Pages

21 December 2010

Rapor Tim Piala AFF 2010

LAOS

Selepas membuat "shockwave" dunia persepakbolaan Indonesia pada SEA Games 2010, Laotians ternyata belum matang betul untuk bersaing pada tingkat senior. Namun demikian, polesan Alfred Riedl betul-betul terasa. Kegagalan Laos adalah perkara mental bertanding yang belum mantap jika melawan tim yang pengalamannya di atas mereka, meskipun proposisi ini belum tentu signifikan, mengingat mereka berhasil menahan Thailand. Bermain di bawah tekanan pendukung tuan rumah membuat pemain-pemain Laos kehilangan konsentrasi. Alhasil mereka kalah besar. Prospek masa depan Laos cerah karena berintikan pemain muda.

MYANMAR

Myanmar yang menurut saya "Dannish Dynamites"-nya Asia Tenggara memiliki pekerjaan rumah yang lumayan berat selepas generasi asuhan Ivan Kolev. Myanmar menjadi tim yang lemah dan lumbung gol bagi lawan-lawannya. Jika hal ini tidak diperbaiki, negara yang pada masa lalu memiliki tim kuat di Asia ini akan semakin kerepotan menghadapi persaingan Asia Tenggara yang semakin ketat.

THAILAND

Thailand adalah raja sepakbola kawasan Asia Tenggara. Eksistensinya senantiasa menjadi ancaman bagi lawan-lawannya, termasuk Indonesia. Sayang sekali, pengalaman sejumlah pemain seperti hilang begitu saja, tidak mampu memotivasi para pelapisnya. Sepanjang turnamen, Thailand tidak menunjukkan kualitasnya sebagai tim favorit juara. Mereka mudah terpancing emosi, kurang tenang dan terburu-buru dalam penyelesaian akhir. Para pemain tampil di bawah standar mereka. Nampaknya Bryan Robson kurang mampu meracik komposisi sehingga agresivitas mereka tak terlihat. Terlepas dari prestasi buruk ini, Thailand tetaplah yang terkuat di Asia Tenggara.

SINGAPURA

Berita terakhir menyebutkan bahwa pihak Singapura menyalahkan mutu Liga Indonesia yang membuat para pemain pilar mereka yang merumput di ISL bermain di bawah standar. Akan tetapi, pendapat ini tidak memiliki dasar yang kuat. Singapura terkenal dengan konsentrasi dan organisasi permainan yang disiplin. Kedisiplinan ini memerlukan fisik yang prima. Skuad Singapura pada Piala AFF 2010 tidak sebugar periode-periode lalu. The Lions perlu regenerasi untuk menggantikan sejumlah pemain yang telah dimakan usia dan melewati masa puncaknya.

MALAYSIA

Juara SEA Games 2010. Malaysia datang menuju turnamen dengan modal yang berharga sebagai kampiun tingkat yunior. Pemain-pemain mereka memiliki potensi besar untuk membangkitkan kembali prestasi Harimau yang dalam satu dekade ini tenggelam. Berbeda dari rekan seangkatan mereka di tim Laos, Pemain-pemain Malaysia lebih memiliki ketenangan dalam bermain. Pada saat dikalahkan 1-5 oleh Indonesia, sebenarnya Malaysia bermain bagus, taktis, efektif, dan cepat. Pengalamanlah yang mereka butuhkan untuk kembali menjadi tim terkuat Asia Tenggara.

FILIPINA

Langkah Filipina meniru Singapura, meskipun sebenarnya pemain-pemain asing yang mereka rekrut tidak "se-asing" The Lions lantaran ada beberapa yang merupakan keturunan campuran Filipina. Kebijakan PFF ini terbukti manjur. The Azkals Army tengah terbayang kejayaan masa lalu, manakala sukses dalam kejuaraan Far Eastern Games. Bermaterikan pemain-pemain yang merumput di liga Eropa dan Amerika, Filipina berhasil meraih simpati publik Asia Tenggara dengan menembus semifinal. Mereka layak disebut sebagai "Team of the Tournament". Filipina tinggal mengasah kerjasama tim dan tidak terlalu bertumpu pada the Younghusbands agar permainan tidak monoton. Mereka memiliki potensi besar untuk itu.

VIETNAM

Menggebrak pada laga awal dengan kemenangan 9-1 atas Myanmar, Vietnam justru takluk 0-2 di tangan Filipina. Jelas ini sebuah lembaran hitam bagi persepakbolaan Vietnam, mirip dengan takluknya Indonesia dari mereka pada Pra Piala Dunia 1998. Vietnam bermain cepat, garang, dan meledak-ledak. Akan tetapi organisasi pertahanan mereka kacau balau.

INDONESIA

Penampilan yang menjanjikan. Alfred Riedl sepertinya tidak ingin terpengaruh oleh hasutan nepotis yang sering dihembuskan oleh pihak-pihak berkepentingan -- dan tentunya tak bertanggung jawab -- dalam menyusun tim. Munculnya nama M. Nasuha dan Zulkifli Syukur merupakan kejutan kecil tersendiri dari pria Austria. Dua full-back ini menyingkirkan sejumlah nama senior yang menurut saya tidak sesuai dengan setrategi dan taktik pelatih. Satu hal yang perlu kita perhatikan ialah kengototan para pemain untuk terus mengejar bola. Hal ini menguras fisik namun Riedl nampaknya mengumpulkan individu-individu yang sanggup dan bersedia berlari selama 90 menit. Pertahankanlah!!!
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.