Pages

26 December 2010

Road to the Cup: Head-to-head Indonesia v Malaysia

07.09.1957 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 4-2
30.08.1958 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 2-3
13.08.1961 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 2-1
28.08.1962 Jakarta: Indonesia v Malaysia 1-0
20.11.1968 Bangkok: Indonesia v Malaysia 1-0
04.11.1969 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 3-2
15.08.1970 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 0-4
13.11.1970 Bangkok: Indonesia v Malaysia 3-0
20.11.1970 Bangkok: Indonesia v Malaysia 3-0
13.05.1971 Bangkok: Indonesia v Malaysia 0-3
14.06.1971 Jakarta: Indonesia v Malaysia 2-1
10.11.1971 Bangkok: Indonesia v Malaysia 2-0
13.06.1972 Jakarta: Indonesia v Malaysia 3-0
28.09.1972 Seoul: Indonesia v Malaysia 3-1
14.06.1973 Jakarta: Indonesia v Malaysia 3-0
20.03.1975 Bangkok: Indonesia v Malaysia 0-0
14.06.1975 Jakarta: Indonesia v Malaysia 3-1
29.07.1975 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 1-2
24.12.1975 Bangkok: Indonesia v Malaysia 1-2
12.08.1976 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 1-7
03.03.1977 Singapura: Indonesia v Malaysia 0-0
19.07.1977 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 1-5
29.10.1977 Bangkok: Indonesia v Malaysia 0-3
19.11.1977 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 2-1
13.06.1978 Jakarta: Indonesia v Malaysia 3-0
13.07.1978 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 0-1
13.01.1979 Bangkok: Indonesia v Malaysia 1-4
29.06.1979 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 1-1
17.09.1979 Seoul: Indonesia v Malaysia 2-3
26.09.1979 Jakarta: Indonesia v Malaysia 0-0
30.09.1979 Jakarta: Indonesia v Malaysia 0-1
31.08.1980 Seoul: Indonesia v Malaysia 1-1
27.10.1980 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 1-1
09.09.1981 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 0-2
05.08.1982 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 2-0
17.10.1982 Singapura: Indonesia v Malaysia 0-0
26.08.1984 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 2-2
16.12.1985 Bangkok: Indonesia v Malaysia 0-1
01.09.1986 Singapura: Indonesia v Malaysia 2-2
27.09.1986 Gwangju: Indonesia v Malaysia 1-0
20.09.1987 Jakarta: Indonesia v Malaysia 1-0
08.12.1988 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 0-0
25.08.1989 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 0-2
06.02.1991 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 2-1
26.11.1991 Manila: Indonesia v Malaysia 2-0
25.04.1992 Singapura: Indonesia v Malaysia 1-1
08.12.1995 Chiangmai: Indonesia v Malaysia 0-3
02.03.1996 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 0-0
13.09.1996 Singapura: Indonesia v Malaysia 1-3
10.10.1997 Jakarta: Indonesia v Malaysia 4-0
02.08.1999 Bandar Seri Begawan: Indonesia v Malaysia 6-0
27.12.2002 Jakarta: Indonesia v Malaysia 1-0
26.09.2003 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 1-1
12.03.2004 Johor Bahru: Indonesia v Malaysia 0-0
28.12.2004 Jakarta: Indonesia v Malaysia 1-2
03.01.2005 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 4-1
23.08.2006 Kuala Lumpur: Indonesia v Malaysia 1-1
06.06.2008 Surabaya: Indonesia v Malaysia 1-1
01.12.2010 Jakarta: Indonesia v Malaysia 5-1

21 December 2010

Rapor Tim Piala AFF 2010

LAOS

Selepas membuat "shockwave" dunia persepakbolaan Indonesia pada SEA Games 2010, Laotians ternyata belum matang betul untuk bersaing pada tingkat senior. Namun demikian, polesan Alfred Riedl betul-betul terasa. Kegagalan Laos adalah perkara mental bertanding yang belum mantap jika melawan tim yang pengalamannya di atas mereka, meskipun proposisi ini belum tentu signifikan, mengingat mereka berhasil menahan Thailand. Bermain di bawah tekanan pendukung tuan rumah membuat pemain-pemain Laos kehilangan konsentrasi. Alhasil mereka kalah besar. Prospek masa depan Laos cerah karena berintikan pemain muda.

MYANMAR

Myanmar yang menurut saya "Dannish Dynamites"-nya Asia Tenggara memiliki pekerjaan rumah yang lumayan berat selepas generasi asuhan Ivan Kolev. Myanmar menjadi tim yang lemah dan lumbung gol bagi lawan-lawannya. Jika hal ini tidak diperbaiki, negara yang pada masa lalu memiliki tim kuat di Asia ini akan semakin kerepotan menghadapi persaingan Asia Tenggara yang semakin ketat.

THAILAND

Thailand adalah raja sepakbola kawasan Asia Tenggara. Eksistensinya senantiasa menjadi ancaman bagi lawan-lawannya, termasuk Indonesia. Sayang sekali, pengalaman sejumlah pemain seperti hilang begitu saja, tidak mampu memotivasi para pelapisnya. Sepanjang turnamen, Thailand tidak menunjukkan kualitasnya sebagai tim favorit juara. Mereka mudah terpancing emosi, kurang tenang dan terburu-buru dalam penyelesaian akhir. Para pemain tampil di bawah standar mereka. Nampaknya Bryan Robson kurang mampu meracik komposisi sehingga agresivitas mereka tak terlihat. Terlepas dari prestasi buruk ini, Thailand tetaplah yang terkuat di Asia Tenggara.

SINGAPURA

Berita terakhir menyebutkan bahwa pihak Singapura menyalahkan mutu Liga Indonesia yang membuat para pemain pilar mereka yang merumput di ISL bermain di bawah standar. Akan tetapi, pendapat ini tidak memiliki dasar yang kuat. Singapura terkenal dengan konsentrasi dan organisasi permainan yang disiplin. Kedisiplinan ini memerlukan fisik yang prima. Skuad Singapura pada Piala AFF 2010 tidak sebugar periode-periode lalu. The Lions perlu regenerasi untuk menggantikan sejumlah pemain yang telah dimakan usia dan melewati masa puncaknya.

MALAYSIA

Juara SEA Games 2010. Malaysia datang menuju turnamen dengan modal yang berharga sebagai kampiun tingkat yunior. Pemain-pemain mereka memiliki potensi besar untuk membangkitkan kembali prestasi Harimau yang dalam satu dekade ini tenggelam. Berbeda dari rekan seangkatan mereka di tim Laos, Pemain-pemain Malaysia lebih memiliki ketenangan dalam bermain. Pada saat dikalahkan 1-5 oleh Indonesia, sebenarnya Malaysia bermain bagus, taktis, efektif, dan cepat. Pengalamanlah yang mereka butuhkan untuk kembali menjadi tim terkuat Asia Tenggara.

FILIPINA

Langkah Filipina meniru Singapura, meskipun sebenarnya pemain-pemain asing yang mereka rekrut tidak "se-asing" The Lions lantaran ada beberapa yang merupakan keturunan campuran Filipina. Kebijakan PFF ini terbukti manjur. The Azkals Army tengah terbayang kejayaan masa lalu, manakala sukses dalam kejuaraan Far Eastern Games. Bermaterikan pemain-pemain yang merumput di liga Eropa dan Amerika, Filipina berhasil meraih simpati publik Asia Tenggara dengan menembus semifinal. Mereka layak disebut sebagai "Team of the Tournament". Filipina tinggal mengasah kerjasama tim dan tidak terlalu bertumpu pada the Younghusbands agar permainan tidak monoton. Mereka memiliki potensi besar untuk itu.

VIETNAM

Menggebrak pada laga awal dengan kemenangan 9-1 atas Myanmar, Vietnam justru takluk 0-2 di tangan Filipina. Jelas ini sebuah lembaran hitam bagi persepakbolaan Vietnam, mirip dengan takluknya Indonesia dari mereka pada Pra Piala Dunia 1998. Vietnam bermain cepat, garang, dan meledak-ledak. Akan tetapi organisasi pertahanan mereka kacau balau.

INDONESIA

Penampilan yang menjanjikan. Alfred Riedl sepertinya tidak ingin terpengaruh oleh hasutan nepotis yang sering dihembuskan oleh pihak-pihak berkepentingan -- dan tentunya tak bertanggung jawab -- dalam menyusun tim. Munculnya nama M. Nasuha dan Zulkifli Syukur merupakan kejutan kecil tersendiri dari pria Austria. Dua full-back ini menyingkirkan sejumlah nama senior yang menurut saya tidak sesuai dengan setrategi dan taktik pelatih. Satu hal yang perlu kita perhatikan ialah kengototan para pemain untuk terus mengejar bola. Hal ini menguras fisik namun Riedl nampaknya mengumpulkan individu-individu yang sanggup dan bersedia berlari selama 90 menit. Pertahankanlah!!!

20 December 2010

The Yogyakarta Royal Army at glance

photo credit : majalahforum.com
 
Yogyakarta, one of the only two provinces given an exclusive status (Daerah Istimewa) by the government of Republic of Indonesia, has a long-standing history as a monarch. The province that as the official name of Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat (The Honorable Royal Kingdom of Yogyakarta), similar to a sovereign nation, also has armies. They have existed since the reign of the first King, Sultan Hamengku Buwono I, dating back 1755. In general, the Yogyakarta Royal Army can be divided into two major divisions: infantry and cavalry divisions.

After being officially inaugurated by Hamengku Buwono I, the next King, Hamengku Buwono II, led the armies to fight the British Colonials (led by General Gillespie). A great battle occurred in 1812 between the British and the native armies. However, the Yogyakarta Royal Army later on was defunct during the administration of the 3rd King, Hamengku Buwono III due to an agreement with the British Colonials. The dismissal of the royal army took place on October 2nd, 1813 following the agreement between Thomas Stamford Raffles as the British Empire's General Governor in Java and Hamengku Buwono III. The agreement required that the Yogyakarta Royal Army was not allowed to build a strong armed force. The power was then limited and the function was no more than guarding the King and the Kingdom's inner circle.

