Pages

13 February 2010

Muslim Minority in Greece

Greeks have an unusual relationship to 'their' Muslim minority. One feature of this relationship is that they do not easily accept criticisms from non-Greeks (let alone Turks!) regarding this issue. On the other hand, Greeks themselves are free to criticize their government for making 'mistakes' in this field. The Greek public (or, let say, public opinion as reflected in the media) is also highly intolerant of criticism from members of the minority. Critical statements are usually branded 'provocations' in the media. And the individuals making the criticism are immediately branded as agents of Turkey. A further feature which is regrettable in a highly democratic Greek society is the absence of any form of public dialogue between Christians and Muslims. It is a common feature to watch TV debates on the problems of Thrace - recoderd in an Athens studio - with politicians from Athens and not a single Muslim voice.

Before the compulsory Exchange of Populations in the 1920s the Muslims were a clear majority in Western Thrace. This numerical predominance has been changed by the systematic policy of Greek governments in settling Christian refugees from Turkey in these areas. It is recorded that in this process of resettlement great areas of land occupied by Muslims were squatted upon by the Greek newcomers from Anatolia and Eastern Thrace. This land question was a significant issue in Greek-Turkish relations at the time. In the course of the population exchange and the settlement of Greek refugees in the area a significant number of Muslims from Western Thrace left their homes and properties volutarily. That this emigration did not reach dimensions dangerous to the existence of the minority is due mainly to the religious conservatism of the Thracian Muslims who where clearly at odds with what was happening politically and socially in post-Ottoman Turkey.

This religious conservatism was supported by the presence of anti-Kemalist-forcest, who had found refuge in Western Thrace after 1923. The most prominent among them was the last Mufti of Constatinople (the Sey-ul-Islam), the highest spiritual leader in the Ottoman Empire and an outspoken enemy of the Kemalist reforms. It was only in the 1930s that the Greek government bowed to Turkish pressure and expelled the Muslim religious leaders from Western Thrace. This move was major significance for the further development of the minority.

One of the major complaints of the minority concerns the shrinking of land ownership. Several sources reveal efforts by the Greek authorities aiming at reducing the amount of Muslim-owned land. A veriety of methods are said to have been applied to reach this goal as of the mid-1960s. Firstly it is reported that the purchase of land by members of the minority was made difficult - or practically prohibited. On the other hand, Christians are said to have been encouraged (with long-term loans) to purchase land from Muslim farmers. Another complaint heard again and again in this regard pertains to petty discrimination in many spheres of every day life. According to these reports, which in recent years have also been publicized widely in international Human Rights reports, members of the minority were only rarely granted permission to build houses or to repair existing ones. Another point of complaint pertains to discriminatory practices as regards the issuing of driving licenses, especially for tractors.

Source:
Muslims: Turks, Pomaks and Gypsies (Ronald Meinardus, in Minorities in Greece: aspects of a plural society (Richard Clogg, 2002)

7 February 2010

Eastern Slavonia

Eastern Slavonia is an 850 square mile piece of land that lies on Croatia's eastern border with Serbia. The area has considerable light industry, rich agricultural land, and is the largest oil producing region in the former Yugoslavia (it produced up to 5,200 barrels of oil a day during the 1980s). Before the outbreak of hostilities in 1991, the region contained about 150,000 ethnic Croats, Hungarians, Muslims, and 68,000 Serbs.


In 1991, Eastern Slavonia was the site of heavy Croat-Serb fighting. Serb paramilitaries, backed by Serb-dominated Yugoslav Army (JNA), fought hastily-assembled Croatian forces for control of the area. The capital of Eastern Slavonia, Vukovar, was shelled by the Yugoslav Army during a four month siege and reduced to rubble. Croatian Serb forces eventually took control of Eastern Slavonia and thousands of Croats fled the region to refugee camps inside Croatia or abroad. The international war crimes tribunal in Den Haag has issued indictments against, so far, three JNA officers who are accused of killing more than 200 Croatian prisoners outside of Vukovar.

