Pages

29 September 2010

Pengertian Pelabuhan Perikanan

1. Definisi Pelabuhan Perikanan

Pelabuhan adalah daerah perairan yang terlindung dari gelombang yang dilengkapi dengan fasilitas terminal laut yang meliputi dermaga tempat kapal dapat bertambat untuk melakukan bongkar muat barang dan sebagai tempat penyimpanan untuk menunggu keberangkatan berikutnya (Bambang Triatmono, 2002).

Pelabuhan perikanan adalah suatu kawasan perikanan yang berfungsi sebagai tempat labuh kapal perikanan, tempat pendaratan ikan, tempat pemasaran, tempat pelaksanaan pembinaan mutu hasil perikanan, tempat pengumpulan data tangkapan, tempat pelaksanaan penyuluhan serta pengembangan masyarakat nelayan dan tempat untuk memperlancar operasional kapal perikanan (Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, 2005).

Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per.16/Men/2006 tentang Pelabuhan Perikanan, pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh dan/atau bongkar-muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra- dan antarmoda transportasi.

Menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1994) pelabuhan perikanan merupakan prasarana yang mendukung peningkatan pendapatan petani nelayan sekaligus mendorong investasi dalam bidang perikanan. Fungsi pelabuhan perikanan dalam arti luas adalah sebagai pusat pengembangan ekonomi perikanan dalam bidang produksi, pengolahan dan pemasaran.

2. Klasifikasi Pelabuhan Perikanan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 16/MEN/2006 klasifikasi besar/kecilnya skala usaha pelabuhan perikanan dibedakan menjadi empat tipe pelabuhan, sebagai berikut:
a. Tipe A, Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS): diperuntukkan bagi kapal perikanan yang dioperasikan di perairan samudera yang lazim digolongkan ke dalam armada perikanan jarak jauh sampai ke perairan laut teritorial, ZEEI, dan laut lepas.
b. Tipe B, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN): diperuntukkan bagi kapal perikanan yang beroperasi di perairan Nusantara yang lazim digolongkan ke dalam armada perikanan jarak sedang sampai ke perairan ZEEI dan laut teritorial.
c. Tipe C, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP): diperuntukkan bagi kapal perikanan yang beroperasi di perairan pantai/pedalaman, perairan kepulauan dan laut teritorial.
d. Tipe D, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI): diperuntukkan bagi kapal perikanan yang beroperasi di perairan pedalaman dan perairan.

3. Karakteristik Pelabuhan Perikanan

Pelabuhan perikanan ideal harus mempunyai sifat dan fasilitas-fasilitas sehingga pelabuhan tersebut dapat berfungsi dengan baik. Beberapa sifat alami harus dimiliki agar pembangunan pelabuhan dapat dilakukan dengan biaya yang relatif kecil. Menurut Bjurke (dalam Ayodhyoa, 1975), pelabuhan perikanan yang ideal memiliki karakteristik sebagai berikut: a) jarak tidak terlalu jauh dari fishing ground, b) lokasi berhubungan dengan daerah pemasaran ikan, c) memiliki daerah yang luas untuk pendaratan ikan dan industri penunjang lainnya, d) tempatnya menarik untuk tempat tinggal nelayan, penjual ikan dan pengusaha ikan, e) aman dalam segala cuaca, f) aman secara alami dan buatan bagi kapal yang berlabuh dari segala cuaca waktu, g) biaya masuk akal untuk mendapatkan kedalaman air yang memadai pada alur pelabuhan dan pangkalan pelabuhan, h) biaya untuk pengerukan pelabuhan murah, i) daerah cocok untuk membangun pemecah gelombang, pangkalan pelabuhan, dan sarana di pantai menjadi satu unit yang disesuaikan dengan perencanaan terpadu, j) daerah luas sehingga tidak menyulitkan pengembangan pelabuhan.

4. Fungsi dan Peranan Pelabuhan Perikanan

Fungsi dan peranan pelabuhan perikanan mengacu pada Keputusan Menteri Perikanan dan perundangan yang berlaku. Selain harus mengacu pada peraturan yang berlaku fungsi pelabuhan perikanan juga harus disesuaikan dengan keadaan pelabuhan serta potensi yang ada.

a. Fungsi Pelabuhan Perikanan

Menurut Lubis (2000) fungsi pelabuhan perikanan dapat dikelompokkan berdasarkan pendekatan kepentingan, sebagai berikut: 1) fungsi maritim (tempat kontak nelayan dengan pemilik kapal), 2) fungsi komersial (menjadi tempat awal untuk mempersiapkan distribusi produksi perikanan melalui transaksi pelelangan ikan), dan 3) fungsi jasa (jasa pendaratan ikan, jasa kapal penangkap ikan, jasa penanganan mutu ikan).

b. Peranan Pelabuhan Perikanan

Pelabuhan Perikanan berperan sebagai terminal yang menghubungkan kegiatan usaha di luat dan di darat ke dalam suatu sistem usaha dan berdaya guna tinggi (Murdiyanto, 2004). Sedangkan menurut pendapat Lubis (2000) peranan pelabuhan perikanan meliputi beberapa aktivitas, antara lain: 1) pusat aktivitas produksi, 2) pusat aktivitas distribusi, dan 3) pusat kegiatan masyarakat nelayan.