The resurrection of the Yogyakarta Royal Army was evidenced during the two consecutive reigns, Hamengku Buwono VII and VIII. The army grew into thirteen units: Sumoatmojo, Ketanggung, Patangpuluh, Wirobrojo, Jogokaryo, Nyutro, Dhaeng, Jager, Prawirotomo, Mantrirejo, Langenastro, Surokarso, and Bugis. They remain exist until the present day, as people may see them during  special events such as Garebeg Mulud, Garebeg Besar, and Garebeg Syawal. The armed units usually gather in Alun-alun Utara (the North Square) of the Yogyakarta Kingdom.

19 December 2010

After the Cup, What is Next???

The South East Asean Nation's football championships have been held since 1996. The tournament, to be sure, has a purpose to empower football development in the region. I think the supreme aim is not to determine which country is the best. Instead, the AFF must have a bigger mission: to build a strong football characteristic among the ASEAN nations. This character-building has also to be the major objective of the participating countries.

Preserving fanaticism such what was heralded by group of fans from Vietnam, Indonesia, Thailand, and Malaysia, is a waste of time. Fans and supporters must revise their paradigm unless the goodwill mission is deteriorated by narrow thinkings.

Since its introduction in 1996, the AFF Cup (formerly Tiger Cup) has given a new wave of football development among the ASEAN nations. In particular the last chapter, we have witnessed the rise of the Philippines, where football falls behind boxing and basketball, and the new generation of Malaysia (the Harimau Muda). Notwithstanding Singapore, which I believe "running out gasoline" due to their aging players and the off-fire Thailand, the whole countries have shown enthusiasm to be the best.

The new spirit of the ASEAN football began with Vietnam topping the 2008 tournament. Since then, the development has become tremendous. I think this is a good sign towards equalizing reputation to the stronger regions such as the Middle-East and East Asia.

What is next?

Once upon a time the region held a club tournament -- eventhough South Asian clubs also took part. But the idea was stuck and until now there have been no follow-up.

ASEAN competition at club levels is very important in order to keep the pace with the clubs from the other sides of Asia. Let us consider this idea as a warming-up stage towards either AFC Champions League or AFC Cup. Mobilizing competitive atmosphere is important to build mentality, spirit, will, and above all, tactics on the pitch. Intense competition in all levels, both international and club, demands the players with a high level form, which is in turn, may produce potential resources for national squads.

In addition to technical purpose, regional club competition is beneficial from marketing viewpoint. The enthusiasm during the AFF Cup must continue with another wind of change. All ASEAN nations must work hand-in-hand, skipping differences, towards the glory of their regional football.

18 December 2010

Cintai Bangsa dengan Bahasa Inggris

Judul yang sekilas tampak tidak relevan. Bagaimana mungkin mencintai bangsa memiliki hubungan dengan Bahasa Inggris? Bukankah kita memiliki bahasa sendiri, Bahasa Indonesia? Ya, tepat sekali bahwa Indonesia, Nusantara tercinta kita ini kaya akan bahasa yang terpadu dalam satu penghantar komunikasi antaretnis bernama Bahasa Indonesia. Bahkan bahasa kita telah dipelajari oleh bangsa lain, dijadikan salah satu mata pelajaran yang dipelajari oleh penduduk setempat, misalnya di Vietnam, Thailand, bahkan hingga sejauh kota Koeln di Jerman sana. 

Bahasa Inggris sebagai sarana untuk mencintai bangsa sendiri mengandung maksud bahwa dengan memiliki keahlian berbahasa Inggris, orang Indonesia dapat menjadi duta bangsa dalam arena internasional. Duta bangsa berarti memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk membawa nama baik bangsa ke hadapan bangsa lain. 

Menyenangkan sekali jika mempelajari Bahasa Inggris dilandasi oleh kecintaan terhadap tanah air. Dengan menyadari bahwa dominasi kehidupan masa kini berasal dari bangsa asing, terkhusus melalui Bahasa Inggris, maka tidaklah bijaksana bilamana seseorang belajar Bahasa Inggris hanya demi memenuhi keinginan pribadinya. Membahagiakan sekali jika kita mendengar seseorang yang mahir berbahasa Inggris, berkesempatan melancong ke luar negeri sambil membawa oleh-oleh pengalaman dari sana namun orang itu juga meninggalkan kesan yang manis tentang Indonesia bagi orang-orang yang berada di sana. 

Bagaimanakah kita dapat mencapai tahap ini? Tak lain caranya ialah dengan menjadikan Bahasa Inggris lebih menarik untuk dipelajari. Misalnya, dengan Bahasa Inggris kita akan mengetahui cara mengatasi pencemaran air, cara bercocok tanam yang lebih menguntungkan, menghemat konsumsi energi, dan sebagainya. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa teknologi-teknologi masa kini berasal dari luar negeri dan bahasa yang paling memungkinkan sebagai “jembatan penghubung” pengetahuan-pengetahuan di atas ialah Bahasa Inggris. Meskipun sekarang telah marak promosi bahasa lain di sekitar kita, namun kedudukan Bahasa Inggris belum tergoyahkan. 

Berbahasa Inggris demi cinta kita kepada bangsa berarti pula membawa serta Bahasa Inggris sebagai modal untuk memasyarakatkan budaya kita kepada bangsa lain. Budaya di sini bukan sebatas kesenian, melainkan tata cara, adat-istiadat, bahkan memberikan “umpan balik” kepada bangsa lain untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Dari sini akan tercipta sebuah “diaspora”, sebuah “trade-off” (pertukaran) yang saling menguntungkan. 

Terakhir, Bahasa Inggris menjadi perekat cinta kita kepada bangsa mengandung arti bahwa kemahiran kita dalam berbahasa Inggris diharapkan membawa perubahan yang berarti bagi reputasi bangsa Indonesia di mata dunia.
Untuk mencapai target ini maka kita perlu mengubah pandangan kita tentang pentingnya belajar Bahasa Inggris: dari pandangan untuk memenuhi kebutuhan pribadi menuju pandangan untuk ikut mengangkat harkat dan martabat bangsa. Semboyan yang harus kita tanamkan ialah “Kuasai Bahasa Inggris – Taklukkan Dunia!” 

Artikel ini didukung oleh belajar hipnotis

Kiat Sukses Berbahasa Inggris: Sebuah Pengalaman Pribadi

Memasuki millennium kedua Anno Domini ini, keberadaan Bahasa Inggris masih menjadi sesuatu hal yang menakutkan bagi sebagian besar orang Indonesia. Saya membuktikan selama bertahun-tahun bahwa Bahasa Inggris sepertinya belum mampu meraih simpati mayoritas masyarakat. Maraknya pelatihan, kursus, hingga program studi Bahasa Inggris di sekitar kita hingga sejauh ini belum cukup membantu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. Sebagian besar orang seperti “terpaksa” mempelajari Bahasa Inggris Bahasa Inggris demi tujuan pekerjaan atau kelulusan dari studi. Dari tujuan ini maka pembelajaran Bahasa Inggris cenderung praktis. Sebagai contoh, muncul anggapan bahwa Percakapan Bahasa Inggris itu lebih penting dibandingkan Tata Bahasanya. Ini sebuah paradigma yang sempit yang kelak akan mempersulit pelaku Bahasa Inggris manakala ia harus berkomunikasi Bahasa Inggris yang baik dan benar. Prinsip “conversation yes, grammar no” ini adalah satu dari sekian banyak kendala yang membuat orang tidak menguasai Bahasa Inggris secara optimal.

Mempelajari sebuah bahasa tidak akan lengkap bila tidak disertai dengan mengikuti perkembangan, khususnya perkembangan yang berlangsung pada daerah atau tempat bahasa tersebut berasal. Mempelajari sebuah bahasa adalah mempelajari budaya tempat bahasa tersebut berasal. Seperti kita mempelajari Bahasa Jawa, kita diberi petunjuk mengenai tata cara berbahasa Jawa yang tepat; bagaimana berkomunikasi secara sopan, bagaimana pola pergaulannya, dan sebagainya. 

Kita tidak menyalahkan sikap atau preferensi seseorang dalam mempelajari Bahasa Inggris. Seseorang lebih mementingkan kecakapan lisan juga baik asalkan komunikasi yang dijalankan dapat dipahami oleh lawan bicaranya. 

Namun demikian, masalah akan timbul manakala komunikasi tak memungkinkan lagi dilakukan secara lisan. Ketika gesture atau body language tidak lagi sanggup membantu kelancaran komunikasi, maka kita akan menemui jalan buntu. Perkembangan zaman menunjukkan bahwa teknologi informasi semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, khususnya orang Indonesia. Munculnya social networks, social bookmarks, e-mail melalui teknologi informasi bernama Internet membuat keahlian berbahasa Inggris menjadi semakin penting. Pengalaman saya menjumpai banyak orang yang mengakui ahli berbicara dalam Bahasa Inggris, namun kesulitan untuk berkomunikasi secara resmi membuktikan bahwa pola pembelajaran Bahasa Inggris sejauh ini belum tepat. 

