Pages

8 February 2011

Bara Api di tengah Dinginnya Temanggung

Menanggapi kejadian bermuatan SARA di ibukota  Kabupaten Temanggung hari ini, terlihat jelas bahwa sebagian orang Indonesia masih terlalu reaksioner menyikapi sebuah permasalahan. Demokrasi yang didengang-dengungkan sejak negara Republik Indonesia berdiri hanyalah seonggok sampah berbau. Saya sebut sampah karena karena dibuang begitu saja.

Indonesia mengakui adanya kebhinnekaan dalam satu rangkaian terpadu, tersemat dalam tulisan di atas pita putih yang dicengkeram oleh burung Garuda berbulu emas, yakni: Bhinneka Tunggal Ika. Namun, ternyata prakteknya di lapangan tidak sejalan dengan cita-cita luhur bangsa untuk menampung setiap aspirasi, sekecil apapun aspirasi itu. Pertentangan ras, agama, dan suku terus terjadi dalam berbagai bentuk. Hegemoni satu kelompok menindas kelompok lain. Sulutan api SARA memang sangat ampuh untuk menyerang satu pihak dan memperkuat pihak yang lain. Sangat memalukan sekali bahwasanya dalam era yang banyak orang sebut Era Reformasi masih banyak kelompok yang mengedepankan tindakan anarkis. Pada lain pihak, masih ada pula kelompok penyulut anarkisme untuk melemahkan kewaspadaan nasional. Apakah yang kalian cari sebenarnya?

Bangsa Indonesia telah sedemikian lelahnya terkena dampak krisis multidimensi, terkena agitasi berkulit emas namun isinya kotoran busuk. Hal ini sangat melelahkan sehingga rakyat tidak mampu fokus lagi pada pengawasan terhadap pengemban amanat mereka.

SARA adalah sisi paling peka bagi semua orang. Tersinggung atau tersentil sedikit saja dapat menyulut api yang menyala-nyala, yang dapat membumi-hanguskan wilayah yang sangat luas. Perlu ada kesadaran dari setiap insan Indonesia yang hidup dan mengaku mencintai Nusantara tercinta ini. Kesadaran bahwa kita adalah bangsa yang mengakui perbedaan dan keragaman. Pedoman kita adalah Pancasila. Pedoman kita bukan hukum absolut tertentu yang mengharuskan setiap warga patuh dan tunduk terhadap satu pihak.

Apapun alasan di balik itu, anarkisme tetaplah tindakan yang tidak berperikemanusiaan, tidak berkepribadian luhur. Anarkisme bukan ciri khas bangsa Indonesia.

Penyuka aksi kekerasan dan tidak berperikemanusiaan adalah ATHEIST!
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.