5. Fasilitas Pelabuhan

Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 16/MEN/2006 menyatakan bahwa pelabuhan harus dapat berfungsi dengan baik, yaitu dapat melindungi kapal yang berlabuh dan beraktivitas di dalam areal pelabuhan. Agar dapat memenuhi fungsinya maka pelabuhan perlu dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Fasilitas pada pelabuhan perikanan dapat kita kelompokkan menjadi sebagai berikut:

a. Fasilitas pokok:
Terdiri atas fasilitas perlindungan seperti breakwater, reventment, dan groin, dalam hal secara teknis diperlukan, fasilitas tambat seperti dermaga dan jetty, dan fasilitas perairan pelabuhan seperti kolam dan alur pelayaran, penghubung seperti jalan, drainase, gorong-gorong, dan jembatan, serta lahan pelabuhan perikanan.
b. Fasilitas fungsional:
Terdiri atas berbagai fasilitas pelayanan kebutuhan lain di areal pelabuhan seperti bantuan navigasi, layanan transportasi, persediaan kebutuhan bahan bakar, penanganan dan pengolahan ikan, perbaikan jaring, bengkel, komunikasi, dan sejenisnya.
c. Fasilitas penunjang:
Terdiri atas penunjang kegiatan seperti mess operator, pos jaga, pos pelayanan terpadu, peribadatan, MCK, kos, dan fungsi pemerintahan.

25 September 2010

Istilah-istilah dalam penelitian ilmiah

Teori   
Informasi ilmiah yang abstrak sifatnya dan belum tentu dapat langsung digunakan dalam penelitian yang ingin dilakukan oleh seorang peneliti melalui deduksi logika teori yang abstrak tadi diterjemahkan menjadi hipotesa yakni informasi ilmiah yang lebih spesifik dan lebih sesuai dengan tujuan penelitian.
Konsep           
Istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian keadaan kelompok/individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial.
Konstruk           
Konsep dengan tingkat abstraksi yang lebih tinggi dari kejadian-kejadian obyek / individu tertentu.
Fenomena           
Hal-hal yang dapat disaksikan dengan panca indra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah.
Deduksi               
Proses pengambilan keputusan berdasarkan hasil analisis dari data.
Induksi       
Pengambilan keputusan dengan menggunakan data tanpa menggunakan hipotesis.
Pendekatan kuantitatif
Lebih menekankan analisisnya pada data-data numerical (angka) yang diolah dengan metoda statistika.
Pendekatan kualitatif
Prosedur penelitian yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata tertulis/lisan dari pihak yang mempunyai hubungan dengan masalah yang diramal.
Data kualitatif   
Data yang dinyatakan dalam bentuk kalimat/tulisan. Data yang pada umumnya sukar diukur/menunjukkan kualitas tertentu untuk kepentingan penyusunan instrumen penelitian biasanya data kualitatif disusun dalam skala tertentu.
Data kuantitatif
Data yang bersifat angka. Data terukur, biasanya dapat dinyatakan dalam satuan tertentu penting buat pengelolaan statistik, penyusunan tabel, dsb, persyaratan yang harus dipenuhi agar data kuantitatif bernilai untuk pengelolaan dapat dipelajari dalam ilmu statistik.
Penelitian deskriptif
Penelitian yang bertujuan untuk membuat deskriptif gambaran/lukisan ecara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Penelitian yang lebih mengarah pada pengungkapan suatu masalah/keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada, walaupun kadang-kadang diberikan interpretasi/analisis.
Sampel       
Bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki untuk populasi tersebut.
Responden       
Dari kata asal ‘respon’ (penanggap) yaitu orang yang menanggapi. Dalam penelitian responden adalah orang yang dimintamemberikan keterangan tentang sesuatu fakta/pendapat. Keterangan tersebut dapat disampaikan dalam bentuk tulisan, yaitu ketika mengisi angket/lisan ketika menjawab wawancara.
Informan       
Orang yang memberikan informasi dengan pengertian ini maka informan dapat dikatakan sama dengan responden apabila pemberian keterangannya karena dipancing oleh pihak peneliti. Istilah-istilah informan ini banyak digunakan dalam penelitian kualitatif.
Key person   
Orang-orang yang mempunyai inferensi dan audience yaitu orang-orang atau lembaga yang dapat menggunakan hasil-hasil penelitian.
Snowball sampling       
Teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil kemudian membesar. Metode atau cara untuk mengambil sampel, yakni dengan bertanya kepada jumlah kecil orang/kelompok individu berdasarkan pertanyaan yang telah disiapkan. Kemudian individu/kelompok tersebut diminta untuk menunjuk individu/kelompok lain yang bisa ditanya dengan pertanyaan yang sama. Demikian seterusnya sampai diperoleh sampel yang makin lama makin besar.
Purposive sampling
Teknik sampling dengan pertimbangan tertentu.
Sumber data primer
Data yang diperoleh langsung dari responden/obyek yang diteliti, ada hubungannya dengan yang diteliti.
Sumber data sekunder
Data yang telah lebih dulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang/instansi diluar dari peneliti sendiri walaupun yang dikumpulkan itu sesungguhnya adalah data yang asli. Data primer yang telah diolah lebih lanjut misalnya dalam bentuk tabel, grafik, diagram, gambar, dsb, sehingga lebih informatif untuk digunakan pihak lain.
Analisi data   
Menentukan arti yang sebenarnya dan signifikan dari data yang telah diorganisasikan dalam satu pola yang logis. Proses yang berisi usaha secara formal untuk menemukan tema-tema, merumuskan hipotesis kerja (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis kerja itu.
Distribusi frekuensi
Merupakan rangkuman yang telah diolah atas data-data yang diperoleh saat penelitian ke laporan dengan kuesioner dan interview guide.
Mean       
Teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata-rata dari kelompok tersebut.
Median
Salah satu teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai tengah dari kelompok data yang telah disusun urutannya dari yang terkecil sampai yang terbesar atau sebaliknya dari yang terbesar sampai yang terkecil.
Modus
Teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai yang sedang populer atau nilai yang sering muncul dalam kelompok tersebut untuk menghitung modus dasar yang telah disusun ke dalam disribusi frekuensi/data bergolongan.
Grafik       
Selain dengan tabel, penyajian data yang cukup populer dan komunikatif adalah dengan grafik. Suatu grafik selalu menunjukkan hubungan antara jumlah dengan uraian lain misalnya waktu.
Tabel
Daftar berisi ikhtisar sejumlah (besar) data informasi, biasanya berupa kata-kata dan bilangan yang tersusun secarabersisrtem, urut ke bawah di lajur dan deret tertentu dengan garis pembatas sehingga dapat dengan mudah disimak.
Diagram
Gambaran (buram, sketsa) untuk memperlihatkanatau menerangkan sesuatu.
Daftar pustaka   
Daftar yang mencantumkan judul buku, nama pengarang, penerbit,dsb yang ditempatkan pada bagianakhir suatu karangan atau buku, dan disusun menurut abjad.
Endnote   
Informasi tambahan yang diletakkan di akhir dokumen.
Footnote
Informasi tambahan yang diletakkan di bawah satu halaman sama yag dibatasi dengan garis.