Langkah-langkah menguasai bahasa Inggris

Menguasai sebuah bahasa yang bukan berasal dari budaya kita sangat sulit. Jangankan bahasa Inggris, bahasa daerah pun sulit untuk dikuasai. Langkah-langkah berikut ini mungkin dapat menjadi masukan bagi siapapun yang ingin menguasai Bahasa Inggris. Intinya, mempelajari bahasa itu tidak memiliki batasan waktu, sehingga hendaknya kita tidak terlalu percaya terhadap semboyan-semboyan oportunis seperti “Mahir Bahasa Inggris 24 jam”, “Kursus Kilat Bahasa Inggris”, dan sebagainya. Semboyan-semboyan ini cenderung menyesatkan. Tidak ada proses yang instan di dalam mempelajari sebuah bahasa, terlebih bahasa yang berasal dari luar budaya kita. Mempelajari dan menguasai bahasa memerlukan usaha yang terus-menerus karena zaman terus berubah. Perubahan yang terjadi mempengaruhi istilah-istilah yang digunakan, kebiasaan-kebiasaan bergaul, dan sebagainya. Hal inilah yang perlu kita cermati. Uraian di bawah ini menjelaskan gambar (perhatikan Gambar Menguasai Bahasa Inggris)

Gambar: Menguasai Bahasa Inggris
Tiyo Widodo (2010)

1. Memperlakukan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua

Sejauh ini Bahasa Inggris masih memiliki status “bahasa asing”. Padahal Bahasa Inggris adalah bahasa pengantar komunikasi internasional yang paling dominan. Penghantaran informasi tentang kemajuan dunia berlangsung menggunakan Bahasa Inggris. Jika Bahasa Inggris masih disebut sebagai “bahasa asing”, maka keterasingannya membuat orang merasa enggan untuk mendekat lantaran tidak mengenal. Pepatah mengatakan bahwa “tak kenal maka tak sayang” berlaku bagi keberadaan Bahasa Inggris. Oleh karena itu, sudah tiba saatnya untuk menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Pun ketika muncul anggapan seseorang bahwa Bahasa Inggris tidak sesuai dan tidak cocok bagi kehidupan sehari-harinya, mengatakan bahwa tanpa berbahasa Inggris pun ia tidak akan merasa rugi, perkembangan terakhir kehidupan dunia menunjukkan bahwa masyarakat dari berbagai bangsa semakin membaur tanpa mengenal batas-batas kewilayahan. Jika kita tidak berusaha mendekat, maka orang-orang dari bangsa lainlah yang mendekat. Keberadaan orang dari bangsa lain di Indonesia saat ini bahkan mencapai daerah-daerah pelosok. Inila perlunya Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar kedua.

2. Mengikuti informasi mancanegara

Pentingnya mengikuti informasi mancanegara ialah untuk mendapatkan tambahan pengetahuan tentang istilah-istilah baru. Kita tidak perlu mempedulikan apakah paham atau tidak paham tentang istilah-istilah tersebut melainkan cukup dengan mencatatnya dan kemudian mencari padanan kata atau definisinya dalam bahasa Indonesia dengan bantuan kamus. Peningkatan pengetahuan ini diteruskan dengan mengoleksi istilah-istilah baru/kosa kata baru (new vocabularies) secara rutin tiap hari. Pengalaman saya sewaktu dalam tahap-tahap awal belajar Bahasa Inggris ialah mencari 10 kata baru setiap harinya dan menulisnya ke dalam buku kecil (buku notes). Cara ini sangat membantu penguasaan Bahasa Inggris karena semakin banyak istilah yang seseorang kuasai, semakin mudah orang tersebut mengkomunikasikan bahasa.

3. Menguasai tata bahasa

Saya kurang sepakat bahwa belajar Bahasa Inggris tidak memerlukan tata bahasa (grammar). Sedangkan saya menulis artikel ini juga menggunakan tata bahasa. Bagaimana mungkin kita meninggalkan tata bahasa? Ini sebuah paradigma yang menurut saya keliru, salah kaprah. Justru sebaliknya, keberadaan tata bahasa sangatlah penting untuk kelancaran berbahasa, bahasa apapun itu. Manakala orang berada dalam situasi tatap muka langsung dan berkomunikasi secara lisan, barangkali kendala komunikasi akan terbantu oleh gesture dan body language. Namun, ketika tiba saatnya harus berkomunikasi jarak jauh secara tertulis melalui, misalnya pesan singkat (SMS), fasilitas chat, e-mail, dan sarana komunikasi digital lainnya, kelemahan tata bahasa akan terlihat jelas. 

Menguasai tata bahasa tidak serumit yang dibayangkan. Kita sekedar perlu mengetahui kedudukan kata per kata sehingga dapat mengkomunikasikannya dengan baik dan benar, dalam waktu dan situasi yang tepat. Istilah dalam Bahasa Inggris adalah tenses. Mempelajari Bahasa Inggris wajib mengetahui part of speech (jenis kata: kata benda (noun), kata sifat (adjective), kata kerja (verb), Kata keterangan (adverb); kesemuanya terangkum dan terintegrasikan dalam pelajaran tata bahasa.

Barangkali tiga syarat di atas yang perlu kita tingkatkan dari waktu ke waktu. Di dalam ketiga syarat tadi tentunya terdapat unsur-unsur lain yang dengan serta-merta akan kita temukan pada saat kita mempelajarinya, misalnya unsur budaya, adat-istiadat, pergaulan, dan sebagainya.

Kesimpulannya, untuk menjadi ahli, atau setidaknya menguasai, suatu bidang dengan baik dan penguasaan tersebut diterima dan diakui dengan positif oleh orang lain, seseorang memerlukan proses yang bertahap. Determinasi dan kecintaan adalah kunci dari segalanya, karena itu tadi, “tak kenal maka tak sayang”. Bahasa Inggris memang masih sulit bagi sebagian besar orang Indonesia, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan Bahasa Inggris semakin hari semakin mendominasi kehidupan sehari-hari. Misalnya, istilah-istilah seperti add friend, tag friend, sms, miss call, poke, print, rental, dan masih banyak lagi ungkapan atau istilah lainnya. Cara belajar yang instan dan terlalu praktis akan memberikan hasil yang tidak optimal. Kita tidak boleh berpedoman visi tercapai (orang sebagai pribadi menguasai Bahasa Inggris), namun misi pemasyarakatan Bahasa Inggris akan terhambat. Bahasa Inggris semakin menyenangkan apabila berguna bagi diri sendiri dan bagi orang lain.


17 December 2010

Jelang Undian 16-besar Liga Champions Eropa 2010/2011

www.mirrorfootball.co.uk
Hari Jumat ini, tanggal 17 Desember, akan berlangsung undian babak 16 besar (knock-out fase pertama) kompetisi Liga Champions Eropa. Udian akan berlangsung pada pukul 11:00 GMT atau 18:00 WIB. Undian tahun ini dihadiri oleh legenda sepakbola Sir Bobby Charlton dan Ronnie Whelan (mantan kapten timnas Republik Irlandia).

Sebagai pengingat, tim-tim yang lolos ke babak 16 besar Liga Champions 2010/2011 adalah sebagai berikut:
Juara grup: Tottenham Hotspur, Schalke 04, Manchester United, Barcelona, Bayern Munich, Chelsea, Real Madrid, dan Shakhtar Donetsk.
Runners-up grup: Inter Milan, Olympique Lyonnais, Valencia, FC Kobenhavn, AS Roma, Olympique Marseille, AC Milan, dan Arsenal.

Peraturan Undian

English Premier League menyumbang tim terbanyak, yakni empat tim. Artinya, semua wakil Inggris dalam Liga Champions musim ini berhasil lolos dari babak penyisihan grup. Setelah EPL, menyusul La Liga Spanyol dengan tiga tim (Barcelona, Real Madrid, dan Valencia) bersama Liga Serie A Italia  (Inter Milan, AC Milan, dan AS Roma).

Perlu diketahui bahwa dalam undian ini berlaku peraturan bahwa tim yang pernah berjumpa pada penyisihan grup tidak dapat berjumpa lagi dalam babak 16 besar. Babak 16 besar Liga Champions juga memberlakukan peraturan bahwa dua tim yang berasal dari negara yang sama tidak akan berjumpa. Sebagai contoh AC Milan. I Rossoneri tidak akan dipasangkan dengan Real Madrid, Inter Milan, atau AS Roma, sehingga potensi lawan Milan pada knock-out fase pertama ini adalah selain keempat tim tersebut di atas. Dengan demikian pada 16 besar nanti akan terjadi kemungkinan duel menarik antara Milan melawan salah satu dari Chelsea, Manchester United, Barcelona, atau Bayern Munich.

15 December 2010

2010 AFF Suzuki Cup - Matchday 4 (1st leg semifinals)

MALAYSIA

Bukit Jalil National Stadium, Kuala Lumpur
15 December 2010

MALAYSIA v VIETNAM 2-0 (0-0)
Goals: M. Mohd Sahli (61') (80')

Lineups (substitutions):

MALAYSIA (22) K. Che Mat, (4) M. Putra Omar, (18) M. Jasuli/(2) S. Mat Abu, (24) M. Ahmad, (27)M. Mohd Shas, (9) N. Talaha/(17) A. Yahyah, (21) M. Zainal, (12) A. Rohidan, (8) M. Rahim, (16) K. Subramaniam/(14) M. Zambri, (10) M. Mohd Sali.

VIETNAM (25) Tan Truong Bui, (7) Nhu Thanh Vu, (3) Huy Hoang Nguyen, (4) Phuoc Tu Le, (6) Dinh Dong Tran, (14) Le Tan Tai/(8) Nguyen Viet Thang, (12) Minh Phung Nguyen, (17) Vu Phong Nguyen, (19) Thanh Luong Pham/(130 Nguyen Quang Hai, (30) Anh Duc Nguyen, (5) Phan Thanh Hung/(5) Nguyen Minh Chau.

JAKARTA 

Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan
16 December 2010

PHILIPPINES v INDONESIA 0-1 (0-1)

Goal: Cristian Gonzales (31')
Yellow cards: A. Borromeo, J. Younghusband, Octo Maniani, C. Gonzales

Lineups (substitutions)

PHILIPPINES (1) Neil Etheridge, (2) Rob Gier, (11) Alexander Borromeo, (4) Anton Quimson Del Rosario, (27) Ray Jonsson, (7) James Younghusband, (17) Jason de Jong, (18) Chris Greatwich, (6) Roel Gener, (23) Ian Bayone Araneta/(13) Emilio Calidgong, (10) Phillip Younghusband.

INDONESIA (1) Markus Horison, (23) Hamka Hamzah, (5) Maman Abdulrahman, (3) Zulkifli Syukur, (22) M. Ridwan, (2) M. Nasuha/(7) Beny Wahyudi, (15) Firman Utina, (10) Octovianus Maniani/(14) Arif Suyono, (19) Ahmad Bustomi, (17) Irfan Bachdim/(20) Bambang Pamungkas, (9) Cristian Alfaro Gonzales 

Mengukur Kebersihan Gigi

Mengukur kebersihan gigi dan mulut merupakan upaya untuk menentukan keadaan kebersihan gigi dan mulut seseorang.