During 1995, Croatian forces went on the offensive and recaptured all Serb-held territory except for Eastern Slavonia. The 12 November 1995 Basic Agreement on the Region of Eastern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (also called the Erdut Agreement after the town in which it was signed) provides for the peaceful integration of that region into Croatia. The Agreement requested the Security Council to establish a transitional administration to govern the region; to authorize an international force to maintain peace and security during that period; and to otherwise assist the implementation of the Agreement. Thus, the UN Transitional Administration for Eatern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (UNTAES) was created. UNTAE was set up on 15 January 1996 (UN Security Council Resolution 1037) for an initial period of 12 months, with both military and civilian compnents.

Reference: 
Peaceful Stabilization Force (SFOR). 1997. Bosnia Country Handbook. DIANE Publishing.

Analisis Manajemen Proyek

Definisi

Analisis manajemen proyek adalah sebuah kajian tentang suatu usulan proyek sebelum proyek tersebut berjalan. Wewenang dari analisis ini biasanya berada di tangan manajer proyek.

Dari definisi yang dikemukakan pada paragraf pertama tersebut, maka kita dapat kemukakan di sini bahwa analisis manajemen proyek menjadi unsur yang vital yang harus dilakukan oleh para pelaku proyek, serta pihak-pihak yang terlibat dalam proyek dimaksud, dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan, validitas, logika, keamanan, dan keberhasilan proyek yang sedang diperjuangkan. Analisis manajemen proyek melibatkan banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Singkatnya, semua elemen yang sekiranya terlibat di dalam proyek, harus dimasukkan ke dalam pertimbangan dan memerlukan kajian satu per satu secara cermat.

Fungsi

Analisis manajemen proyek berfungsi untuk: (1) menganalisis aspek-aspek yang akan mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan suatu proyek yang diusulkan; (2) mengevaluasi penyebab kegagalan atau keberhasilan suatu proyek.
Di dalam melakukan analisis manajemen proyek kita harus mengetahui lima unsur pokok yang terkandung di dalamnya, yakni: analisis stakeholder, analisis gender, logical framework, cost benefit analysis, dan manajemen dalam konteks yang dinamis. Apakah maksud dari kelima unsur pendukung analisis manajemen proyek tersebut?

Analisis stakeholder

Stakeholder adalah setiap pihak yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan proyek yang sedang dijalankan. Stakeholder meliputi pihak-pihak yang terlibat di dalam sebuah proyek. Sebagai contoh, dalam sebuah proyek relokasi pasar, kita akan menemui sekelompok stakeholder yang terdiri atas Dinas Pasar, pemborong, penjual atau pedagang, dan pembeli. Dalam sebuah proyek pendidikan di sekolah kita akan memerlukan stakeholder Dinas Pendidikan, orang tua/wali, murid, guru, dan pihak-pihak lain yang terkait dengan proyek pendidikan tersebut.

Analisis gender

Analisis gender di sini tidak diartikan sebagai analisis jenis kelamin dari segi biologis saja, melainkan lebih lengkap lagi: dari status sosial. Definisi dari analisis gender ini ialah analisis untuk memastikan bahwa proyek yang sedang dijalankan atau diusulkan dapat melibatkan pelaku berjenis kelamin laki-laki dan perempuan dalam proporsi yang seimbang atau setara. Kesetaraan peran gender di sini dapat kita amati dari frekuensi partisipasi kedua belah pihak yang seimbang, tentu saja sesuai dengan proporsi, kemampuan, dan fungsi masing-masing gender

Logical framework

Logical framework adalah unsur analisis manajemen proyek yang memuat tujuan untuk mengetahui tingkat validitas proyek dalam tataran logika. Sebelum mengajukan proyek, terlebih dahulu kita harus mengkaji secara mendalam bahwa proyek yang dirancang tersebut dapat diterima dengan mudah dan baik oleh akal. Dengan kata lain, proyek tersebut masuk akal untuk dijalankan.

