Pages

7 April 2012

Stamina Kunci Mengalahkan Barcelona

Banyak faktor yang menentukan keberhasilan sebuah tim sepakbola. Salah satu faktor yang penting ialah stamina. Kecuali pada sejumlah pesepakbola "ekstraterestrial" seperti Zinedine Zidane, Javier Zanetti, Paolo Maldini atau Lothar Matthaeus, faktor stamina menjadi alasan utama dalam bersaing pada sepakbola tingkat tinggi. Jika stamina, menurun maka konsentrasi akan menjadi hilang.

Barcelona adalah sebuah klub sepakbola yang sedang menikmati masa kejayaan, menjadi klub tersukses di dunia dalam 2-3 tahun terakhir ini. El Barca memang istimewa. Mobilitas permainan mereka benar-benar membuat hampir semua lawan merasa "bodoh" karena tak mengerti cara menghadapi "possessing football" yang mereka terapkan. Sebelum diputus oleh Milan di San Siro pada pertemuan pertama perempatfinal Liga Champions 2012, Barca selalu mencetak gol ke gawang lawan dalam kompetisi antarklub Eropa. Penampilan mereka menarik, menghibur, tetapi menyeramkan dan mematikan. Barcelona itu dapat diibaratkan "sleeping child assassin". Para pemain kuncinya yang "imut-imut" (Lionel Messi, Xavi, dan Andres Iniesta) mendadak dapat berubah menjadi monster yang menakutkan di depan gawang lawan.

Mobilitas penguasaan bola menjadi kunci permainan Barcelona. Dengan kitab suci "ball possession" mereka menguasai sepakbola antarklub Eropa, bahkan dunia. Barcelona bermain secara sederhana. Kecuali Messi yang dikaruniai bakat istimewa, permainan Azulgrana sangat "sepakbola". Artinya, mereka menunjukkan kepada kita bahwa sepakbola adalah sebuah permainan tim.

Melihat mobilitas para pemainnya, kita menjadi mengerti bahwa Barcelona membekali diri dengan stamina yang prima. Atau, kalau tidak, karena tidak semua pemain mampu bertingkah seperti Messi, mereka lebih memilih "berbagi bola" daripada melakukan aksi "one man show".

Dengan kedigdayaan yang mereka miliki sekarang, adakah tim yang mampu membendung Barcelona untuk menjadi juara Eropa tahun ini? Bagaimanapun, peluang itu tetap tersedia.

Salah satu cara untuk menangkal intimidasi "possessing football" Barcelona ialah dengan memiliki stamina yang prima. Melawan Barcelona tidak cukup dengan menumpuk banyak pemain di daerah pertahanan sendiri. Sepakbola negatif tidak akan berhasil mengatasi mereka. Justru sebaliknya, pemain-pemain Barca akan semakin leluasa mengintimidasi dan gol hanya menunggu waktu.

Apa yang dipertunjukkan oleh Massimiliano Allegri melalui para pemainnya dapat dijadikan sebagai bahan referensi. "Pressing football" Milan sangat mengganggu "kedaulatan" Xavi di dalam mengatur organisasi permainan. Alhasil, aliran bola menjadi macet. Dengan keadaan seperti ini, Barca praktis bergantung pada kreativitas Messi, yang sialnya, kurang nyaman jika Xavi mendapatkan pengawalan ekstra ketat. "Closing down" yang diperagakan Milan terbukti efektif, setidaknya sebelum gol kedua untuk Barca terjadi pada pertemuan kedua di Camp Nou. Sedangkan pada pertemuan pertama tak perlu dibahas: Barca benar-benar frustrasi di San Siro.

Petaka bagi Rossoneri, karena stamina habis. Pemeran utama "pressing football" mereka, Massimo Ambrosini dan Clarence Seedorf, tidak sebugar dulu. Di lini belakang, Alessandro Nesta terpaksa "full stretching" seperti yang biasa ia lakukan bersama Lazio, dekade lalu. Faktor stamina ini membuat Milan takluk.

Faktor staminalah yang seharusnya membuat Roberto Di Matteo merasa optimistis untuk menghadapi Barcelona. Chelsea layak diorbitkan untuk menghentikan langkah Barca. Selain memiliki motivasi tambahan karena sukses mengalahkan Napoli dan Benfica, The Blues memiliki pemain-pemain yang staminanya lebih prima daripada Rossoneri.

Dengan stamina yang sepertinya lebih menjanjikan, Chelsea secara teori dapat berbuat lebih baik daripada Milan. Tinggal bagaimana Di Matteo mempelajari rekaman pertandingan Barcelona-Milan karena di sebuah sudut semarak plaza Catalonia sana Josep Guardiola juga siap memutar rekaman pertandingan Chelsea.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.