Pages

30 November 2010

Konsep Negara Friedrich Engels

Tugas Kuliah Jurusan Ilmu Politik Universitas Diponegoro
Penulis: Khayrul Fiker, 2010

Masalah negara sekarang ini memperoleh arti penting yang khusus baik di bidang teori maupun di bidang politik praktis. Perang imperialis telah sangat mempercepat dan memperhebat proses kapitalisme monopoli menjadi kapitalisme monopoli-negara. Penindasan yang mengerikan atas massa pekerja keras oleh negara, yang makin lama makin erat berpadu dengan perserikatan-perserikatan kapitalis yang mahakuasa, menjadi lebih mengerikan lagi. Negeri-negeri yang maju sedang berubah –kita berbicara tentang “daerah belakang” mereka–menjadi penjara-penjara kerja paksa-militer bagi kaum buruh.
 
Kengerian dan bencana yang tiada taranya yang diakibatkan perang yang berlarut-larut membuat keadaan massa tidak tertanggungkan dan memperhebat kemarahan mereka. Revolusi proletar internasional jelas sedang mematang. Masalah hubungannya dengan negara memperoleh arti penting praktis.
 
Elemen-elemen oportunis yang menumpuk selama puluhan tahun dalam perkembangan yang relatif damai telah melahirkan aliran sosialis-chauvisnis yang berdominasi di dalam partai-partai sosialis yang resmi di seluruh dunia. Aliran ini (Plekhanov, Potresov, Breshkovskaya, Rubanovic, dan dalam bentuk yang agak terselubung, Tuan-tuan Tsereteli, Cernov, dan konco-konconya di Rusia; Scheidemann, Legien, David, dan lain-lainnya di Jerman; Renaudel, Guesde, Vandervelde di Perancis dan Belgia; Hyndemann dan kaum Fabian di Inggris, dsb., dsb.), sosialisme dalam kata-kata dan chauvisnisme dalam perbuatan, berciri penyesuaian yang nista dan membudak dari “pemimpin-pemimpin sosialisme” tidak saja pada kepentingan-kepentingan borjuasi nasional “milik mereka”, tetapi justru pada kepentingan-kepentingan negara “milik mereka sendiri”, karena kebanyakan dari apa yang dinamakan Negara-negara Besar telah lama menghisap dan memperbudak sejumlah bangsa kecil dan lemah. Dan perang imperialis justru perang untuk membagi-bagi dan membagi-bagi kembali barang rampasan macam ini. Perjuangan untuk pembebasan massa pekerja dari pengaruh borjuasi pada umumnya dan dari pengaruh borjuasi imperialis pada khususnya, tidaklah mungkin tanpa perjuangan melawan prasangka-prasangka oportunis mengenai “negara”.
 
Engels mengutarakan pandangan-pandangannya tentang kehidupan bernegara menurut faham sosialisme-komunisme, sebagai berikut:
 
“Jadi, negara tidaklah selamanya ada. Pernah ada masyarakat yang bisa tanpa negara, yang tidak mempunyai konsepsi tentang negara dan kekuasaan negara. Pada tingkat tertentu perkembangan ekonomi, yang tidak bisa tidak berhubungan dengan pecahnya masyarakat menjadi kelas-kelas, negara menjadi keharusan karena perpecahan ini. Kita sekarang dengan langkah-langkah cepat mendekati tingkat perkembangan produksi di mana adanya kelas-kelas ini bukan hanya tidak lagi menjadi keharusan, tetapi menjadi rintangan langsung bagi produksi. Kelas-kelas tak terelakan akan runtuh, sebagaimana halnya dulu kelas-kelas itu tak terelakan timbul. Dengan runtuhnya kelas-kelas, maka secara tak terelakan akan runtuh pula negara. Masyarakat yang akan mengorganisasi produksi secara baru atas dasar perserikatan bebas dan sama derajat kaum produsen akan mengirim seluruh mesin negara ke tempat yang semestinya: yaitu ke dalam museum barang antik, di sebelah alat pemintal dan kapak perunggu”.

Kutipan ini jarang dijumpai dalam literatur propaganda dan agitasi dari Sosial-Demokrasi masa kini. Tetapi kalaupun kita menjumpai kutipan tersebut, kebanyakan dikutip dengan cara seperti menyembah di hadapan patung orang suci, yaitu untuk menyatakan rasa hormat resmi kepada Engels, tanpa usaha sedikitpun untuk merenungkan berapa luas dan dalamnya jangkauan revolusi sebagai prasyarat untuk “mengirim seluruh mesin negara ke museum barang antik ” itu. Dalam banyak hal bahkan tidak nampak adanya pemahaman tentang apa yang oleh Engels dinamakan mesin negara.
 
Kata-kata Engels mengenai “melenyapnya” negara terkenal begitu luas, begitu sering dikutip dan begitu jelas menunjukkan inti pokok pemalsuan yang lazim terhadap Marxisme sehingga menjadi mirip dengan oportunisme, sehingga kita harus membahasnya secara terperinci. Kita akan mengutip seluruh argumen dari mana diambil kata-kata tadi:
 
“Proletariat merebut kekuasaan negara dan pertama-tama mengubah alat-alat produksi menjadi milik negara. Tetapi dengan ini ia mengakhiri dirinya sendiri sebagai proletariat, dengan ini ia mengakhiri segala perbedaan kelas dan antagonisme kelas, dan bersama itu juga mengakhiri negara sebagai negara. Masyarakat yang ada sejak dulu hingga sekarang yang bergerak dalam antagonisme-antagonisme kelas memerlukan negara yaitu organisasi kelas penghisap untuk mempertahankan syarat-syarat luar produksinya; artinya terutama untuk mengekang dengan kekerasan kelas-kelas terhisap dalam syarat-syarat penindasan (perbudakan, perhambaan dan kerja upahan) yang ditentukan oleh cara produksi yang sedang berlaku. Negara adalah wakil resmi seluruh masyarakat, pemusatan masyarakat dalam lembaga yang nampak, tetapi negara yang berupa demikian itu hanya selama ia merupakan negara dari kelas yang sendirian pada zamannya mewakili seluruh masyarakat; pada zaman kuno ia adalah negara dari warga negara pemilik budak; pada Zaman Tengah, negara dari bangsawan feodal; pada zaman kita, negara dari borjuis. Ketika negara pada akhirnya sungguh-sungguh menjadi wakil seluruh masyarakat, ia menjadikan dirinya tidak diperlukan lagi. Segera setelah tidak ada lagi satu kelaspun dalam masyarakat yang perlu ditindas, segera setelah lenyapnya, bersama dengan dominasi kelas, bersama dengan perjuangan untuk eksistensi perorangan yang dilahirkan oleh anarki produksi masa kini, bentrokan-bentrokan dan ekses-ekses yang timbul dari perjuangan ini, maka sejak saat itu tidak ada lagi yang harus ditindas, juga tidak ada keperluan akan kekuatan khusus untuk menindas, akan negara. Tindakan pertama, di mana negara benar-benar tampil sebagai wakil seluruh masyarakat –pemilikan alat-alat produksi atas nama masyarakat– sekaligus merupakan tindakannya yang bebas yang terakhir sebagai negara. Campur tangan kekuasaan negara dalam hubungan-hubungan sosial menjadi tidak diperlukan lagi dari satu bidang ke bidang yang lain dan ia berhenti dengan sendirinya. Pemerintahan atas orang-orang diganti dengan pengurusan barang-barang dan pimpinan atas proses produksi. Negara tidaklah dihapuskan, ia melenyap. Atas dasar ini harus dinilai kata-kata ‘negara rakyat bebas’ –kata-kata yang untuk sementara mempunyai hak hidup dalam hal agitasi, tetapi yang pada akhirnya tidak beralasan secara ilmiah–serta harus dinilai juga tuntutan dari apa yang dinamakan kaum anarkis supaya negara dihapuskan seketika” (Herr Eugen Duhring’s Revolution in Science [Anti-Dühring ], hlm. 301-03, edisi Jerman ketiga)

