Pages

4 February 2011

Pemerataan Penduduk dan Kegiatan Untuk Kelestarian Lingkungan

Barangkali semua pencinta lingkungan telah mengetahui apa itu pencemaran, penyebab, akibat, berikut cara penanggulangannya. Maka dari itu tidak perlu diuraikan dalam tulisan ini. Tulisan ini akan mengutarakan tanggapan terhadap gerakan penanaman kembali atau penghijauan. Gerakan penghijauan dilakukan untuk melestarikan lingkungan. Penghijauan sangat penting sebagai penyeimbang kegiatan pembukaan lahan untuk perumahan, industri, dan fasilitas-fasilitas lain yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia.

Kerusakan lingkungan akibat pemusatan kegiatan

Indonesia telah mengenal otonomi daerah yang memiliki hakikat pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Kebijakan otonomi daerah ini ialah untuk memberdayakan potensi daerah, yang salah satunya bertujuan "menahan" sumber daya setempat, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, untuk mempergunakan sebaik-baiknya kelebihan yang dimiliki untuk kemakmuran daerah setempat.

Namun demikian, dalam prakteknya pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya belum terlaksana secara optimal. Sebagian masyarakat masih mengandalkan daerah-daerah tertentu sebagai tempat yang layak bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan. Urbanisasi terus terjadi sehingga wilayah perkotaan, yang memiliki fasilitas kegiatan lebih lengkap dibandingkan wilayah pedesaan, semakin penuh sesak oleh penduduk. Akibat buruk dari terlalu sesaknya penduduk ini maka wilayah kota lebih rawan menderita pencemaran lingkungan. Segala macam kegiatan berlangsung pada satu tempat sehingga keadaan lingkungan tempat tersebut menjadi tidak layak huni. Dampak negatif kegiatan ini menyebabkan pencemaran tanah, udara, air, dan suara. Betapa merananya lingkungan pada tempat itu.

Indonesia adalah sebuah negara yang luas. Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa sehingga menjadi incaran dan primadona bagi bangsa lain. Namun, sangat disayangkan bahwa kekayaan alam ini tidak dimanfaatkan secara baik. Masyarakat masih berpikir sentralistik, dalam arti mengunggulkan satu daerah di atas daerah lain sebagai tempat untuk memperoleh penghasilan. Paradigma masyarakat ini memang tidak selamanya dipersalahkan mengingat pemerintah sendiri sepertinya tidak memiliki visi yang luas dengan memusatkan kegiatan-kegiatan yang signifikan bagi pembangunan bangsa pada satu atau beberapa tempat saja. Pemerataan pembangunan sekedar semboyan, sekedar idealisme yang belum kunjung menjadi kenyataan berarti. Sentralisasi kegiatan membuat keadaan lingkungan tempat berlangsungnya kegiatan menjadi terancam kelestariannya. Karena beban yang teramat berat, maka kadar kerusakan yang terjadi menjadi sangat parah. Dari sini kemungkinan muncul pendapat umum bahwa lingkungan kita telah sedemikian tercemari. Padahal, kerusakan tersebut terjadi pada beberapa tempat saja, sementara masih banyak tempat lain yang masih ijo royo-royo (1). Kampanye penghijauan dikumandangkan ke seluruh pelosok negeri disertai dengan himbauan dan penyuluhan ini dan itu. Seolah-olah semua masyarakat Indonesia ini adalah pencemar lingkungan. Kita tidak dapat menyamaratakan pendapat seperti ini. Boleh saja orang bertanya, "lho, yang mencemarkan lingkungan itu siapa sebenarnya?"

Akan tetapi, bukan berarti bahwa tanggung jawab kelestarian lingkungan bukan sekedar dibebankan pada beberapa orang. Tanggung jawab tetap kita pikul bersama. Untuk melembagakan rasa ikut memiliki ini maka kita harus melakukan pemerataan kegiatan. Salah satu langkahnya ialah dengan menyeimbangkan jumlah penduduk antara satu tempat dan tempat lainnya. Langkah berikutnya ialah menyediakan sarana kegiatan yang dapat memenuhi kebutuhan penduduk setempat; tentu saja sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing. Sebuah tugas berat menanti, khususnya para pembuat kebijakan, untuk menarik perhatian masyarakat agar menyebar dan berpencar, bukan berkerumun pada satu titik saja. Telah terbukti bahwa kepadatan penduduk meningkatkan resiko kerawanan sosial, lingkungan, dan kesehatan. Lantas, apakah yang kita tunggu sebenarnya?

Pemerataan penduduk bukan tidak menimbulkan masalah. Tentu saja akan muncul masalah baru karena penempatan penduduk ke daerah-daerah yang masih perawan dari jamahan manusia beresiko mengubah keragaman hayati daerah tersebut. Di sinilah kecerdasan kita akan teruji. Peranan dari kalangan cendekia sangat signifikan. Mereka harus memiliki perhitungan yang cermat di dalam menempatkan pusat-pusat kegiatan yang sesuai dengan karakteristik suatu daerah dan menempatkan sumber daya manusia yang benar-benar mampu menjalankan kegiatan tersebut dengan berwawasan lingkungan. Jika hal ini mampu dilaksanakan dengan baik maka setidaknya akan mengurangi beban pencemaran yang diderita oleh suatu daerah akibat terlalu padatnya penduduk berikut dinamikanya.  

Indonesia ini kaya akan banyak hal. Tidak selayaknya orang merasa ketakutan karena tidak kebagian hasil jika tinggal dan mencari kebutuhan hidup di daerah-daerah yang tidak populer. Dampak pemerataan penduduk dan kegiatan akan berpengaruh sangat positif bagi kelestarian lingkungan. Keseimbangan alam akan terjamin karena kadar pencemaran lebih terkendali. Pun jika terjadi pencemaran, dan ini pasti akan terjadi, lingkungan lebih mampu beradaptasi.

Mampukah kita melakukannya? Sanggupkah kita meninggalkan hingar-bingar kehidupan di mana trend kehidupan masa kini menggoda kita untuk ikut bergabung ke dalamnya? Mari kita cari jawabannya di dalam nurani kita masing-masing.  

(1) : hijau berseri-seri

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.