Pages

28 January 2010

Ikhlas Beramal

Diriwayatkan Khumaidi Abdullah bin Zubair, berkata diceritakan kepada kami oleh Sufyan, berkata diceritakan kepada kami Yahya bin Said Al Anshori, berkata dikabarkan kepadaku oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimii bahwasanya dia mendengar Al Qomah bin Waqas Al Laisy berkata: Aku mendengar Umar bin Khotob RA di atas mimbar berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya amal itu diawali dengan niatnya dan sebenarnya segala urusan itu tergantung pada niatnya, maka barang siapa hijrahnya/kepindahannya ke urusan dunia yang diharapkannya, atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sebatas kepada sesuatu yang menjadi tujuannya.” Maksudnya: Segala sesuatu perbuatan yang akan kita lakukan semua itu harus diawali dengan niat, sedangkan perbuatan yang baik, yang diawali dengan niat, itu merupakan ibadah. Seperti Firman Allah SWT dalam surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya: ”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan yang demikian inilah agama yang lurus.” Setiap amal perbuatan yang dilandasi sikap ikhlas karena Allah dan bersih dari cela dan keinginan-keinginan tertentu, maka perbuatan itu lebih bisa diharapkan untuk diterima dan lebih besar pahalanya, dan itulah permata Islam. Sedangkan niat yang buruk akan mengantarkan pelakunya kepada neraka jahanam, bahkan di neraka Hawiyah yang paling dasar. Islam merupakan agama yang menganjurkan untuk berderma, suka memberi, mengeluarkan harta dari jiwa yang tulus, dan menginfakkan harta benda untuk kebaikan yang telah ditetapkan guna menyucikan setiap individu dari kedengkian dan menyucikan masyarakat dari kejahatan. Nabi Muhammad SAW bersabda: ”Orang yang dermawan akan dekat dengan Allah, dekat dengan syurga, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka; sementara orang yang kikir akan jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Orang yang bodoh, yang dermawan, lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah yang kikir.” (HR Tirmidzi, Al Misykah, Juz I no. 1869) Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi itu akan menutupi kemurkaan Tuhan, silaturahim itu akan memberkati usia orang yang melaksanakannya dan perbuatan itu menjaga dari perbuatan jahat. Dari abu Umamah, Nabi bersabda: “Perbuatan-perbuatan baik itu menjaga dari perbuatan jahat, sedekah secara sembunyi-sembunyi itu menghapus kemarahan Tuhan, dan silaturahmi itu menambah usia.” (HR Tabrani Majma ‘Az Zawa ‘Id, Juz III, Bab Shadaqah As-Sirr hlm.115) Allah melihat kepada hati dan niat, bukan melihat kepada sikap lahirinyah dan perbuatan jazad. Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk dan harta kalian, tetapi dia melihat hati dan amal perbuatan kalian” (HR Muslim, Al Misykah juz III no. 5314). Ikhlas adalah menyerahkan tujuan sepenuhnya semata-mata hanya untuk Allah, baik dalam pembicaraan, gerakan, perbuatan, ucapan dan ketundukan kepada segala sesuatu yang bersumber dari Allah dan Rosul-Nya. Barang siapa yang mampu memegang agamanya dengan sangat kuat. Seperti Firman Allah dalam surat Luqman ayat 22: ”Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada Buhul tali yang kokoh, dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”
Referensi: Al Husaini Mushthafa Ar-ris Muhammad Muaffiq Salimah. 2003. Fi Zhilillah Sab Atun Yuzhilluhumullah. Cetakan Pertama. Najla Press, Anggota IKAPI: Jakarta. Imam Nawawi. 1992. Riyadhush Shalihin. Al Maktab Al Islami Pustaka Azzam.

Muhammad Hatta

Hatta was born in Bukittinggi, West Sumatera on August 12, 1902, under the name Mohammad Athar. He was educated under strict religious family. His grandfather was a notable religious leader in Batu Hambar, Payakumbuh. When he was eight, Hatta lost his father, Haji Mohammad Jamil, so that he was then raised by his mother's family, together with his six sisters. Hatta was lucky to be part of a wealthy family, for which he could be guaranteed enough education background. He attended elementary school at Sekolah Melayu Bukittingi and then continued to Europeesche Lagere School (1913-1916) in Padang. When he turned 13, Hatta actually passed the recruitment test for HBS highschool in Batavia (the present day Jakarta). However, his mother thought that he was still too young to part from his relatives. Accordingly, Hatta had to be satisfied to continue the high school at MULO Padang. Hatta's dream to visit Batavia was made real in 1919, when he actually entered the HBS. There, he made a great academic record and passed the final exams promptly. In 1921, Hatta went to Rotterdam, the Netherlands, to study trade and business at Nederland Handelshogeschool (the Rotterdam School of Commerce, which now is known as Erasmus Universiteit), where he gained handels economie title in 1923. He spent in the Netherlands eleven years. It was told that Hatta had been interested in national movement since his days in MULO. In 1916 some youth movements were born, such as Jong Java, Jong Minahasa, Jong Sumateranan Bond, and Jong Ambon. Hatta joined Jong Sumateranan Bond and he grew his talents in administrative and economic affairs. He held a treasure position in the organization. Hatta's active involvement in organization drew him intimate with Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, and Abdul Madjid Djojoadiningrat. This 'band of brothers" also then got caught by the Dutch government due to their sounding "rebellion move". However, the Supreme Court in Den Haag freed these youngsters from all charges on March 22, 1928. In this historical event, Hatta spoke his defense with the title, "Indonesia Vrij" (Bahasa: Indonesia Merdeka, English: Freedom for Indonesia). Hatta went home in 1932 and joined Indonesian National Education Party (PPNI), which brought mission of improving political awareness of the people through the nation. In February 1934, leaders of the Party were arrested by the Dutch government and then were cast away to Boven Digoel. There were seven of them, and Hatta was included. Answering a question about the Communist Party Movement which blew up the nation in September 30, 1965, he said, "It is not important whether the Communism was forbidden or allowed; it is more important to eliminate conditions by which the communists may seek their rebirth. In other words, the nation must work hard to eradicate poverty and to cover gaps between the riches and the poors. To me, the parameters for the national growth are inadequate. The most importantly, income proliferation and living improvement of the grass roots."
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.