Dengan tidak takut salah dapat dikatakan bahwa dari argumen Engels yang luar biasa kayanya akan ide itu, yang telah menjadi milik sesungguhnya dari ide sosialis di kalangan partai-partai sosialis modern hanyalah bahwa menurut Marx, negara “melenyap” –berbeda dengan ajaran anarkis tentang “penghapusan” negara. Memangkas Marxisme sedemikian itu berarti memerosotkannya menjadi oportunisme, sebab “interpretasi” semacam itu hanyalah meninggalkan gambaran yang kabur tentang perubahan yang lambat, bahkan berangsur-angsur, tentang ketiadaaan revolusi. “Melenyapnya” negara dalam pengertian yang sudah umum berlaku, tersebar luas, massal, kalau dapat dikatakan demikian, tidak diragukan lagi berarti mengaburkan, jika tidak mengingkari, revolusi.
 
Bagaimanapun, “interpretasi” semacam itu adalah distorsi yang paling kasar terhadap Marxisme, yang hanya menguntungkan borjuis; dalam secara teori, dasarnya ialah mengabaikan keadaan-keadaan serta pertimbangan-pertimbangan terpenting yang diindikasikan, katakanlah, dalam argumen Engels yang “bersifat kesimpulan” yang telah kita kutip selengkapnya di atas.
 
Pertama sekali, pada awal dari argumennya Engels mengatakan bahwa dengan merebut kekuasaan negara, proletariat “dengan demikian menghapuskan negara sebagai negara”. Apa artinya ini, ini “tidak biasa” direnungkan. Biasanya ini diabaikan sama sekali atau dianggap sebagai sesuatu “kelemahan Hegelian” dari Engels. Sebenarnya kata-kata tersebut dengan singkat menyatakan pengalaman salah satu revolusi proletar yang terbesar, yaitu pengalaman komune Paris tahun 1871 yang akan kita bicarakan secara lebih terperinci pada tempat yang semestinya. Sebenarnya di sini Engels berbicara tentang “penghapusan” negara borjuis oleh revolusi proletar, sedang kata-kata tentang melenyapnya negara merujuk pada sisa-sisa ketatanegaraan proletar sesudah revolusi sosialis. Menurut Engels negara borjuis tidak “melenyap” tetapi “dihapuskan” oleh proletariat dalam revolusi. Apa yang melenyap sesudah revolusi adalah negara atau setengah negara proletar itu.
 
Kedua, negara adalah “kekuatan penindas khusus”. Di sini Engels memberikan definisi mendalam. Dan dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa “kekuatan penindas khusus” dari borjuis terhadap proletariat, dari segelintir kaum kaya terhadap jutaan kaum pekerja, harus digantikan dengan “kekuatan penindas khusus” dari proletariat (diktator proletariat) terhadap borjuis. Inilah “penghapusan negara sebagai negara”. Inilah “tindakan” pemilikan alat-alat produksi atas nama masyarakat. Dan dengan sendirinya jelas bahwa penggantian satu “kekuatan khusus” (borjuis) dengan “kekuatan khusus” yang lain (proletar) yang demikian itu tidaklah mungkn terjadi dalam bentuk “melenyap”.
 
Ketiga, ketika berbicara tentang “melenyapkan”, Engels, dengan jelas sekali dan pasti memaksudkan zaman sesudah “dimilikinya alat-alat produksi oleh negara atas nama seluruh masyarakat”, itu berarti, sesudah revolusi sosialis. Kita semua tahu bahwa bentuk politik dari “negara” pada masa itu adalah demokrasi yang paling sempurna. Tetapi hal ini tidak pernah masuk ke dalam kepala seorangpun yang mana saja dari kaum oportunis yang dengan tak tahu malu mendistorsikan Marxisme bahwa Engels oleh karena itu di sini berbicara tentang demokrasi “berhenti dengan sendirinya”, atau “melenyap”. Ini tampaknya sungguh janggal sekali pada pandangan pertama; tetapi ini adalah “tidak komprehensif” hanyalah bagi mereka yang tidak berpikir tentang kenyataan bahwa demokrasi juga adalah suatu negara dan bahwa, oleh karena itu, demokrasi akan hilang juga apabila negara hilang. Revolusi sendiri dapat “menghapuskan” negara borjuis. Negara pada umumnya yaitu, demokrasi yang paling sempurna, hanya dapat “melenyap”.
 
Keempat, sesudah merumuskan dalilnya yang tersohor bahwa “negara melenyap”, Engels sekaligus memberikan penjelasan yang kongkrit bahwa dalil ini diarahkan kepada kaum oportunis maupun kaum anarkis. Disamping itu Engels mengedepankan kesimpulan yang ditarik dari dalil bahwa “negara melenyap” yang diarahkan kepada kaum oportunis.

ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN FREDERICK ENGELS TENTANG EKSISTENSI SEBUAH NEGARA
 
Pada kenyataan di lapangan, semakin ke sini, semakin banyak negara yang berdiri atau memerdekakan diri. Pengertian tentang disfungsi negara yang diutarakan oleh Engels kiranya tidak dapat dicerna oleh sebagian besar orang. Pola organisasi komunis pada level pemerintahan telah membuktikan, bahwa dalam sejarahnya pemerintahan komunis tidak dapat berlaku secara “adil”, dalam arti memberikan atau memfasilitasi reward sesuai dengan kontribusi yang diberikan. Prinsip sama rata-sama rasa pada satu sisi adalah sebuah proses menuju kesetaraan dalam berbagai aspek, namun pada sisi lain, prinsip ini rentan terhadap pertikaian.  Hasrat untuk menghapuskan penindasan akibat pembedaan kelas justru memperbesar resiko kekacauan mengingat setiap orang memiliki kepentingan pribadi yang berbeda-beda. Jika peran negara tidak lagi dianggap signifikan, maka yang akan terjadi ialah sebuah kehidupan yang tidak teratur dan tanpa arah.

Dari segi kemanusiaan, filosofi kebebasan sesama yang diusung oleh Frederick Engels adalah sebuah usaha untuk menuju keadaan ideal dalam lingkungan yang adil dan sejahtera. Akan tetapi, kondisi ini hanya dapat dicapai jika setiap orang memiliki tingkat kesejahteraan yang sebanding. Dari sini, diperlukanlah peran sebuah organisasi besar bernama negara sebagai pemandu dan pengarah langkah menuju kepentingan bersama.
Referensi Kajian:
Engels, F., dan Karl Marx. 1917. Communist Manifesto.

