Pages

30 June 2012

Road to Euro 2012 Final : Spain-Italy All Time Head-to-Head

Matches
Milan, 9.3.1924 : ITA - ESP 0-0
Valencia, 14.6.1925 : ESP - ITA 1-0 (Errazquin)
Bologna, 29.5.1927 : ITA - ESP 2-0 (A.Baloncieri, Prats (og))
Gijon, 22.4.1928 : ESP - ITA 1-1 (Quesada; J.Libonatti)
Bologna, 22.6.1930 : ITA - ESP 2-3 (R.Constantino (2); L.Regueiro (2), Ventolra)
Bilbao, 19.4.1931 : ESP - ITA 0-0
Florence, 31.5.1934 : ITA - ESP 1-1 (G.Ferrari; L.Regueiro)
Florence, 1.6.1934 : ITA - ESP 1-0 (G.Meazza)
Milan, 19.4.1942 : ITA - ESP 4-0 (P.Ferraris, E.Loik, V.Mazzola, S.Piola)
Madrid, 27.3.1949 : ESP - ITA 1-3 (Gainza; Amadei, Carrapellese, Lorenzi)
Roma, 28.2.1959 : ITA - ESP 1-1 (?)
Barcelona, 13.3.1960 : ESP - ITA 3-1 (A.Di Stefano, Martinez, Verges; R.F.Lojacono)
Madrid, 21.2.1970 : ESP - ITA 2-2 (S.Salvadore (2, og); P.Anastasi, L.Riva)
Cagliari, 20.2.1971 : ITA - ESP 1-2 (G.De Sisti; Pirri, Uriarte)
Madrid, 25.1.1978 : ESP - ITA 2-1 (Pirri, Asensi; Tardelli)
Roma, 21.12.1978 : ITA - ESP 1-0 (P.Rossi)
Milan, 12.6.1980 : ITA - ESP 0-0
Frankfurt, 14.6.1988 : ITA - ESP 1-0 (G.Vialli)
Boston, 9.7.1994 : ITA - ESP 2-1 (D.Baggio, R.Baggio; J.L.Caminero)
Salerno, 18.11.1998 : ITA - ESP 2-2 (Inzhaghi (2); Raul, De Pedro)
Barcelona, 29.3.2000 : ESP - ITA 2-0 (Alfonso (2))
Genova, 28.4.2004 : ITA - ESP 1-1 (C.Vieri; F.Torres)
Elche, 26.3.2008 : ESP - ITA 1-0 (D.Villa)
Wien, 22.6.2008 : ESP - ITA 0-0 (pso 4-2)
Bari, 10.8.2011 : ITA - ESP 2-1 (Aquilani, Montolivo; Alonso)
Gdansk, 10.6.2012 : ESP - ITA 1-1 (Fabregas; Di Natale)

All time standings:
1. ITA  : 26-8-7-(30-26)
2. ESP : 26-7-8-(26-30)

All time Euro standings:
1. ITA  : 4-1-3-0-(2-1)
2. ESP : 4-0-3-1-(1-2)

EURO 1980 Line-ups

ESP (Coach Ladislao Kubala) L. Arconada, M. Tendillo, Migueli, J.R. Alexanco, R. Gordillo, E. Saura, J.M. Asensi (c), J. Zamora, Quini, Dani, J. Satrustegui. Subs: Juanito.
ITA (Coach Vincenzo Bearzot) D. Zoff (c), C. Gentile, A. Cabrini, G. Oriali, F. Collovati, G. Scirea, M. Tardelli, F. Causio, F. Graziani, G. Antognoni, R. Bettega. Subs: -

EURO 1988 Line-ups

ESP (Coach Miguel Munoz) A. Zubizarreta, T. Renones, G. Andrinua, V. Munoz, M. Sanchis, E. Butragueno, R. Gordillo (c), R. Gallego, J.M. Bakero, M. Soler, Michel. Subs: A. Beguiristain, R.M. Vazquez.
ITA (Coach Azeglio Vicini) W. Zenga, F. Baresi, G. Bergomi (c), R. Ferri, P. Maldini, C. Ancelotti, F. De Napoli, G. Giannini, R. Donadoni, R. Mancini, G. Vialli. Subs: L. De Agostini, A. Altobelli.

EURO 2008 Line-ups

ESP (Coach Luis Aragones) I. Casillas (c), C. Marchena, C. Puyol, A. Iniesta, D. Villa, Xavi, F. Torres, J. Capdevila, S. Ramos, M. Senna, D. Silva. Subs: C. Fabregas, S. Cazorla, D. Guiza.
ITA (Coach Roberto Donadoni) G. Buffon (c), C. Panucci, F. Grosso, G. Chiellini, L. Toni, D. De Rossi, M. Ambrosini, G. Zambrotta, S. Perrotta, A. Aquilani. Subs: A. Del Piero, A. Di Natale, M. Camoranesi.

Data & Information Sources:
www.fifa.com
www.uefa.com
www.figc.it

28 June 2012

Berita Buruk = Berita Baik

Pada awal tahun 2012 saya memiliki harapan besar terhadap media massa Indonesia. Harapan tersebut ~ yang kata orang "resolusi", tetapi saya lebih suka menyebutnya sebagai "harapan" ~ berupa keinginan agar media massa pada tahun yang baru menyajikan informasi yang menyenangkan hati sekaligus menggugah semangat untuk apa saja (bekerja, belajar, berkarya, dsb.). Belum kering bibir saya selesai berucap harap, buru-buru seorang kawan memberikan sangkalan (dalam makna positif tentunya). Bung Iyel, sebut saja kawan saya demikian,  kira-kira mengatakan, "Menurut saya 'bad news is still good news'."

Tahun 2012 telah berjalan satu semester. Ternyata sangkalan dari Bung Iyel tersebutlah yang memenangkan 'polling'. Prediksinya sangat tepat, bahwa media massa nasional masih bertahan memegang prinsip "bad news is good news". Pemberitaan sehari-hari didominasi oleh masalah-masalah yang sebenarnya kurang baik untuk membangun mentalitas masyarakat. Pembunuhan, penipuan, tindak kekerasan, sengketa, korupsi, dan tindakan-tindakan yang beresiko tinggi menimbulkan perasaan 'tidak enak di hati' lainnya menjadi ujung tombak penyajian kabar kepada masyarakat. Tidak ada perbedaan prinsip antara media cetak dan media elektronik. Kalaupun ada perbedaan, mungkin itu dapat kita temukan dalam berita radio, di mana porsi siaran lebih diwarnai oleh hiburan.

Sebuah kenyataan yang menarik, tetapi 'menarik' di sini lebih bermakna negatif. Apakah kita perlu bertanya, atau, apakah layak kita bertanya, atau mempertanyakan, tentang kecenderungan media menjadikan "berita buruk" sebagai sajian andalan mereka? Apakah hal demikian wajar adanya? Mengingat media sering dikatakan sebagai "agen perubahan", maka perannya pasti sangat signifikan di dalam merubah keadaan. Jika berita yang disajikan didominasi oleh masalah-masalah yang beresiko tinggi menyebabkan perasaan negatif, maka peran media sebagai agen perubahan akan menuju pada "merubah hal menjadi lebih buruk keadaannya".

Contoh dari dekonstruksi mentalitas oleh media ialah dalam hal kesukaan, keceriaan, dan kegembiraannya menyebarkan kabar buruk, misalnya kasus pembunuhan sadis, pada waktu pagi hari. Pagi hari adalah saat untuk memulai kegiatan baik kegiatan belajar maupun berkarya. Dalam percakapan sehari-hari masyarakat sekitar saya sering muncul pernyataan, "Pagi-pagi kok sudah ribut.". Pernyataan ini menyiratkan bahwa seyogianya pagi hari diwarnai dengan hal-hal yang tidak menimbulkan kekacauan karena pagi hari adalah awal perjalanan sepanjang hari seseorang di dalam menjalani kehidupannya. Kemudian kita saksikan pada layar kaca dan/atau pada surat kabar. Di situ terpampang pemberitaan yang negatif seperti kasus pembunuhan sadis tadi. Menurut saya, ini sebuah awal yang tidak baik. Pagi hari yang seharusnya penuh keceriaan menjadi terganggu, baik secara langsung maupun tidak langsung, oleh berita pembunuhan tersebut. Selanjutnya, pada siang hari, sore, petang, malam, bahkan dini hari pun rumah kita masih kedatangan berita-berita yang 'berasa masam'. Intinya, "bad news" menghuni hampir semua penjuru mata angin. Seperti tidak ada ruang gerak yang luas bagi kita untuk menghela napas keceriaan selepas penat bekerja, selepas lelah berkarya atau belajar. Begitu berulang-ulang setiap hari.

