Pages

9 April 2011

Kronologi Perang Dunia I (Bagian I)

Perang. Sebuah istilah yang ditakuti oleh umat manusia sejak zaman dahulu kala. Perang senantiasa meninggalkan kesan yang membekas. Tentu saja kesan yang menyakitkan, baik bagi pihak ‘yang menang’ maupun bagi pihak ‘yang kalah’. Hati nurani seseorang yang sangat manusiawi pasti tidak tega menghabisi nyawa orang lain. Coba tanyakan kepada pilot pembawa ‘little boy’ dan ‘fat man’. Apa yang mereka lakukan terhadap Nagasaki dan Hiroshima, hampir 66 tahun yang lalu, adalah sebuah dilemma. Dalam hati para pilot tersebut menangis, bahwasanya tindakan yang mereka lakukan akan memusnahkan ribuan orang di bawah sana.
Menurut kesepakatan sejarah, perang besar pada era modern ini telah terjadi dua kali, yakni pada periode 1914-1918 dan periode 1939-1945.  Dalam kesempatan ini saya akan berbagi mengenai peristiwa-peristiwa yang dianggap penting oleh sejarawan yang terjadi selama Perang Dunia I (1914-1918). Sebelumnya saya mohon maaf bila penyampaian saya dalam tulisan ini terkesan kaku, tidak bergaya, karena saya tidak cakap dalam bergaya atau berlebay-lebay ria…hehe. Ya, harap maklum karena saya bukan seorang ‘pencerita yang tangguh’. Kita mulai pada tahun pertama (1914).
Tahun 1914
28 Juni: Terjadi pembunuhan terhadap Archduke Franz Ferdinand beserta isterinya. Pembunuhan ini terjadi di Sarajevo (sekarang ibukota Bosnia & Herzegovina) dan dilakukan oleh kelompok radikal Bosnia-Serbia, Gavrilo Princip.
23 Juli: Austria-Hungaria memberikan ultimatum berisi 10 (sepuluh) tuntutan kepada Serbia.
25 Juli: Serbia menerima 8 dari 10 ultimatum di atas. Sikap Serbia ini tidak disetujui oleh Austria-Hungaria dan sebagai imbasnya, putuslah hubungan diplomatik antara kedua negara.
26 Juli: Kekuatan-kekuatan Eropa mulai menggeliat dan bergerak.
28 Juli: Austro-Hungaria mengumumkan perang melawan Serbia.
29 Juli: Kapal-kapal perang Austro-Hungaria yang bersiaga di Sungai Danube membombardir Beograd (ibukota Serbia). Serbia tidak tinggal diam dan membalas serangan ini.
1 Agustus: Jerman mengumumkan perang melawan Rusia.
3 Agustus: Jerman mengumumkan perang melawan Prancis dan Belgia.
4 Agustus: Jerman menduduki Belgia. Pada waktu yang sama, Britania menyatakan perang terhadap Jerman, sedangkan Amerika Serikat bersikap netral.
5 Agustus: Schlieffen Plan yang dirancang oleh pihak Jerman di bawah komando Lundendorff dilanggar di kota Liege.
6 Agustus: Austro-Hungaria mendeklarasikan perang melawan Rusia berbarengan dengan tantangan Serbia kepada Jerman.
7 Agustus: British Expeditionary Force (BEF) tiba di Prancis dan mulai menduduki daerah Mons, Belgia.
12-21 Agustus: Austro-Hungaria yang berkekuatan 200.000 orang tentara menduduki Serbia. Pasukan ‘tuan rumah’ yang kalah jumlah bertarung habis-habisan untuk mempertahankan diri dalam pertempuran di Sungai Jadar. Luar biasa! Mereka berhasil mengusir pasukan Austro-Hungaria pada tanggal 16 Agustus 1914.
14-22 Agustus: Tentara Prancis menyerang Lorraine, Jerman melakukan serangan balik, memaksa Prancis pulang kandang ke Nancy.
16 Agustus: Liege menyerah pada First Army dan Second Army Jerman yang merangsek wilayah tersebut lewat Sungai Meuse. Tentara Belgia menyerah.
17-19 Agustus: Tentara Rusia menduduki Prusia Timur namun berhasil ditahan oleh Eight Army Jerman. Rusia dipukul mundur hingga perbatasan.
18 Agustus: Tentara Belgia kalah bertempur dan mundur ke kota Antwerp. Di sana ternyata telah menunggu tentara Jerman dan memaksa mereka untuk melarikan diri hingga perbatasan Prancis.
19 Agustus: Presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson, dalam pidatonya di hadapan Senat, menatakan bahwa Amerika Serikat harus tetap bersikap netral ‘untuk menyalamatkan jiwa umat manusia’.
20 Agustus: Tentara Jerman merebut kota Brussels (ibukota Belgia). Hindenburg dan Ludenhoff mengambil komando tentara untuk front Timur.