24 November 2010

Hasil Pertandingan Piala AFF 2008

Kualfikasi
(Phnom Penh, Kamboja)

Filipina v Timor Leste 1-0
(Borromeo)
Kamboja v Laos 3-2
(Borey, Nasa, Sovannarith; Lounglath, Liemvisay)
Kamboja v Timor Leste 2-2
(Borey, Sovannarith; Barbosa, Perreira)
Brunei v Filipina 1-1
(Shahrazen; Gould)
Filipina v Laos 1-2
(Araneta; Louanglath, Phapvounin)
Timor Leste v Brunei 1-4
(Soares; Shahrazen (2), Azwan, Damit)
Laos v Brunei 3-2
(Phapvounin, Singtao, Phommapanya; Hardi, Mahari)
Kamboja v Filipina 2-3
(Nasa (2); Borromeo, Greatwich, Gould)
Kamboja v Brunei 2-1
(Nasa, Borey; Hardi)
Laos v Timor Leste 2-1
(Singtao, Phaphouvanin; Esteves)

Penyisihan Grup
(Indonesia dan Thailand)

Grup A

Singapura v Kamboja 5-0
(Casmir (2), Fahrudin, Indra Sahdan, Noh Alam Shah)
Indonesia v Myanmar 3-0
(Budi Sudarsono, Firman Utina, Bambang Pamungkas)
Singapura v Myanmar 3-1
(Noh Alam Shah, Casmir (2); Min Tun)
Indonesia v Kamboja 4-0
(Budi Sudarsono (3), Bambang Pamungkas)
Myanmar v Kamboja 3-2
(Moe Win, Win Thien, Min Tun; Sokumpheak, Borey)
Indonesia v Singapura 0-2
(Khaizan, Shi Jayi)

Grup B

Malaysia v Laos 3-0
(Safee (2), Indra Putra)
Thailand v Vietnam 2-0
(Sutee, Suchao)
Malaysia v Vietnam 2-3
(Indra Putra (2); Luong, Phong (2))
Thailand v Laos 6-0
(Ronnachai, Patipam, Arthit (2), Anon (2))
Vietnam v Laos 4-0
(Thang, Luong, Thanh, Binh)
Thailand v Malaysia 3-0
(Sutee, Teerasil (2))

Semifinal

Indonesia v Thailand 0-1
(Teerasil)
Vietnam v Singapura 0-0
Thailand v Indonesia 2-1
(Teerathep, Ronnachai; Elie Aiboy)
Singapura 0-1

Final

Thailand v Singapura 1-2
(Ronnachai; Vu Phong, Le Cong Vinh)
Vietnam v Thailand 1-1
(Le Cong Vinh; Teerasil)

Piala AFF 2006/2007<<

Hasil Pertandingan Piala AFF 2006/2007

Kualifikasi
(Bacolod, Filipina)

Brunei v Timor Leste 3-2
Filipina v Laos 1-2
Kamboja v Laos 2-2
Filipina v Timor Leste 7-0
Brunei v Kamboja 1-1
Laos v Timor Leste 3-2
Brunei v Laos 1-4
Filipina v Kamboja 1-0
Kamboja v Timor Leste 4-1
Filipina v Brunei 4-1

Penyisihan Grup
(Thailand dan Singapura)

Grup A

Malaysia v Filipina 4-0
(Hairuddin (2), Yusof, Del Rosario (o.g.))
Thailand v Myanmar 1-1
(Nutnum; Thu Min)
Malaysia v Myanmar 0-0
Thailand v Filipina 4-0
(Chaikamdee (2), Thonkaya, Samana)
Myanmar v Filipina 0-0
Thailand v Malaysia 1-0
(Chaikamdee)

Grup B

Indonesia v Laos 3-1
(Atep (2), Saktiawan Sinaga; Xaysongkham)
Singapura v Vietnam 0-0
Indonesia v Vietnam 1-1
(Saktiawan Sinaga; Supardi (o.g.))
Singapura v Laos 11-0
(Ridhuan, Noh Alam Shah (7), Shahril, Khairul Amri, Dickson)
Vietnam v Laos 9-0
(Cong Vinh (3), Thanh Binh (4), Van Bien (2))
Singapura v Indonesia 2-2
(Noh Alam Sah, Indra Sahdan; Ilham Jayakesuma, Zaenal Arif)

Semifinal

Malaysia v Singapura 1-1
(Hardi Jaafar; Noh Alam Shah)
Vietnam v Thailand 0-2
(Thonglao, Thonkaya)
Singapura v Malaysia 1-1
(Ridhuan; Helmi Manan)
Thailand v Vietnam 0-0

Final

Singapura v Thailand 2-1
Thailand v Singapura 1-1

Piala Tiger 2004/2005<<>>Piala AFF 2008

Hasil Pertandingan Piala Tiger 2004/2005

Penyisihan Grup

Grup A
(Vietnam)

Indonesia v Laos 6-0
(Boaz Salossa (2), Ilham Jayakesuma (2), Elie Aiboy, Kurniawan DY)
Vietnam v Singapura 1-1
(Bao Khanh; Indra Sahdan)
Vietnam v Kamboja 9-1
(Bao Khanh (3), Cong Vinh (3), Sampratna (o.g.), Van Tanh (2), Huy Hoang; Sokunthea)
Indonesia v Singapura 0-0
Laos v Kamboja 2-1
(Luang-Amath (2); Hing Darith)
Vietnam v Indonesia 0-3
(Mauli Lessy, Boaz Salossa, Ilham Jayakesuma)
Singapura v Laos 6-2
(Hasrin, Indra Sahdan (2), Thongphachan (o.g.), Casmir (2); Phaphouvanin, Luang-Amath)
Indonesia v Kamboja 8-0
(Ilham Jayakesuma (3), Eli Aiboy (2), Kurniawan DY (2), Ortizan Salossa)
Vietnam v Laos 3-0
(Cong Vinh, Minh Phoung, Bao Khanh)
Kamboja v Singapura 0-3
(Dickson, Baihakki, Khairul)

Grup B
(Malaysia)

Filipina v Myanmar 0-1
(Day Thien)
Malaysia v Timor Leste 5-0
(Kit Kong, Amri (2), Fadzli, Shukor)
Thailand v Myanmar 1-1
(Chaiman; Lynn Tun)
Malaysia v Filipina 4-1
(Kit Kong, Jamlus (2), Khaironisam; Gould)
Timor Leste v Thailand 0-8
(Yodyingyong, Domtaisong, Jitkuntod, Chaiman, Chaikamdee (3), Konjan)
Malaysia v Myanmar 0-1
(Myat Min)
Filipina v Timor Leste
(Calidgong (2); Anai)
Malaysia v Thailand 2-1
(Jamlus (2); Chaikamdee)
Myanmar v Timor Leste 3-1
(Myat Min, Day Thien, Hliang Win; Diamantino)
Thailand v Filipina 3-1
(Poolsap, Sainui, Domtaisong; Calidgong)

Semifinal

Myanmar v Singapura 3-4
(Myatmin (2), Min Thu; Bennett, Casmir, Noh Alam Shah, Shahril)
Indonesia v Malaysia 1-2
(Kurniawan DY; Kit Kong (2))
Singapura v Myanmar 4-2 (perpanjangan waktu)
(Lynn Tun (o.g.), Noh Alam Shah (2), Casmir; Myat Min, Kyaw Moe)
Malaysia v Indonesia 1-4
(Jamlus; Kurniawan DY, Charis Yulianto, Ilham Jayakesuma, Boaz Salossa)

Perebutan Juara III

Malaysia v Myanmar 1-2
(Jamlus, Nor Ismail; Myat Min)

Final

Indonesia v Singapura 1-3
(Mahyadi Panggabean; Bennett, Amri, Casmir)
Singapura v Indonesia 2-1
(Indra Sahdan, Casmir; Eli Aiboy)

Piala Tiger 2002<<>>Piala AFF 2006/2007

Hasil Pertandingan Piala Tiger 2002

Grup A
(Jakarta, Indonesia)