Dari tinjauan fenomena di atas, saya kemudian ingin mengajukan pertanyaan berikutnya: "Apakah berita-berita buruk memang disukai oleh penerima berita?" Jika sebagian besar penerima berita menjawab "Ya", mungkin kita perlu mempertanyakan sikap mereka. Sedangkan katanya dalam ajaran agamapun berita buruk itu sebaiknya tidak disebarluaskan, apalagi secara bombastis dan vulgar. Vulgar di sini maksudnya disertai dengan bukti-bukti yang dahulunya "kurang layak" untuk dipertontonkan. Misalnya, penemuan mayat pada sebuah rawa-rawa, liputan tentang korban pemerkosaan, dan sebagainya. Itu vulgar dan satu-satunya pihak yang mendapatkan untung adalah media! Ketika seorang korban kecelakaan yang tengah dirawat di rumah sakit didatangi oleh wartawan dan diwawancarai, pihak yang untung adalah media. Apakah harus dengan cara menyebar berita buruk agar mendapatkan oplah penjualan banyak? mendapatkan rating siaran tinggi? Sementara pihak-pihak yang bersangkutan dengan kejadian, misalnya korban dan/atau keluarga korban, merasakan kepedihan atas peristiwa nahas yang menimpanya?

Menyebarkan kabar baik pasti lebih berarti karena membuat orang yang mendengarnya berpikir positif. Kabar baik diharapkan oleh banyak orang. Buktinya, sering kita jumpai lawan bicara kita "terpaksa berbohong" ketika kita menanyakan tentang kabarnya. Berbohong untuk membuat hati kita senang dan tenang. Kita bertanya, "Apa kabarmu?"; lawan bicara kita lebih suka menjawab, "Kabar baik." Jika kita mengharapkan jawaban yang negatif maka kita perlu memeriksakan kita ke Rumah Sakit Jiwa.

Era keterbukaan informasi tidak selalu harus demikian. Era keterbukaan informasi seyogianya diisi dengan penularan kabar-kabar yang menggugah semangat, apalagi kehidupan sehari-hari kita, khususnya masyarakat Indonesia, belum benar-benar tertata dengan permasalahan yang beragam. Media diharapkan menjadi "penghibur" masyarakat.



23 June 2012

Perencanaan Pembangunan Wilayah Perkotaan

"Perencanaan adalah menghubungkan antara pemikiran dan tindakan", demikian dikemukakan oleh John Friedman (1973), mengacu pada gerakan para aktivis yang lebih mengarah pada praktek perencanaan dibandingkan pada pendekatan regulasi/teknokratik yang mewarnai profesi yang tumbuh dan berkembang di tengah tradisi Town dan County Inggris. Di negara-negara yang telah mengalami industrialisasi, label "rencana tindak (action planning)" cukup menyita perhatian para akademisi, yang menyebutnya sebagai permasalahan, prosedur, dan teknik-teknik perencanaan gaya baru, dan dalam prakteknya merupakan struktur institusional baru yang berhubungan dengan isu-isu lokal (rehabilitasi, penciptaan zona usaha, pembaruan wilayah perkotaan) serta tujuan-tujuan sosial yang lebih besar (masalah lingkungan, alternatif transportasi, pemberian layanan sosial, dan isu-isu minoritas). Rencana tindak menjadi sangat identik dengan sikap para aktivis terhadap perencanaan, yang menganggap tindakan perencanaan lebih menyerupai pemecahan masalah daripada pendefinisian masalah (Faludi, 1978).

Pada wilayah akademik, orang mengenal teori perencanaan analitik. Logika tentang perencanaan analitik ini berhubungan dengan perjalanan menuju tingkat "pemahaman" yang lebih tinggi, yang merupakan konsekuensi dari rasionalisasi terhadap sentralisasi kewenangan di dalam merencanakan dan mistifikasi kewenangan teknokrasi. Hasil dari perencanaan analitik termuat di dalam Rencana Induk (Master Plan). Namun oleh kalangan praktisi perencanaan analitik dinilai terlalu kaku untuk dilaksanakan.

Para wilayah praktek, rencana tindak diperuntukkan bagi kerangka institusi manajemen wilayah perkotaan di negara-negara industri dengan konotasi yang tidak terlalu radikal. "Demokratisasi pemerintahan" sebagai sebuah proyek sosial berjalan dengan cukup baik di Eropa dan Amerika Serikat pada era 1960an. Wilayah perkotaan mendapatkan otonomi yang lebih luas di dalam menentukan nasib dan identitas sendiri. Meskipun perencanaan analitik tidak terhapus dari struktur institusional manajemen wilayah perkotaan, (rencana induk dan rencana struktur masih menjadi sarana untuk perencanaan indikatif jangka panjang) rencana tindak memperkenalkan sebuah kerangka adaptif yang mengutamakan resolusi konflik dan koordinasi konsultatif (Friend, dan Jessop, 1969).

Konsep tentang rencana tindak adalah hasil perubahan secara bertahap dari eksperimentasi-eksperimentasi praktis yang berbeda di dalam situasi di mana sejumlah masalah perkotaan muncul atau di mana perubahan terjadi terlalu cepat sehingga perencanaan analitik tidak mampu meresponnya. Landasan kontekstual -- yakni stagnasi lingkungan sekitar dan kemunduran yang terjadi di kota-kota industri di negara-negara maju serta cepatnya laju pertumbuhan perkotaan di negara-negara berkembang -- membagi rencana tindak ke dalam dua jenis praktek yang cenderung berbeda, yakni: rencana tindak mikro (micro action planning) dan rencana tindak strategis (strategic action planning). Rencana tindak mikro (MAP) fokus pada unit-unit ruang yang telah pasti yang memiliki batas-batas yang tidak ada sangkut-pautnya dengan batas operasi lembaga-lembaga yang terkait. MAP merupakan artikulasi sosial terhadap 'masalah' yang biasanya dipicu oleh terjadinya tekanan politik dalam waktu yang relatif lama. Sedangkan rencana tindak strategis (SAP) adalah hasil perubahan secara bertahap dari agenda yang jauh lebih besar dibandingkan rehabilitasi bagian-bagian kecil dari kota. Arahnya ditujukan pada manajemen wilayah kota secara keseluruhan, atau setidaknya berhubungan dengan fungsi sub-komponen utamanya; antara lain, perumahan, lahan, infrastruktur, sumber daya keuangan atau administrasi, yang biasanya digabungkan ke dalam suatu usaha yang terpadu.

Referensi:

Pal Baross, "Action Planning", Working Papers, Institute for Housing and Urban Development Studies.

12 June 2012

Ulasan Pertandingan Matchday 1 (8-11 Juni) Euro 2012

POLANDIA - YUNANI

Polandia mengawali pertandingan dengan semangat membara. Mereka memanfaatkan kegairahan sejumlah pemain yang berusia muda dan memiliki tren positif pada level klub musim ini. Piszczek, Blaszczykowski, dan Lewandowski membuat pertahanan Yunani sangat kerepotan pada babak pertama. Selain "trio Dortmund" tersebut, Perquis juga tampil bagus dengan sesekali melakukan 'overlap' dari posisinya di barisan belakang. Sedangkan Yunani mengawali pertandingan dengan situasi agak "nervous", namun lambat laun dapat menguasai keadaan. Peran Karagounis sebagai "skipper" dan pemimpin sangat signifikan. Determinasinya sangat tinggi dan layak menjadi sumber inspirasi timnya. Tren positif juga dialami oleh Holebas dan Torossidis. Setelah tampil agak "demam panggung" pada babak pertama, Holebas mampu memperbaiki permainan dan mengamankan pertahanan dari gempuran tuan rumah. Pada pertahanan sisi kanan Torossidis bermain disiplin. Secara keseluruhan kedua tim tampil bagus dan memberikan segalanya pada pertandingan pembukaan. Meskipun gagal mencetak gol saat mengeksekusi tendangan penalti, saya menilai Karagounis sebagai man-of-the-match.
Pertandingan selanjutnya: POLANDIA vs RUSIA, YUNANI vs REPUBLIK CEKO

