Pages

10 June 2012

Model Tatakelola Pendidikan Tinggi Gaya Oxbridge

Perkembangan tatakelola pendidikan tinggi dapat dikelompokkan menjadi empat model, yaitu: 1) tatakelola Oxbridge (Oxford dan Cambridge); 2) tatakelola Skotlandia; 3) tatakelola 'civic university'; 4) tatakelola Korporasi Pendidikan Tinggi; dan 5) tatakelola universitas Amerika Serikat. Pada kesempatan ini kita akan mengetahui lebih banyak tentang model tatakelola Oxbridge.

Model tatakelola Oxbridge menganggap penting "self-governance" akademik. Model ini diperkenalkan pada abad pertengahan yang menganut konsep "guild of masters", yang oleh Paus disebut sebagai korporasi akademik di dalam kegiatan belajar tingkat tinggi (Duryea 2000). Di Paris, berbeda dari tatakelola Universitas Bologna, yang berada di tangan mahasiswa, para 'masters' memperoleh status korporat sebagai sebuah 'universitas' dan diakui oleh Paus, dan oleh raja, sebagai "studium generale". Memasuki abad XIII 'masters' diwakili oleh rektor yang bertanggung jawab memegang kewenangan eksternal. Struktur ini diperkenalkan oleh Oxford kepada Cambridge. Dalam prakteknya, Rashdal berpendapat bahwa 'hubungan antara Paris dan Oxford begitu dekat sehingga setiap perkembangan baru aktivitas korporat oleh para master di Paris sedikit banyak ditiru oleh Oxford' (Rashdal 1936 III 49). Baik Oxford maupun Cambridge menjalin hubungan baik dengan 'bishops' mereka (Lincoln dan Ely) yang memiliki hak untuk mengangkat pimpinan universitas (chancellors) namun pada akhir Abad Pertengahan baik Oxford maupun Cambridge membebaskan diri dari yurisdiksi episkopal dan  'chancellor' menjadi figur kehormatan berdasarkan titah kerajaan, dan 'vice-chancellor', yang dipilih di dalam universitas, menjadi pimpinan yang efektif bagi universitas. Bersamaan dengan naik tahtanya Henry III, dibentuk undang-undang yang memperbolehkan sebuah korporasi untuk memegang wewenang dan universitas diberi kewenangan untuk mengeluarkan persetujuan untuk transaksi bisnis, menguasai hak milik, mengangkat staf dan dapat mengajukan tuntutan maupun dituntut, hak yang tetap dipertahankan di dalam piagam dan undang-undang hingga sebelum tahun 1992. semua hak ini dipegang oleh universitas sendiri, bukan oleh elemen di dalam struktur tatakelola, dewan pimpinan, seperti halnya yang berlaku pada politeknik era setelah tahun 1992.

Akan tetapi, undang-undang parlemen yang kemudian berlaku di Oxford (1854) dan di Cambridge (1856) tidak memuat keterlibatan 'laymen' (yang secara teknis, berfungsi sebagai non-ecclesiastical staf) di dalam tata kelola universitas dan memperkuat peran masyarakat akademik melalui Hebdomadal Council (di Oxford) dan Council of the Senate (Cambridge), meskipun memuat reformasi organ-organ tatakelola yang memperlemah peran 'heads of houses' (Tatakelola Trinity College, Dublin, yang dibentuk pada tahun 1591, menganut prinsip serupa dan membedakannya dari konstitusi yang dianut oleh universitas-universitas lain di Irlandia). Baik Oxford maupun Cambridge mendapatkan kritisi dari Robbins Report karena memiliki struktur tatakelola yang kompleks dan pengaruh yang ditimbulkannya bagi proses-proses pembuatan keputusan dan keduanya mengambil langkah-langkah untuk melakukan tinjauan ulang dan reformasi terhadap tatakelola internal oleh Franks Committee (University of Oxford 1964a) dan North Committee (University of Oxford 1997) di Oxford, dan Wass Committee (University of Cambridge 1989) di Cambridge. Oxford kemudian mengambil sejumlah langkah penting untuk menataulang struktur tatakelolanya dan melibatkan peran 'laymen' ke dalam jajaran pengelola universitas tersebut. Sedangkan Cambridge menolak usulan dilibatkannya laymen ke dalam struktur. Cambridge tetap mempertahankan Regent House yang beranggotakan staf akademik universitas tersebut, yang diberi wewenang tertinggi di dalam kegiatan tatakelola.

Referensi:
Shattock, Michael. 2006. The Origins of Development of Modern University Governance, dalam "Managing Good Governnance in Higher Education", hal. 5-6. Open University Press, McGraw-Hill Education: UK.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.