Indonesia v Myanmar 0-0
Vietnam v Kamboja 9-2
(Hong Son, Truong Giang (2), Quoc Trung, Huynh Duc (2), Minh Phuong, Xuan Thanh, Pham VQ; Sochetra, Kanyanith)
Filipina v Myanmar 1-6
(Gonzales; Aung Kyaw Moe (2), Zaw Htaik, Lin Tun, Zaw Zaw, Tun Thien)
Kamboja v Indonesia 2-4
(Sochetra (2): Zaenal Arif, Bambang Pamungkas (3))
Myanmar v Kamboja 5-0
(Sochetra (2), Lwon Oo (2), Zaw Htaik, Tun Thien)
Vietnam v Filipina 4-1
(Hong Son (2), Huynh Duc (2); Canedo)
Kamboja v Filipina 1-0
(Khanyanith)
Indonesia v Vietnam 2-2
(Budi Sudarsono, Zaenal Arif; Phan VTE, Huynh Duc)
Myanmar v Vietnam 2-4
(Lwin Oo (o.g.), Htay Aung; Trinh Xuan, Dang Phuong (2), Huynh Duc)
Filipina v Indonesia 1-13
(Ali Go; Bambang Pamungkas (4), Zaenal Arif (4), Budi Sudarsono, Sugiyantoro (2), Imran Nahumarury, Licuanan (o.g.))

Grup B
(Singapura, Singapura)

Thailand v Laos 5-1
(Srimaka (2), Senamuang (3); Phaphouvann)
Singapura v Malaysia 0-4
(Akmal Rizal, Indra Putra (2), Yusoff)
Malaysia v Thailand 3-1
(Akmal Rizal, Tengku Hazman, Indra Putra; Chaiman)
Laos v Singapura 1-2
(Phaphouvann; Noh Alam Shah, Noor Ali)
Malaysia v Laos 1-1
(Nuzam Jamil; Phaphouvann)
Singapura v Thailand 1-1
(Noor Ali; Srimaka)

Semifinal
(Jakarta)

Vietnam v Thailand 0-4
(Srimaka, Vachiraban, Noyvach, Joemdee)
Malaysia v Indonesia 0-1
(Bambang Pamungkas)

Perebutan Juara III
(Jakarta)

Vietnam v Malaysia 2-1
(Truong Giang, Nguyen Minh Phuong; Indra Putra)

Final
(Jakarta)

Thailand v Indonesia 2-2
(Noorsalung, Chaiman; Yaris Riyadi, Gendut Doni)
*)Thailand juara setelah menang adu pinalti 4-2

Piala Tiger 2000<<>>Piala Tiger 2004/2005

Hasil Pertandingan Piala Tiger 2000

Grup A 
(Chiang Mai, Thailand)

Indonesia v Filipina 3-0
(Aji Santoso, Kurniawan DY, Eko Purjianto)
Thailand v Myanmar 3-1
(Senamuang, Pituratana, Jirasirichote; Aung Kyaw Tun)
Myanmar v Filipina 3-0
(Naing Soe, Zaw Htike, Thu Hliang)
Thailand v Indonesia 4-1
(Srimaka (2), Senamuang, Chalermsan; Gendut Doni)
Indonesia v Myanmar 5-0
(Gendut Doni (2), Uston Nawawi, Kurniawan DY (2))
Thailand v Filipina 2-0
(Senamuang, Srikert)

Grup B
Songkhla, Thailand)

Singapura v Kamboja 1-0
(Rafi Ali)
Malaysia v Vietnam 0-0
Malaysia v Laos 5-0
(Rusdi (2), Azman, Hairuddin, Ahmad Shahrul)
Vietnam v Kamboja 6-0
(Huynh Duc (2),  Soun Dara (o.g.), Hong Son, Cong Tuyen (2))
Malaysia v Kamboja 3-2
(Azman, Hairuddin, Shahrul; Chanthan, Sochetra)
Singapura v Laos 3-0
(Rafi, Nasir, Steven Tan)
Kamboja v Laos 3-0
(Sochetra (2), Makara)
Vietnam v Singapura 1-0
(Huynh Duc)
Singapura v Malaysia 0-1
(Azman)
Vietnam v Laos 5-0
(Sy Thuy, Chong Tuyen, Van Sy, Minh Hieu, Hung Dung)

Semifinal

Indonesia v Vietnam 3-2
(Gendut Doni (2), Uston Nawawi; Hong Son, Duc Thang)
Thailand v Malaysia 2-0
(Senamuang, Sripan)

Perebutan Juara III

Malaysia v Vietnam 3-0
(Rosdi, Suparman (2))

Final

Thailand v Indonesia 4-1
(Srimaka (3), Fajakkat; Uston Nawawi)

Piala Tiger 1998 <<>>Piala Tiger 2002

Hasil Pertandingan Piala Tiger 1998

Kualifikasi

Grup 1 (di Myanmar)

Myanmar v Brunei 4-1
Laos v Brunei 2-1
Myanmar v Laos 3-0

Grup 2 (di Singapura)

Singapura v Filipina 1-0
Kamboja v Filipina 1-1
Singapura v Kamboja 3-0

Putaran Final (di Vietnam)

Grup A 

Indonesia v Filipina 3-0
(Widodo CP, Bima Sakti, Uston Nawawi)
Thailand v Myanmar 1-1
(Srimaka; Khine)
Thailand v Filipina 3-1
(Srimaka, Piandit, Threjagsang; Kalalang)
Indonesia v Myanmar 6-2
(Aji Santoso, Widodo CP, Aung (o.g.), Bima Sakti, Mirobaldo Bento, Kurniawan DY; Myo Hliang Win (2))
Myanmar v Filipina 5-2
(Htike, Hliang Win (2), Khaine (2); Gonzales (2))
Thailand v Indonesia 3-2
(Piandit, Chaiman, Mursyid Effendi (o.g.); Mirobaldo Bento, Aji Santoso)

Grup B 

Malaysia v Singapura 0-2
(Rafi Ali, Kamaruddin)
Vietnam v Laos 4-1
(Hong Son, Van Sy, Huynh Duc (2); Channipone)
Vietnam v Singapura 0-0
Malaysia v Laos 0-0
Singapura v Laos 4-1
(Bin Zainal, Kamaruddin (2), Daiman; Phonpachanh)
Vietnam v Malaysia 1-0
(Hong Son)

Semifinal 

Singapura v Indonesia 2-1
(Rafi Ali, Nazri Masir; Mirobaldo Bento)

Vietnam v Thailand 3-0
(Truong Viet, Hong Son, Van Sy)

Perebutan Juara III

Indonesia v Thailand 3-3
[Indonesia menang 5-4 dalam adu penalti]

Final 

Singapura v Vietnam 1-0
(Sasi Kumar)

Piala Tiger 1996<<>>Piala Tiger 2000

Hasil Pertandingan Piala Tiger 1996

Penyisihan Grup A

Kamboja v Vietnam 1-3
(Sony; Tran, Duc, Duu)
Laos v Indonesia 1-5
(Saysana; Peri Sandria, Fachri Husaini, Eri Iriyanto, Kurniawan, Robby Darwis)
Laos v Vietnam 1-1
(Chalana; Duc)
Myanmar v Kamboja 5-0
(Hung, Aung (2), Win, Oo)
Myanmar v Vietnam 1-4
(Htay; Dang (2), Duc, Ming)
Indonesia v Kamboja 3-0
Kurniawan Dwi Yulianto, Peri Sandria, Eri Iriyanto)
Kamboja v Laos 1-0
(Khonsavanh)
Indonesia v Myanmar 6-1
(Fachri Husaini (2), Peri Sandria (2), Ansyari Lubis, Eri Iriyanto)
Indonesia v Vietnam 1-1
(Kurniawan Dwi Yulianto; Buu)
Laos v Myanmar 2-4
(Bounlap, Phonesavanh; Aung (2), Oo, Win)

