Tentang....

WAR. In many instances, the history of a people is the history of its wars. I have defined war fairly broadly, to mean an overt, armed conflict carried on between nations or states (international war) or between parties, factions, or people in the same state (civil war). There are multifarious reasons for war.

George Childs Kohn | Dictionary of Wars (2006)

18 December 2010

Kiat Sukses Berbahasa Inggris: Sebuah Pengalaman Pribadi

Memasuki millennium kedua Anno Domini ini, keberadaan Bahasa Inggris masih menjadi sesuatu hal yang menakutkan bagi sebagian besar orang Indonesia. Saya membuktikan selama bertahun-tahun bahwa Bahasa Inggris sepertinya belum mampu meraih simpati mayoritas masyarakat. Maraknya pelatihan, kursus, hingga program studi Bahasa Inggris di sekitar kita hingga sejauh ini belum cukup membantu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. Sebagian besar orang seperti “terpaksa” mempelajari Bahasa Inggris Bahasa Inggris demi tujuan pekerjaan atau kelulusan dari studi. Dari tujuan ini maka pembelajaran Bahasa Inggris cenderung praktis. Sebagai contoh, muncul anggapan bahwa Percakapan Bahasa Inggris itu lebih penting dibandingkan Tata Bahasanya. Ini sebuah paradigma yang sempit yang kelak akan mempersulit pelaku Bahasa Inggris manakala ia harus berkomunikasi Bahasa Inggris yang baik dan benar. Prinsip “conversation yes, grammar no” ini adalah satu dari sekian banyak kendala yang membuat orang tidak menguasai Bahasa Inggris secara optimal.

Mempelajari sebuah bahasa tidak akan lengkap bila tidak disertai dengan mengikuti perkembangan, khususnya perkembangan yang berlangsung pada daerah atau tempat bahasa tersebut berasal. Mempelajari sebuah bahasa adalah mempelajari budaya tempat bahasa tersebut berasal. Seperti kita mempelajari Bahasa Jawa, kita diberi petunjuk mengenai tata cara berbahasa Jawa yang tepat; bagaimana berkomunikasi secara sopan, bagaimana pola pergaulannya, dan sebagainya. 

Kita tidak menyalahkan sikap atau preferensi seseorang dalam mempelajari Bahasa Inggris. Seseorang lebih mementingkan kecakapan lisan juga baik asalkan komunikasi yang dijalankan dapat dipahami oleh lawan bicaranya. 

Namun demikian, masalah akan timbul manakala komunikasi tak memungkinkan lagi dilakukan secara lisan. Ketika gesture atau body language tidak lagi sanggup membantu kelancaran komunikasi, maka kita akan menemui jalan buntu. Perkembangan zaman menunjukkan bahwa teknologi informasi semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, khususnya orang Indonesia. Munculnya social networks, social bookmarks, e-mail melalui teknologi informasi bernama Internet membuat keahlian berbahasa Inggris menjadi semakin penting. Pengalaman saya menjumpai banyak orang yang mengakui ahli berbicara dalam Bahasa Inggris, namun kesulitan untuk berkomunikasi secara resmi membuktikan bahwa pola pembelajaran Bahasa Inggris sejauh ini belum tepat. 

Langkah-langkah menguasai bahasa Inggris

Menguasai sebuah bahasa yang bukan berasal dari budaya kita sangat sulit. Jangankan bahasa Inggris, bahasa daerah pun sulit untuk dikuasai. Langkah-langkah berikut ini mungkin dapat menjadi masukan bagi siapapun yang ingin menguasai Bahasa Inggris. Intinya, mempelajari bahasa itu tidak memiliki batasan waktu, sehingga hendaknya kita tidak terlalu percaya terhadap semboyan-semboyan oportunis seperti “Mahir Bahasa Inggris 24 jam”, “Kursus Kilat Bahasa Inggris”, dan sebagainya. Semboyan-semboyan ini cenderung menyesatkan. Tidak ada proses yang instan di dalam mempelajari sebuah bahasa, terlebih bahasa yang berasal dari luar budaya kita. Mempelajari dan menguasai bahasa memerlukan usaha yang terus-menerus karena zaman terus berubah. Perubahan yang terjadi mempengaruhi istilah-istilah yang digunakan, kebiasaan-kebiasaan bergaul, dan sebagainya. Hal inilah yang perlu kita cermati. Uraian di bawah ini menjelaskan gambar (perhatikan Gambar Menguasai Bahasa Inggris)

Gambar: Menguasai Bahasa Inggris
Tiyo Widodo (2010)

1. Memperlakukan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua

Sejauh ini Bahasa Inggris masih memiliki status “bahasa asing”. Padahal Bahasa Inggris adalah bahasa pengantar komunikasi internasional yang paling dominan. Penghantaran informasi tentang kemajuan dunia berlangsung menggunakan Bahasa Inggris. Jika Bahasa Inggris masih disebut sebagai “bahasa asing”, maka keterasingannya membuat orang merasa enggan untuk mendekat lantaran tidak mengenal. Pepatah mengatakan bahwa “tak kenal maka tak sayang” berlaku bagi keberadaan Bahasa Inggris. Oleh karena itu, sudah tiba saatnya untuk menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Pun ketika muncul anggapan seseorang bahwa Bahasa Inggris tidak sesuai dan tidak cocok bagi kehidupan sehari-harinya, mengatakan bahwa tanpa berbahasa Inggris pun ia tidak akan merasa rugi, perkembangan terakhir kehidupan dunia menunjukkan bahwa masyarakat dari berbagai bangsa semakin membaur tanpa mengenal batas-batas kewilayahan. Jika kita tidak berusaha mendekat, maka orang-orang dari bangsa lainlah yang mendekat. Keberadaan orang dari bangsa lain di Indonesia saat ini bahkan mencapai daerah-daerah pelosok. Inila perlunya Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar kedua.

2. Mengikuti informasi mancanegara

Pentingnya mengikuti informasi mancanegara ialah untuk mendapatkan tambahan pengetahuan tentang istilah-istilah baru. Kita tidak perlu mempedulikan apakah paham atau tidak paham tentang istilah-istilah tersebut melainkan cukup dengan mencatatnya dan kemudian mencari padanan kata atau definisinya dalam bahasa Indonesia dengan bantuan kamus. Peningkatan pengetahuan ini diteruskan dengan mengoleksi istilah-istilah baru/kosa kata baru (new vocabularies) secara rutin tiap hari. Pengalaman saya sewaktu dalam tahap-tahap awal belajar Bahasa Inggris ialah mencari 10 kata baru setiap harinya dan menulisnya ke dalam buku kecil (buku notes). Cara ini sangat membantu penguasaan Bahasa Inggris karena semakin banyak istilah yang seseorang kuasai, semakin mudah orang tersebut mengkomunikasikan bahasa.

3. Menguasai tata bahasa

Saya kurang sepakat bahwa belajar Bahasa Inggris tidak memerlukan tata bahasa (grammar). Sedangkan saya menulis artikel ini juga menggunakan tata bahasa. Bagaimana mungkin kita meninggalkan tata bahasa? Ini sebuah paradigma yang menurut saya keliru, salah kaprah. Justru sebaliknya, keberadaan tata bahasa sangatlah penting untuk kelancaran berbahasa, bahasa apapun itu. Manakala orang berada dalam situasi tatap muka langsung dan berkomunikasi secara lisan, barangkali kendala komunikasi akan terbantu oleh gesture dan body language. Namun, ketika tiba saatnya harus berkomunikasi jarak jauh secara tertulis melalui, misalnya pesan singkat (SMS), fasilitas chat, e-mail, dan sarana komunikasi digital lainnya, kelemahan tata bahasa akan terlihat jelas. 

Menguasai tata bahasa tidak serumit yang dibayangkan. Kita sekedar perlu mengetahui kedudukan kata per kata sehingga dapat mengkomunikasikannya dengan baik dan benar, dalam waktu dan situasi yang tepat. Istilah dalam Bahasa Inggris adalah tenses. Mempelajari Bahasa Inggris wajib mengetahui part of speech (jenis kata: kata benda (noun), kata sifat (adjective), kata kerja (verb), Kata keterangan (adverb); kesemuanya terangkum dan terintegrasikan dalam pelajaran tata bahasa.

Barangkali tiga syarat di atas yang perlu kita tingkatkan dari waktu ke waktu. Di dalam ketiga syarat tadi tentunya terdapat unsur-unsur lain yang dengan serta-merta akan kita temukan pada saat kita mempelajarinya, misalnya unsur budaya, adat-istiadat, pergaulan, dan sebagainya.

Kesimpulannya, untuk menjadi ahli, atau setidaknya menguasai, suatu bidang dengan baik dan penguasaan tersebut diterima dan diakui dengan positif oleh orang lain, seseorang memerlukan proses yang bertahap. Determinasi dan kecintaan adalah kunci dari segalanya, karena itu tadi, “tak kenal maka tak sayang”. Bahasa Inggris memang masih sulit bagi sebagian besar orang Indonesia, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan Bahasa Inggris semakin hari semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Misalnya, istilah-istilah seperti add friend, tag friend, sms, miss call, poke, print, rental, dan masih banyak lagi ungkapan atau istilah lainnya. Cara belajar yang instan dan terlalu praktis akan memberikan hasil yang tidak optimal. Kita tidak boleh berpedoman visi tercapai (orang sebagai pribadi menguasai Bahasa Inggris), namun misi pemasyarakatan Bahasa Inggris akan terhambat. Bahasa Inggris semakin menyenangkan apabila berguna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.


No comments: