pengaruh Kebisingan Terhadap Kesehatan

Seperti halnya jenis pencemaran lainnya, kebisingan berpengaruh bagi kesehatan manusia, antara lain menyebabkan bertambahnya tingkat kepekaan tubuh, sistem kardiovaskular, tekanan darah, dan denyut jantung. Terlalu sering bersinggungan dengan kebisingan dalam waktu yang lama dapat menurunkan konsentrasi dan menyebabkan kelelahan.

Pengaruh yang paling nyata dari kebisingan bagi kesehatan ialah gangguan, bahkan kerusakan, organ pendengaran. Pengaruh kebisingan terhadap organ pendengaran sebenarnya bersifat sementara, masih dapat disembuhkan. Namun apabila seseorang telah terlalu sering berada di tempat yang bising dan tergaduh maka akibatnya akan lebih parah dan berubah menjadi kerusakan permanen.

Untuk mencegah dampak negatif kebisingan terhadap kesehatan manusia maka diperlukan batasan tingkat kebisingan di dalam lingkungan. Batas kebisingan di lingkungan sekitar, atau community noise level, dapat kita bagi menjadi 4 (empat) kelompok, sebagai berikut:

1) kelompok suara yang memekakkan telinga (100-120 desibel) , yang disebabkan oleh suara halilintar, ledakan bom, meriam, mesin uap, dan jalan yang sangat ramai.

2) kelompok suara gaduh (60-90 desibel), yang bersumber dari kegiatan perusahaan, kantor, jalan, rumah.

3) kelompok suara sedang (30-40 desibel), yang bersumber dari kantor, rumah, percakapan dengan suara keras, suara radio/televisi/tape recorder

4) kelompok suara tenang (10-20 desibel), yakni suara yang tidak mengganggu konsentrasi orang-orang yang mendengarkan dan masih dalam batas kewajaran.

Mengukur Tingkat Kebisingan

Untuk dapat menentukan seberapa tinggi (atau rendah) tingkat kebisingan sebuah suara kita memerlukan sebuah alat ukur. Saat ini perkembangan sains dan teknologi telah menghasilkan sejumlah alat ukur. Pertama,  sound level meter. Alat ukur ini dapat dipergunakan untuk mengukur tingkat kebisingan dengan batas terendah 30 desibel (dB) dan batas tertinggi 130 desibel (dB) dan frekuensi antara 20 Hz dan 20 kHz. Kedua, octave band analyzers. Alat ini terdiri atas sejumlah filter yang dapat membagi-bagi tingkat octave suara. Ketiga, narrow band analyzers. Alat ini dipergunakan untuk mengukur frekuensi yang berbeda-beda. Keempat, impact noise analyzer. Alat ukur ini digunakan untuk menentukan intensitas kebisingan pada waktu dan tempat tertentu.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.