Pages

13 July 2011

Reaksi Redoks

Reaksi Redoks merupakan gabungan dari dua reaksi, yaitu reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Dalam reaksi redoks, proses oksidasi danreduksi terjadi bersamaan. Artinya, pada saat suatu reaktan mengalami oksidasi, maka reaktan lain mengalami reduksi.

A. Konsep Reduksi dan Oksidasi

1. Konsep dan pengikatan oksigen

Pengikatan dan pelepasan oksigen didasarkan pada kemampuan gas oksigen untuk bereaksi dengan berbagai unsur membentuk suatu oksida. Menurut konsep ini, suatu zat dikatakan mengalami oksidasi jika dalam reaksinya zat ini mengikat oksigen. Dan suatu zat dikatakan mengalami reduksi jika dalam reaksinya zat ini melepaskan reaksi atom oksigen.

Contoh:
Reaksi oksidasi 4Fe + 3O --> 2FeO
Reaksi reduksi 2HgO --> 3Hg + O

2. Konsep perpindahan elektron

Berdasarkan konsep perpindahan elektron, reduksi berarti reaksi penerimaan elektron, sedangkan oksidasi berarti reaksi pelepasan elektron.

Contoh:
Reaksi oksidasi 2Cu --> 2Cu + 4e
Reaksi reduksi 2Cu + O --> 2CuO

3. Konsep perubahan bilangan oksidasi

Berdasarkan konsep ini, suatu zat dikatakan mengalami oksidasi jika dalam reaksi zat ini mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Sementara itu, suatu zat dikatakan mengalami reduksi jika dalam reaksi zat ini mengalami penurunan bilangan oksidasi.

Setiap atom memiliki muatan yang disebut juga bilangan oksidasi, yaitu bilangan yang menyatakan banyaknya elektron yang telah dilepaskan atau oleh suatu aton dalam suatu senyawa. Bilangan oksidasi diberi tanda positif jka atom itu melepas elektron dan diberi tanda negatif jika atom itu menerima elektron.

B. Konsep Bilangan Oksidasi

Pada reaksi redoks, dikenal juga reaksi autoredoks, yaitu suatu zat berfungsi sebagai oksidator juga reduktor. Reaksi autoredoks dengan mudah dapat dijelaskan dengan konsep bilanga oksidasi. Bilangan oksidasi digunakan pula pada penamaan senyawa yang salah satu unsurnya memilikai biloks lebih dari satu.

1. Membedakan reksi redoks dan bukan redoks

Suatu reaksi redoks dapat kita bedakan dari reaksi bukan redoks denagn meliaht perubahan bilangan oksidasi pada unsur-unsur yang menyusun senyawa yang bereaksi. Jika terjadi kenaikan bilangan oksidasi, artinya unsur tersebut mengalami oksidasi dan bersifat sebagai reduktor. Sementara itu, jka terjadi penurunan bilangan oksidasi, artinya unsur tersebut mengalami reduksi dan bersifat sebagai oksidator.

2. Reaksi autoredoks

Pada beberapa reaksi redoks, zat-zat yang bertindak sebagai oksidator merupakan zat sama. Reaksi redoks seperti itu disebut reaksi autoredoks (reaksi disproporionasi).

3. Menentukan nama senyawa ionik dan kovalen

a. Penamaan senyawa ion yang unsur logamnya berbiloks lebih dari satu. Penamaan senyawa yang mengandung unsur logam berbiloks lebih dari satu macam didasarkan pada sistem stock. Caranya dengan membubuhkan angka Romawi yang sesuai dengan bilangan oksidasi logam dalam tnada kurung di belakang nama logam dan diikuti dengan nama unsur nonlogam, lalu diberi akhiran –ida.

b. Penamaan senyawa poliatomik yang unsur nonlogamnya berbiloks lebih dari satu. Umumnya senyawa ion poliatomik tersusun atas logam yang berbiloks satu jenis dan ion poliatomik yang salah satu unsurnya berbiloks lebih dari satu jenis. Penamaan senyawa ini didasarkan oleh sistem stock dengan membubuhkan angka Romawi sesuai dengan bilangan oksidasi (biloks) unsur dalam tanda kurung di belakang nama anion poliatomik.

c. Penamaan senyawa kovalen yang unsur nonlogamnya berbiloks lebih dari satu. Penamaan senyawa kovalen yang unsur nonlogamnya berbiloks lebih dari satu macam didasarkan pada sistem stock. Caranya ialah dengan menulis unsur nonlogam bermuatan positif diikuti oleh angka Romawi yang esuai dengan bilangan oksidasinya dalam tanda kurung, sedangkan unsur nonlogam bermuatan negatif diletakkan di belakang dan diberi akhiran -ide.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.