Cost benefit analysis

Cost benefit analysis adalah sebuah instrumen yang berguna untuk menghitung dan memperbandingkan biaya yang dikeluarkan dengan keuntungan yang kelak diperoleh. Tujuannya ialah untuk memastikan bahwa sebuah proyek layak untuk diperjuangkan atau ditangguhkan. Hal ini sangat penting karena pada hakikatnya sebuah proyek itu diadakan sedemikian rupa sehingga pihak yang menyusun proposal proyek tersebut tidak mengalami kerugian kelak di kemudian hari.

Manajemen dalam konteks yang dinamis

Dalam era modern sekarang ini, penyelenggaraan sebuah proyek perlu dikaitkan dengan dampaknya bagi pihak-pihak yang terkait dengan proyek tersebut dalam sudut pandang ekonomi, sosial, dan politik. Keterkaitan tiga hal pokok yang menjadi warna kehidupan sehari-hari masyarakat ini sangat jelas terlihat.

6 February 2010

Sepakbola Afrika Bukan Lagi Kuda Hitam

Dari satu ke lain Piala Dunia banyak pengamat menilai sepakbola Afrika dipenuhi tim-tim kejutan; sepakbola selalu melahirkan tim kuda hitam. Jarang orang yang memandang bahwa mereka lebih dari itu. Padahal, jika kita menyimak perjalanan para wakil zona CAF, prestasinya memuaskan dan konsisten. Paling tidak sejak Piala Dunia 1986 di Meksiko, wakil Afrika membuktikan diri mampu lolos ke babak 16 besar. Empat tahun sebelum edisi Meksiko, pada tahun 1982 Aljazair telah memelopori tradisi kemenangan tim-tim Afrika dengan menaklukkan salah satu tim unggulan, Jerman Barat. Mereka hampir saja lolos ke fase berikutnya. Maroko pada Piala Dunia 1986 berbicara lebih banyak dengan membuka tradisi baru: Afrika selalu menempatkan tim ke babak 16 besar. Tradisi ini selanjutnya dipelihara dengan baik secara berturut-turut oleh Kamerun, Nigeria, Senegal, dan Ghana dalam empat Piala Dunia terakhir.

Fakta di atas menunjukkan bahwa sepakbola Afrika telah mencapai konsistensi. Hasil yang dicapai dalam lima Piala Dunia terakhir membuktikan bahwa Afrika bukan lagi kekuatan minoritas yang sekedar mengejutkan sepakbola Dunia. Maka dari itu, kawasan ini tidak tepat lagi dijuluki sebagai kuda hitam. Afrika telah mencapai tingkat perkembangan sepakbola yang luar biasa. Benua ini mengalami kemajuan yang lebih merata dibandingkan Asia, Oceania, Amerika Utara, bahkan Amerika Selatan. Jika kekuatan sepakbola Amerika Masih didominasi oleh Meksiko dan Amerika Serikat, Amerika Selatan oleh Brasil dan Argentina, dan Asia/Oseania masih seputar Korea Selatan, Arab Saudi (yang tidak lolos dalam turnamen tahun ini), Jepang, dan Australia, maka Afrika mengalami perkembangan yang lebih baik. Mereka mewakilkan Negara yang berbeda. Pada tiap Piala Dunia, muncul tim baru. Diam-diam persaingan di Zona CAF lebih ketat dibandingkan zona Concacaf, AFC, OFC, dan Conmebol.

Dari raihan prestasi selama dua dekade terakhir Afrika layak kita tempatkan sebagai salah satu unggulan, sejajar dengan Amerika Selatan dan Eropa. Sudah saatnya kita mengubah pandangan tentang sepakbola Afrika.