Pada umumnya untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut digunakan suatu Indeks. Indeks adalah suatu angka yang menunjukkan keadaan klinis yang didapat pada waktu dilakukan pemeriksaan, dengan cara mengukur luas dari permukaan gigi yang ditutupi oleh plak maupun kalkulus, dengan demikian angka yang diperoleh berdasarkan penilaian yang obyektif. Apabila kita sudah mengetahui nilai atau angka kebersihan gigi dan mulut dari seorang pasien kita dapat memberikan pendidikan dan penyuluhan, motivasi dan evaluasi yaitu dengan melihat kemajuan ataupun kemunduran kebersihan gigi dan mulut seseorang atau sekelompok orang, ataupun kita dapat melihat perbedaan keadaan klinis seseorang atau sekelompok orang.

Kita dapat membedakan penilaian apabila penilaian yang dilakukan oleh pemeriksa seragam. Oleh karena itu pada saat pengukuran diperlukan sekali ketelitian dan keseragaman penilaian diantara pemeriksa sehingga diperoleh nilai yang akurat dan seragam dari setiap pemeriksa. Untuk mendapatkan nilai yang akurat tentunya diantara pemeriksa harus mempunyai pandangan yang sama dalam penilaian, oleh karena itu perlu sekali dilakukan kalibrasi terlebih dahulu.

Pengukuran Kebersihan Gigi dan Mulut menurut Greene dan Vermillion

Untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut, Greene dan Vermillion menggunakan indeks yang dikenal dengan Oral Hygiene Index (OHI) dan Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S). Pada awalnya indeks ini digunakan untuk menilai penyakit peradangan gusi dan penyakit periodontal, akan tetapi data dari data yang diperoleh ternyata kurang berarti atau bermakna. Oleh karena itu hanya digunakan untuk mengukur tingkat kebersihan gigi dan mulut dan menilai efektivitas dari penyikatan gigi.

Oral Hygiene Index (OHI)

OHI terdiri dari komponen Debris Index dan Calculus Index, dengan demikian OHI merupakan hasil penjumlahan dari Debris Index dan Calculus Index, dimana setiap indeks menggunakan skala nilai 0-3.

Pada penilaian ini semua gigi diperiksa baik gigi-gigi pada rahang atas maupun rahang bawah. Setiap rahang dibagi menjadi tiga segmen, yaitu: (1) segmen pertama, mulai dari distal kaninus sampai molar ketiga kanan rahang atas; (2) segmen kedua, diantara kaninus kanan dan kiri; dan (3) segmen ketiga, mulai dari mesial kaninus sampai molar ketiga kiri. Setelah semua gigi diperiksa, pilih gigi yang paling kotor dari setiap segmen.

OHI-S (Oral Hygiene Index Simplified)

Untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut seseorang, Greene dan Vermillion memilih enam permukaan gigi indeks tertentu yang cukup dapat mewakili segmen depan maupun belakang dari seluruh pemeriksaan gigi yang ada dalam rongga-rongga mulut. Gigi-gigi yang dipilih sebagai gigi indeks beserta permukaan indeks yang dianggap mewajili tiap segmen ialah:

Gigi 16 pada permukaan bukal
Gigi 11 pada permukaan labial
Gigi 26 pada permukaan bukal
Gigi 36 pada permukaan lingual
Gigi 31 pada permukaan labial
Gigi 46 pada permukaan lingual

Permukaan yang diperiksa adalah permukaan gigi yang jelas terlihat dalam mulut, yaitu permukaan klinis, bukan permukaan anatomis.
Apabila gigi indeks pada suatu segmen tidak ada, maka dilakukan penggantian gigi tersebut dengan ketentuan sebagai berikut:
-Apabila gigi molar pertama tidak ada maka penilaian dilakukan pada gigi molar kedua, apabila gigi molar pertama dan kedua tidak ada maka penilaian dilakukan pada gigi molar ketiga akan tetapi bila gigi molar pertama, kedua dan ketiga tidak ada, maka tidak ada penilaian untuk segmen tersebut.
-Apabila gigi incisivus pertama kanan atas tidak ada, maka dapat diganti oleh gigi incisivus kiri dan apabila gigi incisivus kiri bawah tidak ada, dapat diganti dengan gigi incisivus pertama kanan bawah, akan tetapi bila gigi incisivus pertama kiri atau kanan tidak ada, maka tidak ada penilaian untuk segmen tersebut.
-Gigi indeks dianggap tidak ada pada keadaan-keadaan seperti: gigi hilang karena dicabut, gigi yang merupakan sisi akar, gigi yang merupakan mahkota jaket baik yang terbuat dari akrilik maupun logam, mahkota gigi sudah hilang atau rusak lebih dari ½ bagiannya pada permukaan indeks akibat karies maupun fraktur, gigi yang erupsinya belum mencapai ½ tinggi mahkota klinis.
-Penilaian dapat dilakukan apabila minimal ada dua gigi indeks yang dapat diperiksa.
Untuk mempermudah penilaian, sebelum melakukan penilaian debris, kita dapat membagi permukaan gigi yang akan dinilai dengan garis khayal menjadi 3 (tiga) bagian sama besar/luasnya secara horisontal.

11 December 2010

WikiLeaks: 'Psy War" Arab Saudi terhadap Iran

WikiLeaks mengabarkan dari Timur Tengah adanya rencana penyerangan secara psikologis terhadap pihak Iran oleh pihak Amerika Seriat. Demikian diberitakan oleh seorang pejabat teras militer Iran berpangkat jenderal yang dilansir oleh FARS News Agency, sebuah kantor berita tidak resmi negara teluk Persia tersebut.

Mengutip pernyataan Jenderal Massoud Jazayeri, wakil komandan Islamic Revolution Guards Corps, FARS memberitakan bahwa WikiLeans adalah sebentuk gerakan politis dan perang psikologis yang asal-muasalnya dapat ditelusuri hingga pemerintahan Amerika Serikat. WikiLeaks menerbitkan 250.000 dokumen rahasia Amerika Serikat yang memuat pemberitaan bahwa Raja Abdullah dari Arab Saudi mendesak Amerika Serikat untuk menyerang Iran dengan target utama menghentikan program reaktor nuklir negara tersebut. Raja Abdullah mengancam bahwa jika Iran tetap membangun nuklirnya, maka negara-negara kawasan tersebut juga ingin bertindak serupa.

Sementara itu Iran menyatakan bahwa tidak ada satupun negara Arab yang merasa terganggu oleh program nuklir mereka. Seperti yang dikemukakan oleh Saeed Jalili, yang merupakan negosiator utama masalah nuklir, bahwa hubungan kekerabatan antarbangsa Arab sangatlah erat dan Iran telah menjalin hubungan yang harmonis dengan negara-negara tetangganya tersebut. Jalili menambahkan bahwa usaha-usaha untuk memutus hubungan yang baik ini tidak akan pernah berhasil. Jalili mengemukakan pendapatnya dalam perundingan bersama Amerika Serikat, Cina, Prancis, Rusia, Inggris dan Jerman, dan negara-negara tersebut sangat perhatian terhadap upaya pembangunan nuklir di negara Iran.

Pekan ini, kepala Atomic Energy Organization Iran melalui media pemerintah mengemukakan bahwa pemerintah Iran telah mulai kegiatan produksi uranium untuk mendukung program nuklir tersebut.

Terkait dengan bocoran pemberitaan WikiLeaks ini, Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengklaim bahwa Amerika Serikat telah merilis sejumlah dokumen yang ditujukan untuk kepentingan mereka dan berdampak politis. Ahmadijenad menandaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat menerbitkan dokumen tersebut dan membuat keputusan berdasarkan dokumen yang mereka keluarkan. "Dokumen-dokumen itu tidak memiliki nilai hukum dan tidak akan berdampak politis apapun. Mereka tidak akan memperoleh hasil apa-apa dari aksi mereka," tambah Ahmadinejad. Pekan sebelumnya, Menteri Luar Negeri Ramin Mehmanparast menganggap bocoran rahasia dari WikiLeaks sebagai akal-akalan belaka dan penuh kebohongan.

Sumber: CNN.com

FIFA Calendar 2010/2011

29.11.2010 - Frankfurt, Germany
Final Draw FIFA Women's World Cup Germany 2011.

02.12.2010 - Zurich, Switzerland
Announcement of Host Nations for the FIFA World Cup (TM) 2018 and 2022

08-18.12.2010 - United Arab Emirates
FIFA Club World Cup

06.01.2011 - Doha, Qatar
AFC Congress

10.01.2011 - Zurich, Switzerland
FIFA Ballon d'Or

09.01.2011 -
Friendly matches

23.02.2011 - Khartoum, Sudan
CAF Congress

04-06.03.2011 - Cardiff, Wales
UEFA Congress

25-29.03.2011
Friendly matches

01.05.2011 - Asuncion, Paraguay
Conmebol Congress

03.05.2011 - Miami, USA
Concacaf Congress

31.05-01.06.2011 - Zurich, Switzerland
61st FIFA Congress

01-02.06.2011 - Zurich, Switzerland
Blue Stars/FIFA Youth Cup

03-07.06.2011
Friendly matches

18.06-10.07.2011 - Mexico
FIFA U-17 World Cup

26.06-17.07.2011 - Germany
FIFA Women's World Cup

29.07-20.08.2011 - Colombia
FIFA U-20 World Cup

30.07.2011
Preliminary Draw for the 2014 FIFA World Cup Brazl (TM)

10.08.2011
Friendly matches

17.08.2011
Friendly matches

01-11.09.2011
FIFA Beach Soccer World Cup

02-06.09.2011
Friendly matches

07-11.10.2011
Friendly matches

17.10.2011 - Zurich, Switzerland
Organizing Committee for the FIFA U-20 and U-17 Women's World Cups

20.10.2011 - Zurich, Switzerland
Futsal and Beach Soccer Committee

11-15.11.2011
Friendly matches

08-18.12.2011 - Japan
FIFA Club World Cup

Source: FIFA.com

10 December 2010

2010 FIFA Club World Cup

TEAMS

Club de Futbol Pachuca (Mexico)