RUSIA - REPUBLIK CEKO

Republik Ceko tampil kurang gairah. Permainan mereka di bawah standar sehingga Rusia secara mudah menembus pertahanan mereka. Rosicky seperti tidak memiliki rekan yang sepadan sehingga pergerakan ofensifnya kurang optimal. Pemain Ceko yang paling berperan dalam pertandingan ini adalah Plasil. Di tengah buruknya performa tim, Plasil masih sempat menunjukkan kelasnya sebagai salah satu pemain yang paling berpengalaman dengan menyumbang satu assist kepada Pilar. Sedangkan untuk Rusia, Arshavin menjadi bintang lapangan dengan penampilannya yang menawan. Pada lini tengah Denisov mampu menggalang koordinasi dengan Shemsov. Pada lini pertahanan, duet Berezutski dan Ignashevich berhasil menjalankan tugas dengan baik. Man-of-the-match pilihan saya adalah Arshavin.
Pertandingan selanjutnya: RUSIA vs POLANDIA, REPUBLIK CEKO vs YUNANI

DENMARK - BELANDA

Belanda bermain sporadis dan kurang terpola. Mereka bermain bukan sebagai tim dengan platform total football, melainkan sebagai sekelompok orang dengan skill perorangan. Antara Robben, Sneijder, dan N. De Jong tidak terdapat kerjasama yang rapi. van Persie tidak memperoleh kiriman bola yang bagus sehingga praktis tidak berfungsi maksimal. Secara keseluruhan Belanda tampil sangat mengecewakan. Sedangkan Denmark tampil "bersahaja" melayani invasi bintang-bintang Belanda dengan kepercayaan tinggi. Banyaknya anggota skuad Denmark yang merumput di Liga Belanda sepertinya justru lebih memahami sepakbola negeri itu daripada para pemain Belanda sendiri. Agger, Andersen, Jacobsen, dan Dehli bermain luar biasa. Pilihan man-of-the-match pertandingan ini saya jatuhkan pada Agger.
Pertandingan selanjutnya: DENMARK vs PORTUGAL, BELANDA vs JERMAN

JERMAN - PORTUGAL

Saya sepakat dengan Ronaldo bahwa Portugal sebenarnya bermain lebih bagus dalam pertandingan ini. Peluang mereka lebih bersih. Pemain yang menonjol pada pertandingan ini adalah Pereira, meskipun gagal menjaga Gomez saat terjadi gol, dan Meireles, yang rajin "naik-turun" di sepanjang pertandingan. Untuk Jerman, Hummels dan  Lahm memiliki peran yang sangat menonjol. Man-of-the-match pilihan saya adalah Hummels.
Pertandingan selanjutnya: JERMAN vs BELANDA, PORTUGAL vs DENMARK

SPANYOL - ITALIA

Spanyol memutuskan untuk menjalani babak pertama tanpa striker murni. Keputusan yang kontroversial dari Vicente del Bosque ini mungkin dilandasi oleh pertimbangan bahwa Italia memiliki serangan balik yang cepat. Namun, dalam prakteknya Spanyol dikejutkan oleh permainan agresif Italia, yang meninggalkan ciri khas bertahan dengan keluar menyerang. Lini tengah Spanyol tampak kewalahan meskipun dalam penguasaan bola masih unggul. Xavi kurang nyaman dalam bermain, begitu pula Silva dan Busquets, sedangkan Iniesta terus "dihajar" oleh marking ketat para pemain Italia yang berada di dekatnya. Pada kubu Italia, Marchisio tampil sangat berbahaya. Ia sukses menjalanan peran sebagai "breaker", disusul kemudian Pirlo, yang seperti biasa, menjadi pengatur permainan dengan umpan-umpan akuratnya. Man-of-the-match pilihan saya adalah Pirlo.
Pertandingan selanjutnya: SPANYOL vs REPUBLIK IRLANDIA, ITALIA vs KROASIA

KROASIA - REPUBLIK IRLANDIA
Kedua tim memperagakan permainan yang sangat terbuka sehingga menjadi tontonan yang sangat menarik. Kroasia berhasil memanfaatkan keunggulan skill individu para pemain mereka dengan unggul cepat melalui Mandzukic. Mandzukic berhasil mencuri perhatian saat konsentrasi pertahanan lawan tertuju pada Jelavic. Modric menjadi kunci kemenangan dengan menggerakkan dinamo lini tengah timnya. Sedangkan pemain Irlandia yang tampil menonjol adalah Andrews dan Cox. Keduanya beberapa kali berani mengambil keputusan saat terjadi peluang mencetak gol. Pertandingan antara dua tim yang kurang diunggulkan ini justru menjadi salah satu "the most interesting match" sepanjang Matchday 1 Euro 2012. Adapun pilihan man-of-the-match saya jatuh pada Mandzukic.
Pertandingan selanjutnya: KROASIA vs ITALIA, REPUBLIK IRLANDIA vs SPANYOL

PRANCIS - INGGRIS

Pertandingan ada dua tim yang dihuni sejumlah pemain yang telah saling mengenal. Ini disebabkan oleh kebersamaan mereka di dalam English Premier League. Nasri memanfaatkan bekal pengetahuannya selama merumput di Inggris dengan menjadi salah satu motor serangan. Pada lini belakang Mexes terhitung sukses menjalankan tugasnya yang, mungkin, relatif lebih ringan karena Inggris turun tanpa Rooney. Barisan gelandang Prancis lebih unggul dalam persaingan dengan bermain lebih tenang dan terpola, sedangkan para gelandang Inggris masih mencari bentuk permainan terbaik. Secara keseluruhan Prancis bermain lebih baik dibandingkan Inggris. Akan tetapi, di tengah kekurang-rapian permainan Inggris sepanjang pertandingan, mereka patut bersenang hati karena telah mendapatkan seorang penjaga gawang yang handal. Penampilan Hart boleh dikatakan yang terbaik setelah Peter Shilton. Krisis kualitas pada sektor ini telah berhasil dicarikan solusinya.
Man-of-the-match pilihan saya pada pertandingan ini adalah Nasri.
Pertandingan selanjutnya: PRANCIS vs UKRAINA, INGGRIS vs SWEDIA

UKRAINA - SWEDIA

Pertandingan sangat terbuka, keras dan penuh semangat. Kedua tim masih mengandalkan pemain senior. Tetapi bukan berarti mereka mudah kehabisan tenaga, justru sebaliknya tampil "all-out". Meskipun banyak pelanggaran terjadi, namun pertandingan ini termasuk sebagai pertandingan yang paling menarik pada matchday pertama. Pemain Ukraina yang penampilannya menonjol adalah Piatov, Tymoshchuk, Konoplianka, Yarmolenko, dan tentu saja "talisman" mereka, Shevchenko. Sedangkan pada kubu Swedia, Ibrahimovic telah bermain semaksimal mungkin, hanya saja ia kurang didukung oleh lini pelapis yang biasanya diperankan oleh Kallstrom dan Larsson, yang ternyata lebih sibuk membantu barisan pertahanan. Justru Rasmus Elm yang menunjukkan potensi yang menjanjikan sebagai salah satu calon pemain pilar Swedia. Meskipun Shevchenko menjadi "newsmaker", saya memilih Konoplianka sebagai man-of-the-match.
Pertandingan selanjutnya: UKRAINA vs PRANCIS, SWEDIA vs INGGRIS

TIYO WIDODO'S MATCHDAY 2 ALL-STARS

Penjaga gawang: JOE HART
Belakang-1: PHILIPPE MEXES
Belakang-2: MATS HUMMELS
Belakang-3: IOSIF CHOLEVAS
Belakang-4: PATRICE EVRA
Tengah-1: SAMIR NASRI
Tengah-2: ANDREA PIRLO
Tengah-3: MARIO MANDZUKIC
Tengah-4: LUKA MODRIC
Depan-1: ANDRY SHEVCHENKO
Depan-2: ANDREY ARSHAVIN

10 June 2012

Model Tatakelola Pendidikan Tinggi Gaya Oxbridge

Perkembangan tatakelola pendidikan tinggi dapat dikelompokkan menjadi empat model, yaitu: 1) tatakelola Oxbridge (Oxford dan Cambridge); 2) tatakelola Skotlandia; 3) tatakelola 'civic university'; 4) tatakelola Korporasi Pendidikan Tinggi; dan 5) tatakelola universitas Amerika Serikat. Pada kesempatan ini kita akan mengetahui lebih banyak tentang model tatakelola Oxbridge.