4 September 2010

Nusantara Awal Peradaban Dunia?


 Sebuah gambaran tentang keistimewaan Nusantara sebagai salah satu bangsa yang memiliki peradaban hebat dapat kita pelajari melalui sebuah peta. Peta di sini (lihat gambar) adalah peta yang memuat letak puncak-puncak penting di planet bumi yang diantaranya kita kenal sebagai bagian dari the Seven Summits (tujuh puncak tertinggi pada tujuh kawasan geografis daratan). Peta tersebut melahirkan sebuah pemikiran tentang arti penting peradaban Nusantara bagi sejarah umat manusia di dunia.
Dengan “bermain peta” kita akan menemukan keunikan tersendiri yang dimiliki oleh Nusantara. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: Pertama, hubungkan empat penting di dunia, yakni Kilimanjaro di Afrika, Kozciusko di Australia, Fuji di Jepang, dan Everest di Himalaya. Hasilnya adalah sebuah bidang menyerupai layang-layang; Kedua, bidang layang-layang tersebut tentukanlah titik tengah garis penghubung Everest dengan Kosciuzko. Hasilnya ialah sebuah titik yang terletak di daerah Kalimantan.
Ketiga, di antara puncak-puncak terkenal tersebut, dua puncak yang jika kita tarik garis lurus yang menghubungkan keduanya akan tampak bahwa mereka berdiri relatif sejajar atau segaris. Kedua puncak tersebut adalah Fuji dan Etna; kebetulan sama-sama terletak pada sebuah pulau, Honshu dan Sicilia. Apakah yang dapat ditemukan dari formasi layang-layang, titik tengah, dan garis lurus yang sejajar dengan garis lintang bumi itu? Untuk menjawabnya kita menuju ke langkah keempat, yakni hubungkan titik yang kita buat di Kalimantan ke puncak Etna. Ya, di sekitar garis Kalimantan-Etna tersebut terdapat peradaban-peradaban hebat dalam sejarah umat manusia, yakni Melayu, India, Persia, Arab, Yunani, dan Romawi. Lalu, bagaimanakah dengan peradaban Mesir, Inca, Maya, dan Aztec yang juga terkenal? Jawabannya diberikan oleh langkah kelima, yaitu dengan meneruskan garis yang terbentuk oleh Kilimanjaro-Kalimantan dan Fuji-Etna ke arah Barat. Di situlah impact dari peradabatan yang telah disebutkan di atas bermukim, yakni di kawasan Afrika Utara dan Amerika Selatan. Jika kita tarik ke arah Timur, maka akan kita temukan peradaban Cina. 
 Gugusan peradaban hebat tersebut diperkuat dengan sentralitas kaum Barbar yang ternyata menghuni daerah daratan di luar garis Etna-Fuji. Sebut saja Mongol, Viking, dan Hun, yang semuanya berada di daerah Utara.
Nusantara pilar peradaban dunia?
Pendapat Prof. Arysio Santos dalam bukunya bahwa Atlantis, benua yang hilang, yang hampir sepanjang masa dipergunjingkan keberadaannya, terdapat di Sundaland mungkin dapat ditelusuri kebenaran (atau kekeliruannya) melalui gambar peta tersebut. Asumsi pertama ialah benar, dengan mengingat fakta yang berlaku bahwa modernisasi dan teknologi modern diperkenalkan oleh orang Barat. Artinya, semakin ke Timur, boleh jadi peradabannya semakin atau cenderung klasik. Asumsi kedua ialah salah. Asumsi kedua ini memberikan sangkalan terhadap pendapat Santos dan mendukung pendapat Plato bahwa Atlantis terdapat di dasar Laut Atlantik, atau relatif dekat dengan Segitiga Bermuda. Coba kita lanjutkan langkah kita mengambar garis pada peta. Jika kita teruskan garis Kalimantan-Etna ke arah kiri, maka garis tersebut akan menuju Laut Atlantik.
Demikianlah “permainan” yang dapat kita mainkan dengan bantuan peta puncak-puncak penting di dunia. Apakah ini sebuah kebetulan? Apakah ini hanya khayalan yang mengada-ada? Kesemuanya berangkat dari fakta bahwa Nusantara, yang sekarang kita kenal sebagai Indonesia, tanah air kita ini, sepertinya menjadi target bangsa-bangsa asing. Letaknya yang berada pada garis khatulistiwa membuat Nusantara kaya akan sumber daya alam. Tidak mengherankanlah bila banyak pendatang yang ingin mencicipi keindahan tersebut, sesuatu hal yang jarang mereka dapatkan di daerah sendiri.
Meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan terhadap masa depan bangsa
Sebagai bagian dari bangsa Nusantara, kita selayaknya mawas diri dan tetap bersikap peka terhadap tindakan-tindakan yang bertujuan untuk mengusik keagungan peradaban Nusantara. Tindakan-tindakan tersebut dapat bersifat konkret maupun laten. Kita harus yakin bahwa ada sesuatu di balik keberadaan Nusantara dengan terus mempelajari peradabannya sejauh mungkin ke belakang.
Nasib yang dialami oleh peradaban Inca, Maya, Azteca, yang akhirnya tertindas oleh bangsa pendatang dan kini hanya tinggal puing, jangan sampai menulari peradaban Nusantara. Hal inilah yang patut kita khawatirkan. Semakin kita bersikap apatis dan cuek terhadap keberadaan bangsa dengan terus berfikir internasional tanpa didasari oleh landasan kebangsaan yang kiat, maka semakin rentan pula bangunan peradaban yang telah sekian lama berdiri. 
 Dari peta tersebut Kalimantan dapat saja berperan sebagai tonggak pendukung peradaban dunia. Nusantara dapat diibaratkan tut wuri handayani (berada di belakang dan memberikan kekuatan). Namun yang sering terjadi saat ini justru tut wuri hambayaki (ikut arus dan kebingungan karena cemas tidak dapat mengikuti perkembangan). Inilah yang tidak perlu terjadi.