20-25 Agustus: Prancis mengalami kekalahan besar dalam pertempuran di wilayah Selatan Belgia dan Luksemburg. Mereka dipukul mundur hingga Sungai Meuse dan Sungai Marne dekat daerah Verdun.
23-27 Agustus: Sementara itu, di Mons, BEF bertempur melawan First Army Jerman yang dipimpin oleh Kluck dan pihak Inggris dipaksa menyerah.
26-31 Agustus: Tentara Austro-Hungaria bergerak menuju Polandia dengan mengitari daerah rawa-rawa Pripet. Pada waktu bersamaan Rusia menderita kekalahan telak dari Jerman dalam Pertempuran Tannenberg dan pendudukan mereka di Prusia Timur berakhir.
5-10 September: Jerman mendapatkan serangan balik dari dua pihak, Inggris dan Prancis, dalam Pertempuran Marne.
7-18 September: Pertempuran di Sungai Drina. Tentara Austro-Hungaria melancarkan misi kedua ke Serbia. Tentara Serbia yang dipimpin oleh Putnik menarik diri dan bertahan di Beograd.
9 September: Jerman dipukul mundur dalam Pertempuran Marne dan lari ke Noyon dan Verdun. Pertempuran berakhir dan gagallah Schlieffen Plan. Tentara Belgia menyerang Jerman di luar Antwerp.
9-14 September: Jerman menyerang Rusia di Masuria dan berhasil mengusir Rusia dari daerah itu.
14 September: Dari pihak Jerman, General Staff Moltke diganti oleh Falkenhayn.
15-18 September: Tentara Sekutu yang dipimpin oleh Joffre menyerang tentara Jerman dalam Pertempuran Aisne, namun penyerangan ini tidak membawa hasil. Dalam serangkaian manuver, sekutu berhasil unggul dalam peristiwa yang dikenal dengan nama ‘Race to the Sea’.
22 September: U-boat milik Jerman, U-9, menenggelamkan tiga kapal cruiser Inggris (Aboukir, Hogue dan Cressy) di lepas pantai Belanda. Jumlah korban serangan ini adalah 1.400 orang. Sebagai reaksinya, Inggris mengadakan serangan udara untuk pertama kalinya terhadap Jerman.
22-24 September: Pertempuran Artois.
28: Ninth Army di bawah pimpinan Hindenburg mulai mendesak posisi Rusia di wilayah selatan Warsawa.
6-8 Oktober: Tentara Belgia dievakuasi dari Antwerp.
10 Oktober: Antwerp jatuh ke tangan Jerman.
13: Untuk pertama kalinya Kanada mengirimkan tentaranya ke Inggris.
16-17 Oktober: Tentara ANZAC berangkat ke Eropa.
19 Oktober: Tentara Sekutu yang dipimpin oleh Haig melakukan serangan balik di Flanders. Peristiwa ini dikenal sebagai ‘First Battle of Ypres’.
29 Oktober: Turki menyatakan perang terhadap Rusia, Prancis, dan Inggris. Peristiwa ini ditandai dengan pemblokiran Selat Dardanelle.
2 Nopember: Serbia dan Rusia menyatakan perang terhadap Turki.
3-4 Nopember: Afrika Timur yang dikuasai oleh Jerman mendapatkan serangan dari pihak Inggris. Tentara Inggris menyerang daerah ini melalui pelabuhan Tanga, namun serangan ini digagalkan oleh Lettow-Vorbeck. Pertempuran Afrika Timur menjadi awal gerilya Jerman melawan Inggris selama empat tahun.
5 Nopember: Inggris dan Prancis menyatakan perang melawan Turki.
7 Nopember: Tentara Jerman yang berada di Tsingtao, Cina, menyerah dari Jepang. Sedangkan Jerman kehilangan 700 orang tentara.
12 Nopember: Datangnya musim dingin mengakhiri membuat ‘First Battle of Ypres’ terhenti. Banyak korban jiwa yang diderita oleh Sekutu. Di perbatasan Laut Utara hingga Swiss banyak dibangun parit.
11-25 Nopember:  Jerman meluncurkan Ninth Army untuk menghadapi Rusia di Galicia. Statistik pertempuran ini adalah 35.000 korban jiwa pada pihak Jerman dan 100.000 korban jiwa pada pihak Rusia.
2 Desember: Tentara Austro-Hungaria menduduki Beograd.
3-9 Desember: Tentara Serbia di bawah pimpinan Putnik menyerang tentara Austro-Hungaria dalam Pertempuran di Sungai Kolubara. Serangan Serbia ini berhasil mengusir Austro-Hungaria dari negara tersebut.
14-24 Desember: Sekutu memulai serangan besar-besaran di sepanjang front Barat namun kurang berhasil.
25 Desember: Jerman dan Inggris menyatakan gencatan senjata untuk menghormati hari Natal. Gencatan senjata ini berlangsung selama satu pekan.