Model tatakelola Oxbridge menganggap penting "self-governance" akademik. Model ini diperkenalkan pada abad pertengahan yang menganut konsep "guild of masters", yang oleh Paus disebut sebagai korporasi akademik di dalam kegiatan belajar tingkat tinggi (Duryea 2000). Di Paris, berbeda dari tatakelola Universitas Bologna, yang berada di tangan mahasiswa, para 'masters' memperoleh status korporat sebagai sebuah 'universitas' dan diakui oleh Paus, dan oleh raja, sebagai "studium generale". Memasuki abad XIII 'masters' diwakili oleh rektor yang bertanggung jawab memegang kewenangan eksternal. Struktur ini diperkenalkan oleh Oxford kepada Cambridge. Dalam prakteknya, Rashdal berpendapat bahwa 'hubungan antara Paris dan Oxford begitu dekat sehingga setiap perkembangan baru aktivitas korporat oleh para master di Paris sedikit banyak ditiru oleh Oxford' (Rashdal 1936 III 49). Baik Oxford maupun Cambridge menjalin hubungan baik dengan 'bishops' mereka (Lincoln dan Ely) yang memiliki hak untuk mengangkat pimpinan universitas (chancellors) namun pada akhir Abad Pertengahan baik Oxford maupun Cambridge membebaskan diri dari yurisdiksi episkopal dan  'chancellor' menjadi figur kehormatan berdasarkan titah kerajaan, dan 'vice-chancellor', yang dipilih di dalam universitas, menjadi pimpinan yang efektif bagi universitas. Bersamaan dengan naik tahtanya Henry III, dibentuk undang-undang yang memperbolehkan sebuah korporasi untuk memegang wewenang dan universitas diberi kewenangan untuk mengeluarkan persetujuan untuk transaksi bisnis, menguasai hak milik, mengangkat staf dan dapat mengajukan tuntutan maupun dituntut, hak yang tetap dipertahankan di dalam piagam dan undang-undang hingga sebelum tahun 1992. semua hak ini dipegang oleh universitas sendiri, bukan oleh elemen di dalam struktur tatakelola, dewan pimpinan, seperti halnya yang berlaku pada politeknik era setelah tahun 1992.

Akan tetapi, undang-undang parlemen yang kemudian berlaku di Oxford (1854) dan di Cambridge (1856) tidak memuat keterlibatan 'laymen' (yang secara teknis, berfungsi sebagai non-ecclesiastical staf) di dalam tata kelola universitas dan memperkuat peran masyarakat akademik melalui Hebdomadal Council (di Oxford) dan Council of the Senate (Cambridge), meskipun memuat reformasi organ-organ tatakelola yang memperlemah peran 'heads of houses' (Tatakelola Trinity College, Dublin, yang dibentuk pada tahun 1591, menganut prinsip serupa dan membedakannya dari konstitusi yang dianut oleh universitas-universitas lain di Irlandia). Baik Oxford maupun Cambridge mendapatkan kritisi dari Robbins Report karena memiliki struktur tatakelola yang kompleks dan pengaruh yang ditimbulkannya bagi proses-proses pembuatan keputusan dan keduanya mengambil langkah-langkah untuk melakukan tinjauan ulang dan reformasi terhadap tatakelola internal oleh Franks Committee (University of Oxford 1964a) dan North Committee (University of Oxford 1997) di Oxford, dan Wass Committee (University of Cambridge 1989) di Cambridge. Oxford kemudian mengambil sejumlah langkah penting untuk menataulang struktur tatakelolanya dan melibatkan peran 'laymen' ke dalam jajaran pengelola universitas tersebut. Sedangkan Cambridge menolak usulan dilibatkannya laymen ke dalam struktur. Cambridge tetap mempertahankan Regent House yang beranggotakan staf akademik universitas tersebut, yang diberi wewenang tertinggi di dalam kegiatan tatakelola.

Referensi:
Shattock, Michael. 2006. The Origins of Development of Modern University Governance, dalam "Managing Good Governnance in Higher Education", hal. 5-6. Open University Press, McGraw-Hill Education: UK.

9 June 2012

Konflik Sosial

Konflik sosial dapat berperan sebagai stressor yang penting bagi organisasi. Meskipun anggota sebuah organisasi dapat mengalami stress tanpa disertai dengan konflik antarpersona atau antarkelompok, namun jarang diantara mereka yang mengalami konflik tanpa disertai stress. Berdasarkan definisinya konflik hanya akan terjadi jika sekurang-kurangnya satu dari pihak-pihak yang terlibat merasakan bahwa ia sedang frustrasi atau terganggu oleh pihak yang lain. Saat ini telah banyak orang tau bahwa sengketa atau pertikaian berikut rasa kecewa yang menyertainya tidak harus kemudian menyebabkan konflik, baik konflik antarpihak terkait maupun konflik dengan organisasi. Bergantung pada bagaimana cara penanganan gangguan atau kefrustrasian tersebut, konflik akan memiliki memiliki dua jenis konsekuensi: merusak (destruktif) dan membangun (konstruktif). Pada titik pertemuan antara cara yang tidak efektif dan cara yang efektif untuk manajemen konflik, terdapatlah intervensi. Di sini, intervensi akan berfungsi mendukung efektivitas perilaku pihak-pihak yang terlibat konflik.

Seperti yang diuraikan secara singkat di atas, dua kelompok individu, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, atau dua kelompok akan terlibat di dalam sebuah konflik bilamana terdapat sekurang-kurangnya satu pihak yang mengalami frustrasi karena merasa terganggu oleh pihak yang lain (Van de Vliert, siaran pers). Aspek-aspek dan implikasi-implikasi yang perlu diperhatikan dalam definisi ini antara lain sebagai berikut:
  • Konflik adalah sebuah pengalaman subjektif dan tidak selamanya memiliki landasan objektif yang nyata
  • Konflik memiliki sifat antarpersona dan sosial karena melibatkan individu atau kelompok lain
  • Konflik dapat bersifat sepihak, jika hanya ada satu pihak merasa frustrasi tetapi menghindari setiap komunikasi tentang masalah yang sedang terjadi, atau jika hanya ada satu pihak yang merasakan frustrasi yang menimpakan rasa frustrasi tersebut kepada pihak lain

Pokok bahasan dan batasan frustrasi yang berasal dari gangguan yang disebabkan oleh pihak lain akan melahirkan isu konflik. Aspek dan implikasi penting dari definisi ini meliputi hal-hal sebagai berikut:

  • Sebuah isu konflik dapat bersifat kognitif maupun afektif, atau bahkan keduanya (persepsi tentang sasaran dan ketidaksepakatan yang terhambat, atau perasaan ditentang, diperlakukan secara tidak bersahabat, perasaan takut)
  • Intensitas sebuah isu konflik dapat bertambah atau berkurang: sebuah konflik akan meningkat jika frustrasi bertambah, namun akan mengalami de-eskalasi jika frustrasi berkurang
  • Sebuah isu konfilk tidak selamanya disertai dengan perilaku konflik tertentu terhadap pihak lain

Jenis-jenis isu konflik yang paling sering terjadi antara lain: kepercayaan terhadap realita, ketidaksepakatan tentang sasaran atau tindakan, persaingan untuk mendapatkan sumber daya yang langka, dan pertentangan yang melibatkan identitas seseorang (Deutsch, 1973; Mastenbroek, 1987; Van de Vliert, laporan pers; Walton, 1969). Deutsch (1973) menyebut isu-isu seperti ini sebagai “konflik veridikal” jika konflik terjadi secara objektif dan dipersepsikan secara akurat. Lebih lanjut, ia membedakan konflik-konflik ilusori ke dalam: contingent conflict (terjadi jika lahirnya isu bergantung pada keadaan yang sebenarnya telah ada namun tidak dikenali); displaced conflict (konflik ini terjadi jika pihak-pihak yang terlibat di dalamnya saling memperdebatkan sesuatu yang salah); dan false conflict (konflik yang terjadi jika ada kesalahan persepsi atau kesalahpahaman).

Perilaku konflik adalah sebuah reaksi yang diniatkan atau ditunjukkan oleh seseorang terhadap isu konflik yang dialami, termasuk setiap reaksi terhadap reaksi tersebut. Dalam bab ini, istilah ‘perilaku konflik’, ‘penanganan konflik’ dan ‘manajemen konflik’ digunakan secara bergantian. Selain itu, istilah-istilah tersebut berhubungan dengan intensi-intensi perilaku yang tertutup dan transaksi yang terbuka yang dapat dipersepsikan oleh pihak lain.