1.Miguel Calero, 2.Leobaldo Lopez, 4.Marco Perez, 6.Marco Vidal, 7.Edy Brambila, 9.Hercules Gomez, 10.Edgar Benitez, 11.Braulio Luna, 12.Juan Carlos Rojas, 13.Victor Manon, 14.Daniel Arreola, 15.Luis Montes, 16.Gerardo Rodriguez, 18.Francisco Torres, 19.Dario Cvitanovich, 21.Alejandro Manso, 22.Paul Aguilar, 23.Carlos Velazquez, 24.Raul Martinez, 25.Franco Arizala, 26.Javier Munoz, 27.Carlos Alberto Pena, 30.Rodolfo Cota (Coach: Pablo Marini)

Sport Club Internacional (Brazil)

1.Renan, 2.Bolivar, 3.Indio, 4.Nei, 5.Pablo Guinazu, 6.Kleber, 7.Tinga, 8.Giuliano, 9.Alecsandro, 10.Andres D'Alessandro, 11.Rafael Sobis, 12.Delrey, 14.Ronaldo Alves, 15.Sasha, 16.Juan, 17.Andrezinho, 18.Oscar, 19.Leandro Damiao, 20.Wilson Matias, 21.Daniel, 22.Roberto Abbondanzieri, 23.Lauro (Coach: Jorge Fossatti)

FC Internazionale Milan (Italy)

1.Julio Cesar, 2.Ivan Cordoba, 4.Javier Zanetti, 5.Dejan Stankovic, 6.Lucio, 8.Thiago Motta, 9.Samuel Eto'o, 10.Wesley Sneijder, 11.Sulley Muntari, 12.Luca Castellazzi, 13.Maicon, 14.MacDonald Mariga, 19.Esteban Cambiasso, 21.Paolo Orlandoni, 22.Diego Milito, 23.Marco Materazzi, 26.Christian Chivu, 27.Goran Pandev, 31.Denis Alibec, 36.Simone Beneditti, 39.Davide Santon, 40.Obiora Nwankwo, 88.Jonathan Biabiany (Coach: Rafael Benitez)

TP Mazembe Englebert (Congo Democratic Republic)

1.Muteba Kidiaba, 2.Joel Kimwaki, 3.Kiritcho Kasusula, 4.Miala Nkuluta, 5.Mukinayi Tshani, 6.Mukok Kanda, 7.Patient Mwepu, 8.Mianga Ndonga, 10.Given Singuluma, 11.Mulota Kabangu, 12.Bawaka Mabele, 13.Mbenza Bedi, 15.Dioko Kaluyituka, 16.Stoppila Sunzu, 18.Luyeye Mvete, 20.Kazembe Mihayo 21.Aime Bakula, 22.Laurent Ngome, 24.Amia Ekanga, 27.Ngandu Kasongo, 28.Tshizeu Kanyimbu, 30.Lufulwabo Kayembe. (Coach: Lamine N'Diaye) 

Al-Wahda Sports Club (United Arab Emirates)

1.Mutaz Abdulla, 2.Yaqoub Al-Hosani, 6.Magrao, 7.Mohamed Al-Shehhi, 8.Omar Ahmed, 9.Fernando Baiano, 10.Ismaeil Matar, 11.Saeed Al-Kathiri, 12.Khalid Jalal, 13.Talal Al-Jneibi, 15.Fahed Masoud, 18.Ali Al-Hosani, 20.Modibi Al-Hosani, 21.Basheer Saeed, 23.Haidar Ali, 24.Abdulraheem Jumaa, 26.Mahmoud Al-Hammadi, 27.Salem Saleh, 28.Eisa Ahmed, 36.Hamdan Al-Kamali, 39.Amer Bazuhair, 40.Adel Al-Kamali, 80.Hugo (Coach: Josef Hickersberger)

Seongnam Ihlwa Chunma FC (South Korea)

1.Jung Sung-ryong, 2.Ko Jae-sung, Yun Young-sun, 4.Sasa Ognenovski, 5.Cho Byung-kuk, 6.Cheon Kwang-jin, 8.Choi Kwang-jin, 9.Cho Sung-kuk, 10.Radoncic Dzenan, 11.Mauricio Molina, 13.Jeong Ho-jeong, 14.Song Ho-young, 16.Kim Sung-hwan, 18.Namkung Bo, 20.Kim Jin-ryong, 22.Hong Chul, 26.Jang Suk-won, 26.Jang Suk-won, 30.Jo Jae-cheol, 31.Lee Sang-gi, 32.Park Sang-hee, 38.Yong Hyun-jin, 41.Kang Sung-kwan (Coach: Shin Tae-yong)

Hekan United FC (Papua New Guinea)

1.Simone Tamasinau, 2.Gideon Omokirio, 4.Trevor Ire, 6.Abraham Iniga, 7.Benjamin Mela, 9.Tuimasi Manuca, 10.Osea Vakatalesau, 11.Joachim Waroi, 12.David Muta, 13.Andrew Lepani, 14.Niel Hans, 15.Samuel Kini, 16.Pita Bolatoga, 17.Kema Jack, 18.Eric Komeng, 19.Koriak Upaiga, 20.Gure Gabina, 21.Malakai Tiwa, 22.David Aua, 23.Ian Yanum, 25.Alvin Singh, 27.Rex Honu, 28.Henry Faarodo (Coach: Tommy Mana)

MATCHES

08.12.2010 Al-Wahda Sports Club v Hekari United FC 3-0 (2-0)
10.12.2010 TP Mazembe Englebert v Club de Futbol Pachuca 1-0 (1-0) 
11.12.2010 Al-Wahda v Seongnam Ilhwa Chunma FC 1-4 (1-2)

 
FIXTURES
14.12.2010 TP Mazembe Englebert v Sport Club Internacional
15.12.2010 Seongnam Ilhwa Chunma FC v FC Internazionale Milan
15.12.2010 Fifth place play-off
18.12.2010 Third place play-off 
18.12.2010 Final

Indonesia National Football Team Int'l Matches

The data since 1981....

