Pages

24 February 2012

Metamorfosis yang Keblinger

Bangsa Nusantara pernah dijuluki sebagai bocah manis dan penurut. Kebanggaan sebagai orang yang terlahir di wilayah ini, yang kemudian dikenal sebagai Indonesia, dituangkan dalam serial album lagu legendaris band Koes Plus dan beberapa 'masterpiece' milik almarhum Gombloh. Bahkan, Michael Learns to Rock pun tak ketinggalan menyatakan kekagumannya secara kiasan melalui tembang "Sleeping Child" serta pembuatan klip video "Someday" di negara kita. Semua menyatakan kecintaan dan patriotisme kepada bangsa kita, mengagumi keramah-tamahan dan keluhuran budaya Indonesia.

Itu dahulu, tatkala iklim kebersamaan, semangat gotong-royong dan tenggang rasa masih menggelora di dalam dada. Hampir semua persoalan seperti terselesaikan secara lebih mudah, bijaksana, sederhana. Padahal kala itu orang Indonesia miskin informasi, miskin pendidikan, jauh berbeda dari situasi yang terjadi saat ini.

Ketika kran keterbukaan semakin longgar, kebebasan mengalir begitu derasnya. Hembusan nafas agitasi demokrasi yang dikumandangkan dari arah Barat menerpa sangat kencang. Dengan mengatasnamakan "hak asasi manusia" setiap orang bersuara lantang. Pemahaman tentang demokrasi cenderung mengarah kepada liberalisasi. Bangsa yang semestinya berdasarkan saling menghargai beranjak kehilangan jatidiri. Kekerasan demi kekerasan yang muncul dalam berbagai bidang kehidupan menunjukkan bahwa sebenarnya manusia Indonesia tidak menyukai kekrasan. Karena tidak terbiasa berbuat kekerasan maka perbuatan tersebut dianggap tidak wajar. Maka dari itu timbullah konflik.

Demokratiasasi dipraktekkan melalui aksi saling menjatuhkan. Bangsa kita adalah bangsa yang mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat, demikian yang diajarkan oleh para guru di sekolah dasar dulu. Namun di dalam kenyataannya pihak-pihak yang memiliki kelebihanlah yang akan memenangkan persaingan, yang seharusnya tidak perlu kita namakan sebagai "persaingan". Kelebihan tersebut dapat berbentuk materi/uang, pengaruh, jumlah, maupun kekuasaan yang mempermudah akses. Dari sebuah bangsa yang menjunjung harmoni dengan irama hidup dan perilaku alam, perlahan berubah menjadi bangsa yang mempertuhankan kebutuhan yang mengabaikan harmoni tersebut.

"Demi kepentingan bersama!" adalah ungkapan yang sering dikumandangkan oleh siapapun yang merasa "tidak menerima" keadaan yang dianggap menyebabkan kerugian materiil. Kepentingan siapa sebenarnya? Jika untuk kebaikan bersama mengapai harus diwarnai dengan kekerasan? merusak hak milik kelompok masyarakat lain yang tidak memiliki sangkut paut dengan permasalahan?

Kita sering melawan api dengan menggunakan api. Alhasil, kebakaranlah yang terjadi. Padahal keadaan geografis Indonesia telah, dan masih mengajarkan bahwa sebagian besar wilayah berupa perairan. Sangat Ironis. Stabilitas nasional dalam hampir dua dasawarsa terakhir telah sangat terganggu. Ini bukti bahwa telah ada banyak sekali hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan ciri khas bangsa Indonesia. Seperti halnya yang dialami oleh daging kita yang di dalamnya terselip benda asing, maka akan menyebabkan penyakit, bahkan infeksi dan tetanus yang sangat membahayakan.

Kita menyambut globalisasi dengan menjadi pengikut. Sekarang semakin lazim menuntut yang mereka sebut "keadilan", sebuah keadaan yang sebelumnya "tabu", sebuah imitasi dari kejadian di dunia luar yang diserap melalui gambar, melalui suara, melalui gambar dan suara, baik yang statis maupun yang bergerak. Kita menyambut globalisasi tanpa membatasi diri dengan jatidiri sebagai orang Nusantara, orang Indonesia, sehingga apa yang sebelumnya lazim menjadi aneh, vice versa.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.