Definisi-definisi tersebut di atas secara tidak langsung menunjukkan bahwa isu-isu yang berbeda dapat disertai dengan perilaku yang sama, meskipun isu yang sama dapat pula disertai oleh perilaku yang berbeda. Jika orang hanya dapat membedakan hubungan isu-ditambah-perilaku (misalnya, marah-ditambah-perkelahian), maka hubungan-hubungan seperti penghindaran rasa marah dan kompromi terhadap rasa marah, atau pertikaian karena merasa kecewa dan pertikaian karena merasa tidak percaya sering terabaikan. Terkait dengan hal ini, Burton (1990) membedakan ‘isu-isu pertikaian’ yang dapat dinegosiasikan dengan ‘isu-isu konflik’ yang sulit untuk dipecahkan yang telah mengakar di dalam perilaku manusia (misalnya, pertentangan antara negosiasi dan diskriminasi etnis). Sehingga, isu-isu menurut pandangan Burton (1990) saling berhubungan melalui transaksi-transaksi tertentu.

Keluaran konflik (conflict outcomes), sebagai konsekuensi dari perilaku kedua belah pihak adalah akibat akhir yang diperoleh organisasi yang mempengaruhi hubungan sasaran pihak-pihak yang terlibat di dalam organisasi tersebut. Hasil sebuah konflik akan bersifat destruktif jika keseimbangan antara biaya yang dikeluarkan dan keuntungan yang didapatkan negatif, dan akan bersifat konstruktif jika keseimbangannya positif. Telah jelas kiranya bahwa konflik yang bertambah, jika tidak diperhatikan, akan menyebabkan penundaan, impas, perpecahan sub-bagian, keluarnya karyawan dari pekerjaan, dan jenis-jenis inefisiensi di dalam organisasi (untuk kajian masalah ini, baca Thomas, 1992; Van de Vliert, laporan pers). Pada waktu yang bersamaan, kondisi psikologis dan fisik anggota organisasi menjadi terganggu, yang kemudian sering membawa pengaruh bagi pihak-pihak lain. Gangguan fisik dan psikologis organisasi dapat menimbulkan persengketaan, perbedaan, sinisme, perasaan terlalu sensitif, dan sikap yang sinis antaranggota di dalam organisasi (Kahn et al., 1964; Van Dijkhuizen, 1980).

Van de Vliert dan Euwema (1994) dan Van de Vliert, Euwema dan Huismans (1995) memperkenalkan sebuah tangga efektivitas yang terdiri atas tujuh bentuk perilaku konflik. Dalam proses penyusunan model ini, para peneliti tersebut mengadakan survei terhadap sejumlah responden laki-laki yang berprosesi sebagai polisi dengan pangkat sersan. Para responden diminta untuk melakukan simulasi penanganan konflik standar dengan pimpinan maupun bawahan (diperankan oleh aktor profesional). Langkah berikutnya ialah merekam semua kegiatan penanganan konflik dengan berpedoman pada tujuh komponen efektivitas. Tangga efektivitas yang ditemukan pada kelompok pimpinan ternyata sama dengan yang ditemukan pada kelompok bawahan. Perilaku-perilaku yang ditunjukkan cenderung menekan isu-isu kompleks dan meningkatkan hubungan dengan lawan konflik, dengan urutan dari yang paling efektif hingga yang paling tidak efektif, sebagai berikut: memaksakan, menghindar, melawan, memberikan kompromi, mengakomodasi, memecahkan masalah dan mengendalikan proses. Selain itu, terbukti pula bahwa pergerakan menuju puncak tangga efektivitas berhubungan dengan menurunnya detak jantung para sersan polisi tersebut (Euwema, 1992) dan penurunan ketegangan dan pertentangan, menurut pengamat netral (Van de Vliert dan Euwema, 1994). Di luar itu semua, temuan-temuan selama penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang paling beresiko terancam kesejahteraan dan kesehatannya ialah kelompok yang cenderung memaksakan dan menghindari konflik. 

Gangguan kognitif-emosional yang dialami seseorang dapat sangat parah atau sebaliknya, tidak berpengaruh sama sekali. Jarang yang mengalami gangguan kognitif-emosional yang sedang-sedang saja. Gangguan ini muncul pada saat seseorang ingin menjalankan fungsi dan tindakan yang baik dan benar. Pendapat ini berasal dari Yerkes dan Dodson (1908) melalui teorinya tentang demonstrasi klasik hubungan inversi bentuk-U antara tingkat kebutuhan dan pencapaian pekerjaan, terlepas dari seberapa kompleksnya pekerjaan dimaksud. Enam puluh tahun setelah rumusan awal yang kemudian dikenal sebagai Hukum Yerkes-Dodson tersebut, Walton (1969) mengoperasionalisasikan tingkat kebutuhan sebagai tingkat ketegangan, dan pencapaian pekerjaan sebagai produktivitas interaksi konflik. Berdasarkan bukti eksperimental dan pengalaman persuasif, Walton (1969) berpendapat bahwa kemampuan seseorang untuk menghasilkan pemikiran yang kompleks dan efektif mengalami perubahan secara kurvalinier pada saat ketegangan meningkat. Akibatnya, kemampuan maksimal sebuah kelompok untuk melakukan kompromi atau memecahkan sebuah konflik akan terlibat pada sejumlah tingkat ketegangan yang sedang (untuk penjelasan teori dan bukti empiris, baca Brown, 1983; Fisher, 1986; Levi, 1981; Rahim, 1992; Robbins, 1974; Van de Vliert dan De Dreu, 1994).

Walton membedakan tiga tingkat ketegangan di dalam konflik – rendah, sedang, dan tinggi – dengan perbedaan pengaruh terhadap pemanfaatan informasi dan hasil proses manajemen konflik. Konflik dengan tingkat ketegangan rendah menyebabkan kondisi tidak aktif dan penghindaran, pengabaian informasi, dan kinerja hubungan yang rendah karena tidak ada spirit untuk segera menyelesaikan masalah dan tidak perlu bertindak secara tegas. pada tingkat ketegangan yang sedang (moderat), setiap pihak akan mencari dan memadukan lebih banyak informasi, mempertimbangkan lebih banyak alternatif, dan mengalami impuls yang lebih kuat untuk memperbaiki keadaan. Konflik menyebabkan naiknya produktivitas bersama. Konflik dengan tingkat ketegangan tinggi mengurangi kemampuan persepsian, proses, dan evaluasi informasi. Keadaan ini kemudian menyebabkan timbulnya interaksi yang agresif dan defensif yang kemudian berujung pada munculnya konsekuensi yang kurang efektif atau destruktif.

Singkatnya, konflik sebagai frustrasi sosial ditangani secara konstruktif dengan mempertimbangkan tingkat ketegangannya. Bagian sebelumnya telah menjelaskan bahwa secara umum pengendalian proses, pemecahan masalah, akomodasi dan kompromi akan menekan konflik agar tetap dalam level sedang-sedang saja, dan oleh karena itu, cara-cara ini lebih efektif dibandingkan tindakan memaksakan konflik dan sejalan dengan model tingkat ketegangan. Akan tetapi, penghindaran dipandang efektif karena memiliki tingkat ketegangan psikologis yang tinggi. Cara ini mendukung model tingkat ketegangan karena, meskipun penghindaran relatif tidak efektif, tetapi perilaku menghindar bertentangan dengan proposisi model bahwa ketegangan rendah akan mengurangi efektivitas.

Sumber bacaan:
van de Vliert, E. Interventions in Conflicts.

8 June 2012

Faktor-faktor Resiko Pneumonia Pada Balita

Infeksi saluran pernapasan akut merupakan penyebab utama kematian anak di bawah usia 5 tahun (balita) di seluruh dunia, mencapai angka kematian 4,3 juta jiwa per tahun, atau > 10.000 per hari; hampir semua jenis kematian ini terjadi di negara-negara berkembang dan sebagian besar disebabkan oleh pneumonia. Dalam studi-studi epidemiologis, pneumonia, bronkitis, dan brongkiolitis lazimnya dimasukkan ke dalam kategori yang lebih luas dari infeksi saluran pernapasan bawah akut (ALRI), berdasarkan laporan maternal dan laporan medik tentang tanda dan gejala (khususnya batuk dengan nafas cepat atau kesulitan bernafas. Studi-studi semacam ini telah menunjukkan bahwa faktor-faktor resiko utama untuk morbiditas dan mortalitas bagi infeksi saluran pernapasan bawah akut meliputi status sosial-ekonomi rendah, malnutrisi, berat lahir rendah, pemberian ASI kurang, crowding dan polusi biomassa dalam ruangan, yakni asap di dalam ruangan dari pembakaran, kayu, manure, atau bahan bakar alami lainnya.