11.05.1981 Indonesia v Selandia Baru 0-2
20.05.1981 Australia v Indonesia 2-0
23.05.1981 Selandia Baru v Indonesia 5-0
31.05.1981 Fiji v Indonesia 0-0
15.06.1981 Indonesia v Taiwan 1-0
22.06.1981 Indonesia v Liechtenstein 2-3
23.06.1981 Indonesia v Malta 0-1
28.06.1981 Taiwan v Indonesia 2-0
10.08.1981 Indonesia v Fiji 3-3
30.08.1981 Indonesia v Australia 1-0
01.09.1981 Indonesia v India 0-1
07.09.1981 Indonesia v Selandia Baru 0-0
16.09.1981 Indonesia v Jepang 0-2
20.09.1981 Indonesia v Uni Emirat Arab 5-2
25.09.1981 Malaysia v Indonesia 2-0
09.11.1981 Indonesia v Pakistan 0-0
13.11.1981 Thailand v Indonesia 2-0
15.11.1981 Indonesia v Singapura 0-2
17.11.1981 Indonesia v Malaysia 0-0
07.12.1981 Indonesia v Singapura 2-0
13.12.1981 Indonesia v Thailand 1-2
14.12.1981 Indonesia v Singapura 2-0
08.05.1982 Indonesia v Korea Selatan 0-1
10.05.1982 Indonesia v Korea Selatan 0-2
11.05.1982 Thailand v Indonesia 2-0
07.06.1982 Korea Selatan v Indonesia 3-0
11.06.1982 Indonesia v India 1-0
13.06.1982 Indonesia v Bahrain 1-1
07.09.1982 Indonesia v Thailand 0-0
09.09.1982 Indonesia v Senegal 2-2
11.09.1982 Malaysia v Indonesia 2-0
13.09.1982 Indonesia v Uni Emirat Arab 0-2
29.05.1983 Indonesia v Thailand 0-5
31.05.1983 Indonesia v Burma 2-1
02.06.1983 Indonesia v Brunei Darussalam 1-1
13.06.1983 Indonesia v Thailand 0-0
15.06.1983 Korea Selatan v Indonesia 3-0
07.08.1983 Indonesia v Thailand 2-1
09.08.1983 Indonesia v Bangladesh 2-1
11.08.1983 Indonesia v Filipina 1-0
15.08.1983 Indonesia v Iran 0-1
17.08.1983 Indonesia v Syria 1-2
07.12.1983 Indonesia v Korea Selatan 0-0
09.12.1983 Indonesia v Brunei Darussalam 0-0
11.12.1983 Singapura v Indonesia 0-0
13.09.1984 Malaysia v Indonesia 2-2
15.09.1984 Indonesia v Papua New Guinea 0-1
11.09.1984 Indonesia v Liberia 0-1
17.09.1984 Indonesia v Thailand 5-1
15.03.1985 Indonesia v Thailand 1-0
18.03.1985 Indonesia v Bangladesh 2-0
21.03.1985 Indonesia v India 2-1
29.03.1985 Thailand v Indonesia 0-1
02.04.1985 Bangladesh v Indonesia 2-1
06.04.1985 India v Indonesia 1-1
28.04.1985 Indonesia v Bangladesh 1-1
02.05.1985 Indonesia v Korea Utara 0-7
04.05.1985 Pakistan v Indonesia 1-3
21.07.1985 Korea Selatan v Indonesia 2-0
30.07.1985 Indonesia v Korea Selatan 1-4
07.12.1985 Indonesia v Singapura 0-1
11.12.1985 Indonesia v Brunei Darussalam 1-1
15.12.1985 Thailand v Indonesia 7-0
16.12.1985 Indonesia v Malaysia 1-0
21.02.1986 Indonesia v Paraguay 2-3
21.09.1986 Indonesia v Qatar 1-1
25.09.1986 Indonesia v Arab Saudi 0-2
27.09.1986 Indonesia v Malaysia 1-0
02.10.1986 Indonesia v Uni Emirat Arab 2-2
04.10.1986 Korea Selatan v Indonesia 4-0
05.10.1986 Indonesia v Kuwait 0-5
20.10.1986 Indonesia v Aljazair 0-1
27.02.1987 Indonesia v Korea Utara 0-2
08.04.1987 Jepang v Indonesia 3-0
12.09.1987 Indonesia v Brunei Darussalam 2-0
14.09.1987 Indonesia v Thailand 0-0
17.09.1987 Indonesia v Burma 4-0
20.09.1987 Indonesia v Malaysia 1-0
17.06.1989 Indonesia v Yaman 1-0
19.06.1988 Indonesia v Bahrain 0-0
22.06.1988 Indonesia v Korea Selatan 0-4
02.07.1988 Indonesia v Korea Selatan 0-4
02.10.1988 Indonesia v Qatar 0-1
04.10.1988 Indonesia v Qatar 1-4
08.12.1988 Malaysia v Indonesia 0-0
12.12.1988 Thailand v Indonesia 0-0
30.01.1989 Thailand v Indonesia 3-0
03.02.1989 Indonesia v Malaysia 1-3
12.05.1989 Singapura v Indonesia 1-2
21.05.1989 Indonesia v Korea Utara 0-0
28.05.1989 Indonesia v Jepang 0-0
04.06.1989 Hong Kong v Indonesia 1-1
11.06.1989 Jepang v Indonesia 5-0
25.06.1989 Indonesia v Hong Kong 3-2
09.07.1989 Korea Utara v Indonesia 2-1
21.08.1989 Indonesia v Brunei 6-0
23.08.1989 Indonesia v Filipina 5-1
25.08.1989 Malaysia v Indonesia 2-0
28.08.1989 Indonesia v Singapura 0-1
30.08.1989 Indonesia v Thailand 1-1
29.01.1990 Indonesia v Cina 0-8
02.02.1990 Indonesia v Kenya 2-3
05.02.1990 Thailand v Indonesia 1-1
07.06.1991 Indonesia v Malta 0-3
09.06.1991 Korea Selatan v Indonesia 3-0
11.06.1991 Indonesia v Mesir 0-6
06.09.1991 Malaysia v Indonesia 1-2
05.10.1991 Singapura v Indonesia 0-2
26.11.1991 Indonesia v Malaysia 2-0
28.11.1991 Indonesia v Vietnam 1-0
30.11.1991 Filipina v Indonesia 1-2
02.12.1991 Indonesia v Singapura 0-0
04.12.1991 Indonesia v Thailand 0-0
22.04.1992 Indonesia v Cina 0-2
24.04.1992 Indonesia v Malaysia 1-1
26.04.1992 Singapura v Indonesia 1-2
08.08.1992 Indonesia v Malaysia 1-1
10.08.1992 Indonesia v Korea Selatan 0-1
12.08.1992 Indonesia v Thailand 4-1
14.08.1992 Indonesia v Australia 0-3
08.02.1993 Indonesia v Cina 1-2
10.02.1993 Indonesia v Malaysia 1-0
12.02.1993 Thailand v Indonesia 2-0
09.04.1993 Qatar v Indonesia 3-1
13.04.1993 Indonesia v Korea Utara 0-4
16.04.1993 Indonesia v Vietnam 0-1
18.04.1993 Indonesia v Singapura 0-2
24.04.1993 Indonesia v Qatar 1-4
28.04.1993 Indonesia v Korea Utara 1-2
30.04.1993 Indonesia v Vietnam 2-1
02.05.1993 Singapura v Indonesia 2-1
09.06.1993 Indonesia v Vietnam 1-0
11.06.1993 Singapura v Indonesia 1-1
15.06.1993 Indonesia v Filipina 3-1
17.06.1993 Indonesia v Thailand 0-1
19.06.1993 Singapura v Indonesia 3-1
04.12.1995 Thailand v Indonesia 2-1
06.12.1995 Indonesia v Kamboja 10-0
08.12.1995 Indonesia v Malaysia 3-0
12.12.1995 Indonesia v Vietnam 0-1
02.03.1996 Malaysia v Indonesia 0-0
07.03.1996 Indonesia v India 7-1
02.09.1996 Indonesia v Laos 5-1
07.09.1996 Indonesia v Kamboja 3-0
09.09.1996 Indonesia v Myanmar 6-1
11.09.1996 Indonesia v Vietnam 1-1
13.09.1996 Indonesia v Malaysia 1-3
15.09.1996 Indonesia v Vietnam 2-3
30.10.1996 Indonesia v Moldova 1-2
03.11.1996 Indonesia v Lithuania 0-4
06.11.1996 Indonesia v Estonia 0-3
16.11.1996 Indonesia v Irak 0-4
29.11.1996 Arab Saudi v Indonesia 4-1
04.12.1996 Indonesia v Kuwait 2-2
07.12.1996 Indonesia v Korea Selatan 2-4
10.12.1996 Uni Emirat Arab v Indonesia 2-0
22.02.1997 Indonesia v Zimbabwe 0-0
24.02.1997 Indonesia v Vietnam 1-0
26.02.1997 Indonesia v Bosnia & Herzegovina 0-2
09.03.1997 Arab Saudi v Indonesia 4-0
12.03.1997 Arab Saudi v Indonesia 1-1
06.04.1997 Indonesia v Kamboja 8-0
13.04.1997 Indonesia v Yaman 0-0
27.04.1997 Kamboja v Indonesia 1-1
01.06.1997 Indonesia v Uzbekistan 1-1
06.06.1997 Yaman v Indonesia 1-1
13.06.1997 Uzbekistan v Indonesia 3-0
14.09.1997 Indonesia v Tanzania 3-1
28.09.1997 Indonesia v Selandia Baru 5-0
05.10.1997 Indonesia v Laos 5-2
07.10.1997 Indonesia v Vietnam 2-2
09.10.1997 Indonesia v Malaysia 4-0
12.10.1997 Indonesia v Filipina 2-0
16.10.1997 Indonesia v Singapura 2-1
18.10.1997 Indonesia v Thailand 1-1
27.08.1998 Indonesia v Filipina 3-0
29.08.1998 Indonesia v Myanmar 6-2
27.08.1998 Indonesia v Thailand 2-3
30.08.1998 Indonesia v Singapura 1-2
03.09.1998 Indonesia v Thailand 3-3
02.07.1999 Lithuania v Indonesia 2-2
06.07.1999 Estonia v Indonesia 0-0
31.07.1999 Brunei Darussalam v Indonesia 0-1
02.08.1999 Indonesia v Malaysia 6-0
06.08.1999 Indonesia v Singapura 1-1
09.08.1999 Indonesia v Kamboja 3-0
12.08.1999 Indonesia v Vietnam 0-1
14.08.1999 Indonesia v Singapura 0-0
24.10.1999 Hong Kong v Indonesia 1-1
30.10.1999 Kamboja v Indonesia 1-5
14.11.1999 Indonesia v Hong Kong 3-1
20.11.1999 Indonesia v Kamboja 9-2
28.08.2000 Indonesia v Myanmar 4-1
30.08.2000 Indonesia v Taiwan 1-0
01.09.2000 Indonesia v Irak 1-0
03.09.2000 Indonsia v Irak 3-0
13.10.2000 Indonesia v Kuwait 0-0
16.10.2000 Indonesia v Cina 0-4
19.10.2000 Indonesia v Korea Selatan 0-3
01.10.2000 Singapura v Indonesia 1-0
06.11.2000 Indonesia v Filipina 3-0
10.11.2000 Thailand v Indonesia 4-1
13.11.2000 Indonesia v Myanmar 5-0
16.11.2000 Indonesia v Vietnam 3-2
18.11.2000 Thailand v Indonesia 4-1
08.04.2001 Indonesia v Maladewa 5-0
22.04.2001 Indonesia v Kamboja 6-0
29.04.2001 Kamboja v Indonesia 0-2
06.05.2001 Maladewa v Indonesia 0-2
13.05.2001 Cina v Indonesia 5-1
27.05.2001 Indonesia v Cina 0-2
10.11.2002 Singapura v Indonesia 1-1
15.12.2002 Indonesia v Myanmar 0-0
17.12.2002 Indonesia v Kamboja 4-2
21.12.2002 Indonesia v Vietnam 2-2
23.12.2002 Indonesia v Filipina 13-1
25.12.2002 Indonesia v Malaysia 1-0
27.12.2002 Indonesia v Thailand 2-2
26.09.2003 Malaysia v Indonesia 1-1
06.10.2003 Indonesia v Bhutan 2-0
08.10.2003 Indonesia v Yaman 3-0
10.10.2003 Arab Saudi v Indonesia 5-0
13.10.2003 Indonesia v Bhutan 3-0
15.10.2003 Indonesia v Yaman 2-2
17.10.2003 Arab Saudi v Indonesia 6-0
12.02.2003 Yordania v Indonesia 2-1
12.02.2004 Arab Saudi v Indonesia 3-0
12.03.2004 Malaysia v Indonesia 0-0
31.03.2004 Turkmenistan v Indonesia 3-1
03.06.2004 Indonesia v India 1-1
09.06.2004 Indonesia v Sri Lanka 1-0
18.07.2004 Indonesia v Qatar 2-1
21.07.2004 Cina v Indonesia 5-0
25.07.2004 Indonesia v Bahrain 1-3
04.09.2004 Singapura v Indonesia 2-0
08.09.2004 Sri Lanka v Indonesia 2-2
12.10.2004 Indonesia v Arab Saudi 1-3
17.10.2004 Indonesia v Turkmenistan 3-1
07.12.2004 Indonesia v Laos 6-0
09.12.2004 Indonesia v Singapura 0-0
11.12.2004 Vietnam v Indonesia 0-3
13.12.2004 Indonesia v Kamboja 8-0
28.12.2004 Indonesia v Malaysia 1-2
03.01.2005 Malaysia v Indonesia 4-1
08.01.2005 Indonesia v Singapura 1-3
16.01.2005 Singapura v Indonesia 2-1
13.01.2007 Indonesia v Laos 3-1
15.01.2007 Indonesia v Vietnam 1-1
17.01.2007 Singapura v Indonesia 2-2
10.07.2007 Indonesia v Bahrain 2-1
11.07.2007 Indonesia v Arab Saudi 1-2
18.07.2007 Indonesia v Korea Selatan 0-1
05.12.2008 Indonesia v Myanmar 3-0
07.12.2008 Indonesia v Kamboja 4-0
09.12.2008 Indonesia v Singapura 0-2
16.12.2008 Indonesia v Thailand 0-1
20.12.2008 Thailand v Indonesia 2-1
19.01.2009 Oman v Indonesia 0-0
28.01.2009 Indonesia v Australia 0-0
18.11.2009 Indonesia v Kuwait 1-1
06.01.2010 Indonesia v Oman 1-2
03.03.2010 Australia v Indonesia 1-0
08.10.2010 Indonesia v Uruguay 1-7
12.10.2010 Indonesia v Maladewa 3-0
21.11.2010 Indonesia v Timor-Leste 6-0
24.11.2010 Indonesia v Taiwan 2-0
01.12.2010 Indonesia v Malaysia 5-1
04.12.2010 Indonesia v Laos 6-0
07.12.2010 Indonesia v Thailand 2-1

Indonesia (Belum) Krisis Pangan

Saudara sebangsa dan setanah air, kita tidak boleh semudah itu dibohongi, bahwa Indonesia mengalami krisis pangan, khususnya padi dan kebutuhan pokok sehari-hari. 

