Pages

3 April 2011

Eropa menuju tatanan baru pasca-perang dingin

Judul buku: The Shape of the New Europe
Pengarang: Gregory F. Treventon
Tahun terbit:  1992
Penerbit: Council on Foreign Relations

Ungkapan "common European home" memiliki sejarah yang lumayan panjang. Salah satu orang yang pertama kali memperkenalkan ungkapan ini ialah Andrei Gromyko, Menlu Uni Soviet, tepatnya pada tanggal 18 Januari 1983. Gromyko mengemukakannya tatkala berkunjung ke kota Bonn, yang kala itu menjadi ibukota Republik Federasi Jerman (Jerman Barat). "both the FRG and the Soviet Union live in one European house, under one roof," demikian ujar Gromyko. Penegasan 'politis' ini seperti meredam kecemasan menyusul adanya rencana peluncuran rudal berhululedak nuklir milik Amerika Serikat, Pershing IIs, dan selang beberapa pekan saja sebelum berlangsungnya Pemilu Jerman Barat, yang hasilnya memberikan kepastian bahwa 'krisis nuklir' era 1980an ini berhasil dinetralisasi lewat resolusi NATO.

Waktu dan keadaan memang harus berubah. Masa-masa mencemaskan, "Perang Dingin Kedua", yang berlangsung dari era 1970an hingga pertengahan 1980an , lambat laun berlalu, seiring munculnya reaksi positif terhadap sikap 'ramah' Mikhail Gorbachev. Eropa khususnya, dan dunia umumnya saat itu terjangkit 'sindrom Gorbymania'.  Pihak Moskow tak lagi sedingin temperaturnya. Keterbukaan mulai mengemuka terlepas dari keraguan situasi dalam negeri negara tersebut. Boleh saja pihak yang menentang Soviet menganggap pernyataan Gromyko sebagai sesuatu yang tiada artinya. Namun, setidaknya Soviet telah berusaha mempertunjukkan pernyataan yang jujur tentang di mana letak mereka berada. Ya, di mana lagi kalau bukan di Eropa? Momentum keterbukaan Uni Soviet dan mulai 'hangatnya' temperatur yang dihembuskan oleh Perang Dingin menandai lahirnya sebuah prakarsa untuk menciptakan Eropa baru; kawasan Eropa yang berasaskan demokrasi, bukan kawasan yang terbagi-bagi menjadi blok Barat dan blok Timur.

Runtuhnya komunisme di Eropa Timur pada tahun 1989 (menyusul bubarnya Uni Soviet) menghapus perseteruan antara blok Barat dan blok Timur yang telah mewarnai dunia selama empat dekade. Meskipun peristiwa historis ini memunculkan masalah baru terkait penataan ulang basis keamanan di kawasan Eropa. Pendapat umum politisi mengatakan bahwa jika Eropa menginginkan sebuah keadaan yang 'benar-benar bebas', maka kawasan ini harus membentuk sebuah pakta keamanan baru yang menyatukan Eropa Barat dan Eropa Timur. Jika langkah ini tidak dilakukan, maka stabilitas dan iklim penyatuan tidak akan bertahan lama. Integrasi Eropa Timur ke dalam pakta keamanan baru akan melahirkan tantangan politik yang tak mudah untuk dijinakkan oleh pihak Barat, khususnya Masyarakat Eropa. Menjelang pecahnya revolusi  1989, ME seperti begitu mudah menyusuri jalan menuju integrasi pasar internal tunggal yang ditargetkan menjadi kenyataan pada tahun 1992 (yang sebenarnya memberikan tantangan yang tak kalah serius pula bagi mereka). Akan tetapi, revolusi menentang komunisme ternyata menimbulkan masalah baru dan mengganggu usaha integrasi. ME dihadapkan pada sebuah dilema: antara mendukung demokratisasi dan mengadakan reformasi Eropa Timur tanpa menganggu stabilitas yang tengah dicapai oleh Eropa Barat.

Revolusi anti-komunisme belum selesai ditangani, terjadilah pergolakan lagi. Ialah peristiwa reunifikasi Jerman. Eropa disibukkan oleh perubahan besar-besaran yang menyita waktu, tenaga, dan biaya. Keputusan yang tepat harus segera dibuat, dan untuk merespon situasi ini tidak ada kata selain "mewujudkan unifikasi secepat dan setepat mungkin." Kiranya demikian sikap yang harus ditunjukkan karena jika ME mempersulit unifikasi, maka situasi akan menjadi runyam, dan visi integrasi 1992 akan sekedar impian. Apalagi, Jerman Barat (bersama Prancis) adalah aktor utama penggerak organisasi ME kala itu. Hasrat Jerman menuju unifikasi diharapkan tidak menyebabkan hilangnya komitmen Bonn terhadap proses integrasi ekonomi dan politik Eropa secara keseluruhan.

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.