Capacity Building untuk Pendidikan Tinggi di Negara Berkembang

Diterjemahkan dan Dirangkum oleh Tiyo Widodo dari makalah Stig Enemark (Aalborg University, Denmark), "Capacity Building for Higher Education in Developing Countries - A Part of the Western World University Portfolio?" yang dipresentasikan dalam Capacity Building in Higher Education and Research on a Global Scale UNESCO International Workshop, Copenhagen, 17-18 Mei 2005

"Higer education is the modern world's basic education, but many countries are falling further and further behind." Demikian kutipan yang diambil dari laporan tentang peran universitas sebagai pendukung usaha pembangunan masyarakat yang diterbitkan oleh Bank Dunia. Keberadaan universitas juga menentukan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh negara-negara donor. Akan tetapi, proyek donor dalam bidang pendidikan tinggi tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Identifikasi peran universitas barat dalam bidang ini juga tidak mudah.

Makalah yang disampaikan oleh Professor Stig Enemark dari Aalborg University Denmark menyajikan studi kasus negara Mozambique yang menjadi salah satu target proyek pengembangan pendidikan tinggi Bank Dunia. Proyek tersebut menitikberatkan pada reformasi kualitatif di dalam proses belajar-mengajar pada fakultas-fakultas yang dijadikan objek penelitian di tiga universitas negeri Mozambique. Tujuan penelitian ialah 1) untuk memperkenalkan pendekatan berbasis mahasiswa yang berorientasi pada proyek, yang didukung oleh penggunaan teknologi komputer, dan 2) untuk memperbesar angka kelulusan mahasiswa.

Sebuah proyek percontohan dilakukan oleh sebuah konsorsium universitas dari negara Denmark dengan tujuan mengembangkan sebuah proyek skala penuh yang disepakati dan dilaksanakan sebagai bagian dari proyek Bank Dunia. Akan tetapi, terlepas dari kenyataan di lapangan bahwa proyek tersebut mendapatkan sambutan dan dukungan yang positif dari semua pihak yang terlibat, namun masalah pendanaan masih menjadi kendala tersendiri. Masalah pendanaan terkait dengan kurangnya kerjasama dan rasa saling memahami antara stakeholders kunci baik di negara donor maupun di negara penerima donor.

Pemahaman lintas sektoral pada skala nasional di negara-negara donor perlu dipadukan dengan kepentingan yang dimiliki oleh universitas, Kementrian Sains/Pendidikan dan lembaga-lembaga donor nasional maupun internasional.

Capacity building untuk pendidikan tinggi di negara-negara berkembang seharusnya menjadi bagian dari portfolio strategi universitas dan didukung oleh stakeholders terkait seperti lembaga donor, kementrian terkait, dan organisasi perdagangan dan industri. Kegiatan-kegiatan capacity building hendaknya tidak dipandang sebagai faktor pendorong bagi pembangunan masyarakat di negara-negara penerima donor semata, melainkan juga sebagai kebutuhan untuk fasilitasi pengembangan kemampuan internasional dan inovasi institusional di negara pendonor. Pemahaman ini merupakan sebuah proses untuk mendapatkan keuntungan bersama yang dinikmati oleh negara pendonor maupun negara penerima donor.