Itu sekedar akal-akalan para penghianat bangsa yang mementingkan keuntungan pribadi dan golongan. 

Mari kita lihat sekelumit, dari sekian banyak, bukti seberapa luasnya lahan pertanian yang kita miliki....


(Keterangan: Dokumentasi oleh Ant & Dec; Lokasi: Kelurahan Jampirejo, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung; Nopember 2010)




8 December 2010

2010 AFF Suzuki Cup - Review 1

Promising momentum for Indonesia football national team

In South East Asia, football has been long dominated by Thailand. The "White Elephants" army is, indisputedly, the strongest and the most consistent sides in the region as they have had great reputes regionally or internationally. The Thais, three times regional champions (formerly Tiger Cup, now AFF Cup) have almost been the most favorite team in every international tournaments held for the SEA football competition.

This year can be a disappointing closing for Thailand because they had to give in the AFF Cup earlier. The former England's captain's boys did not manage any single victory in the group staged held in Jakarta. Two draws and one defeat showed how disappointing performance they had in the current edition.

Conversely, the superiority over Thailand for Indonesia is a great momentum towards better luck. For almost two decades Merah Putih army have been shadowed by the greatness of Thailand. Just remember that the development of Vietnam football began with a surprise win against Indonesia, somewhat decade ago. Since then, Vietnam has been developing their football life very nicely and emphatically. Even, they became the champions of the previous AFF Cup, when Le Chong Vinh and Co. showed patriotic, enthusiastic, and all out performance before their audience at My Dinh stadium, Hanoi. It is the momentum which Indonesia need to wake up from the ruin. Past times shows that Indonesia was one of big countries in Asian football. The further developments show that Indonesia have been left behind for almost forty years. It is the moment to rebuild the pride, to set up a new journey towards the supremacy of the regional football. The win over the Thais means lots of things because they are the most difficult team to beat. Despite classical rivalry with the fellow-Malayan race of Malaysia (which Indonesia played the most clashes among the Southeast Asian countries), Thailand seem to be one step ahead.

It is the right time for Indonesia to skip fears, anxiety, curiosity. Indonesia have succeeded to beat Thailand one-to-one and sent them home earlier. In my opinion, the motivation must grow higher and stronger. The semifinals are just a throw of stone and whatever the opponents shall be, Indonesia must have stronger mentality and experience.

2010 AFF Suzuki Cup - Matchday 3

GROUP A


PALEMBANG

MALAYSIA v LAOS 5-1 (2-1)

Goals: A. Yahyah (4')(41'), M. Zainal (74'), N. Talaha (77'), M. Jasuli (90'); L. Singto (8')

Yellow cards: K. Symsovang

Lineups:

MALAYSIA (22) K. Che Mat, (2) S. Mat Abu, (18) M. Jasuli, (24) M. Ahmad, (3) M. Muhammad, (14) M. Zambri, (9) N. Talaha, (12) A. Rohidan, (8) M. Rahim), (17) A. Yahyah, (16) K. Subramaniam.
LAOS (1) S. Bounthisanh, (3) K. Thongkhen, (4) K. Souksavanh, (5) K. Pinkeo, (19) K. Namthavixay, (10) K. Sysomvang, (11) K. Lithideth, (13) K. Sukhavong, (14) K. Inthammavong, (20) S. Vongchiengkham, (8) L. Singto

Substitutions

(21) M. Zainal for M. Zambri, (15) K. Gurusamy for A. Yahyah, (20) I. Ramlan for N. Talaha; (25) K. Sayavuthi for K. Inthammavong, (2) S. Phommapanya for K. Sysomvang, (22) M. Phomsouvanh for K. Soukhavong.

JAKARTA


INDONESIA v THAILAND 2-1 (0-0)


Goals: Bambang Pamungkas (81') (88'); Suree Sukha (68')

Yellow cards: P. Wongsa, S. Sukha, T. Dangda, S. Chaikamdee
Red cards: P. Wongsa

Lineups

INDONESIA (1) Markus Horison, (5) Maman Abdulrahman, (26) M. Roby, (3) Zulkifli Syukur, (22) M. Ridwan, (2) M. Nasuha, (8) Eka Ramdani, (6) Tony Sucipto, (10) Okto Maniani, (17) Irfan Bachdim, (9) Cristian Gonzales.
THAILAND (18) Sinthaweechai Hathairattanakool, (6) Nattaporn Phanrit, (3) Natthapong Samana, (5) Suttinun Phuk-hom, (11) Rangsan Vivatchaichok, (20) Panupong Wongsa, (2) Suree Sukha, (7) Datsakorn Thonglao, (10) Teerasil Dangda, (28) Naruphol Ar-Romsawa, (25) Keerati Keawsombat.

Substitutions

(20) Bambang Pamungkas for Bachdim, (19) Ahmad Bustomi for Ramdani, (14) Arif Suyono for Maniani; (13) Therdsak Chaiman for Thonglao, (9) Sarayoot Chaikamdee for Keerati, (8) Suchao Nutnum for Suree. 

GROUP B

(The match kick-off is underway by Wednesday evening at local time (Vietnam)).

6 December 2010

Eksistensi Sebuah Negara: Frederick Engels


Masalah negara sekarang ini memperoleh arti penting yang khusus baik di bidang teori maupun di bidang politik praktis. Perang imperialis telah sangat mempercepat dan memperhebat proses kapitalisme monopoli menjadi kapitalisme monopoli-negara. Penindasan yang mengerikan atas massa pekerja keras oleh negara, yang makin lama makin erat berpadu dengan perserikatan-perserikatan kapitalis yang mahakuasa, menjadi lebih mengerikan lagi. Negeri-negeri yang maju sedang berubah –kita berbicara tentang “daerah belakang” mereka–menjadi penjara-penjara kerja paksa-militer bagi kaum buruh.
Kengerian dan bencana yang tiada taranya yang diakibatkan perang yang berlarut-larut membuat keadaan massa tidak tertanggungkan dan memperhebat kemarahan mereka. Revolusi proletar internasional jelas sedang mematang. Masalah hubungannya dengan negara memperoleh arti penting praktis.
Elemen-elemen oportunis yang menumpuk selama puluhan tahun dalam perkembangan yang relatif damai telah melahirkan aliran sosialis-chauvisnis yang berdominasi di dalam partai-partai sosialis yang resmi di seluruh dunia. Aliran ini (Plekhanov, Potresov, Breshkovskaya, Rubanovic, dan dalam bentuk yang agak terselubung, Tuan-tuan Tsereteli, Cernov, dan konco-konconya di Rusia; Scheidemann, Legien, David, dan lain-lainnya di Jerman; Renaudel, Guesde, Vandervelde di Perancis dan Belgia; Hyndemann dan kaum Fabian di Inggris, dsb., dsb.), sosialisme dalam kata-kata dan chauvisnisme dalam perbuatan, berciri penyesuaian yang nista dan membudak dari “pemimpin-pemimpin sosialisme” tidak saja pada kepentingan-kepentingan borjuasi nasional “milik mereka”, tetapi justru pada kepentingan-kepentingan negara “milik mereka sendiri”, karena kebanyakan dari apa yang dinamakan Negara-negara Besar telah lama menghisap dan memperbudak sejumlah bangsa kecil dan lemah. Dan perang imperialis justru perang untuk membagi-bagi dan membagi-bagi kembali barang rampasan macam ini. Perjuangan untuk pembebasan massa pekerja dari pengaruh borjuasi pada umumnya dan dari pengaruh borjuasi imperialis pada khususnya, tidaklah mungkin tanpa perjuangan melawan prasangka-prasangka oportunis mengenai “negara”.
Engels mengutarakan pandangan-pandangannya tentang kehidupan bernegara menurut faham sosialisme-komunisme, sebagai berikut:
“Jadi, negara tidaklah selamanya ada. Pernah ada masyarakat yang bisa tanpa negara, yang tidak mempunyai konsepsi tentang negara dan kekuasaan negara. Pada tingkat tertentu perkembangan ekonomi, yang tidak bisa tidak berhubungan dengan pecahnya masyarakat menjadi kelas-kelas, negara menjadi keharusan karena perpecahan ini. Kita sekarang dengan langkah-langkah cepat mendekati tingkat perkembangan produksi di mana adanya kelas-kelas ini bukan hanya tidak lagi menjadi keharusan, tetapi menjadi rintangan langsung bagi produksi. Kelas-kelas tak terelakan akan runtuh, sebagaimana halnya dulu kelas-kelas itu tak terelakan timbul. Dengan runtuhnya kelas-kelas, maka secara tak terelakan akan runtuh pula negara. Masyarakat yang akan mengorganisasi produksi secara baru atas dasar perserikatan bebas dan sama derajat kaum produsen akan mengirim seluruh mesin negara ke tempat yang semestinya: yaitu ke dalam museum barang antik, di sebelah alat pemintal dan kapak perunggu”.


