Pages

5 October 2010

Transportasi Indonesia

Ledakan jumlah kendaraan bermotor pada arus mudik/arus balik tahun ini luar biasa. Jalan seakan tidak mampu menampung banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang. Begitu padatnya, hingga jalan yang sebelumnya memiliki volume normal kali ini tertular kemacetan. Sebuah pemandangan yang luar biasa ketika saya menyaksikan banyaknya kendaraan, baik roda empat atau lebih maupun roda dua, yang memadati jalan Temanggung-Parakan. Jarak 6 kilometer harus ditempuh dalam waktu lebih kurang 1 jam! Tampaknya macet lalu lintas semakin menjadi "tren", tidak mau kalah dari Blackberry, hehe... Pada "newsticker" berita televisi mungkin sebagian dari anda juga menjumpai tulisan berjalan (scroll) yang unik: Jalur Boyolali-Semarang "tidak bergerak". Fakta ini menambah masalah lalu-lintas di Indonesia. Kemacetan tidak hanya dialami oleh jalur utama, melainkan jalur cadangan/alternatif.

Semakin banyak masyarakat Indonesia yang memiliki kendaraan pribadi. Yaman sekarang rasanya kurang "gagah", kurang "mentereng", dan kurang "laku jual" apabila tidak memiliki kendaraan. Bahkan dalam perbincangan sering otomatis terlontar kata-kata, "wah dengan uang segitu, kamu bisa dapat (Yamaha) Vixion tuh...!" Nah, ideologi "kendaraanisme" inilah yang membuat orang Indonesia berlomba-lomba memiliki kendaraan sendiri: "fastabiqul inova" sampai "fastabiqul megapro", hahaha...

Keengganan menggunakan kendaraan umum (plat kuning) bukannya tanpa alasan. Ketepatan waktu menjadi alasan karena orang tidak harus antri membeli tiket atau menunggu di Bonpolo, eh, halte bus. Kesulitan  ini ternyata dimanfaatkan dengan cuwantiknya oleh produsen mobil dan motor. Mereka menggelontorkan program "kredit kendaraan" kepada konsumen prospektif sehingga mempermudah konsumen untuk memiliki kendaraan sendiri.

Namun sayangnya hasrat untuk cepat sampai ke tujuan menjadi "bubar kayang ra karuwan" karena bukan hanya anda yang mengendarai kendaraan sendiri, melainkan puluhan ribu mereka pula. Alhasil, terlambat juga deh sampai tujuan karena waktu habis untuk "suk-sukan" di perjalanan.

Kepadatan lalu-lintas membuka wawasan untuk membangun jalan baru agar arus lalu-lintas lancar; dengan logika konsentrasi terpecah ke berbagai cabang jalur. Sekilas, nampak sebuah wujud kepekaan otoritas transportasi terhadap perkembangan dan dinamika transportasi. Di samping itu, masyarakat menjadi memiliki kemudahan akses transportasi.

Akan tetapi, sampai kapankah jalan baru tersebut bertahan menampung volume kendaraan? Produsen kendaraan pastinya bukan orang-orang bodoh. Mengetahui tersedianya jalan baru berarti membuka peluang baru untuk lebih giat memproduksi kendaraan. Terus demikian seterusnya, "Ngene terus kapan rampunge???" Malah jadi muncul masalah baru: pencemaran dan kerusakan lingkungan; ekosistem terganggu dan yang rugi yalah masyarakat sendiri.

Jakarta adalah ibukota negara Indonesia. Di situlah lebih banyak akses teraih dibandingkan daerah lain. Selain menjadi pusat pemerintahan, Jakarta adalah pusat perdagangan, ekonomi, dan perniagaan. Siapa yang tidak "ngiler"? Belum lagi jika melihat para aktris, aktor, fotomodel, dsb., yang...wuihh, "kempling" dan "semlohai" itu, hehehe... Jakarta is a theater of dream; dan sebagian besar memang hanya meraih mimpi tanpa kenyataan (namanya juga teater bung, bung...)

