Pages

4 September 2010

Nusantara Awal Peradaban Dunia?


 Sebuah gambaran tentang keistimewaan Nusantara sebagai salah satu bangsa yang memiliki peradaban hebat dapat kita pelajari melalui sebuah peta. Peta di sini (lihat gambar) adalah peta yang memuat letak puncak-puncak penting di planet bumi yang diantaranya kita kenal sebagai bagian dari the Seven Summits (tujuh puncak tertinggi pada tujuh kawasan geografis daratan). Peta tersebut melahirkan sebuah pemikiran tentang arti penting peradaban Nusantara bagi sejarah umat manusia di dunia.
Dengan “bermain peta” kita akan menemukan keunikan tersendiri yang dimiliki oleh Nusantara. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: Pertama, hubungkan empat penting di dunia, yakni Kilimanjaro di Afrika, Kozciusko di Australia, Fuji di Jepang, dan Everest di Himalaya. Hasilnya adalah sebuah bidang menyerupai layang-layang; Kedua, bidang layang-layang tersebut tentukanlah titik tengah garis penghubung Everest dengan Kosciuzko. Hasilnya ialah sebuah titik yang terletak di daerah Kalimantan.
Ketiga, di antara puncak-puncak terkenal tersebut, dua puncak yang jika kita tarik garis lurus yang menghubungkan keduanya akan tampak bahwa mereka berdiri relatif sejajar atau segaris. Kedua puncak tersebut adalah Fuji dan Etna; kebetulan sama-sama terletak pada sebuah pulau, Honshu dan Sicilia. Apakah yang dapat ditemukan dari formasi layang-layang, titik tengah, dan garis lurus yang sejajar dengan garis lintang bumi itu? Untuk menjawabnya kita menuju ke langkah keempat, yakni hubungkan titik yang kita buat di Kalimantan ke puncak Etna. Ya, di sekitar garis Kalimantan-Etna tersebut terdapat peradaban-peradaban hebat dalam sejarah umat manusia, yakni Melayu, India, Persia, Arab, Yunani, dan Romawi. Lalu, bagaimanakah dengan peradaban Mesir, Inca, Maya, dan Aztec yang juga terkenal? Jawabannya diberikan oleh langkah kelima, yaitu dengan meneruskan garis yang terbentuk oleh Kilimanjaro-Kalimantan dan Fuji-Etna ke arah Barat. Di situlah impact dari peradabatan yang telah disebutkan di atas bermukim, yakni di kawasan Afrika Utara dan Amerika Selatan. Jika kita tarik ke arah Timur, maka akan kita temukan peradaban Cina. 
 Gugusan peradaban hebat tersebut diperkuat dengan sentralitas kaum Barbar yang ternyata menghuni daerah daratan di luar garis Etna-Fuji. Sebut saja Mongol, Viking, dan Hun, yang semuanya berada di daerah Utara.
Nusantara pilar peradaban dunia?
Pendapat Prof. Arysio Santos dalam bukunya bahwa Atlantis, benua yang hilang, yang hampir sepanjang masa dipergunjingkan keberadaannya, terdapat di Sundaland mungkin dapat ditelusuri kebenaran (atau kekeliruannya) melalui gambar peta tersebut. Asumsi pertama ialah benar, dengan mengingat fakta yang berlaku bahwa modernisasi dan teknologi modern diperkenalkan oleh orang Barat. Artinya, semakin ke Timur, boleh jadi peradabannya semakin atau cenderung klasik. Asumsi kedua ialah salah. Asumsi kedua ini memberikan sangkalan terhadap pendapat Santos dan mendukung pendapat Plato bahwa Atlantis terdapat di dasar Laut Atlantik, atau relatif dekat dengan Segitiga Bermuda. Coba kita lanjutkan langkah kita mengambar garis pada peta. Jika kita teruskan garis Kalimantan-Etna ke arah kiri, maka garis tersebut akan menuju Laut Atlantik.
Demikianlah “permainan” yang dapat kita mainkan dengan bantuan peta puncak-puncak penting di dunia. Apakah ini sebuah kebetulan? Apakah ini hanya khayalan yang mengada-ada? Kesemuanya berangkat dari fakta bahwa Nusantara, yang sekarang kita kenal sebagai Indonesia, tanah air kita ini, sepertinya menjadi target bangsa-bangsa asing. Letaknya yang berada pada garis khatulistiwa membuat Nusantara kaya akan sumber daya alam. Tidak mengherankanlah bila banyak pendatang yang ingin mencicipi keindahan tersebut, sesuatu hal yang jarang mereka dapatkan di daerah sendiri.
Meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan terhadap masa depan bangsa
Sebagai bagian dari bangsa Nusantara, kita selayaknya mawas diri dan tetap bersikap peka terhadap tindakan-tindakan yang bertujuan untuk mengusik keagungan peradaban Nusantara. Tindakan-tindakan tersebut dapat bersifat konkret maupun laten. Kita harus yakin bahwa ada sesuatu di balik keberadaan Nusantara dengan terus mempelajari peradabannya sejauh mungkin ke belakang.
Nasib yang dialami oleh peradaban Inca, Maya, Azteca, yang akhirnya tertindas oleh bangsa pendatang dan kini hanya tinggal puing, jangan sampai menulari peradaban Nusantara. Hal inilah yang patut kita khawatirkan. Semakin kita bersikap apatis dan cuek terhadap keberadaan bangsa dengan terus berfikir internasional tanpa didasari oleh landasan kebangsaan yang kiat, maka semakin rentan pula bangunan peradaban yang telah sekian lama berdiri. 
 Dari peta tersebut Kalimantan dapat saja berperan sebagai tonggak pendukung peradaban dunia. Nusantara dapat diibaratkan tut wuri handayani (berada di belakang dan memberikan kekuatan). Namun yang sering terjadi saat ini justru tut wuri hambayaki (ikut arus dan kebingungan karena cemas tidak dapat mengikuti perkembangan). Inilah yang tidak perlu terjadi.

Capacity Building untuk Pendidikan Tinggi di Negara Berkembang

Diterjemahkan dan Dirangkum oleh Tiyo Widodo dari makalah Stig Enemark (Aalborg University, Denmark), "Capacity Building for Higher Education in Developing Countries - A Part of the Western World University Portfolio?" yang dipresentasikan dalam Capacity Building in Higher Education and Research on a Global Scale UNESCO International Workshop, Copenhagen, 17-18 Mei 2005

"Higer education is the modern world's basic education, but many countries are falling further and further behind." Demikian kutipan yang diambil dari laporan tentang peran universitas sebagai pendukung usaha pembangunan masyarakat yang diterbitkan oleh Bank Dunia. Keberadaan universitas juga menentukan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh negara-negara donor. Akan tetapi, proyek donor dalam bidang pendidikan tinggi tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Identifikasi peran universitas barat dalam bidang ini juga tidak mudah.

Makalah yang disampaikan oleh Professor Stig Enemark dari Aalborg University Denmark menyajikan studi kasus negara Mozambique yang menjadi salah satu target proyek pengembangan pendidikan tinggi Bank Dunia. Proyek tersebut menitikberatkan pada reformasi kualitatif di dalam proses belajar-mengajar pada fakultas-fakultas yang dijadikan objek penelitian di tiga universitas negeri Mozambique. Tujuan penelitian ialah 1) untuk memperkenalkan pendekatan berbasis mahasiswa yang berorientasi pada proyek, yang didukung oleh penggunaan teknologi komputer, dan 2) untuk memperbesar angka kelulusan mahasiswa.

Sebuah proyek percontohan dilakukan oleh sebuah konsorsium universitas dari negara Denmark dengan tujuan mengembangkan sebuah proyek skala penuh yang disepakati dan dilaksanakan sebagai bagian dari proyek Bank Dunia. Akan tetapi, terlepas dari kenyataan di lapangan bahwa proyek tersebut mendapatkan sambutan dan dukungan yang positif dari semua pihak yang terlibat, namun masalah pendanaan masih menjadi kendala tersendiri. Masalah pendanaan terkait dengan kurangnya kerjasama dan rasa saling memahami antara stakeholders kunci baik di negara donor maupun di negara penerima donor.

Pemahaman lintas sektoral pada skala nasional di negara-negara donor perlu dipadukan dengan kepentingan yang dimiliki oleh universitas, Kementrian Sains/Pendidikan dan lembaga-lembaga donor nasional maupun internasional.

Capacity building untuk pendidikan tinggi di negara-negara berkembang seharusnya menjadi bagian dari portfolio strategi universitas dan didukung oleh stakeholders terkait seperti lembaga donor, kementrian terkait, dan organisasi perdagangan dan industri. Kegiatan-kegiatan capacity building hendaknya tidak dipandang sebagai faktor pendorong bagi pembangunan masyarakat di negara-negara penerima donor semata, melainkan juga sebagai kebutuhan untuk fasilitasi pengembangan kemampuan internasional dan inovasi institusional di negara pendonor. Pemahaman ini merupakan sebuah proses untuk mendapatkan keuntungan bersama yang dinikmati oleh negara pendonor maupun negara penerima donor.