Penyisihan Grup B

Malaysia v Singapura 1-1
(Sanbagamaran; Fandi Ahmad)
Filipina v Thailand 0-5
(Thithaya (2), Kiatisuk Senamuang, Natipong Sritong-in, Yutthana)
Malaysia v Filipina 7-0
(Sanbagamaran (3), Adnan, Rahman (2), Chandran)
Thailand v Brunei 6-0
(Santawong, Sritong-in (2), Srimaka (2), Senamuang)
Singapura v Filipina 3-0
(Fandi (2), Lim)
Brunei v Filipina 1-0
(Irwan Mohammed)
Thailand v Malaysia 1-1
(Senamuang; Zainal Abidin)
Malaysia v Brunei 6-0
(Sanbagamaran, Rahman, Bakar (2), Chandran (2))
Singapura v Thailand 0-1
(Sritong-in)

Semifinal 

Thailand v Vietnam 4-2
(Senamuang, Sritong-in (2), Srimaka; Hoang Buu, Hong Son)
Malaysia v Indonesia 3-1
(Sanbagamaran, Yap Wai Loon, Samsuri; Azmil Azali (o.g.))

Perebutan Juara III

Vietnam v Indonesia 3-2
(Cuong, Yeyen Tumena (o.g.), Bun; Kurniawan, Aples Tecuari)

Final

Thailand v Malaysia 1-0

Piala Tiger 1998

23 November 2010

Candrasengkala Negarakertagama

Historical events recorded within Nagarakretagama book are typically presented in Saka calendar system, which began 78 years earlier than the Gregorian calendar. The system converts numbers into words, read from right to left. For example, in the "pupuh 74/2" the Book writes candrasangkala "saptawidjarawi" to refer the Saka year of 1287. Unlike the Gregorian calendar, candrasangkala reads the number in reverse order. So, when you mention 1287, you must begin the reading from the number 7, followed by 8, 2, and 1.

Candrasengkala Nagarakretagama also has its own month names (pupuh 17/7). The difference from the Gregorian calendar is that one month in Saka year lies between two Gregorian months, and the new calendar begins in the Gregorian March, as follows: Caitra (from March to April), Waisaka (from April to May), Jyestha (from May to June), Asadha (from June to July), Srawana (from July to August), Bhadrapada (from August to September), Aswina (from September to October), Kartika (from October to November), Margasirsa (from November to December), Pausa (from December to January), Magda (from January to February), and Phalguna (from February to March).

Candrasangkala Nagarakretagama denotes important events during the ancient era of Nusantara history. Below are events recorded by the Nagarakretagama book symbolized by candrasangkala.

Abdhidesendu (year of 1104): the rise of Rajasa dynasty
Abdhikeretasangkara (1144): the attack of Kediri Kingdom
Abdhimanusa (1144): Jayasaba is the King of Kediri
Asyadhiruda (1149): the death of Rajasa (the King of Singasari)
Tilakadrisambhu (1170): the death of Anusapati (step-son of Rajasa/Ken Arok)
Rasaparwwatenduma (1176): Kertanegara coronation as Singasari King
Astaikana (1180): Sastrajaya is the King of Kediri
Kananawaniksiti (1190): the death of Wisnuwardhana
Bhujagosasiksaya (1192): the rebellion of Cayaraja
Trinisancangkara (1193): Jayakatwang becomes the King of Kediri
Nagasyabhawa (1197): Pamalayu expedition by Kertanegara
Yamasunyasurrya (1202): the rebellion of Mahisa Rangkah
Anggawiyatarka (1206): the invasion of Bali
Abdhijanarryarna (1214): the death of Kertanegara
Masaruparawi (1216): the Coronation of Kertarajasa as Majapahit King
Mukgigunapaksarupa (1238): the death of Kertarajasa
Windusarasurya (1250): the death of Jayanagara
Indubanadwirupa (1251): the coronation of Tribuwanatunggadewi
Tryanginina (1253): Gajah Mada become Mahapatih (Vice-King) of Majapahit
Agniswari (1253): the attack on Sadeng and Keta
Analasararka (1253): the theft of Arca Aksobaya

Source:
Slamet Muljana. 2006. Tafsir Sejarah Negarakertagama. PT LKiS Pelangi.

22 November 2010

Mengenal Penyakit Diare

Menurut data World Health Organization (WHO), Diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).  Sementara UNICEF, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk dana  pendidikananak, memperkirakan bahwa, setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal dunia karena Diare. 
Di Indonesia, setiap tahun 100.000 balita meninggal karena Diare.

Diare adalah buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih. Orang yang mengalami diare akan kehilangan cairan tubuh sehingga menyebabkan dehidrasi tubuh. Hal ini membuat tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik dan dapat membahayakan jiwa, khususnya pada anak dan orang tua.

Penyebab Diare

1. Infeksi dari berbagai bakteri yang disebabkan oleh kontaminasi makanan maupun air minum;
2. Infeksi berbagai macam virus;
3. Alergi makanan, khususnya susu atau laktosa (makanan yang mengandung susu);
4. Parasit yang masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang kotor.

Pencegahan Diare

Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:
1. Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting: 1) sebelum makan, 2) setelah buang air besar, 3) sebelum memegang bayi, 4) setelah menceboki anak dan 5) sebelum menyiapkan makanan;
2. Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi;
3. Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
4. Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.

Penyembuhan Diare

1. Minum dan makan secara normal untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang;
2. Untuk bayi dan balita, teruskan minum ASI (Air Susu Ibu);
3. Garam Oralit.
Diare kebanyakan disebabkan oleh beberapa infeksi virus tetapi juga seringkali akibat dari racun bakteria. Dalam kondisi hidup yang bersih dan dengan makanan mencukupi dan air tersedia, pasien yang sehat biasanya sembuh dari infeksi virus umum dalam beberapa hari dan paling lama satu minggu. Namun untuk individu yang sakit atau kurang gizi, diare dapat menyebabkan dehidrasi yang parah dan dapat mengancam-jiwa bila tanpa perawatan.

Diare dapat menjadi gejala penyakit yang lebih serius, seperti disentri, kolera atau botulisme, dan juga dapat menjadi indikasi sindrom kronis seperti penyakit Crohn. Meskipun penderita apendisitis umumnya tidak mengalami diare, diare menjadi gejala umum radang usus buntu. Diare juga dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan, terutama dalam seseorang yang tidak cukup makan. Gejala yang biasanya ditemukan adalah buang air besar terus menerus disertai mual dan muntah. Tetapi gejala lainnya yang dapat timbul antara lain pegal pada punggung,dan perut berbunyi.

Perawatan untuk diare melibatkan pasien mengkonsumsi sejumlah air yang mencukupi untuk menggantikan yang hilang, lebih baik bila dicampur dengan elektrolit untuk menyediakan garam yang dibutuhkan dan sejumlah nutrisi. Untuk banyak orang, perawatan lebih lanjut dan medikasi resmi tidak dibutuhkan.