Capacity building untuk pendidikan tinggi di negara-negara berkembang sangatlah kompleks. Gagasan ini merupakan sebuah proses yang sedang berlangsung yang harus dilandasi oleh prioritas nasional dan analisis historis yang menyeluruh tentang sistem pendidikan tinggi yang berlaku pada suatu negara berikut kontribusinya bagi pembangunan sosial, ekonomi dan politik. Kajian tentang capacity building harus memuat sasaran yang jelas dan menghasilkan kemampuan untuk menyeimbangkan arah strategis dengan memandang sistem pendidikan tinggi secara keseluruhan, menentukan kontribusi masing-masing bagian bagi kebaikan bersama.

Peran universitas-universitas dari negara Barat ialah fasilitasi proses capacity building. Peran tersebut harus diperkuat oleh pendekatan-pendekatan kebijakan strategis dan bukan sekedar melalui kegiatan konsultasi yang dipengaruhi oleh pasar. Negara-negara maju harus memandang capacity building di dalam pendidikan tinggi sebagai kegiatan dua-arah dan  sebagai kebutuhan pula. Dengan kata lain, capacity building tersebut sebenarnya kebutuhan bersama yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak, negara pendonor dan negara penerima donor. Untuk mencapai harmoni ini maka baik negara pendonor maupun negara penerima donor harus bekerjasama untuk menyusun kebijakan dan menentukan skala prioritas.

Peran pendidikan tinggi di negara Mozambique masih tergolong rendah karena terhalang oleh banyak masalah. Sebagai negara yang baru saja merdeka, banyak alasan yang menyebabkan rendahnya tingkat kelulusan warga negara dari pendidikan tersier. Alasan-alasan tersebut dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni alasan institusional, alasan individual, dan alasan eksternal
1.Alasan institusional
Hubungan antara pendidikan sekunder dan pendidikan tersier masih lemah; kurikulum dan metode pengajaran tidak memadai; perencanaan buruk; tidak ada usaha dukungan untuk kegiatan mengajar; dan sarana yang tidak memadai.
2.Alasan individu
Pengajar sering tidak siap dan terlalu sibuk karena banyak kegiatan di luar lingkup pendidikan; mhasiswa menghadapi masalah adaptasi kehidupan kampus; perasaan eksklusif; kekurangan waktu belajar dan tidak memiliki manajemen waktu yang baik.
3.Alasan eksternal
Peluang kerja setelah lulus kuliah tidak jelas dan masalah keuangan karena Mozambique dilanda kemiskinan dan keadan sosial yang tidak stabil

Proyek percontohan yang diadakan oleh Danish University Consortium bertujuan untuk mengkaji indikator kinerja pelaksanaan "reformasi kualitatif di dalam proses belajar-mengajar" dengan menggunakan pendekatan-pendekatan berorientasi proyek yang terpusat pada mahasiswa." Status Danish University Consortium dalam proyek ini ialah sebagai lembaga konsultasi bekerjasama dengan Bank Dunia. Selain di Mozambique, konsorsium ini juga telah mengadakan kerjasama dengan universitas-universitas di Botswana, Afrika Selatan, Swaziland, Malaysia dan Thailand dengan nama program DANCED yang didanai oleh Pemerintah Kerajaan Denmark.  Selain beranggotakan akademisi dari Denmark sendiri, konsorsium juga merekrut perwakilan dari UNESCO Center for Problem Based Learning (UCPBL) yang berada di Aalborg University dan Kementrian Sains, Teknologi, dan Inovasi Kerajaan Denmark.  Jumlah anggota tim seluruhnya adalah empat orang.

Tim konsultasi mengunjungi Mozambique dengan membawa tiga misi yang mereka jalankan pada bulan Nopember 2002, Agustus dan Nopember 2003. Tujuannya ialah menciptakan modalitas bagi kerjasama institusional antaruniversitas Denmark dan Mozambique berdasarkan rencana strategis pemeirntah untuk pendidikan tinggi di Mozambique. Kegiatan konsultasi mendapatkan dukungan dari Bank Dunia yang berperan sebagai tim penyelidik pelaksanaan Problem-Based and Project-Oriented Learning Approach to higher education of Mozambique.

Tiga misi yang diemban oleh Danish University Consortium ialah 1) untuk menghimpun dan mengidentifikasi fakta kemungkinan terjalinnya kerjasama program percontohan (Misi 0, satu pekan, Nopember 2002); 2) untuk menentukan profil dan fakultas yang dijadikan obyek penelitian, merancang kegiatan seminar PBL dan mengadakan negosiasi awal dengan para menteri (Misi 1, satu pekan, Agustus 2003); dan 3) mengadakan seminar PBL dan tindak lanjutnya dengan fakultas-fakultas terpilih dan MESCT (Misi 2, satu pekan, Nopember 2003).

Dari ketiga misi di atas dapat disimpulkan bahwa Mozambique memerlukan sebuah program untuk memperkenalkan metode-metode pedagogi yang inovatif.

