Pages

17 February 2011

Tentang Almamater Saya

Setelah menonton pertandingan tiki-taka Arsenal vs Barcelona pagi ini, saya menyempatken jalan-jalan kemudian berhenti sejenak di depan kampus. Ujug-ujung kok, kedua bibir menyungging senyum, kemudian gemetar, eh, lha kok malah menjurus ke menangis. Hihi... Ya, saudara-saudara Undip-goers pasti faham saya sedang memikirkan apa. Akh, sekarang kok.... duuuh, rasane trenyuh campur terharu ki dalam hati. Ternyata, saya perlahan harus menyadari bahwa segala sesuatunya akan berubah. Pagi ini saya seperti menikmati saat-saat terakhir eksistensi kampus Undip yang berada di Pleburan. Meskipun masih ada kegiatan mahasiswa di situ, juga sekarang telah semakin banyak pascasarjana yang dikelola, rasanya kok lain ya?

Pada saat bersama-sama kawan melintasi gedung-gedung itu, tiada beban terasa, tidak ada kesan apa pun yang mendalam. Namun, pagi ini, tatkala saya sendirian melintasi mereka, langsung "deg" masuk ke hati. "Oh My God, this used to be my play ground." Saya teringat lambaian terakhir Edwin van der Sar pada Stadion Demeer...hihi...atau ucapan selamat berpisah para pendukung The Gunners pada Stadion Highbury. Ya, seperti itulah kira-kira perasaan yang bergejolak dalam benak saya.

Bagi kawan-kawan satu almamater yang pernah mewarnai Undip kampus Pleburan, baik itu dari Plat A, B, C, D, maupun K, kemudian setelah selesai kuliah beranjak hijrah ke daerah asal atau ke daerah lain, mungkin tidak akan seemosional yang saya rasakan dan alami. Berbeda dari perjalanan saya, yang 90 persen waktu semenjak menginjakkan  kaki pertama kali di kawasan kampus ini, tetap berada di sana. Saya alami masa lengang sebelum kampus ramai, saya alami puncak keramaian, dan saya sekarang alami kesunyian lagi, kelengangan lagi. "My heart is truly demolished..."

Inilah kampus saya, almamater saya, dan juga kampus dan almamater kawan-kawan. "We've been through up-side-down here, at our respective era. Soon, we are going to chant the swansong to this historical monument."

Bermacam cerita terukir di sana. Semoga saja kita semua almamater tidak akan segera beranjak meninggalkan sejarah, riwayat dan kisah yang sebagian berperan membentuk diri kita sekarang ini. Khususon bagi diri saya, ada janji yang terbersit dari sekian banyak rencana, "Ke Undip aku akan kembali, suatu saat nanti. I promise."

- - - - - - -
HYMNE UNIVERSITAS DIPONEGORO
Songwriter: Mas Itok Mursito

Panji Diponegoro tetap di angkasa,
berkibar senantiasa, teladan utama.
Api semangat menyala, baka dalam dada.
Jayalah Diponegoro almamater kita.

Di bawah naunganmu, tercapai cita-cita.
Teguhkan semangatmu menjunjung Nusa Bangsa.

Semoga abadi  bertahta di kalbu
Dirgahayulah, dirgahayu Nusa dan Bangsaku
--------

"Vivat Academia!".
Tchuss :)
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.