Diare di bawah ini biasanya diperlukan pengawasan medis:

- Diare pada balita
- Diare menengah atau berat pada anak-anak
- Diare yang bercampur dengan darah.
- Diare yang terus terjadi lebih dari 2 minggu.
- Diare yang disertai dengan penyakit umum lainnya seperti sakit perut, demam, kehilangan berat badan, dan lain-lain.
- Diare pada orang bepergian (kemungkinan terjadi infeksi yang eksotis seperti parasit)
- Diare dalam institusi seperti rumah sakit, perawatan anak, institut kesehatan mental.

Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB ( Kejadian Luar Biasa ) seperti halnya Kolera dengan jumlah penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.Namun dengan tatalaksana diare yang cepat, tepat dan bermutu kematian dpt ditekan seminimal mungkin. Pada bulan Oktober 1992 ditemukan strain baru yaitu Vibrio Cholera 0139 yang kemudian digantikan Vibrio cholera strain El Tor di tahun 1993 dan kemudian menghilang dalam tahun 1995-1996, kecuali di India dan Bangladesh yang masih ditemukan. Sedangkan E. Coli 0157 sebagai penyebab diare berdarah dan HUS ( Haemolytic Uremia Syndrome ). KLB pernah terjadi di USA, Jepang, Afrika selatan dan Australia. Dan untuk Indonesia sendiri kedua strain diatas belum pernah terdeksi.

Faktor yang mempengaruhi diare :

- Lingkungan Gizi Kependudukan
- Pendidikan Sosial Ekonomi dan Prilaku Masyarakat
- Penyebab terjadinya diare :
- Peradangan usus oleh agen penyebab : 1. Bakteri , virus, parasit ( jamur, cacing , protozoa); 2. Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia; 3. Kurang gizi
4. Alergi terhadap susu; 5. Immuno defesiensi

Cara penularan :

Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makan makanan / air minum yang terkontaminasi tinja/muntahan penderita diare. Penularan langsung juga dapat terjadi bila tangan tercemar dipergunakan untuk menyuap makanan.

Istilah diare :

Diare akut = kurang dari 2 minggu
Diare Persisten = lebih dari 2 minggu
Disentri = diare disertai darah dengan ataupun tanpa lendir
Kholera = diare dimana tinjanya terdapat bakteri Cholera

Tatalaksana penderita diare yang tepat dan efektif :

- Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga (kuah sayur, air tajin, larutan gula garam, bila ada berikan oralit)
- Meneruskan pemberian makanan yang lunak dan tidak merangsang serta makanan ekstra sesudah diare.
- Membawa penderita diare ke sarana kesehatan bila dalam 3 hari tidak membaik atau :
1. buang air besar makin sering dan banyak sekali
2. muntah terus menerus
3. rasa haus yang nyata
4. tidak dapat minum atau makan
5. demam tinggi
6. ada darah dalam tinja

Daftar pustaka

http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=11
www.esp.or.id/handwashing/media/diare.pdf
id.wikipedia.org/wiki/Diare
fkunhas.com/l/pendahuluan+diare+makalah.html

19 November 2010

Dsikografi Anggun (1986-2008)

Dunia Aku Punya (1986)
1.Tegang
2.Sibuk
3.Dunia Aku Punya
4.Masa Remaja
5.Tik Tak Tik Tuk
6.Perdamaian
7.Tante Cerewet
8.Kawan Lama
9.Dari Seorang Wanita
10.Ganti-Gantian
11.Gadis Penari
12.Garudaku

Mimpi (1990)
1.Mimpi
2.Bayang Bayang Ilusi

Tua Tua Keladi (1990)
1.Tua Tua Keladi

Takut (1990)
1.Takut

Anak Putih Abu Abu (1991)
1.Nafas Cinta
2.Anak Putih Abu Abu
3.Pesta Kita
4.Jerit
5.Stop
6.Bilakah Damai
7.Batu Batu
8.Yang Patut Kita Rasa
9.Harimau

Nocturno (1992)
1.Problema Cinta
2.Ku Tak Ingin
3.Nocturno
4.Sentuhan Dewata
5.Ironi
6.Ganti Saja
7.Biar
8.Perisai Kehidupan
9.Malioboro

Anggun C. Sasmi... Lah!! (1993)
1.Kembalilah Kasih (Kita Harus Bicara)
2.Kenapa Harus
3.Sahara
4.Nanti Pasti Abadi
5.Penyesalan Tolol
6.Di Kejauhan
7.Karenamu Kini Aku Mengerti
8.Matahari Hatiku
9.Jawara
10.Sendiri

Yang Hilang (1994)
1.Yang Hilang
2.Masa Masa Remaja
3.Ku Tak Ingin
4.Nafas Cinta
5.Anak Putih Abu Abu
6.Mimpi
7.Tua Tua Keladi
8.Sentuhan Dewata
9.Gaya Remaja
10.Problema Cinta
11.Batu Batu
12.Nocturno

Au Nom de la Lune (1997)
1.La neige au Sahara
2.Le depart
3.Plus fort que les frontieres
4.A la plume de tes doigts
5.La rose des vents
6.Gita
7.La memoire des rochers
8.La ligne des sens
9.Blanca
10.Valparaiso
11.Selamanya
12.Au nom de la lune
13.Pluies
14.Des soleils et d'ombres
15.Always
16.Ceria

Snow on the Sahara (1998)
1.Snow on the Sahara
2.Le Depart
3.Over Their Walls
4.On the Breath of an Angel
5.A Rose in the Wind
6.Gita
7.Memory of Your Shores
8.My Sensual Mind
9.Blanca
10.Valparaiso
11.Selamanya
12.By the Moon
13.Pluies
14.Dream of Me
15.Secret of the Sea
16.Life on Mars?

Anggun (1999)

Chrysalis (2000)
1.Still Reminds Me
2.Rain
3.Breathing
4.Chrysalis
5.Tears of Sorrow
6.Want You to Want Me
7.How the World
8.A Prayer
9.Non Angelical
10.Look Into Yourself
11.Forbidden Love
12.Signs of Destiny
13.Comme un Privilege
14.Broken Dream
15.Yang Ku Tunggu
16.Marcher sur la mer

Desirs Contraires (2000)
1.Derriere la porte
2.Les champs de peine
3.Un geste d'amour
4.Un monde a l'endroit
5.Chaque jour sans fievre
6.Une femme
7.Tu nages
8.Mes desirs contraires
9.Marcher sur la mer
10.Tu mens
11.Brume
12.Tout peut arriver
13.Mon privilege
14.Broken Dream

Open Hearts (2002)
1.Counting Down
2.Open Your Heart
3.Little Things
4.Blue Satellite
5.The End of A Story
6.Im Your Mirror
7.Pray
8.I Wanna Hurt You
9.Naked Sleep
10.I Wanny Hurt You (Niels Brinck Club Mix)
11.Open Your Heart (A Capella Edit)

Luminescence (2005)
"In Your Mind" (Anggun, Taïeb) – 3:22
"Undress Me" (Anggun, Taïeb) – 3:33
"Evil & Angel" (Anggun, Taïeb) – 3:50
"Breathe in Water" (Anggun, Fauque, Taïeb) – 3:46
"Saviour" (Anggun, Jaffré, Kral) – 3:48
"Surrender" (Anggun, Taïeb) – 5:07
"Captivity" (Anggun, Taïeb) – 4:15
"Cover" (Anggun, Fauque, Marlone, Prévost, Reitzmann) – 4:20
"Something Sublime" (Anggun, Taïeb) – 3:36
"Devil in My Mind" (Anggun, Taïeb) – 3:17
"Painted" (Anggun, Taïeb) – 3:16
"Human" (Anggun, Taïeb) – 3:16
"Go" (Anggun, Taïeb) – 3:52