Pelajaran yang diperoleh Danish University Consosrtium dari proyek percontohan negara Mozambique ialah bahwa dukungan bagi capacity building sangat diperlukan untuk pendidikan tinggi di negara-negara berkembang. Akan tetapi, proyek yang dilakukan senantiasa harus berbentuk kegiatan dua-arah. Sehingga, proyek capacity building harus berakar di dalam kerangka organisasi negara pendonor sendiri. Penyusunan kerangka organisasi seperti ini dipandang penting untuk a) mendukung negara-negara berkembang melalui capacity building di negara mereka sendiri dan memperkuat konsep pengembangan universitas dengan kurikulum, prioritas, dan riset yang berlandaskan kebutuhan struktural masyarakat dan secara aktif berusaha memenuhi kebutuhan tersebut; b) mempermudah dan mendukung kerjasama aktif dengan universitas-universitas negara berkembang dan memberikan kompensasi bagi kebijakan baru tentang pemberlakuan biaya kuliah untuk mahasiswa dari negara ketiga yang ingin kuliah di Denmark; c) mendukung dan selanjutnya mengembangkan usaha internasionalisasi universitas-universitas Denmark serta lebih memahami peran dan prasyarat dasar bagi pendidikan tinggi dan riset di dunia global modern; dan d) mempermudah universitas-universitas Denmark untuk ikut serta dan bersaing di dalam mencapai kondisi yang setara di pasar global pelayanan konsultasi di dalam pendidikan tersier serta kemudian mendukung tujuan kebijakan luar negeri negara Denmark.

Pada hakikatnya universitas, baik itu yang berada di negara pendonor maupun di negara penerima donor, sama-sama menjalankan peran sebagai institusi pembelajaran (learning institutions), bukan sebagai institusi yang mengajarkan (teaching institutions). Artinya, di dalam sebuah universitas setiap orang (mahasiwa, staf teknis dan pengajar) melakukan kegiatan belajar yang terus-menerus. Pendidikan universitas memiliki kemampuan untuk belajar sendiri (self-learning capacity) berdasarkan dan didukung oleh landasan ilmiah yang berkualitas baik Lulusan universitas harus mampu belajar, dan berhenti belajar untuk kemudian belajar lagi, begitu seterusnya (Brito, 2002). Capacity building untuk mengembangkan institusi pembelajaran di negara berkembang adalah tantangan tersendiri dan berat untuk dihadapi. Pendidikan tinggi tidak dapat lahir tanpa inisiatif-inisiatif kebijakan seperti sarana fisik, tatakelola yang lebih baik, perbaikan kondisi kesehatan masyarakat, pengembangan pasar uang dan perdagangan.

Kegiatan-kegiatan capacity building harus dijalankan dan dipahami sebagai sebuah usaha korporat dari semua stakeholders yang terkait. Inti dari kegiatan-kegiatan capacity building bagi pendidikan tinggi di negara berkembang tercantum di dalam tujuan yang ingin dicapai oleh universitas-universitas dari negara pendonor yang telah maju. Jenis konsultasi atau kerjasama timbal-balik merupakan cara langsung untuk menyerukan perlunya internasionalisasi dan globalisasi universitas negara Barat sekaligus cara yang langsung pula untuk mendukung dan menyempurnakan inovasi di negara-negara berkembang. Jika target ini dapat terpenuhi, maka antara pihak pendonor dan penerima donor akan saling mendapatkan keuntungan.

Referensi
Brito, L. (2002): Pidato pada UNESCO Conference on Higher Education, Oslo.
Enemark, S., Jorgensen, H. L., Muller, J., dan Meinert, M. (2004): The PBL Program - Developing Innovative Higher Education in Mozambique. Laporan Akhir dari Danish University Consultancy.
Kjerdsam, F. dan Enemark, S.: The Aalborg Experiment - Project innovation in University Education. Aalborg University Press, 1994.
Republic of Mozambique (2000): Analysis of the Current Situation of Higher Education in Mozambique.
World Bank (2000): Higher Education in Developing Countries - Peril and Promises. Diterbitkan untuk Prashington.
World Bank (2002): Proyek Appraisal Document, Higher Education Project Mozambique.

Stig Enemark
-Professor in Problem Based Learning and Land Management, Aalborg University, Denmark.
-Head of the School of Surveying and Planning.
-Director of the UICEE (UNESCO) Centre for Problem Based Learning (UCPBL).
-Consultant for Bank Dunia dan Uni Eropa, especially in Eastern Africa dan Sub Saharan Africa.

2 September 2010

Pengaruh Excellence Initiative bagi Universitas di Negara Jerman

Diterjemahkan oleh Tiyo Widodo dari jurnal yang ditulis oleh Dr. Tim H. Stuchtey, Senior Fellow in Residence, American Institute for Contemporary German Studies (AICGS)

Sekitar akhir tahun 2003, dua pemerintahan yang berpengaruh di negara Jerman saat itu, yakni red government dan green government, mengemukakan pendapat ke pada publik bahwa Jerman memerlukan sekurang-kurangnya satu “universitas elite” yang diakui oleh dunia internasional. Pendapat ini mengawali pembahasan di dalam pemerintahan federal Jerman dan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian tentang usulan yang mereka namakan Excellence Initiative. Melalui program Excellence Initiative ini, universitas-universitas unggulan Jerman berlomba untuk menjadi yang terbaik dan berhak untuk mendapatkan penghargaan atas inovasi dan inisiatif yang mereka hasilkan. Usulan tersebut disampaikan pada bulan Juni 2005. Setelah program Excellence Initiative berlangsung selama dua tahun, muncul ide untuk menganilisis dan mempertanyakan layout dari kompetisi Excellence Initiative tersebut berikut pengaruhnya bagi sistem pendidikan tinggi. Selanjutnya, para ahli juga memandang perlu untuk menguji konsekuensi yang kemungkinan akan terjadi jika Excellence Initiative dipertahankan keberadaannya.

