Pages

5 January 2011

Lindungilah Sepakbola Indonesia dari Politisi yang Terkutuk

Insan sepakbola Indonesia tentu saja menginginkan agar sepakbola mampu berbicara sebagai representasi bangsa Indonesia. Insan sepakbola Indonesia tidak mempedulikan siapa yang bermain "di balik layar" keberhasilan dan kemunduran sepakbola nasional. Insan sepakbola Indonesia hanya ingin menyaksikan sepakbola dapat menjadi salah satu modal kekuatan untuk menunjukkan kejayaan bangsa di arena dunia.

Sebuah kenyataan yang unik, bahwasanya dari segi prestasi sepakbola nasional masih berada pada jajaran bawah peta kekuatan dunia. Namun, kita saksikan antusiasme rakyat terhadap olahraga ini. Sepakbola menjadi olahraga paling digemari oleh seluruh negeri meskipun prestasinya secara historis kalah dari bulutangkis atau tinju, atau cabang olahraga lainnya.
 Sepakbola seakan menjadi "nation's sweetheart" yang kehadirannya membuat "gundah-gulana", bagaikan seseorang terpanah asmara. Sayang sekali, sepakbola Indonesia lebih sering menjadi "heart-breaker" bagi para pemujanya. Cinta yang tiada akhir, itulah yang tersemat di dalam dada setiap orang yang mencintai sepakbola Indonesia.

Maka dari itu, janganlah kecintaan yang tulus ini; kepasrahan yang seutuhnya ini, dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan. Seperti inilah kelihatannya warna sepakbola Indonesia saat ini. Antusiasme yang meledak-ledak dijadikan manuver untuk saling menjatuhkan, mencaci-maki. Massa termakan oleh sebuah skenario yang entah untuk apa skenario itu dibuat.

Sepertinya begitu melelahkan penantian ini. Lelah menunggu kejayaan di dalam lapangan dan lelah menunggu kesadaran pihak-pihak yang secara tidak berperikemanusiaan memanfaatkan semangat yang murni demi harga diri yang sesungguhnya tak lebih baik dari alas kaki.

Janganlah kalian berbuat demikian. Janganlah sakiti tulusnya cinta kami kepada Merah-Putih. Kami telah sedemikian rupa bersabar; seluas samudera teduh kesabaran kami. Sekali lagi, samudera teduh....yang tatkala mengalami pasang dapat sewaktu-waktu menenggelamkanmu, meluluhlantakkan bahtera keangkuhanmu hingga berkeping-keping.

Menunggu citra kemuliaan, cahaya keagungan dari mereka yang dianggap lebih mampu menakhodai kapal di tengah amukan gelombang sepertinya ibarat "menanti sesuatu yang tak pasti." Maka dari itu, mungkin....ya sekedar mungkin, telah tiba saatnya untuk bergerak; bergerak tanpa jeratan dari pihak-pihak berkepentingan, untuk membuktikan bahwa sepakbola Indonesia adalah milik rakyat Indonesia, bukan milik si A, B, C, D, E, dan seterusnya.

Manakala kesadaran semakin sirna oleh rumitnya sebuah rencana, maka kitalah, kita semua yang berada di luar "lingkaran maut" itu, yang sebaiknya menentukan masa depan. Percayalah, kekuatan itu adalah milik kita, bukan milik mereka. Mereka tidak memiliki apa-apa tanpa hadirnya kita. Mereka hanyalah sekelompok penghasut yang menipu kita dengan sabda-sabda mulia namun palsu belaka.

Bergerak ke muka seiring aliran darah kita. Yakinlah bahwa tulang-tulang kita akan kuat mengemban tugas yang maha berat ini. Hanya semangat yang membara sebagai penawarnya. Semerah darah yang mengalir dengan niat seputih tulang yang berderap melangkah. Sementara hati tetap murni, sebening embun, titik air hujan, kristal, jendela kaca, dan air jernih. Hanya dengan kejernihan inilah merah-putih akan berkibar gagah di angkasa.

Jayalah sepakbola Indonesia!

2 comments:

Anisayu said...

Tentang sepak bola ; waow mantaffff

Dewata Teknologi | Adis said...

Memang tidak bisa dipungkiri masih ada unsur politik dalam persepakbolaan Indonesia, sungguh disayangkan..

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.