Luminescence Special Edition (2006)

Best Of (2006)
Mimpi
Bayang-Bayang Ilusi
Takut
I'll Be Alright
In Your Mind
Snow On The Sahara
Undress Me
Deep Blue Sea
Still Reminds Me
Mantra
Kembali
Summer In Paris
Chrysalis
Yang 'Ku Tunggu*
Open Your Heart
A Rose In The Wind (Chris Lord-Alge Remix)
Still Reminds Me (Jason Nevins Midtempo Radio Edit)
Saviour (Teetoff's Dance Radio Edit)
Snow On The Sahara (Amen Radio Edit)

Elevation (2008)
"J'ignorais tout" (featuring Sinik) – 4:22
"Si tu l'avoues" – 3:59
"Hymne à la vie" – 4:24
"Rien à écrire" – 4:13
"Le bluffeur" – 0:23
"Si je t'emmène" (featuring Pras) – 3:39
"Plus forte" (featuring Big Ali) – 3:33
"Cette nuit" – 3:43
"Tentation" – 3:18
"Le temps perdu" – 3:28
"Est-ce un hasard?" – 3:44
"Selamat Tidur" – 0:38
"Eden in Her Eyes" – 4:32
"Un jour sur terre" – 3:47

6 November 2010

Mengenal Kerajaan Inggris

Sejarah monarki Inggris dapat kita telusuri dari riwayat raja-raja Angles dan Skotlandia. Sejak tahun 1000 muncul sejumlah kerajaan di wilayah Inggris dan Skotlandia yang membentuk pemerintahan monarki pada zaman tersebut. Salah satu raja yang perlu kita ketahui ialah Raja Harold II, yakni raja terakhir Anglo-Saxon. Harold II berkuasa atas Anglo-Saxon sebelum diserang oleh tentara Normandia pada tahun 1066. Terbunuhnya Harold II pada peperangan ini membuat Inggris diambilalih oleh Normandia.

Kejadian-kejadian penting yang mewarnai perkembangan monarki Inggris:

1. Abad IX: Setelah pendudukan bangsa Viking, Kerajaan Anglo-Saxon di Wessex menjadi kerajaan paling berkuasa. Kerajaan ini dipimpin oleh Alfred the Great dan memiliki kekuasaan di wilayah barat Mercia. Alfred the Great bergelar "King of English". Penerusnya, Athelstan, menjadi raja pertama yang menguasai seluruh kerajaan meskipun bagian-bagian kekuasaannya tetap mempertahankan identitas daerah masing-masing;
2. Abad XI: Inggris mengalami keadaan yang lebih stabil meskipun terlibat dalam peperangan, misalnya dengan Denmark (Danes), yang membuat Denmark berkuasa selama satu generasi;
3. Tahun 1066: Inggris diserang oleh Normandia yang dipimpin oleh William (Duke of Normandy). Penyerangan Normandia ini menyebabkan perubahan politik dan sosial negara Inggris;
4. William (kemudian menjadi William I) digantikan oleh dua orang puteranya, William II dan Henry (kemudian menjadi Henry I). Henry I membuat keputusan kontroversial dengan menunjuk anak perempuannya, Matilda (satu-satunya anak yang lahir hidup) sebagai penerus takhta.
5. Tahun 1135: Setelah kematian Henry I, cucu William I, yaitu Stephen, merebut tahta Inggris dengan dukungan para baron. Hal ini membuat Matilda memberontak. Kekacauan inilah yang memperkenalkan kita pada istilah "Anarchy"; Inggris mengalami masa-masa pahit dan serba tidak menentu.
6. Tahun 1154: Putra dari Matilda, yang juga bernama Henry, merebut kekuasaan Inggris dan menjadi Raja Angevin (atau Plantagenet) pertama yang menduduki tahta kerajaan Inggris, dengan gelar Henry II. Selama kekuasaan dinasti Angevin, Inggris mengalami banyak pemberontakan dan kerusuhan. Salah satunya ialah pemberontakan oleh dua orang anaknya sendiri, Richard dan John. Setelah Henry II meninggal, tahta beralih ke tangan Richard (kemudian menjadi Richard I). Namun, Richard I jarang berada di istana karena menghabiskan waktunya untuk Perang Salib (Crusades). Richard I terbunuh dan digantikan oleh saudaranya, John.
7. Tahun 1215: Para baron mendesak Raja John untuk mengesahkan Magna Carta (Piagam Agung, atau Great Charter) yang berisi jaminan atas hak dan kebebasan yang sama bagi kaum bangsawan. Terjadi ketegangan yang menyebabkan meletusnya perang (terkenal dengan nama "the First Barons' War").
8. Tahun 1216: Raja John meninggal padahal putra mahkotanya, Henry, baru berusia 9 tahun. Namun, meskipun masih anak-anak, Henry tetap naik tahta (bergelar Henry III). Setelah Henry III menjadi Raja Inggris, terjadilah pemberontakan para baron yang dipimpin oleh Simon de Montfort ("the Second Barons' War").
9. Tahun 1265: Perang berakhir untuk kemenangan kerajaan dan ditandai dengan persetujuan kerajaan atas disahkannya Magna Carta.
10. Raja Edward II menjadi penguasa selanjutnya; Inggris mengalami masa yang relatif stabil. Masa ini terjadi penaklukan daerah Wales. Edward II juga berusaha menguasai Skotlandia. Akan tetapi usaha Edward II mendapatkan gangguan dari kaum bangsawan.
11. Tahun 1311: Edward II dipaksa melepaskan sejumlah wewenangnya kepada "committee of baronial 'ordainers'", namun ia berhasil mengatasi konflik berkat bantuan militer dan mendapatkan kembali kekuasaan absolut pada tahun 1322.
12. Tahun 1322: Edward II terbunuh oleh, ironisnya, isterinya sendiri, yang bernama Isabella. Kematian Edward II ini membuat anaknya yang berusia 14 tahun naik tahta dan bergelar Edward III. Edward III mengklaim kekuasaan Prancis hingga menyebabkan Perang 100 Tahun antara Inggris dan Prancis.
13. Tahun 1374: Parlemen Kerajaan Inggris terbagi ke dalam dua kamar (House).
14. Tahun 1377: Edward III meninggal dan tahta beralih ke putra mahkota berusia 10 tahun, Richard (bergelar Richard II). Richard II juga terlibat konflik dengan kaum bangsawan.
15. Tahun 1399: Richard II ditawan dan terbunuh pada saat berkunjung ke Irlandia. Kepergian Richard II ke Irlandia ini dimanfaatkan oleh saudara sepupunya, Henry Bolingbroke, untuk melakukan kudeta. Bolingbroke menjadi Raja Inggris selanjutnya dengan gelar Henry IV. Bolingbroke adalah cucu dari Edward III dan anak dari John of Gaunt (Duke of Lancaster). Dengan berkuasanya Henry IV maka dinasti beralih pada keluarga Lancaster dan terkenal dengan sebutan "House of Lancaster". Setelah Henry IV meninggal, kerajaan Inggris dipimpin oleh Henry V.
16. Tahun 1422: Henry V meninggal. Putra mahkotanya, yang saat itu masih bayi, naik tahta dengan gelar Henry VI. Raja yang masih bayi ini dimanfaatkan oleh Prancis untuk menyingkirkan kekuasaan Inggris. House of Lancaster menjadi melemah kekuatannya, mendapatkan tantangan dari House of York. House of York sendiri, yang merupakan keturunan dari Edward III, adalah dinasti yang dipimpin oleh Richard, Duke of York.
17. Tahun 1460: Duke of York terbunuh dalam pertempuran "the Wars of the Roses".
18. Tahun 1461: Richard, anak dari Duke of York menang perang dan mempertahankan kekuasaan York, berturut-turut dari Edward IV, Edward V, dan Richard III.
19. Tahun 1485: Terjadi konflik antara dinasti York dan dinasti Lancaster yang dimenangkan oleh Lancaster, yang dipimpin oleh Henry Tudor. Richard III terbunuh dalam Battle of Bosworth Field. Tudor naik tahta bergelar Henry VII. Ia menetralisasi kekuatan dinasti York dengan menikahi Elizabeth of York. Masa kekuasaan Henry VII diwarnai dengan perubahan politik dan sengketa dengan Kepausan di Roma. Henry VII memutuskan untuk memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma dan mendirikan Church of England (Anglican Church). Momentum ini merupakan reformasi bidang keagamaan.
20. Periode 1535-1542: Penandatanganan Wales Acts.  Wales yang memiliki status terpisah dari kerajaan meskipun tetap berada di bawah kekuasaan Kerajaan Inggris, akhirnya dianeksasi pula oleh kerajaan. Reformasi bidang agama Henry VII diteruskan oleh penggantinya, Edward VI.
21. Tahun 1553: Edward VI meninggal pada usia muda dan terjadi krisis pergantian kepemimpinan antara kakak perempuan tirinya, Mary (seorang Katolik) dan Jane Grey. Jane Grey menduduki tahta namun hanya bertahan selama sembilan hari. Mary mendapatkan kepercayaan publik dan menjadi penguasa baru (kemudian menjadi Mary I). Selama kekuasaan Mary I, perang Inggris-Prancis meletus kembali. Mary I juga berinisiatif untuk kembali ke Katolik Roma, dengan ditandai pembakaran atribut-atribut Protestan.
22. Tahun 1558: Mary I meninggal dan tahta Inggris beralih ke Elizabeth (selanjutnya disebut Elizabeth I). Inggris kembali menganut Protestan dan menjadi kekuatan yang hebat di dunia dalam hal angkatan laut serta penjelajahan Dunia Baru.
23. Tahun 1603: Elizabeth I meninggal. Kepergian ini membuat kekuasaan dinasti Tudor berakhir. Elizabeth I tidak memiliki anak sehingga tahta kerajaan diambilalih oleh penguasa Skotlandia, Raja James VI (selanjutnya disebut James I), yang merupakan cucu buyut dari saudari tertua Henry VIII dan berasal dari House of Stuart. James I menjadi orang pertama yang menyebut dirinya "King of Great Britain".
24. Periode 1629-1640: "Eleven Years' Tyranny", yakni kekuasaan mutlak Raja James I tanpa adanya Parlemen.
25. Tahun 1642: Puncak pertikaian James I vs. Parlemen dan memicu terjadinya perang saudara (English Civil War).
26. Abad XIII: Inggris memperluas kekuasaannya hingga daerah Wales;
27. Tahun 1xxxx: Penandatanganan Magna Carta yang memuat pembatasan kekuasaan kerajaan;
28. Tahun 1603: Penguasa Skotlandia, Raja James VI menjadi Raja Inggris dengan gelar James I; 
29. Periode 1649-1660: Tradisi monarki terhenti oleh aksi kelompok republikan  yang tergabung dalam Commonwealth of England. Perubahan ini memicu terjadinya perang yang dikenal dengan nama "War of Three Kingdoms."
30. Tahun 1707: Kerajaan Skotlandia dan Inggris melebur menjadi satu dan membentuk kerajaan bernama "Kingdom of Great Britain";
31. Tahun 1801: Kerajaan-kerajaan di Irlandia bergabung sehingga Kerajaan Inggris berganti nama menjadi namanya berubah menjadi "United Kingdom of Great Britain and Ireland";
32. Tahun 1921: Kerajaan Inggris menjadi puncak pimpinan nominal bagi British Empire, yang menguasai seperempat bagian dunia;
33. Tahun 1922 sebagian besar bagian wilayah Irlandia memisahkan diri dari Inggris dan membentuk negara baru, "Irish Free State", namun hukum Kerajaan Inggris masih berlaku hingga tahun 1949;
35. Tahun 1931, Kerajaan Inggris terbagi ke dalam kekuasaan-kekuasaan Commonwealth yang berbeda-beda;
36. Pasca Perang Dunia II, bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan negara India, kekuasaan British Empire secara efektif berakhir. Masa ini juga ditandai dengan lahirnya "Commonwealth" (persemakmuran), sebuah lingkungan negara-negara merdeka yang dahulunya menjadi jajahan Inggris. Kepala Persemakmuran (Head of Commonwealth) dipegang oleh Monarki Inggris (dalam hal ini Raja George VI dan saat ini Ratu Elizabeth II). Hingga saat ini tercatat 15 negara Persemakmuran di bawah Kerajaan Inggris.