Meksipun demikian pneumonia cenderung berbeda dari jenis-jenis lain ALRI, bukan karena etiologi mikrobialnya saja, tetapi juga karena determinan-determinannya. Kriteria-kriteria diagnostik klinis, bagaimanapun sensitifnya, dapat menunjukkan spesifisitas rendah. Studi-studi epidemiologis yang khusus membahas pneumonia sangat diperlukan, namun keberadaannya masih jarang.

Uraian berikut ini adalah hasil penelitian yang dilakukan di Porto Alegre, sebuah daerah metropolitan yang terletak di negara Brasil, mengenai kejadian faktor-faktor resiko penyebab kejadian Pneumonia pada anak, khususnya anak usia balita.

Peran dari variabel-variabel sosial-ekonomi terhadap morbiditas dan mortalitas ALRI telah ditunjukkan baik di dalam satu wilayah negara, maupun melalui perbandingan internasional. Pneumonia lebih dekat hubungannya dengan pendidikan ayah dibandingkan pendidikan ibu, yang sejalan dengan studi sebelumnya tentang kematian akibat ALRI di daerah yang sama. Hal demikian secara langsung menunjukkan bahwa di dalam masyarakat wilayah tersebut standar hidup secara keseluruhan yang dimiliki oleh keluarga berperan lebih penting dibandingkan pendidikan.

Anak-anak dari ibu usia remaja memiliki resiko pneumonia yang lebih tinggi; ini menjadi temuan yang belum pernah dicatat dalam literatur terdahulu. Pengaruh ini dapat saja disebabkan oleh tidak adanya pengalaman merawat anak, karena adjustment terhadap faktor-faktor sosial-ekonomi.

Peran berat lahir terhadap angka kematian akibat ALRI juga dilaporkan dengan baik. Bayi dengan berat lahir rendah memiliki resiko pneumonia sekitar 50% lebih besar dibandingkan dengan bayi baru lahir yang memiliki berat badan > 2500 g. Mengingat bahwa sifat retrospektif dalam penelitian ini, tidak ada kemungkinan untuk memisahkan preterm dari bayi yang pertumbuhannya terganggu. Berat lahir rendah dapat menyebabkan pneumonia melalui terjadinya pengurangan respon kekebalan pada bayi lahir dengan berat badan rendah dan melalui gangguan fungsi paru-paru yang disebabkan oleh berkurangnya diameter jalan udara utama atau obstruksi (kerusakan) jalan udara pendukung.

Hasil penelitian membuktikan bahwa kejadian pneumonia yang dikonfirmasi secara radiologis berhubungan dengan rendahnya pendidikan orang tua, jumlah anggota di dalam keluarga, mudanya umur ibu saat melahirkan, kehadiran ke pusat perawatan harian, berat lahir dan berat-terhada-umur rendah, kurangnya pemberian ASI dan suplemen selain susu, serta riwayat terdahulu kejadian pneumonia dan wheezing. Untuk mendukung usaha-usaha kontinyu untuk mencapai manajemen kasus yang lebih baik, tindakan-tindakan yang diarahkan pada faktor-faktor resiko ini dapat membantu mencegah penyebab utama kematian anak-anak di bawah usia 5 tahun (balita) di dunia. Untuk mendukung perbaikan menyeluruh kondisi-kondisi sosial-ekonomi, intervensi1 yang tepat yang perlu dilakukan meliputi: (1) pelayanan keluarga berencana yang lebih baik dan pengurangan ukuran keluarga, sehingga mengurangi paparan dengan patogen. Intervensi ini juga cenderung mengurangi kehamilan usia remaja. (2) Kemungkinan perbaikan pusat perawatan harian yang diarahkan pada penghindaran crowding, misalnya, dengan memiliki jumlah anggota keluarga sedikit. Para pekerja pelayanan harian harus dilatih untuk mengenali tanda-tanda pneumonia seperti tachypnea. (3) Pencegahan terjadinya berat lahir rendah dan malnutrisi menjadi dua sasaran yang pantas dicanangkan, namun sejauh ini efektivitasnya bagi skala kesehatan masyarakat masih terbatas. (4) Promosi pemberian ASI harus lebih digalakkan, khususnya di negara-negara seperti Brasil, di mana median durasi (lama waktu) pemberian ASI hanya berlangsung kira-kira 3 bulan. Suplementasi yang tepat dimulai pada umur 4 bulan hingga 6 bulan harus digalakkan.

6 June 2012

Profil Wasit Euro 2012 Polandia-Ukraina

HOWARD MELTON WEBB, MBE
Tempat lahir: Yorkshire, Inggris
Tanggal lahir: 14 Juli 1971
Profesi lain: Polisi (mantan)
Debut internasional: 2005
Debut Euro: 2008 (Polandia vs. Austria)

CARLOS VELASCO CARBALLO
Tempat lahir: Madrid, Spanyol
Tanggal lahir: 16 Maret 1971
Profesi lain: -
Debut internasional: 2008
Debut Euro: -

STEPHANE LAURENT LANNOY
Tempat lahir: Boulogne-sur-Mer, Prancis
Tanggal lahir: 18 September 1969
Profesi lain: Distributor Videogames
Debut internasional: 2006
Debut Euro: -

WOLFGANG STARK
Tempat lahir: Landshut, Jerman
Tanggal lahir: 20 Nopember 1969
Profesi lain: Asisten Bank
Debut internasional: 1997
Debut Euro: -

VIKTOR KASSAI
Tempat lahir: Tatabanya, Hungaria
Tanggal lahir: 10 September 1975
Profesi lain: Sales Percetakan
Debut internasional: 2003
Debut Euro: 2008 (4th official)

NICOLA RIZZOLI
Tempat lahir: Italia
Tanggal lahir: 5 Oktober 1971
Profesi lain: Arsitek
Debut internasional: 2007
Debut Euro: -

BJORN KUIPERS
Tempat lahir: Overijssel, Belanda
Tanggal lahir: 28 Maret 1973
Profesi lain: -
Debut internasional: 2006
Debut Euro: -

PEDRO PROENCA OLIVEIRA ALVES GARCIA
Tempat lahir: Lisbon, Portugal
Tanggal lahir: 3 Nopember 1970
Profesi lain: Penasehat Keuangan
Debut internasional: 2003
Debut Euro: -

CRAIG THOMSON
Tempat lahir: Edinburg
Tanggal lahir: 20 Juni 1972
Profesi lain: Pengacara proyek
Debut internasional: 2003
Debut Euro: -

DAMIR SKOMINA
Tempat lahir: Slovenia
Tanggal lahir: 5 Agustus 1976
Profesi lain: -
Debut internasional: 2003
Debut Euro: -

JONAS ERIKSSON
Tempat lahir: Lulea, Swedia
Tanggal lahir: 28 Maret 1974
Profesi lain: Salesman
Debut internasional: 2002
Debut Euro: -

CUNEYT CAKIR
Tempat lahir: Istanbul, Turki
Tanggal lahir: 23 Nopember 1976
Profesi lain: -
Debut internasional: 2006
Debut Euro: -

Karakteristik High Performing Managers

Kedudukan seorang manajer pada zaman sekarang ini mencakup banyak tanggung jawab dan stres (Nickols, 2008). Saat ini manajer diharapkan untuk memberikan hasil berdasarkan fakta apakah situasi yang terjadi berpihak pada mereka atau tidak. Manajer perlu memikirkan solusi untuk berbagai tantangan yang muncul saat itu dan nanti. Tantangan-tantangan seperti anggaran yang terbatas, penugasan kembali staf, reorganisasi unit, penarikan dana, kurangnya sumber daya, kebijakan pemerintah, dsb., terus bermunculan silih berganti. Menurut pendapat Cawood (1992), keberadaan orang yang memiliki kemampuan untuk memimpin massa semakin signifikan untuk membantu menjawab tantangan-tantangan masa kini dan masa mendatang.

