Pages

25 February 2012

Inikah yang dinamakan Wayang?

Menurut Sri Mulyono, istilah "wayang" adalah sebuah kata bahasa Indonesia (Jawa) asli, yang berarti "bayang-bayang", atau bayang yang berasal dari akar ata "yang" mendapatkan imbuhan "wa" sehingga menjadi "wayang". Sri Mulyono mengatakan,

Kata wayang dalam bahasa Indonesia memiliki asal kata "yang". Akar kata ini memiliki variasi yung, yong, dan digunakan pula di dalam kata "layang" atau terbang, "doyong" atau miring, "royong" atau selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dan "poyang payingan" (sempoyongan). Dengan membandingkan beberapa pengertian akar kata dan variasinya tersebut, maka disimpulkan bahwa makna dasar "wayang" ialah "tidak stabil, tidak pasti, tidak tenang, terbang, bergerak kesana-kemari."



Kata wayang atau "hamayang" dahulunya digunakan untuk menyebutkan "pertunjukan bayang". Ungkapan ini kemudian berevolusi menjadi "pertunjukan bayang-bayang". Perkembangannya menjadi "seni pentas bayang-bayang".  RT Josowidagdo berpendapat bahwa wayang menurut bahasa Jawa adalah "ayang-ayang" atau bayangan, karena yang disaksikan ialah berupa bayangan dari balik layar. Sementara itu Ksumajadi mengatakan, "Wayang ialah bayangan orang yang telah meninggal dunia, sehingga orang yang digambar itu sudah meninggal.... Kata wayang tadi dari suku kata "wa" dan "yang". Wa berarti "trah" atau turunan; yang berarti "hyang atau eyang (kakek), atau lelulur yang telah meninggal." Sebagai contoh, Pandawa berasal dari kata "Pandu + wa", yang artinya "keturunan Pandu"; Kurawa berasal dari kata "Kuru + wa", yang berarti "keturunan Kuru". Dari asal-usul ini maka dapat dikatakan bahwa "wayang" adalah gambaran orang yang telah meninggal.

Pendapat lain menyatakan bahwa wayang adalah "bayangan angan-angan" yang menggambarkan nenek moyang (leluhur) di dalam angan-angan dengan terciptanya berbagai bentuk wayang sesuai dengan adat dan kelakuan tokoh yang dibayangkan di dalam angan-angan. Dari uraian tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa istilah "wayang" dipergunakan untuk sebutan gambar leluhur, yang selalu bergerak, menurut bayangan si pembuat, dan menghasilkan "ayang-ayang" atau bayangan di balik kelir.

Sumber bacaan:

Sunarto. 1989. "Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta: Sebuah tinjauan tentang bentuk, ukiran, sungingan." Balai Pustaka: Jakarta

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.