5 November 2010

Al-Qur'an dan Fungsi Manajemen

Manajemen merupakan pengendalian dan pemanfaatan dari semua faktor dan sumber daya yang, menurut suatu perencanaan, diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu tujuan kerja tertentu. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha para anggota organisasi, dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Manajemen memiliki sejumlah fungsi yakni perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengawasan (controlling), pelaksanaan kerja (implementing), dan kepemimpinan (leadership).

Perencanaan menurut Al-Qur'an

Al-Qur'an mengatur perencanaan sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman, beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (QS. Al-Hasyar: 18)

Maksud dari "hari esok" ialah akhirat, namun dapat pula berarti hari-hari mendatang yang sebenarnya. Bagaimanapun mempersiapkan segala sesuatu untuk hari (waktu) yang akan datang dapat kita sebut sebagai perencanaan.

Pengawasan Menurut Al-Qur'an

Dalam Al-Qur'an pengawasan bersifat transedental, yang lahir dari inner discipline (tertib dari dalam). Itulah sebabnya pada zaman Islam pertama motivasi kerja manusia yang dituju Allah, kendatipun dalam hal-hal keduniawian yang saat ini dinilai cenderung sekuler sekalipun. Setelah keberadaan agama yang akali ini optimal maka barulah dengan sempurna kita yakini bahwa seluruh pelaksanaan pekerjaan diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Pelaksanaan Kerja menurut Al-Qur'an

Pelaksanaan kerja sudah barang tentu merupakan hal yang paling penting dalam fungsi manajemen karena merupakan pengupayaan berbagai jenis tindakan itu sendiri. Perlu diingatkan bahwa seluruh pekerjaan, dalam Islam, diawali dengan menyebut nama Allah (bismillah) dan diniatkan karena Allah (motivasi kerja harus tertuju pada Allah).

Kepemimpinan menurut Al-Qur'an

Kepemimpinan yang dikehendaki Islam harus sesuai dengan Al-Qur'an dan Al-Hadis dan memenuhi syarat-syarat (a) Islam, (b) adil, (c) jujur, dan (d) ditaati.

Koordinasi menurut Al-Qur'an

Koordinasi merupakan kewajiban yang penting untuk menghubungkan berbagai kegiatan pekerjaan. Koordinasi adalah susunan yang teratur dari usaha kelompok untuk menciptakan kesatuan tindakan dalam mengejar tujuan bersama. Al-Qur'an mengatur kepemimpinan dan koordinasi sebagai berikut:

...kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan kepada Rasul (Al-Hadis), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hati kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Sumber: Tugas Mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang, 2008.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.