Download : Kronologi Perang Dunia I (Bagian I)

3 April 2011

Konstantin Chernenko: Bolshevik Terakhir

Jungkir-baliknya sejarah memang sangat unik, menarik, lagi mengejutkan. Kejadian-kejadian dalam sejarah seringkali melahirkan 'the special one' yang tadinya tidak dikenal, bahkan oleh tetangga sebelahnya sekalipun. Seseorang dapat mendadak berubah menjadi orang penting, pemimpin, penjahat, dibenci, dan sebagainya. Fenomena inilah yang dialami oleh orang-orang penting dalam percaturan politik dunia, tak terkecuali Konstantin Chernenko. Sebelumnya orang tidak menganggap keberadaannya sama sekali. Hingga pada suatu ketika pada awal dekade 1980an ia seakan-akan muncul sebagai seorang pemberani di tengah situasi yang mengancam eksistensi negara Uni Soviet.

Karir politik Chernenko diawali pada tahun 1971, saat ia resmi menjadi anggota penuh Komite Sentral yang salah satu tugasnya adalah mengawasi kegiatan partai. Lebih khususnya, Chernenko ditugaskan pada bagian Biro Surat (Letter Bureau) yang mengurusi korespondensi. Lima tahun berikutnya, Chernenko terpilih sebagai sekretaris Biro Surat . Perjalanan karir selanjutnya ialah menjadi Candidate (1977) dan resmi diangkat sebagai anggota penuh Politburo pada tahun 1978. Dalam Politburo, Chernenko berada di bawah perintah langsung Sekretaris Jenderal Partai. Menjelang akhir pemerintahan Leonid Brezhnev Chernenko semakin memantapkan reputasinya dalam kerja Partai. Ia mendampingi Brezhnev dalam rapat dan konferensi penting dan ikut dalam keanggotaan komisi yang melakukan revisi Konstitusi Negara Uni Soviet. Selain itu, Chernenko juga menambah poin reputasinya dengan ikut serta dalam perundingan pembatasan senjata di Wina, Austria.