Konsep tentang high performing manager (manajer berkinerja tinggi) berbeda antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya. Seorang manajer yang ideal menurut konsep orang Jepang, menurut Misumi (1989) dan Misumi & Peterson (1985), didefinisikan dalam hal orientasi kinerja dan orientasi pemeliharaan, yakni, seorang manajer yang bukan hanya memimpin kelompok menuju pencapaian sasaran, tetapi juga seorang yang mampu menjaga stabilitas sosial.

Berdasarkan sejumlah penelitian yang telah dilakukan selama ini sifat-sifat penting tertentu yang sebaiknya dimiliki oleh seorang manajer agar ia mendapatkan sebutan manajer yang baik adalah sebagai berikut:

People-oriented

Seorang manajer harus “berorientasi pada orang”, misalkan, ia harus memfokuskan perhatian pada tindakan menciptakan, membimbing dan memotivasi tim yang hendak ia pimpin. McShane & Von Glinow (2000) menjelaskan kepemimpinan yang baik sebagai proses mempengaruhi orang dan menciptakan lingkungan bagi orang tersebut guna mencapai tujuan tim dan organisasi. Mereka juga harus memiliki waktu yang cukup untuk membangun hubungan/relasi dan menjalin ikatan. Sering kali manajer tersita waktunya untuk kegiatan rapat, membawa serta laporan yang belum ia selesaikan mengenai kualitas pemanfaatan waktu dengan tim-tim yang ada. Memandang tim sebagai sekumpulan manusia, bukan sebagai sumber untuk menyelesaikan pekerjaan, akan menjadi salah satu indikator bagi manajer yang baik.

Thinking Out of the Box

Kualitas ini berhubungan dengan kemampuan untuk tampil membawa ide-ide yang asli dan jelas untuk menyelesaikan masalah. Keaslian ide, menurut pendapat Cougar (1995), adalah kapasitas untuk menghasilkan ide-ide yang unik/luar biasa, memecahkan masalah dengan cara unik, dan memanfaatkan barang dan situasi dengan cara yang unik. Memikirkan pendekatan-pendekatan alternatif untuk membantu mengembangkan proses-proses kerja amatlah berguna, demikian pula kemampuan dalam menangani sebuah masalah secara kreatif. Guilford (1957) berpendapat bahwa langkah-langkah kreatif diperlukan di dalam memecahkan masalah-masalah baru.

Performance driven

Seorang manajer sangat dianjurkan untuk memahami Indikator Kineja Kunci bagi pekerjaannya. Selain harus mengetahui “Apa” yang dimaksud dengan indikator kinerja kunci, manajer harus pula memahami “Mengapa” indikator dibentuk dan apa kegunaannya. Setelah manajer memahami pertanyaan “Mengapa”, maka pemahaman berikutnya ialah “Bagaimana” indikator tersebut dijalankan. Bass et al. (1987) & Avolio (1985) berpendapat bahwa Pemimpin Transformasional menstimulasi usaha-usaha yang dilakukan oleh para pengikutnya agar inovatif dan kreatif dengan mempertanyakan asumsi, reframing masalah organisasi, dan mendekati situasi lama dengan cara yang baru, dengan mengindikasikan bahwa syarat penting lainnya bagi seorang manajer yang baik adalah memotivasi karyawan agar menciptakan high performance.

Bakat manajerial adalah persyaratan yang sangat penting dan menjadi tantangan utama bagi banyak organisasi. Das (1987) berpendapat bahwa seorang manajer yang efisien akan memberikan contoh kepada bawahannya dengan kualitas persona, pengetahuan tentang pekerjaan, business acumen, dan kemampuan manajemen. Seorang manajer dengan modal tersebut akan dapat mendorong kinerja karyawan dan membantu mengembangkan organisasi. Organisasi yang ada saat ini bersedia untuk mengeluarkan banyak biaya untuk pelatihan, pendidikan dan seminar tentang Pengembangan Manajer. Seorang manajer yang baik merupakan aset yang riil bagi sebuah perusahaan.

Sumber bacaan:

C. Thomas & V. Pandev. Relationship between Personality and Managerial Performance.

3 June 2012

Eco-Feminism

Perlunya peran serta perempuan di dalam pengelolaan lingkungan dilandasi oleh pendapat bahwa perempuan memiliki 'pengetahuan dan pengalaman di dalam menjalankan aktivitas mereka berdekatan dengan lingkungan' (Braidotti et al. 1994:2). Akan tetapi dalam perkembangannya ternyata perempuan dapat memiliki peran yang lebih, yakni karena perempuan memiliki hubungan yang khusus dengan lingkungan. Dari sinilah istilah eco-feminism berasal.

Eco-feminism dapat diartikan sebagai analisis mengenai hubungan-hubungan masyarakat dan alam dan sebagai syarat bagaimana hubungan yang terjadi dapat ditransformasikan (Buckingham-Hatfield 2000).

Analisis tentang eco-feminism sangatlah dekat dengan sikap filosofis dan budaya yang mendasar yang menjadi pedoman bagi ideologi-ideologi barat tentang perempuan, dunia alami dan hubungan timbal-baliknya (Baker 2004). Eco-feminism berpedoman pada teori feminis tentang patriarkhi dan menggabungkannya dengan pandangan-pandangan yang diperoleh dari aktivisme lingkungan dan perdamaian. Satu pendapat penting mengenai hal ini adalah sistem kepercayaan dualistik, yang berakar dari prinsip dominasi dan subjugasi, yang menjadi dasar sikap-sikap negatif modern terhadap perempuan dan alam (Plumwood 1986).

Guna mengimbangi ideologi yang dominan, eco-feminism memiliki tujuan untuk merekonstruksi sebuah pemahaman baru tentang tempat manusia di dalam dunia alami. Tujuan yang lebih spesifiknya ialah menempatkan perempuan, alam dan, kadang-kadang, laki-laki di dalam hubungan yang lebih seimbang dan lebih adil satu sama lain (Diamond dan Orenstein 1990).

Eco-feminism sebagai aktivisme politik muncul dari dua momentum sosial yang berbeda: gerakan lingkungan dan gerakan perempuan. Eco-feminism banyak dipengaruhi oleh gerakan-gerakan perdamaian dan spiritualitas perempuan. Gerakan ini berusaha menangkal pengaruh lingkungan alam yang cenderung merugikan kaum perempuan, khususnya di masyarakat Dunia Ketiga.

Sebuah konvensi di dalam tataran teori membagi eco-feminism menjadi dua kelompok besar: 'cultural eco-feminism' dan 'socialist eco-feminism'. Cultural eco-feminism sangat dipengaruhi oleh tradisi feminisme radikal (Spretnak 1990). Analisis feminisme radikal menempatkan perempuan pada situasi tertindas oleh laki-laki, khususnya dalam masalah seksualitas, dan dianggap sebagai kekuasaan laki-laki. Sementara itu Cultural eco-feminism berpendapat bahwa perempuan memiliki hubungan yang lebih dekat dengan dunia alam dibandingkan laki-laki. Kedekatan hubungan ini sangat penting bagi aktivitas gerakan sosial karena memberikan kesempatan kepada perempuan untuk tetap ikut serta di dalam hubungan saling bergantung yang terjadi antara kemanusiaan dan dunia alam (Merchant 1980). Sehingga perempuan berada pada kedudukan yang unik dan menguntungkan untuk terlibat secara politik, budaya dan sosial atas nama dan untuk melestarikan alam. Teori ini dilandasi oleh kepercayaan bahwa hanya mereka yang tertindaslah yang dapat memahami dan menangkal hubungan penindasan tersebut.


Banyak feminis kontemporer yang sangat tidak percaya kepada rekoneksi eko-feminis terhadap kerempuanan dengan ruang reproduksi dan dengan alam. hubungan semacam itu dianggap kaku, yang menunjukkan antitesis terhadap tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh gerakan Pembebasan Perempuan setelah perang berakhir.

Sumber bacaan:

Baker, S. 2004. The challenge of ecofeminism for European politics, dalam J. Barry, B. Baxter dan R. Dunphy (eds) Europe, Globalization and Sustainable Development, London: Routledge, 14-30.

