Pages

7 February 2010

Eastern Slavonia

Eastern Slavonia is an 850 square mile piece of land that lies on Croatia's eastern border with Serbia. The area has considerable light industry, rich agricultural land, and is the largest oil producing region in the former Yugoslavia (it produced up to 5,200 barrels of oil a day during the 1980s). Before the outbreak of hostilities in 1991, the region contained about 150,000 ethnic Croats, Hungarians, Muslims, and 68,000 Serbs.


In 1991, Eastern Slavonia was the site of heavy Croat-Serb fighting. Serb paramilitaries, backed by Serb-dominated Yugoslav Army (JNA), fought hastily-assembled Croatian forces for control of the area. The capital of Eastern Slavonia, Vukovar, was shelled by the Yugoslav Army during a four month siege and reduced to rubble. Croatian Serb forces eventually took control of Eastern Slavonia and thousands of Croats fled the region to refugee camps inside Croatia or abroad. The international war crimes tribunal in Den Haag has issued indictments against, so far, three JNA officers who are accused of killing more than 200 Croatian prisoners outside of Vukovar.

During 1995, Croatian forces went on the offensive and recaptured all Serb-held territory except for Eastern Slavonia. The 12 November 1995 Basic Agreement on the Region of Eastern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (also called the Erdut Agreement after the town in which it was signed) provides for the peaceful integration of that region into Croatia. The Agreement requested the Security Council to establish a transitional administration to govern the region; to authorize an international force to maintain peace and security during that period; and to otherwise assist the implementation of the Agreement. Thus, the UN Transitional Administration for Eatern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (UNTAES) was created. UNTAE was set up on 15 January 1996 (UN Security Council Resolution 1037) for an initial period of 12 months, with both military and civilian compnents.

Reference: 
Peaceful Stabilization Force (SFOR). 1997. Bosnia Country Handbook. DIANE Publishing.

Analisis Manajemen Proyek

Definisi

Analisis manajemen proyek adalah sebuah kajian tentang suatu usulan proyek sebelum proyek tersebut berjalan. Wewenang dari analisis ini biasanya berada di tangan manajer proyek.

Dari definisi yang dikemukakan pada paragraf pertama tersebut, maka kita dapat kemukakan di sini bahwa analisis manajemen proyek menjadi unsur yang vital yang harus dilakukan oleh para pelaku proyek, serta pihak-pihak yang terlibat dalam proyek dimaksud, dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan, validitas, logika, keamanan, dan keberhasilan proyek yang sedang diperjuangkan. Analisis manajemen proyek melibatkan banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Singkatnya, semua elemen yang sekiranya terlibat di dalam proyek, harus dimasukkan ke dalam pertimbangan dan memerlukan kajian satu per satu secara cermat.

Fungsi

Analisis manajemen proyek berfungsi untuk: (1) menganalisis aspek-aspek yang akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu proyek yang diusulkan; (2) mengevaluasi penyebab kegagalan atau keberhasilan suatu proyek.
Di dalam melakukan analisis manajemen proyek kita harus mengetahui lima unsur pokok yang terkandung di dalamnya, yakni: analisis stakeholder, analisis gender, logical framework, cost benefit analysis, dan manajemen dalam konteks yang dinamis. Apakah maksud dari kelima unsur pendukung analisis manajemen proyek tersebut?

Analisis stakeholder

Stakeholder adalah setiap pihak yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan proyek yang sedang dijalankan. Stakeholder meliputi pihak-pihak yang terlibat di dalam sebuah proyek. Sebagai contoh, dalam sebuah proyek relokasi pasar, kita akan menemui sekelompok stakeholder yang terdiri atas Dinas Pasar, pemborong, penjual atau pedagang, dan pembeli. Dalam sebuah proyek pendidikan di sekolah kita akan memerlukan stakeholder Dinas Pendidikan, orang tua/wali, murid, guru, dan pihak-pihak lain yang terkait dengan proyek pendidikan tersebut.

Analisis gender

Analisis gender di sini tidak diartikan sebagai analisis jenis kelamin dari segi biologis saja, melainkan lebih lengkap lagi: dari status sosial. Definisi dari analisis gender ini ialah analisis untuk memastikan bahwa proyek yang sedang dijalankan atau diusulkan dapat melibatkan pelaku berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dalam proporsi yang seimbang atau setara. Kesetaraan peran gender di sini dapat kita amati dari frekuensi partisipasi kedua belah pihak yang seimbang, tentu saja sesuai dengan proporsi, kemampuan, dan fungsi masing-masing gender

Logical framework

Logical framework adalah unsur analisis manajemen proyek yang memuat tujuan untuk mengetahui tingkat validitas proyek dalam tataran logika. Sebelum mengajukan proyek, terlebih dahulu kita harus mengkaji secara mendalam bahwa proyek yang dirancang tersebut dapat diterima dengan mudah dan baik oleh akal. Dengan kata lain, proyek tersebut masuk akal untuk dijalankan.

Cost benefit analysis

Cost benefit analysis adalah sebuah instrumen yang berguna untuk menghitung dan memperbandingkan biaya yang dikeluarkan dengan keuntungan yang kelak diperoleh. Tujuannya ialah untuk memastikan bahwa sebuah proyek layak untuk diperjuangkan atau ditangguhkan. Hal ini sangat penting karena pada hakikatnya sebuah proyek itu diadakan sedemikian rupa sehingga pihak yang menyusun proposal proyek tersebut tidak mengalami kerugian kelak di kemudian hari.

Manajemen dalam konteks yang dinamis

Dalam era modern sekarang ini, penyelenggaraan sebuah proyek perlu dikaitkan dengan dampaknya bagi pihak-pihak yang terkait dengan proyek tersebut dalam sudut pandang ekonomi, sosial, dan politik. Keterkaitan tiga hal pokok yang menjadi warna kehidupan sehari-hari masyarakat ini sangat jelas terlihat.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.