Pages

2 February 2011

Pebruari Bulannya Jantung Kita

Penyakit kardiovaskuler, termasuk di dalamnya stroke, menjadi penyakit No. 1 setidaknya di Amerika Serikat. Maka dari itu pemerintah AS berusaha keras untuk memerangi penyakit ini. Bahkan, inisiatif penanggulangan penyakit kardiovaskuler telah dilakukan sejak tahun 1963, yakni pada saat Presiden waktu itu mencanangkan bulan Pebruari sebagai "American Heart Month". Berikutnya, American Heart Association (AHA), bekerja sama dengan Lippincott Williams & Wilkins (LWW) memelopori penyelenggaraan Annual American Heart Month.

Meskipun penyakit jantung menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling mahal dan besar di Amerika Serikat, namun sebenarnya statusnya masih dapat dicegah. Setiap tahun AHA, bekerjasama dengan Centers for Disease Control and Prevention, National Institute of Health, dan sejumlah lembaga pemerintah lainnya menyusun sebuah statistik terkini tentang penyakit jantung, stroke dan kardiovaskuler. Di dalam statistik tersebut tercantum pula faktor-faktor resiko penyakit dimaksud. Laporan terkini ini mereka beri judul Heart Disease and Stroke Statistical Update. Dalam perkembangannya, statistik ini menjadi sumber yang sangat berguna bagi pelaku riset, paramedis, pembuat kebijakan bidang kesehatan, profesional bidang media, dan pihak-pihak lain yang membutuhkan.

Sumber: Lippincott Williams & Wilkins, 2011 | LWW Journals

Mari Diam Sejenak untuk Dengarkan Suara Alam

Sebuah ungkapan hati  tentang pencemaran suara di sekitar kita

"Noise is arguably the most widespread and least controlled environmental pollutant. Noise has been recognized since the time of the Romans as unwanted and intrusive." (Bronzalt dan Hagler, 2010)

Planet Bumi tempat tinggal kita telah sesak oleh pencemaran. Orang mengenal jenis-jenis pencemaran lingkungan yang dapat dibagi ke dalam 4 (empat) kelompok besar, yakni pencemaran udara, air, tanah, dan suara. Di antara keempat jenis pencemaran lingkungan ini, pencemaran suara sepertinya sering luput dari perhatian. Suara adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari, dari sejak kita bangun dari tidur hingga kita beranjak tidur lagi. Dominasi suara di sekitar kita, dari manapun sumbernya, semakin terasa jika kita hidup di tengah lingkungan yang padat penghuni dan padat kegiatan. Dalam banyak kesempatan, orang sering merasa terganggu oleh bising sehingga merasa tertekan, menunjukkan sikap yang temperamental, dan susah berkonsentrasi di dalam menjalankan kegiatannya, entah bekerja maupun belajar. Gangguan suara juga mengganggu istirahat kita, bukan?

Apakah pencemaran suara itu?

Saktiyono (2006: 162) mendefinisikan pencemaran suara sebagai  masuknya suara atau bunyi yang tidak diinginkan ke permukiman penduduk. Pencemaran suara dapat mengganggu aktivitas manusia (hal. 162). Sedangkan proses terjadinya suara dapat kita simak dari pernyataan yang dikutip dari Bronzalft dan Hagler (2010: 75)  berikut ini,

Sound begins as vibrating object causes the movement of air molecules, setting up alternate bands of compression and expansion in the air then strike the ear drum. The mechanisms of the middle ear  carry the vibrations to the hair cells of the inner ear (the Organ of Corti) where they are converted into electrical impulses that are transmitted to the brain. The brain decodes these transmissions into what we perceived as sound - its nature, pitch, volume, source, and duration.

Sejumlah penelitian telah dilakukan berkenaan dengan potensi gangguan terhadap lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran suara. Menurut Chambers dan  Jensen (dalam Handbook of Environment Engineering Volume 2, Advanced Air and Noise Pollution Control, 2005: 441) pencemaran suara dapat mengancam kesehatan manusia dan kualitas hidup. Suara yang bising berpotensi menjadi kontaminan bagi atmosfer. Meskipun bukti yang ditemukan masih terbatas, namun kebisingan dapat mengganggu efisiensi, kesehatan manusia, dan menambah resiko kecelakaan. Pada tingkat yang lebih parah lagi, kebisingan dapat mengganggu fungsi pendengaran. Sebenarnya suara sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Suara yang digunakan sebagai alat peringatan, seperti peringatan bahaya, pengumuman, dan penanda-penanda yang lain memudahkan manusia untuk mempersiapkan diri di dalam menghadapi keadaan  tertentu. Akan tetapi, suara kemudian berubah menjadi sebuah hal yang membawa mimpi buruk bagi kita manakala suara tersebut terdengar terlalu keras dan bising. Konsentrasi menjadi terpecah karena adanya suara yang tidak diharapkan. Kerasnya suara bahkan dapat membuat jantung berdebar-debar karena terkejut sehingga dampaknya sangat membahayakan. Daerah perkotaan sangat identik dengan suara bising, entah dari kegiatan industri, hiburan, maupun transportasi. Jika kebisingan bukanlah suatu masalah, tidaklah mungkin kiranya sejumlah orang perlu menyingkir sejenak dari keramaian untuk menenangkan diri, menghindari stress, atau mencari inspirasi di tempat-tempat yang relatif lebih tenang dan hening.

Dampak pencemaran suara

Suara dan bebunyian senantiasa mewarnai kehidupan manusia sedari pagi buta hingga larut malam. Suara adalah bagian dari kehidupan hampir semua makhluk hidup di bumi. Akan tetapi jika kadarnya telah mencapai tingkat yang keterlaluan, bebunyian tersebut akan menimbulkan gangguan yang tentu saja merugikan. Cobalah tengok betapa bisingnya suasana di sekitar kita saat ini. Apalagi bagi saudara-saudara yang berada di lingkungan perkotaan yang sarat akan deru dan deringan. Terkadang orang merasa stress karena menghadapi kebisingan sehingga ia perlu “mengasingkan diri” untuk dapat merasa tenang dan berkonsentrasi. Pencemaran suara jelas mengganggu proses kegiatan manusia. Misalkan dalam sebuah diskusi membahas tentang penyelamatan lingkungan dari polusi udara, dapat saja himbauan seperti, “Marilah kita bersama-sama menyumbang pohon...” terdengar menjadi “Marilah kita bersama-sama menebang pohon...” Hal ini terkesan lucu dan konyol, namun tetap ada kemungkinan terjadi. Mengapa? Karena pada saat diskusi berlangsung, di sekitar tempat diskusi tersebut ramah akan suara gaduh, misalkan, deru mesin kendaraan, mesin industri, atau suara musik yang terlalu keras. Kesalahan satu kata saja akan berakibat fatal. Bahkan dapat menimbulkan perdebatan. Ini hanyalah ilustrasi dan masih banyak lagi ilustrasi yang lebih masuk akal.

Dampak pencemaran suara juga tidak sekedar mengganggu manusia, melainkan makhluk hidup lain. Pernah terjadi kasus yang unik di peternakan ayam negeri (broiler) seorang teman di daerah Yogyakarta. Suatu pagi teman itu mendapati beberapa ayam negeri mati setelah terjadi ledakan mercon. Padahal tidak seekor ayampun yang terkena langsung ledakan tersebut, melainkan sekedar mendengarnya. Selain itu, pencemaran suara juga dapat berakibat fatal bagi tumbuh-tumbuhan. Seperti yang dikemukakan oleh R. H. Ajie, dalam sebuah wawancara tanggal 1 Pebruari 2011, gelombang ultrasonik yang dihasilkan oleh suara akan mengganggu pertumbuhan tanaman. Dari sini dapat kita katakan bahwa bukan hanya manusia yang akan mendapatkan dampak negatif pencemaran suara, melainkan makhluk hidup lainnya. Kemudian, sebuah penelitian terhadap hewan uji monyet Rhesus, menunjukkan terjadinya kenaikan tekanan darah hingga 30% setelah mendapatkan perlakuan suara yang mencapai 85 db (desibel) selama delapan bulan. Tekanan darah dan detak jantung hewan uji ini meningkat dan tidak dapat dikembalikan pada kondisi semula sebelum percobaan.(1) Suara yang dihasilkan oleh manusia menjadi salah satu dari sekian banyak faktor penyebab  kepunahan habitat, hilangnya cadangan makanan, perubahan perilaku dan migrasi, perubahan hubungan antarspesies, keseimbangan antara spesies pemangsa dan spesies mangsanya, dan meningkatkan persaingan perebutan tempat tinggal dan makanan.(2) Dari sini kita dapat membayangkan betapa pencemaran suara telah mengganggu keseimbangan alam, bahkan mengancam keanekaragaman hayati. Akumulasi suara yang sampai menimbulkan getaran juga berbahaya bagi bangunan. Jika suara tidak dikendalikan maka bangunan akan mengalami kerusakan. Pernah suatu ketika suara yang dihasilkan oleh pengeras suara pada sebuah konser musik di daerah Pleburan, Semarang, membuat kaca rumah bergetar. Namun hal ini nyaris luput dari perhatian karena sebagian besar orang menganggap hal yang disebut pencemaran ialah asap, limbah, bahan inorganik, dan sebagainya. Dengan kata lain, pencemaran itu adalah kerusakan pada tanah, air, dan udara. Padahal, pencemaran suara tidak dapat kita kesampingkan karena menimbulkan gangguan yang seketika. Kita menjadi naik pitam, mudah marah, atau stress akibat mendengar suara yang terlalu keras. Akibatnya, kita berpotensi untuk bertindak di luar batas, seperti mengamuk dengan memecahkan benda-benda di sekitar, merusak dan marah-marah kepada orang sekitar, atau melemparkan benda seenaknya hingga berserakan. Apakah ini bukan wujud pencemaran lingkungan pula?  

Seperti yang dikemukakan oleh Hartuti Purnaweni dalam Implementasi Kebijakan Lingkungan di Indonesia: Hambatan dan Lingkungan, “kesiapan lingkungan hidup dalam mendukung eksistensi dan perkembangan kehidupan manusia sangat tergantung pada sikap dan perilaku manusia itu sendiri di dalamnya.” (3) Maka dari itu marilah kita mulai berbenah. Marilah kita berbagi perasaan agar alam bersikap kembali ramah kepada kita. Ketimpangan ragam hayati yang telah sedemikian jelasnya harus diseimbangkan dengan cara berusaha mengerti, mendengarkan suara alam, akan “keluh kesahnya” selama ini. Ia telah berbaik hati sekali menerima semua pembuangan yang kita lakukan. Kita jejali ia dengan asap berbahaya, benda-benda yang tak mudah diuraikan, dan suara-suara gaduh. Jangan sekedar bicara lantang menggunakan pengeras suara (loudspeaker) ke sana ke mari menyuarakan kepedulian kita terhadap lingkungan, sementara deru bunyi pemekak telinga di lingkungan tempat tinggal kita terus kita hasilkan.

Marilah kita diam sejenak. Pepatah mengatakan bahwa Diam adalah Emas. Heningkan lingkungan sekitar, kita dengarkan suara alam sehingga kita dapat memahami apa yang mereka mau. Alunan nada ayam jantan berkokok membangunkan kita dari peraduan selepas malam, kicau burung berpadu gemericik air sungai mengalir, daun-daun bersiul berirama seiring kibasan angin. Kemanakah itu semua? Nyaris lenyap oleh kegaduhan manusia yang mengaduh, mengeluh, melenguh, dan bergemuruh.

Tautan:
(1) Dave Corman, Nature Sound Society | www.naturesounds.org
(2) www.naturesounds.org/conservENW.html
(3) Hartuti Purnaweni | ww.ejournal.undip.ac.id/index.php/dialogue/article/download/537/412

Daftar bacaan dan rujukan:

Ajie R. H. 2011. Wawancara pengaruh polusi suara terhadap lingkungan selain manusia. Pleburan, Semarang Selatan, 1 Februari 2011.
Bronzalft A. L. dan Hagler L. 2010 Noise: The invisible pollutant that cannot be ignore dalam Shah V., Emerging environmental technologies, Vol. 2. Springer.
Chambers J. P. dan Jensen P. 2005 Noise Pollution dalam Wang L. K., Pereira N. C., dan Hung Y. T. (eds), Advance air and noise pollution control. Handbook of Environment Engineering, Vol. 2. Humana Press.
Purnaweni, H. 2010 Implementasi kebijakan lingkungan di Indonesia: hambatan dan lingkungan, Undip e-journal.
Saktiyono. 2006 IPA Biologi, Jilid 1, SMP dan MTs untuk Kelas VII KTSP standardisasi 2006.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.