Sasaran politis dari Excellence Initiative adalah untuk mengorbitkan sekurang-kurangnya satu universitas dari Jerman ke jajaran peringkat internasional, seperti “Times Higher Education Supplement (THES).” Hasil awal dari buah pemikiran Excellence Initiative adalah terbentuknya sebuah konsensus di negara Jerman bahwa riset papan atas, termasuk keberadaan institusi dan pendidikan, harus diperjuangkan oleh negara tersebut. Singkatnya, dengan pencantuman istilah “elite” atau “universitas elite” menjadi sesuatu yang bebas untuk diperjuangkan di dalam dinamika politik negara Jerman. Perkembangan ini adalah yang pertama kali sejak tahun 1968. Akan tetapi, kesesuaian antara harapan dan realisasi Excellence Initiative pada awal berjalannya program tersebut masih dipertanyakan.

After one and a half years of troublesome discussions, a compromise was reached between federal and state governments in June 2005 and the Excellence Initiative was started.1  The official goal was set as strengthening the sciences and research in the long-run and improving its international visibility.2 For this the federal government and the states will provide a total of 1.9 billion Euros3 over six years divided into three funding lines:

Setelah melalui perdebatan dan perundingan alot selama satu setengah tahun, akhirnya tercapailah kompromi antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian pada bulan Juni tahun 2005 dan dari situlah Excellence Initiative dimulai.[1] Para penggagas Excellence Initiative menetapkan sasaran resmi, yakni memperkuat bidang sains dan riset dalam jangka panjang dengan memperbaiki reputasi internasional.[2] Untuk mencapai cita-cita yang diidam-idamkan, maka pemerintah federal dan pemerintah negara bagian mengalokasikan dana senilai 1,9 miliar Euro dalam kurun waktu enam tahun.[3] Dana ini dialokasikan untuk tiga lini pendanaan, yakni: Graduate School, untuk mempromosikan para periset muda; Clusters of Excellence untuk mendukung riset skala internasional pada sebuah universitas, dan Institutional Strategis untuk mempromosikan riset universitas papan atas.

Graduate Schools

Pendirian graduate school khususnya penting bagi pembangunan jangka panjang sistem pendidikan tinggi negara Jerman dan usaha untuk menarik perhatian internasional.

Clusters of Excellence

DFG (Deutsche Forschungsgemeinschaft) atau German Science Foundation, mendefinisikan clusters of excellence sebagai lokasi-lokasi universitas yang dilengkapi oleh fasilitas riset dan pelatihan yang memiliki daya saing internasional. Cara untuk dapat bersaing secara internasional ialah dengan membangun jaringan dan kerjasama ilmiah antarinstitusi yang ikut serta di dalam kegiatan riset.

Clusters of Excellence harus dimasukkan ke dalam rencana pembangunan strategis universitas dan membentuk profil universitas itu sendiri pada waktunya nanti. Clusters of Excellence juga akan menyelenggarakan kegiatan belajar dan memberikan peluang karir yang menjanjikan bagi akademisi muda. Gabungan antara clusters of excellence dan graduate schools serta strategi institusional merupakan trisula maut sasaran politis yang berfungsi untuk memperkuat status Jerman sebagai pusat sains dan teknologi serta memperbaiki reputasi negara tersebut di arena internasional.[6]


Institutional Strategies to Promote Top-level University Research

Lini pendanaan institutional strategis ialah untuk mempromosikan riset universitas papan atas. Dengan lini ini, pembiayaan menjadi lebih mudah untuk keperluan strategi pengembangan universitas yang berusaha untuk menjadi pusat riset terbaik di negara Jerman.  Saat ini terdapat sembilan universitas yang telah mampu merumuskan strategi-strategi yang rapi dan meyakinkan untuk bersaing dengan universitas-universitas riset dari negara lain dalam mempertahankan reputasi tersebut dalam jangka panjang.[7]

Pengaruh jangka pendek

Tak lama setelah Excellence Initiative dicetuskan, muncul semangat yang kuat dari dalam universitas dan pemerintah negara bagian untuk membangun pendidikan tinggi. Hal ini diperkuat dengan rencana pemerintah untuk mengalokasikan dana untuk pelaksanaan program tersebut. Para ilmuwan dan pimpinan sejumlah universitas dalam dua tahun terakhir telah berusaha ekstra keras untuk mempertajam profil institusi mereka masing-masing. Mereka berusaha menjalin kerjasama di dalam maupun di luar universitas, khususnya dengan institusi-institusi riset non-universitas, untuk menggabungkan kekuatan dan kepentingan terhadap usulan diadakannya graduate schools dan clusters of excellence. Bahkan pada lini pendanaan ketiga ini banyak usulan tentang bagaimana membongkar penghalang yang selama ini memisahkan riset universitas dari riset non-universitas.