Setelah Brezhnev meninggal pada tahun 1982, banyak pengamat yang memprediksikan bahwa jabatan Sekretaris Jenderal Partai Komunis akan jatuh ke tangan Konstantin Chernenko. Namun, dalam prakteknya ia ternyata belum cukup tangguh untuk menggalang suara massa dan kalah populer dari Yuri Andropov, mantan ketua KGB. Sejarah ternyata berkata lain. Andropov hanya bertahan selama 15 bulan karena meninggal dunia pada tahun 1984. Chernenko tanpa hambatan menggantikan kedudukannya. Sebenarnya naiknya Chernenko ini di luar harapan Andropov yang lebih menginginkan Mikhail Gorbachev sebagai penggantinya kelak. Dalam sebuah memoir yang ditulis oleh Yuri Ligachev, diceritakan bahwa Chernenko terpilih sebagai sekretaris jenderal tanpa hambatan. Dalam sebuah sesi pertemuan Komite Sentral tanggal 13 Pebruari 1984, beberapa hari setelah Andropov mangkat, Ketua Dewan Menteri dan sekaligus anggota Politburi, Nikolai Tikhonov mengemukakan bahwa Komite telah memutuskan Konstantin Chernenko sebagai Sekretaris Jenderal yang baru menggantikan Yuri Andropov. Tikhonov mengatakan, 'It's okay, Kotsya (panggilan Chernenko) is an agreeable guy (pokladisty muzhik), one can do business with him...'. Dengan kata lain, Politburo gagal meng-gol-kan Gorbachev yang secara nominal menjadi orang kedua Chernenko. Dari sini muncul keraguan akan duet penggerak Politburo ini. Nikolay Ryzhkov meragukan sikap Gorbachev kelak setelah Chernenko terpilih sebagai Sekjen partai, 'Every Thursday morning he (Mikhail Gorbachev) would sit on his office like a little orphan -- I would often be present at this sad procedure -- nervously awaiting a telephone call from the sick Chernenko: Would he come to the Politburo himself or would he ask Gorbachev to stand in for him this time again?'

Terpilihnya Chernenko membuka kembali karakteristik kebijakan Uni Soviet era Leonid Brezhnev. Meskipun demikian, ada sedikit perbedaan di mana Kostya juga memikirkan peran serikat buruh, dan reformasi dalam bidang pendidikan dan propaganda. Satu perubahan besar yang tergolong berani ia lakukan ialah pemecatan Staf Jenderal, Nikolay Organov. Alasan pemberhentian Organov ini ditengarai karena usulannya untuk mengurangi belanja barang konsumen agar memperbanyak anggaran untuk riset dan pengembangan senjata. Dalam urusan luar negeri, Chernenko membuat kebijakan perdagangan dengan Republik Rakyat Cina. Ia juga tidak mempedulikan usulan untuk melakukan perbaikan hubungan dengan pihak Barat sehingga memicu ketegangan baru dengan Amerika Serikat. Soviet di bawah Chernenko pernah melarang Erich Honecker, pemimpin Jerman Timur, untuk berkunjung ke Jerman Barat.

Karena kesehatannya terganggu, Chernenko jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan selama satu bulan. Dalam keadaan ini, Chernenko masih tetap memaksakan diri untuk mengendalikan Politburo dengan mengirimkan catatan dan surat kepada sekretariat jenderal. Setelah mengalami fase kritis, akhirnya Chernenko tidak lagi mampu bertahan dan menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 10 Maret 1985. Meninggalnya Chernenko ini membuat Soviet kehilangan tiga orang pemimpin dalam waktu dua tahun. Presiden AS waktu itu, Ronald Reagan, mengeluarkan pernyataan, 'how am I supposed to get anyplace with the Russians if they keep dying on me?' Jenazah Konstantin Chernenko dimakamkan di Kremlin Necropolis dan menjadi orang terakhir yang dimakamkan di tempat tersebut.

Data diri Chernenko
Nama lengkap: Konstantin Ustinovich Chernenko
Tempat, tanggal lahir: Bolshaya Tes, 24 September 1911
Tempat, tanggal meninggal: Moskow, 10 Maret 1985
Karir Politik:
1971-1976
Anggota Komite Sentral bagian Biro Surat
1977-1978
Candidate dan anggota penuh Politburo
01/11/1982-13/02/1984
Wakil Sekretaris Partai Komunis Uni Soviet
13/02/1984-10/03/1985
Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet
11/04/1984-10/03/1985
Ketua Presidium 'Supreme Soviet'

Tiyo Widodo thanked to  Ilya Zemtsov (Chernenko the last Bolshevik: the Soviet Union on the eve of Perestroika, 1992) and en.wikipedia.org

Eropa menuju tatanan baru pasca-perang dingin

Judul buku: The Shape of the New Europe
Pengarang: Gregory F. Treventon
Tahun terbit:  1992
Penerbit: Council on Foreign Relations

Ungkapan "common European home" memiliki sejarah yang lumayan panjang. Salah satu orang yang pertama kali memperkenalkan ungkapan ini ialah Andrei Gromyko, Menlu Uni Soviet, tepatnya pada tanggal 18 Januari 1983. Gromyko mengemukakannya tatkala berkunjung ke kota Bonn, yang kala itu menjadi ibukota Republik Federasi Jerman (Jerman Barat). "both the FRG and the Soviet Union live in one European house, under one roof," demikian ujar Gromyko. Penegasan 'politis' ini seperti meredam kecemasan menyusul adanya rencana peluncuran rudal berhululedak nuklir milik Amerika Serikat, Pershing IIs, dan selang beberapa pekan saja sebelum berlangsungnya Pemilu Jerman Barat, yang hasilnya memberikan kepastian bahwa 'krisis nuklir' era 1980an ini berhasil dinetralisasi lewat resolusi NATO.