Lain daripada itu, benua ini sebenarnya menyumbang sumber daya bermutu tinggi bagi liga-liga Eropa sebagai kawasan paling maju industri sepakbola dunia. Liga-liga papan atas tidak terlepas dari kontribusi para bintang Afrika sejak zaman Rabah Madjer hingga Samuel Eto’o. Lebih jauh lagi, jika dirunut sampai ke akar sejarahnya, Afrika telah ikut mewarnai perkembangan sepakbola dunia. Ademir, Leonidas, Jairzinho, Pele, Eusebio, Fontaine sampai dengan Zidane, memiliki darah Afrika. Mereka semua adalah orang hebat dan menjadi ikon sepakbola dunia.

Penilaian tentang sepakbola Afrika selama ini tampaknya dihubungkan dengan kedudukan social-politik bangsa Afrika. Julukan sebagai kuda hitam atau tim kejutan semata berasal dari sudut pandang tim-tim yang telah memiliki tradisi bagus di Piala Dunia, atau kita kenal dengan sebutan the Big Boys. Oleh karena itu, sebutan kuda hitam memiliki cakupan yang sangat sempit. Ketika Aljazair mengalahkan Jerman Barat pada Piala Dunia 1982, orang boleh menganggapnya sebagai kejutan. Akan tetapi, jika kemudian wakil-wakil lain dari Afrika secara konstan lolos dari penyisihan grup, maka kita tidak dapat lagi memandang mereka dengan sebelah mata.

Kita harapkan bahwa kepercayaan FIFA menunjuk CAF dan Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010 bukan sekedar untuk memeratakan jatah tuan rumah berdasarkan letak geografis, akan tetapi sebagai bukti pengakuan dunia bahwa Afrika adalah salah satu kekuatan utama sepakbola dunia.

Gangguan Renal Akut

Acute Renal Failure (ARF) ditandai dengan penurunan secara mendadak kadar filtrasi glomerular (GRF) dan alternasi kemampuan ginjal untuk mengeluarkan racun harian (Bagan 39-2). Kejadian ARF dapat berhubungan dengan penurunan produksi urin (oliguria, dengan produksi kurang dari 500 ml dalam waktu 24 jam), ataupun dengan aliran urin yang normal. Gangguan ini biasanya menyerang ginjal yang sebelumnya sehat/tidak terkena gangguan apapun. Durasinya berbeda-beda dari beberapa hari hingga beberapa pekan. Penyebab ARF sangat bermacam-macam, dan sering ada beberapa yang terjadi secara bergantian (Boks 39-1). Secara garis besar, penyebab terjadinya ARF dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (1) kurangnya perfusi renal (prerenal), (2) penyakit yang terjadi pada parenkima renal (intrinsic), dan (3) obstruksi (postrenal). Biasanya, jika dilakukan pemeriksaan dengan diagnosis yang cermat saat terjadi prerenal dan obstruksi, ARF tidak akan berumur panjang dan tidak memerlukan intervensi nutrisi khusus.

ARF intrinsik dapat disebabkan oleh asupan obat-obatan yang mengandung racun, alergi sebagai reaksi terhadap obat-obatan, glomerunefritis yang sangat progresif, atau terlalu lamanya episode iskemia yang menyebabkan nekrosis tubular akut iskemik. Dari kesemua penyebab ini, pasien merasakan kesakitan karena adanya komplikasi infeksi yang berlebihan, trauma berat, kecelakaan saat dioperasi, atau shock karediogenik.
Penanganan klinis berikut hasilnya sangat bergantung pada penyebabnya. Pasien penderita ARF yang disebabkan oleh konsumsi obat yang mengandung racun biasanya akan benar-benar pulih sehat setelah berhenti mengkonsumsi obat dimaksud. Sementara itu, angka kematian pasien penderita nekrosis tubular akut iskemik yang disebabkan oleh shock mencapai sekitar 70%. Pada umumnya, pasien tersebut sangat katabolik, serta menderita kerusakan jaringan ekstensif pada tahap-tahap awal timbulnya penyakit. