Pages

9 February 2012

Tiongkok dan Nusantara

CHENG HO
Lalu lintas hubungan pelayaran dan perdagangan internasional yang menghubungkan negeri-negeri yang berada di wilayah Asia Barat, Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur Jauh melalui Selat Malaka, telah dibahas oleh sejumlah peneliti, seperti Wolters (1967), van Leur (1995), Meilink-Roelofsz (1970), Hourani (1951), dan Di Meglio (1970). Hubungan pelayaran dan perdagangan antarnegara di daerah-daerah tersebut di atas termotivasi oleh perkembangan tiga kerajaan besar pada abad ke-7 Masehi, yakni Diasti Tang di Cina, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Timur Tengah. Salah satu bukti adanya kerajaan besar ini dapat ditelusuri dari berita Tionghoa, terjadi kunjungan seorang musafir Buddha, I-Tsing, ke India. Dalam perjalanan pulang ke India, ia menyempatkan diri untuk singgah di Shih-Li-Fo-Sih, atau San-Fo-Tsi atau Fo-Shih, yang  menurut Coedes disebut sebagai Sriwijaya (berdasarkan prastasti Kadatuan Sriwijaya, Kedukan Bukit Palembang. Sumber Tionghoa lainnya dari abad ke-8 memberitakan bahwa terdapat 35 armada kapal Po-Sse (Persia) yang singgah di kota Palembang. Mereka bukan hanya singgah, melainkan menjalin hubungan politik dan diplomatik, sehingga terjadi "hubungan internasional" antara Sriwijaya dan khalifah di Timur Tengah.


Hubungan antara Cina dan kerajaan-kerajaan di Nusantara, dalam perdagangan maupun persahabatan, memang terekam dalam banyak berita Tionghoa, yang antara lain pernah dikutip dan dihimpun oleh Groenevelt dalam "Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources (1880, 1960). Dalam "Sejarah Ming", diceritakan pula bahwa pada tahun 1379 terjadi hubungan antara Tiongkok dan kerajaan di bagian timur Sumatera yang bernama San-Bo-Tsai, dan banyak yang menafsirkannya sebagai Palembang.

Ekspedisi Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho berlangsung sejak Dinasti Ming di bawah pemerintahan Kaisar Cheng-Tsu (1403-1424). Ekspedisi Cheng Ho memiliki tujuan untuk memberikan keyakinan kepada kerajaan-kerajaan di wilayah laut Selatan dan Barat bahwa mereka tidak lagi wajib mengirimkan upeti kepada Tiongkok, seperti yang dilakukan pada saat kekuasaan Kaisar Hwui-Ti. Ekspedisi-ekspedisi di bawah pimpinan Cheng Ho dirangkum oleh Ma Huan dalam rangkumannya berjudul Ying-Yai Sheng-Lan, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mills (1970).

Pada ekspedisi kedua (1407-1409) Cheng Ho ditemain oleh Laksamana Wang Ching Hung dan Hu Hsien. Di dalam pemberitaan ekspedisi lanjutan ini tidak menyebutkan Palembang. Pada ekspedisi ketiga (1409-1411) juga tidak menyinggung Palembang, dan nama ini muncul kembali dalam ekspedisi keempat (1413-1415). Selain Palembang, Cheng Ho juga singgah di Campa, Kelantan, Pahang, Jawa, Malaka, Aru, Sri Lanka, Maladewa, Calcutta, dan Hormuz. Dalam ekspedisi keempat inilah untuk pertama kali Ma Huan ikut serta dan tugasnya adalah sebagai juru bicara, penerjemah, dan penulis laporan. Ma Huan dapat berbahasa Arab dan adalah seorang muslim.

Referensi:

Uka Tjandrasasmita. 2009. "Arkeologi Islam Nusantara", Ekspedisi Tiongkok ke Nusantara: Kunjungan Laksamana Cheng Ho ke Palembang. Kepustakaan Populer Gramedia: Jakarta.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.