Pages

28 January 2011

Horahore Sepakbola Indonesia

Sepakbola Indonesia sedang mengalami masa yang sulit. Terjadi ketegangan dua kubu yang saling ber"musuhan" terkait dengan kontroversi yang terjadi di dalam organisasi sepakbola nasional, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Gelombang tuntutan mundur yang dialamatkan kepada Nurdin Halid dari kursi Ketua Umum PSSI semakin kuat. Bahkan, seperti tidak mempedulikan kemenangan yang di raih dalam sebagian besar pertandingan di AFF Suzuki Cup 2010, tuntutan untuk mundur tidak terelakkan. Sementara itu Nurdin Halid mengatakan bahwa desakan mundur ini sebagai hal yang "aneh". Dalam sebuah wawancara Nurdin menyatakan keheranannya, bahwa tuntutan mundur kepada ketua organisasi olahraga pada saat tim meraih kemenangan adalah hal yang tidak masuk akal. Nurdin menuding ini sebagai rekayasa berbentuk penggalangan massa oleh pihak-pihak yang berseberangan dengan dirinya.

Sepakbola Indonesia penuh dengan intrik dan kontroversi. Sangat sulit menentukan pihak mana yang salah dan pihak mana yang benar. Hal ini disebabkan oleh terlibatnya berbagai kepentingan di dalamnya. Apapun cara yang digunakan oleh "demonstran" menunjukkan bahwa PSSI dalam keadaan yang tidak solid dan sehati. Bagi pihak "oposisi", sikap Nurdin Halid dan sejumlah pengurus teras PSSI boleh dianggap arogan, keras kepala, dan mau menang sendiri. Bagi pihak "supporter" Nurdin, tindakan "pemberontakan" ini dianggap menyalahi aturan organisasi sehingga tidak layak lagi untuk dilindungi dan diayomi.

Liga Primer Indonesia

Setelah momentum Kongres Sepakbola Nasional (KSN) yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kelompok yang berseberangan dengan Nurdin Halid kemudian menyusun sebuah ide. Dengan ujung tombak pendanaan dipegang oleh Arifin Panigoro, pemilik Perusahaan Medco dan Bank Saudara, kelompok tersebut kemudian membentuk sebuah konsorsium sebagai cikal bakal kompetisi tandingan Liga Super Indonesia, yakni Liga Primer Indonesia. LPI, yang oleh pers Inggris disebut "Indonesian rogue league" akhirnya jadi bergulir setelah diwarnai saling ancam antara para pemrakarsanya dan PSSI. Sebagian klub Liga Super memutuskan keluar dari kompetisi dan bergabung dengan LPI. Sebuah keadaan yang tidak kondusif bagi persepakbolaan nasional. Sangat bertolak belakang dengan euforia insan sepakbola Indonesia yang tengah mengelu-elukan penampilan tim nasional (meskipun akhirnya gagal menjuarai Piala AFF).

Irfan Bachdim

Adalah sesosok bakat muda kelahiran negeri Belanda bernama Irfan Bachdim yang sepertinya dijadikan "kartu as" bagi LPI untuk menggusur kekuatan PSSI. Bachdim memang sedang digandrungi oleh banyak orang sekarang ini. Ia memiliki modal penampilan fisik yang "menjual" sehingga eksistensinya dalam LPI sangat signifikan. Bagi Bachdim sendiri, mungkin yang penting ialah bermain sepakbola, menghibur sekaligus menyumbangkan prestasi bagi tim yang dibelanya. Namun demikian, penempatannya sebagai "kartu as" ini tidaklah sehat. Dari fenomena Bachdim ini terlihat adanya aksi "siapa jual, siapa berani beli". PSSI sendiri sedikit "limbung" manakala Bachdim memutuskan untuk tetap membela Persema Malang yang notabene anggota LPI. Sikap reaksioner yang emosional ditunjukkan oleh PSSI dengan mengancam mencoret siapa saja pemain nasional yang bergabung dengan LPI. Alhasil, aksi "baku mulut" terjadi. Saling tuding, saling hujat dan saling ancam. Sungguh-sungguh menyebalkan.

Integritas dan pengabdian berasaskan kebersamaan


Semua berawal dari visi yang diemban manakala membawa sebuah organisasi yang memuat tanggung jawab kepada khalayak ramai. PSSI sebagai top organization sepakbola Indonesia adalah harapan bagi insan sepakbola nasional, dari lapisan manapun. Akan tetapi kinerjanya seperti terbelenggu oleh sebuah visi untuk meraih keuntungan kelompok. Sedangkan kemunculan LPI sendiri penuh kontroversi. Terlalu pagi kiranya jika kita nilai LPI membawa aspirasi murni masyarakat. Masyarakat Indonesia saat ini sangat reaksioner. Kasihan sekali mereka dijejali oleh problema kompleks dari waktu ke waktu sehingga tiada jeda untuk menghela nafas. Bangsa Indonesia memerlukan penawar kegundahan yang benar-benar membawa visi untuk keuntungan bersama. Jika diibaratkan sebuah media transportasi, bangsa Indonesia layaknya sekumpulan pengendara mobil pribadi atau motor yang berusaha untuk mencari jalan pintas karena terjebak oleh kemacetan. Akibatnya, siapa yang menemukan jalan pintas itu akan lebih cepat sampai tujuan, sedangkan yang tidak kebagian akan terjebak dalam kemacetan tersebut. Kita perlu mengubah diri menjadi sebuah kereta api berikut gerbong-gerbongnya. Kereta api memiliki satu lintasan saja. Jika dalam situasi terburuk dan terfatal, terjadi insiden anjloknya lokomotif atau gerbong, maka semuanya akan merasakan. Kebersamaan inilah yang sepertinya semakin hilang ditelan oleh zaman.

Sangat bertentangan dengan prinsip sebuah tim sepakbola, yang merupakan olahraga beregu. Justru kita saling mendahului dan saling mementingkan keuntungan sendiri. Inilah koreksi yang musti dilakukan oleh segenap insan sepakbola nasional. Ketahanan mental untuk tetap bersatu padu tengah diuji oleh semangat individualisme yang semakin mengemuka. Pengabdian kepada kejayaan bangsa, khususnya sepakbola dan olahraga, terganggu oleh aroganisme satu dengan yang lainnya.

Sampai kapan pertikaian ini akan berakhir?

No comments:

Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.