Pages

8 August 2012

London 2012: Asia Tenggara Harus Introspeksi


Menyaksikan kegagalan Kontingen Indonesia untuk mempertahankan tradisi medali Emas dalam Olimpiade memang cukup membuat hati kecewa. Namun, dalam kesempatan ini saya ingin mengutarakan pendapat tentang prestasi yang diraih oleh negara-negara Asia Tenggara, yang notabene adalah 'alumni' SEA Games. Pada Olimpiade London 2012 ini tidak satupun negara (selanjutnya saya tulis NOC) regional Asia Tenggara (selanjutnya ditulis 'Astra') yang berhasil membawa pulang medali Emas. Raihan tertinggi NOC Astra adalah medali Perak, yaitu sebanyak 3 keping atas nama Triyatno (angkat besi, Indonesia), Pimsiri Sirikaew (angkat besi, Thailand), dan Lee Chong Wei (bulutangkis, Malaysia). Raihan berikutnya adalah 3 keping medali perunggu berasal dari Eko Yuli Irawan (angkat besi, Indonesia) dan Feng Tianwei (Singapura) dari tenis meja tunggal putri dan beregu putri.

Berdasarkan hasil yang diperoleh -- yang berarti penurunan dibandingkan Olimpiade Beijing 2008 -- seluruh NOC Astra hendaknya melakukan introspeksi bahwa iklim persaingan olahraga multievent pada area SEA Games, yang notabene merupakan 'seleksi dan uji kelayakan tidak resmi' menuju multievent yang lebih besar, seperti Asian Games dan Olimpiade, tidak lagi mendukung sehingga perlu dirubah. Saya mengamati, terutama dalam beberapa edisi SEA Games terakhir, iklim persiangan yang berbau hegemoni kebangsaan lebih mendominasi warna perlombaan dibandingkan target prestasi global. Hal demikian dapat dilihat dari 'kengototan' hampir setiap negara penyelenggara SEA Games untuk mencantumkan sejumlah cabang olahraga yang menjadi 'tambang medali' demi meraih predikat juara umum. Alhasil, persaingan yang sesungguhnya dalam semangat sportivitas menuju kompetensi yang maksimal sebagai seorang olahragawan/olahragawati menjadi terkaburkan. 

Telah tiba saatnya bagi seluruh NOC Astra melakukan reformasi sikap antarsesama, bahwa sentimen kebangsaan hanya akan memperburuk prestasi masing-masing. Tidak ada greget sama sekali jika kita melihat hasil akhir yang dicapai oleh masing-masing NOC Astra selama Olimpiade London 2012. Dari sini dapat disimpulkan bahwa 'ajang seleksi melalui SEA Games' belum memberikan hasil yang nyata. 

SEA Games sebenarnya merupakan arena yang sangat potensial untuk memperbaiki rekor dan mengukur kompetensi setiap atlet guna berangkat ke ajang yang lebih besar. Mungkin telah menjadi target dan misi yang dicanangkan sejak lama bahwa adanya SEA Games salah satunya bertujuan untuk mencapai prestasi yang lebih baik pada multievent yang lebih besar. Boleh dikatakan, SEA Games, dan juga Asian Games, merupakan bagian integral dari Olimpiade -- atau, dalam beberapa aspek, World Games. Aneh rasanya jika ada orang berpendapat bahwa SEA Games adalah SEA Games, Olimpiade itu perkara lain. Pendapat seperti ini sangat dangkal dan tidak memahami makna pembinaan dan prestasi yang berkelanjutan. 

Dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, merupakan sebuah kerugian bagi NOC Astra secara kolektif mengirimkan atlet ke Olimpiade dengan jumlah kumulatif tidak lebih banyak daripada, misalnya, Kontingen Cina, Amerika Serikat, atau Rusia. Kemana sajakah para atlet itu berada? Bukankah mereka berkiprah dalam SEA Games? Ini adalah bukti 'ketidakseriusan' di dalam mengusahakan prestasi sebaik-baiknya. 

Mengamati kiprah para atlet dari NOC kawasan di luar Astra, seperti misalnya dalam cabang olahraga Panahan, Menembak, Senam, Loncat Indah, dan Berkuda, sebenarnya para atlet NOC Astra mampu mengimbangi. Perbedaannya adalah kompetensi para atlet dari NOC di luar kawasan Astra tersebut, yang sepertinya sangat sadar dengan kelebihan dan kekurangan; artinya, memaksimalkan kelebihan untuk memberikan hasil yang maksimal bagi kontingennya. 

Belum terlambat bagi NOC Astra untuk bersikap lebih selektif di dalam menyelenggarakan multievent regional, salah satunya dengan memperlombakan cabang-cabang olahraga yang resmi dipertandingkan di dalam multievent yang lebih tinggi tingkatannya. Tidak lagi tepat bagi NOC Astra mengedepankan reputasi sebagai juara umum dengan memperlombakan cabang-cabang olahraga yang 'tidak signifikan', yang tidak setiap negara mampu melakukannya. Hasil akhir Olimpiade London 2012 adalah bukti yang nyata dan valid, bahwa kegagalan kolektif NOC Astra adalah akibat dari ketidakseriusan di dalam menargetkan prestasi pada multievent yang lebih tinggi.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.