Kutipan ini jarang dijumpai dalam literatur propaganda dan agitasi dari Sosial-Demokrasi masa kini. Tetapi kalaupun kita menjumpai kutipan tersebut, kebanyakan dikutip dengan cara seperti menyembah di hadapan patung orang suci, yaitu untuk menyatakan rasa hormat resmi kepada Engels, tanpa usaha sedikitpun untuk merenungkan berapa luas dan dalamnya jangkauan revolusi sebagai prasyarat untuk “mengirim seluruh mesin negara ke museum barang antik ” itu. Dalam banyak hal bahkan tidak nampak adanya pemahaman tentang apa yang oleh Engels dinamakan mesin negara.
Kata-kata Engels mengenai “melenyapnya” negara terkenal begitu luas, begitu sering dikutip dan begitu jelas menunjukkan inti pokok pemalsuan yang lazim terhadap Marxisme sehingga menjadi mirip dengan oportunisme, sehingga kita harus membahasnya secara terperinci. Kita akan mengutip seluruh argumen dari mana diambil kata-kata tadi:
“Proletariat merebut kekuasaan negara dan pertama-tama mengubah alat-alat produksi menjadi milik negara. Tetapi dengan ini ia mengakhiri dirinya sendiri sebagai proletariat, dengan ini ia mengakhiri segala perbedaan kelas dan antagonisme kelas, dan bersama itu juga mengakhiri negara sebagai negara. Masyarakat yang ada sejak dulu hingga sekarang yang bergerak dalam antagonisme-antagonisme kelas memerlukan negara yaitu organisasi kelas penghisap untuk mempertahankan syarat-syarat luar produksinya; artinya terutama untuk mengekang dengan kekerasan kelas-kelas terhisap dalam syarat-syarat penindasan (perbudakan, perhambaan dan kerja upahan) yang ditentukan oleh cara produksi yang sedang berlaku. Negara adalah wakil resmi seluruh masyarakat, pemusatan masyarakat dalam lembaga yang nampak, tetapi negara yang berupa demikian itu hanya selama ia merupakan negara dari kelas yang sendirian pada zamannya mewakili seluruh masyarakat; pada zaman kuno ia adalah negara dari warga negara pemilik budak; pada Zaman Tengah, negara dari bangsawan feodal; pada zaman kita, negara dari borjuis. Ketika negara pada akhirnya sungguh-sungguh menjadi wakil seluruh masyarakat, ia menjadikan dirinya tidak diperlukan lagi. Segera setelah tidak ada lagi satu kelaspun dalam masyarakat yang perlu ditindas, segera setelah lenyapnya, bersama dengan dominasi kelas, bersama dengan perjuangan untuk eksistensi perorangan yang dilahirkan oleh anarki produksi masa kini, bentrokan-bentrokan dan ekses-ekses yang timbul dari perjuangan ini, maka sejak saat itu tidak ada lagi yang harus ditindas, juga tidak ada keperluan akan kekuatan khusus untuk menindas, akan negara. Tindakan pertama, di mana negara benar-benar tampil sebagai wakil seluruh masyarakat –pemilikan alat-alat produksi atas nama masyarakat– sekaligus merupakan tindakannya yang bebas yang terakhir sebagai negara. Campur tangan kekuasaan negara dalam hubungan-hubungan sosial menjadi tidak diperlukan lagi dari satu bidang ke bidang yang lain dan ia berhenti dengan sendirinya. Pemerintahan atas orang-orang diganti dengan pengurusan barang-barang dan pimpinan atas proses produksi. Negara tidaklah dihapuskan, ia melenyap. Atas dasar ini harus dinilai kata-kata ‘negara rakyat bebas’ –kata-kata yang untuk sementara mempunyai hak hidup dalam hal agitasi, tetapi yang pada akhirnya tidak beralasan secara ilmiah–serta harus dinilai juga tuntutan dari apa yang dinamakan kaum anarkis supaya negara dihapuskan seketika” (Herr Eugen Duhring’s Revolution in Science [Anti-Dühring ], hlm. 301-03, edisi Jerman ketiga)

Dengan tidak takut salah dapat dikatakan bahwa dari argumen Engels yang luar biasa kayanya akan ide itu, yang telah menjadi milik sesungguhnya dari ide sosialis di kalangan partai-partai sosialis modern hanyalah bahwa menurut Marx, negara “melenyap” –berbeda dengan ajaran anarkis tentang “penghapusan” negara. Memangkas Marxisme sedemikian itu berarti memerosotkannya menjadi oportunisme, sebab “interpretasi” semacam itu hanyalah meninggalkan gambaran yang kabur tentang perubahan yang lambat, bahkan berangsur-angsur, tentang ketiadaaan revolusi. “Melenyapnya” negara dalam pengertian yang sudah umum berlaku, tersebar luas, massal, kalau dapat dikatakan demikian, tidak diragukan lagi berarti mengaburkan, jika tidak mengingkari, revolusi.
Bagaimanapun, “interpretasi” semacam itu adalah distorsi yang paling kasar terhadap Marxisme, yang hanya menguntungkan borjuis; dalam secara teori, dasarnya ialah mengabaikan keadaan-keadaan serta pertimbangan-pertimbangan terpenting yang diindikasikan, katakanlah, dalam argumen Engels yang “bersifat kesimpulan” yang telah kita kutip selengkapnya di atas.
Pertama sekali, pada awal dari argumennya Engels mengatakan bahwa dengan merebut kekuasaan negara, proletariat “dengan demikian menghapuskan negara sebagai negara”. Apa artinya ini, ini “tidak biasa” direnungkan. Biasanya ini diabaikan sama sekali atau dianggap sebagai sesuatu “kelemahan Hegelian” dari Engels. Sebenarnya kata-kata tersebut dengan singkat menyatakan pengalaman salah satu revolusi proletar yang terbesar, yaitu pengalaman komune Paris tahun 1871 yang akan kita bicarakan secara lebih terperinci pada tempat yang semestinya. Sebenarnya di sini Engels berbicara tentang “penghapusan” negara borjuis oleh revolusi proletar, sedang kata-kata tentang melenyapnya negara merujuk pada sisa-sisa ketatanegaraan proletar sesudah revolusi sosialis. Menurut Engels negara borjuis tidak “melenyap” tetapi “dihapuskan” oleh proletariat dalam revolusi. Apa yang melenyap sesudah revolusi adalah negara atau setengah negara proletar itu.
Kedua, negara adalah “kekuatan penindas khusus”. Di sini Engels memberikan definisi mendalam. Dan dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa “kekuatan penindas khusus” dari borjuis terhadap proletariat, dari segelintir kaum kaya terhadap jutaan kaum pekerja, harus digantikan dengan “kekuatan penindas khusus” dari proletariat (diktator proletariat) terhadap borjuis. Inilah “penghapusan negara sebagai negara”. Inilah “tindakan” pemilikan alat-alat produksi atas nama masyarakat. Dan dengan sendirinya jelas bahwa penggantian satu “kekuatan khusus” (borjuis) dengan “kekuatan khusus” yang lain (proletar) yang demikian itu tidaklah mungkn terjadi dalam bentuk “melenyap”.
Ketiga, ketika berbicara tentang “melenyapkan”, Engels, dengan jelas sekali dan pasti memaksudkan zaman sesudah “dimilikinya alat-alat produksi oleh negara atas nama seluruh masyarakat”, itu berarti, sesudah revolusi sosialis. Kita semua tahu bahwa bentuk politik dari “negara” pada masa itu adalah demokrasi yang paling sempurna. Tetapi hal ini tidak pernah masuk ke dalam kepala seorangpun yang mana saja dari kaum oportunis yang dengan tak tahu malu mendistorsikan Marxisme bahwa Engels oleh karena itu di sini berbicara tentang demokrasi “berhenti dengan sendirinya”, atau “melenyap”. Ini tampaknya sungguh janggal sekali pada pandangan pertama; tetapi ini adalah “tidak komprehensif” hanyalah bagi mereka yang tidak berpikir tentang kenyataan bahwa demokrasi juga adalah suatu negara dan bahwa, oleh karena itu, demokrasi akan hilang juga apabila negara hilang. Revolusi sendiri dapat “menghapuskan” negara borjuis. Negara pada umumnya yaitu, demokrasi yang paling sempurna, hanya dapat “melenyap”.
Keempat, sesudah merumuskan dalilnya yang tersohor bahwa “negara melenyap”, Engels sekaligus memberikan penjelasan yang kongkrit bahwa dalil ini diarahkan kepada kaum oportunis maupun kaum anarkis. Disamping itu Engels mengedepankan kesimpulan yang ditarik dari dalil bahwa “negara melenyap” yang diarahkan kepada kaum oportunis.

ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN FREDERICK ENGELS TENTANG EKSISTENSI SEBUAH NEGARA
Pada kenyataan di lapangan, semakin ke sini, semakin banyak negara yang berdiri atau memerdekakan diri. Pengertian tentang disfungsi negara yang diutarakan oleh Engels kiranya tidak dapat dicerna oleh sebagian besar orang. Pola organisasi komunis pada level pemerintahan telah membuktikan, bahwa dalam sejarahnya pemerintahan komunis tidak dapat berlaku secara “adil”, dalam arti memberikan atau memfasilitasi reward sesuai dengan kontribusi yang diberikan. Prinsip sama rata-sama rasa pada satu sisi adalah sebuah proses menuju kesetaraan dalam berbagai aspek, namun pada sisi lain, prinsip ini rentan terhadap pertikaian.  Hasrat untuk menghapuskan penindasan akibat pembedaan kelas justru memperbesar resiko kekacauan mengingat setiap orang memiliki kepentingan pribadi yang berbeda-beda. Jika peran negara tidak lagi dianggap signifikan, maka yang akan terjadi ialah sebuah kehidupan yang tidak teratur dan tanpa arah.
Dari segi kemanusiaan, filosofi kebebasan sesama yang diusung oleh Frederick Engels adalah sebuah usaha untuk menuju keadaan ideal dalam lingkungan yang adil dan sejahtera. Akan tetapi, kondisi ini hanya dapat dicapai jika setiap orang memiliki tingkat kesejahteraan yang sebanding. Dari sini, diperlukanlah peran sebuah organisasi besar bernama negara sebagai pemandu dan pengarah langkah menuju kepentingan bersama.

Referensi Kajian:
Engels, F., dan Karl Marx. 1917. Communist Manifesto.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.