Waktu dan keadaan memang harus berubah. Masa-masa mencemaskan, "Perang Dingin Kedua", yang berlangsung dari era 1970an hingga pertengahan 1980an , lambat laun berlalu, seiring munculnya reaksi positif terhadap sikap 'ramah' Mikhail Gorbachev. Eropa khususnya, dan dunia umumnya saat itu terjangkit 'sindrom Gorbymania'.  Pihak Moskow tak lagi sedingin temperaturnya. Keterbukaan mulai mengemuka terlepas dari keraguan situasi dalam negeri negara tersebut. Boleh saja pihak yang menentang Soviet menganggap pernyataan Gromyko sebagai sesuatu yang tiada artinya. Namun, setidaknya Soviet telah berusaha mempertunjukkan pernyataan yang jujur tentang di mana letak mereka berada. Ya, di mana lagi kalau bukan di Eropa? Momentum keterbukaan Uni Soviet dan mulai 'hangatnya' temperatur yang dihembuskan oleh Perang Dingin menandai lahirnya sebuah prakarsa untuk menciptakan Eropa baru; kawasan Eropa yang berasaskan demokrasi, bukan kawasan yang terbagi-bagi menjadi blok Barat dan blok Timur.

Runtuhnya komunisme di Eropa Timur pada tahun 1989 (menyusul bubarnya Uni Soviet) menghapus perseteruan antara blok Barat dan blok Timur yang telah mewarnai dunia selama empat dekade. Meskipun peristiwa historis ini memunculkan masalah baru terkait penataan ulang basis keamanan di kawasan Eropa. Pendapat umum politisi mengatakan bahwa jika Eropa menginginkan sebuah keadaan yang 'benar-benar bebas', maka kawasan ini harus membentuk sebuah pakta keamanan baru yang menyatukan Eropa Barat dan Eropa Timur. Jika langkah ini tidak dilakukan, maka stabilitas dan iklim penyatuan tidak akan bertahan lama. Integrasi Eropa Timur ke dalam pakta keamanan baru akan melahirkan tantangan politik yang tak mudah untuk dijinakkan oleh pihak Barat, khususnya Masyarakat Eropa. Menjelang pecahnya revolusi  1989, ME seperti begitu mudah menyusuri jalan menuju integrasi pasar internal tunggal yang ditargetkan menjadi kenyataan pada tahun 1992 (yang sebenarnya memberikan tantangan yang tak kalah serius pula bagi mereka). Akan tetapi, revolusi menentang komunisme ternyata menimbulkan masalah baru dan mengganggu usaha integrasi. ME dihadapkan pada sebuah dilema: antara mendukung demokratisasi dan mengadakan reformasi Eropa Timur tanpa menganggu stabilitas yang tengah dicapai oleh Eropa Barat.

Revolusi anti-komunisme belum selesai ditangani, terjadilah pergolakan lagi. Ialah peristiwa reunifikasi Jerman. Eropa disibukkan oleh perubahan besar-besaran yang menyita waktu, tenaga, dan biaya. Keputusan yang tepat harus segera dibuat, dan untuk merespon situasi ini tidak ada kata selain "mewujudkan unifikasi secepat dan setepat mungkin." Kiranya demikian sikap yang harus ditunjukkan karena jika ME mempersulit unifikasi, maka situasi akan menjadi runyam, dan visi integrasi 1992 akan sekedar impian. Apalagi, Jerman Barat (bersama Prancis) adalah aktor utama penggerak organisasi ME kala itu. Hasrat Jerman menuju unifikasi diharapkan tidak menyebabkan hilangnya komitmen Bonn terhadap proses integrasi ekonomi dan politik Eropa secara keseluruhan.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.