Capacity building untuk pendidikan tinggi di negara-negara berkembang sangatlah kompleks. Gagasan ini merupakan sebuah proses yang sedang berlangsung yang harus dilandasi oleh prioritas nasional dan analisis historis yang menyeluruh tentang sistem pendidikan tinggi yang berlaku pada suatu negara berikut kontribusinya bagi pembangunan sosial, ekonomi dan politik. Kajian tentang capacity building harus memuat sasaran yang jelas dan menghasilkan kemampuan untuk menyeimbangkan arah strategis dengan memandang sistem pendidikan tinggi secara keseluruhan, menentukan kontribusi masing-masing bagian bagi kebaikan bersama.

Peran universitas-universitas dari negara Barat ialah fasilitasi proses capacity building. Peran tersebut harus diperkuat oleh pendekatan-pendekatan kebijakan strategis dan bukan sekedar melalui kegiatan konsultasi yang dipengaruhi oleh pasar. Negara-negara maju harus memandang capacity building di dalam pendidikan tinggi sebagai kegiatan dua-arah dan  sebagai kebutuhan pula. Dengan kata lain, capacity building tersebut sebenarnya kebutuhan bersama yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak, negara pendonor dan negara penerima donor. Untuk mencapai harmoni ini maka baik negara pendonor maupun negara penerima donor harus bekerjasama untuk menyusun kebijakan dan menentukan skala prioritas.

Peran pendidikan tinggi di negara Mozambique masih tergolong rendah karena terhalang oleh banyak masalah. Sebagai negara yang baru saja merdeka, banyak alasan yang menyebabkan rendahnya tingkat kelulusan warga negara dari pendidikan tersier. Alasan-alasan tersebut dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni alasan institusional, alasan individual, dan alasan eksternal
1.Alasan institusional
Hubungan antara pendidikan sekunder dan pendidikan tersier masih lemah; kurikulum dan metode pengajaran tidak memadai; perencanaan buruk; tidak ada usaha dukungan untuk kegiatan mengajar; dan sarana yang tidak memadai.
2.Alasan individu
Pengajar sering tidak siap dan terlalu sibuk karena banyak kegiatan di luar lingkup pendidikan; mhasiswa menghadapi masalah adaptasi kehidupan kampus; perasaan eksklusif; kekurangan waktu belajar dan tidak memiliki manajemen waktu yang baik.
3.Alasan eksternal
Peluang kerja setelah lulus kuliah tidak jelas dan masalah keuangan karena Mozambique dilanda kemiskinan dan keadan sosial yang tidak stabil

Proyek percontohan yang diadakan oleh Danish University Consortium bertujuan untuk mengkaji indikator kinerja pelaksanaan "reformasi kualitatif di dalam proses belajar-mengajar" dengan menggunakan pendekatan-pendekatan berorientasi proyek yang terpusat pada mahasiswa." Status Danish University Consortium dalam proyek ini ialah sebagai lembaga konsultasi bekerjasama dengan Bank Dunia. Selain di Mozambique, konsorsium ini juga telah mengadakan kerjasama dengan universitas-universitas di Botswana, Afrika Selatan, Swaziland, Malaysia dan Thailand dengan nama program DANCED yang didanai oleh Pemerintah Kerajaan Denmark.  Selain beranggotakan akademisi dari Denmark sendiri, konsorsium juga merekrut perwakilan dari UNESCO Center for Problem Based Learning (UCPBL) yang berada di Aalborg University dan Kementrian Sains, Teknologi, dan Inovasi Kerajaan Denmark.  Jumlah anggota tim seluruhnya adalah empat orang.

Tim konsultasi mengunjungi Mozambique dengan membawa tiga misi yang mereka jalankan pada bulan Nopember 2002, Agustus dan Nopember 2003. Tujuannya ialah menciptakan modalitas bagi kerjasama institusional antaruniversitas Denmark dan Mozambique berdasarkan rencana strategis pemeirntah untuk pendidikan tinggi di Mozambique. Kegiatan konsultasi mendapatkan dukungan dari Bank Dunia yang berperan sebagai tim penyelidik pelaksanaan Problem-Based and Project-Oriented Learning Approach to higher education of Mozambique.

Tiga misi yang diemban oleh Danish University Consortium ialah 1) untuk menghimpun dan mengidentifikasi fakta kemungkinan terjalinnya kerjasama program percontohan (Misi 0, satu pekan, Nopember 2002); 2) untuk menentukan profil dan fakultas yang dijadikan obyek penelitian, merancang kegiatan seminar PBL dan mengadakan negosiasi awal dengan para menteri (Misi 1, satu pekan, Agustus 2003); dan 3) mengadakan seminar PBL dan tindak lanjutnya dengan fakultas-fakultas terpilih dan MESCT (Misi 2, satu pekan, Nopember 2003).