Long-term External Effects of the Excellence Initiative

Pengaruh dari semakin kuatnya pendanaan riset dan pengembangan universitas yang membuahkan pusat-pusat riset terbaik, daya saing internasional sejumlah universitas Jerman menjadi semakin kuat.  Salah satu hasil positif dari Excellence Initiative ini ialah keberhasilan Ludwig-Maximilians-Universitaet, salah satu universitas terbesar Jerman yang berada di kota Munich, yang memiliki anggaran tahunan senilai 380 juta Euro (2004), akan mendapatkan tambahan dana senilai 38 juta Euro per tahun selama lima tahun ke depan. [8]

1 General Information on the Excellence Initiative can be found on the web pages of the Deutsche Forschungsgemeinschaft (DFG): http://www.dfg.de/en/index.html.
2http://www.dfg.de/en/research_funding/coordinated_programmes/excellence_initiative/index.htm
3 The federal government comes up with 75 percent and the states with 25percent of the amount.
4 The DFG (German Science Foundation) is somewhat the equivalent to the U.S. National Science Foundation.
5 The Science Council is an advisory body to the Federal Government and the state
governments.
6 http://www.dfg.de/en/research_funding/coordinated_programmes/excellence_initiative/graduate_schools/index.html.
7 Originally it was planned to support up to ten universities’ institutional strategies but the peers were convinced only by the proposals of the two universities in Munich and the one in Karlsruhe in the first round and of the universities of Aachen, Heidelberg, Freiburg, Konstanz, Göttingen and the Freie Universität Berlin in the second.
8 Annual budget without the Medical School.

League of European Research Universities (LERU)

League European Research Universities (LERU) adalah sebuah asosiasi perguruan riset yang memiliki kualitas riset terbaik di kawasan Eropa. LERU berdiri pada tahun 2002 dan memiliki misi membantu dan menyelenggarakan pendidikan untuk meningkatkan pemahaman tentang penelitian berskala internasional, menciptakan pengetahuan baru melalui riset yang mendasar, dan mendorong inovasi yang berguna bagi masyarakat. LERU juga mempromosikan riset melalui jalinan kerjasama dengan berbagai pihak termasuk dunia industri dan bidang kehidupan lain.Tujuan umum yang hendak dicapai oleh League Europe Research Universities ialah untuk membantu mengembangkan "best practices" melalui pertukaran pengalaman.

Saat ini LERU memiliki anggota berjumlah 22 universitas riset terkemuka di Eropa, sebagai berikut:
1. Universiteit van Amsterdam (Belanda)
2. Universitat de Barcelona (Spanyol)
3. University of Cambridge (Inggris)
4. University of Edinburgh (Skotlandia)
5. Albert-Ludwigs-Universitaet Freiburg (Jerman)
6. Universite de Geneve (Swiss)
7. Ruprecht-Karls-Universitaet Heidelberg (Jerman)
8. Helsingin yliopisto/University of Helsinki (Finlandia)
9. Universiteit Leiden (Belanda)
10.Katholieke Universiteit Leuven (Belgia)
11.Imperial College London (Inggris)
12.University College London (Inggris)
13.Lunds Universiteit (Swedia)
14.Universita degli Studi di Milano (Italia)
15.Ludwig-Maximilans-Universitaet Muenchen (Jerman)
16.University of Oxford (Inggris)
17.Universite Pierre et Marie Curie (Prancis)
18.Univesite Paris-Sud 11 (Prancis)
19.Karolinska Institutet (Swedia)e
20.Universite de Strasbourg (Prancis)
21.Universiteit Utrecht (Belanda)
22.Universitaet Zuerich (Swiss)

1 September 2010

Teknologi pengecek tugas mahasiswa untuk mencegah plagiarisme

Baru-baru ini Cina berhasil mengembangkan sebuah sistem pengecek tugas akhir mahasiswa yang bertujuan untuk mencegah terjadinya plagiarisme karya ilmiah. Sistem ini dikembangkan oleh perusahaan komputer terbesar kedua negara tersebut, Tsinghua Tongfang.

Sistem yang diberi nama the Paper Misconduct Literature Check System (PMLC) tersebut mampu mengecek dan mengoreksi makalah, tugas kuliah, laporan eksperimen dan pengamatan seorang mahasiswa untuk mencari kesamaan atau kemiripannya dengan hasil pekerjaan mahasiswa lain. Demikian dijelaskan oleh Sun Xiongyong, salah seorang pakar pada perusahaan Tsinghua Tonfang.

Selain berfungsi untuk mengecek hasil tulisan, PMLC memiliki "credit database" yang mampu mencatat sejauh mana tingkat plagiarisme yang dilakukan oleh seorang mahasiswa. Sistem ini juga dilengkapi dengan arsip makalah mahasiswa sehingga tidak dapat diakses atau disalin oleh mahasiswa lain atau disalurkan satu sama lain.

Inovasi PMLC ini menjawab tuntutan dari banyak universitas yang merasa khawatir terhadap semakin gencarnya aksi plagiarisme di kalangan mahasiswa mereka. Seperti hasil survei yang dilakukan oleh East China Normal University tentang perilaku online mahasiswa, bahwa terdapat 57% responden survei yang mengaku pernah melakukan plagiarisme di dalam menyusun karya ilmiah atau laporan penelitian mereka. Sejauh ini, terdapat 88 universitas Cina yang menandatangani kontrak kerjasama dengan Tsinghua Tongfang untuk menerapkan sistem PMLC pada kampus mereka.

Sumber:
english.news.cn, editor Zhang Xiang, 19 Agustus 2010.
Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.