2 June 2012

Lanskap Pendidikan Tinggi Internasional

Proporsi meningkatnya permintaan akan pendidikan tinggi yang menyebabkan mobilitas mahasiswa masih belum diketahui hingga saat ini, namun gerakan program dan penyedia program lintas negara akan mengalami perkembangan secara signifikan. Saat ini kegiatan pendidikan tinggi lintas negara telah terjadi hampir di seluruh wilayah di dunia. Berdasarkan wilayah, lanskap pendidikan internasional dapat dibagi menjadi 6 (enam) wilayah, sebagai berikut:

Afrika

Afrika, dengan sebagian pengecualian Afrika Selatan, menunjukkan inisiatif internasional dan lintas negara yang paling sedikit. Universiteit Nienrode (Netherlands Business School) akhir-akhir ini mendirikan kampus perwakilan di Nigeria bekerjasama dengan African Leadership Forum, sebuah NGO yang berdiri pada tahun 1988 – salah satu inisiatif lintas negara pertama yang diadakan di benua Afrika (di luar Afrika Selatan). Kenya menjadi tempat bagi dua universitas nonprofit swasta. Aga Khan University Pakistan membuka kampus perwakilan di Kenya pada tahun 2002 dengan bidang pendidikan keperawatan, dan Alliant International University (Amerika Serikat) menyelenggarakan pendidikan ilmu sosial dan humaniora.

Jumlah program luar negeri yang ditawarkan di Afrika Selatan telah mengalami penurunan karena ketatnya regulasi dan proses akreditasi yang ditetapkan oleh pemerintah negara tersebut. Hanya sedikit institusi asing yang mendirikan kampus perwakilan di sana, misalnya Bond dan Monash dari Australia, De Montfort (Inggris), dan Netherlands Business School. Ketiga institusi asing tersebut kemudian tidak melanjutkan operasinya karena isu-isu akreditasi yang berhubungan dengan pemeriksaan ulang program-program MBA. Monash akan tetap bertahan (selama tidak menyelenggarakan program MBA), begitu pula Henley Management College (Inggris) yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh.

Amerika Latin

University of the Incarnate World, sebuah institusi swasta di San Antonio, Texas, membuka kampus baru di Meksiko pada tahun 2003. Endicott College, Alliant Intentional University, dan Texas A&M – yang memiliki “pusat universitas” di Mexico City – menjadi institusi lain dari Amerika Serikat yang memiliki kampus di Meksiko. Pada tahun 2000, Laureate Education membeli Universidad del Valle de Mexico; perusahaan tersebut berencana mendirikan perwakilan baru di Guadalajara. Laureate juga memiliki Universidad Interamericana, sebuah universitas swasta yang memiliki kampus di Costa Rica dan Panama, dan sebagian dari tiga universitas asing yang memiliki kampus perwakilan di Argentina. Technical Institute of Monterrey, Meksiko, dikenal dengan program pendidikan online, khususnya MBA, yang dibuka untuk banyak negara di Amerika Latin.

Inisiatif yang bermacam-macam tersebut menunjukkan bagaimana institusi pendidikan tinggi konvensional dan penyedia komersial baru mempromosikan, mengadakan pertukaran/tukar-menkar, menjalin hubungan, dan menjual pendidikan tinggi ke berbagai negara. Australia dan Amerika Serikat mendominasi daftar negara peserta, meskipun India dan Cina tidak boleh disepelekan. Namun aktivitas lintas negara juga memiliki resiko. Tantangan-tantangan yang berhubungan dengan jaminan kualitas dan pengakuan nasional dan internasional terhadap penyedia, program, kredit, dan kualifikasi harus diperhatikan secara cermat.


Amerika Utara


Kegiatan lintas negara yang dilakukan oleh Amerika Serikat melibatkan perusahaan-perusahaan publik dan swasta. Global Education Index (GEI), yang disusun oleh OBHE mengklasifikasikan banyak perusahaan besar yang aktif dan publik yang menyediakan program-program pendidikan dan pelayanan. Amerika Serikat menjadi tempat sebagian besar dari lebih dari 50 perusahaan GEI (Garrett, 2004). Perusahaan-perusahaan terkemuka yang terlibat di dalamnya antara lain Kaplan (milik Washington Post), Apollo Group, DeVry, Career Education Corporation, dan Laureate Education. Kaplan, yang menguasai saham 57 sekolah tinggi di Amerika Serikat, saat ini juga menjadi pemilik Dublin Business School – perguruan tinggi jenjang sarjana swasta terbesar di Irlandia, dan membeli banyak institusi asing. Apollo Group memiliki University of Phoenix, yang saat ini menjadi universitas swasta terbesar di Amerika Serikat, dan secara gencar memperbanyak investasi dan holdings di luar negeri. Sejak tahun 1995 Apollo juga telah memiliki Western International University (WIU), yang mendirikan kampus perwakilan bernama Modi Apollo International Institute di New Delhi melalui kerjasama dengan KK Modi Group, sebuah konglomerat industri asal India. WIU mengadakan perjanjian kerjasama dengan Canadian Institute of Business and Technology (CIBT) dengan memperbolehkan CIBT untuk menawarkan program-program WIU mellaui tiga sekolah bisnis yang dimilikinya di Beijing.

Asia Pasifik

Vietnam menjadi negara yang baru saja memulai pembangunan pendidikan tinggi. RMIT dari Australia memiliki 100% saham kampus perwakilan di negara tersebut, sedangkan Troy State University, Amerika Serikat, mendirikan perwakilan luar negeri, International Colelge of IT and Management. Jumlah kerjasama aktif antara institusi lokal dan luar negeri semakin berkembang. Sebagai contoh, University of Hue Vietnam saat ini telah mengembangkan sebuah kerjasama dan franchising program sarjana bidang pariwisata dengan University of Hawaii. Hanoi University of Technology menawarkan gelar master dan sarjana dengan institusi-institusi pendidikan tinggi dari Belgia (1), Prancis (8), Jerman (1), Singapura (2) dan Amerika Serikat (1). Pemerintah Vietnam mengumumkan pembangunan International University di Vietnam – satu lagi inisiatif untuk meningkatkan kapasitas pendidikan tinggi negara tersebut. Separuh dari staf pengajar adalah orang Vietnam asli, dan separuh yang lain berasal dari universitas luar negeri. Keterlibatan institusi luar negeri akan membangun dan mengembangkan jaringan dengan Ho Chi Minh City National University.

Australia, Cina, Mesir, dan Amerika Serikat semakin menggalakkan kerjasama pendidikan antarnegara dengan Thailand. Al-Azhar University Mesir dan Jinan University Cina berencana membuka kampus perwakilan di Thailand, sedangkan Swinburne University of Technology (Australia) telah beroperasi di negara tersebut sejak tahun 1998, meskipun harus mengubah fokusnya menjadi pelatihan industri saja. Troy State University memiliki area pengajaran di kota Bangkok untuk program MBA; mahasiswa dapat melakukan transfer ke Amerika Serikat bergantung dana dan visa. Thai-German Graduate School of Engineering, 13 universitas dari Australia, dan sembilan universitas dari Inggris juga telah beroperasi di Thailand.

Eropa

Reformasi besar-besaran negara Rusia membawa dampak besar bagi sektor pendidikan tinggi negara tersebut. Banyak institusi pendidikan tinggi, misalnya, Moscow International Slavonic Institute dan Moscow State University of Industry – menyelenggarakan program pendidikan di luar negeri, seperti di Bulgaria. Namun Rusia juga membuka diri bagi program joint degree dan double degree, twinning, dan franchise. London School of Economics, Stockholm School of Economic membuka cabang di St. Petersburg (Leningrad), dan University of Oslo’s Centre for Medical Studies mendirikan kampus perwakilan di kota Moskow. British Open University memiliki 80 pusat pelatihan bisnis di seluruh negara tersebut. University of Southern Queensland bekerjasama dengan Far Eastern National University in Vladivostok untuk perkuliahan internasional. International Institute of Information Technology, Puna, India, merencanakan untuk membuka program PhD bersama dalam Russian-Indian Centre for Advanced Computer Research in Moscow.

Laureate Education (dahulunya Sylvan), sebuah perusahaan swasta menjadi pemilik sebagian atau keseluruhan dari Universidad Europa de Madrid di Spanyol, Les Roches dan Glion Hotel School di Swiss, dan L’ecole Superiur du Commerce Exteriur de Paris di Prancis. Apollo International menawarkan kuliah di Belanda, dan Raffles La Salle (Singapura) baru-baru ini menandatangani perjanjian kerjasama dengan Middlesex University untuk membuka perwakilan program sarjana dan master fesyen dan desain.

Sumber bacaan:

Altbach, P. G., & J. Knight. 2007. Internationalization in Higher Education: Motivation and Realities.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.