Dari ketiga misi di atas dapat disimpulkan bahwa Mozambique memerlukan sebuah program untuk memperkenalkan metode-metode pedagogi yang inovatif.

Pelajaran yang diperoleh Danish University Consosrtium dari proyek percontohan negara Mozambique ialah bahwa dukungan bagi capacity building sangat diperlukan untuk pendidikan tinggi di negara-negara berkembang. Akan tetapi, proyek yang dilakukan senantiasa harus berbentuk kegiatan dua-arah. Sehingga, proyek capacity building harus berakar di dalam kerangka organisasi negara pendonor sendiri. Penyusunan kerangka organisasi seperti ini dipandang penting untuk a) mendukung negara-negara berkembang melalui capacity building di negara mereka sendiri dan memperkuat konsep pengembangan universitas dengan kurikulum, prioritas, dan riset yang berlandaskan kebutuhan struktural masyarakat dan secara aktif berusaha memenuhi kebutuhan tersebut; b) mempermudah dan mendukung kerjasama aktif dengan universitas-universitas negara berkembang dan memberikan kompensasi bagi kebijakan baru tentang pemberlakuan biaya kuliah untuk mahasiswa dari negara ketiga yang ingin kuliah di Denmark; c) mendukung dan selanjutnya mengembangkan usaha internasionalisasi universitas-universitas Denmark serta lebih memahami peran dan prasyarat dasar bagi pendidikan tinggi dan riset di dunia global modern; dan d) mempermudah universitas-universitas Denmark untuk ikut serta dan bersaing di dalam mencapai kondisi yang setara di pasar global pelayanan konsultasi di dalam pendidikan tersier serta kemudian mendukung tujuan kebijakan luar negeri negara Denmark.

Pada hakikatnya universitas, baik itu yang berada di negara pendonor maupun di negara penerima donor, sama-sama menjalankan peran sebagai institusi pembelajaran (learning institutions), bukan sebagai institusi yang mengajarkan (teaching institutions). Artinya, di dalam sebuah universitas setiap orang (mahasiwa, staf teknis dan pengajar) melakukan kegiatan belajar yang terus-menerus. Pendidikan universitas memiliki kemampuan untuk belajar sendiri (self-learning capacity) berdasarkan dan didukung oleh landasan ilmiah yang berkualitas baik Lulusan universitas harus mampu belajar, dan berhenti belajar untuk kemudian belajar lagi, begitu seterusnya (Brito, 2002). Capacity building untuk mengembangkan institusi pembelajaran di negara berkembang adalah tantangan tersendiri dan berat untuk dihadapi. Pendidikan tinggi tidak dapat lahir tanpa inisiatif-inisiatif kebijakan seperti sarana fisik, tatakelola yang lebih baik, perbaikan kondisi kesehatan masyarakat, pengembangan pasar uang dan perdagangan.

Kegiatan-kegiatan capacity building harus dijalankan dan dipahami sebagai sebuah usaha korporat dari semua stakeholders yang terkait. Inti dari kegiatan-kegiatan capacity building bagi pendidikan tinggi di negara berkembang tercantum di dalam tujuan yang ingin dicapai oleh universitas-universitas dari negara pendonor yang telah maju. Jenis konsultasi atau kerjasama timbal-balik merupakan cara langsung untuk menyerukan perlunya internasionalisasi dan globalisasi universitas negara Barat sekaligus cara yang langsung pula untuk mendukung dan menyempurnakan inovasi di negara-negara berkembang. Jika target ini dapat terpenuhi, maka antara pihak pendonor dan penerima donor akan saling mendapatkan keuntungan.

Referensi
Brito, L. (2002): Pidato pada UNESCO Conference on Higher Education, Oslo.
Enemark, S., Jorgensen, H. L., Muller, J., dan Meinert, M. (2004): The PBL Program - Developing Innovative Higher Education in Mozambique. Laporan Akhir dari Danish University Consultancy.
Kjerdsam, F. dan Enemark, S.: The Aalborg Experiment - Project innovation in University Education. Aalborg University Press, 1994.
Republic of Mozambique (2000): Analysis of the Current Situation of Higher Education in Mozambique.
World Bank (2000): Higher Education in Developing Countries - Peril and Promises. Diterbitkan untuk Prashington.
World Bank (2002): Proyek Appraisal Document, Higher Education Project Mozambique.

Stig Enemark
-Professor in Problem Based Learning and Land Management, Aalborg University, Denmark.
-Head of the School of Surveying and Planning.
-Director of the UICEE (UNESCO) Centre for Problem Based Learning (UCPBL).
-Consultant for Bank Dunia dan Uni Eropa, especially in Eastern Africa dan Sub Saharan Africa.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.