Konsentrasi kegiatan maksudnya yalah menyebar pusat-pusat kegiatan ke berbagai wilayah, khususnya pusat-pusat yang orang bilang "basah" (red: menghasilkan keuntungan). Ini kalau memang mau niat pemerataan pembangunan (dan berikut hasil-hasilnya dong, hehe...). Yaa, supaya ultra-urbanisasi yang kini telah dan sedang melanda ibukota sedikit terkurangi, lah.


4 October 2010

Wawasan Nusantara

Tiap bangsa memiliki cita-cita baik secara tersurat maupun secara tersirat. Cita-cita adalah pemberi semangat hidup, jiwa kehidupan dan tujuan nasional suatu bangsa.

Konsep Wawasan Nusantara

Konsepsi Wawasan Nusantara muncul sejak penandatanganan Deklarasi Djuanda. Di dalam deklarasi ini tercantum hal-hal sebagai berikut: a. Lebar laut wilayah Indonesia adalah 12 mil; b. Bentuk geografis Indonesia ialah negara kepulauan dengan sifat dan corak tersendiri.

Indonesia memerlukan sebuah doktrin yang menyatukan visi konsepsi dan kewilayahan. Maka dari itu dirumuskanlah Undang-Undang No. 4/PERPU tahun 1960. Penetapan Wawasan Nusantara sebagai visi nasional berperan untuk membimbing dan menciptakan rambu-rambu yang menyamakan pandangan bangsa serta perjuangan bangsa untuk mengisi kemerdekaan. Melalui usaha ini bangsa Indonesia berjuang untuk mempertahankan kelangsungan hidup, keutuhan wilayah dan jati diri bangsa.
Unsur Dasar Konsepsi Wawasan Nusantara dipengaruhi oleh. Terdapat tiga faktor penting yang mendasari konsepsi Wawasan Nusantara, yakni: geografi, geopolitik, dan geostrategi.

Ajaran Dasar Nusantara

Berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tahun 1993 dan 1999 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara wawasan nusantara diartikan sebagai "cara pandang Indonesia mengenai diri sendiri dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta wilayah di dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.

Hakikat Wawasan Nusantara

Setiap warga negara harus berfikir, bersikap dan bertindak secara utuh menyeluruh demi kepentingan bangsa.

Asas Wawasan Nusantara

Adanya persatuan, kesatuan dan kebhinekaan dalam kepentingan, keadilan, kejujuran, solidaritas, kerjasama dan kesetiaan pada kesepakatan bersama.

Arah Pandang

Arah pandang ke dalam (berusaha agar persatuan dan kesatuan negara tetap utuh) dan arah pandang ke luar (mengamankan kepentingan nasional demi tujuan nasional).

Kedudukan, fungsi dan tujuan

Kedudukan: ajaran yang diyakini kebenarannya untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional. Kedudukan ini sekaligus menjadi paradigma nasional bangsa Indonesia.
Fungsi: pedoman, motivasi serta aturan dalam menentukan segala kebijakan bagi penyelenggaraan negara.
Tujuan: mewujudkan rasa nasionalisme yang tinggi dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pelaksanaan Wawasan Nusantara

a. Sebagai pancaran falsafah nusantara;
b. Sebagai pembangunan nasional (meliputi kesatuan politik, kesatuan ekonomi, kesatuan sosial-budaya dan kesatuan pertahanan keamanan;
c. Penerapan wawasan nusantara (jelas antara batas wilayah negara satu dengan lainnya, perluasan wilayah menambah kekayaan sumber daya alam, pemerataan pendidikan di seluruh wilayah nusantara dan kesiagaan seluruh rakyat untuk menghadapi berbagai ancaman bangsa dan negara;
d. Hubungan Wawasan Nusantara dengan ketahanan nasional (Keberhasilan pembangunan akan meningkatkan kondisi kehidupan nasional dan akan tercipta ketahanan yang kuat. Ketahanan yang kuat akan mendukung adanya perwujudan cita-cita dan tujuan nasional).
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.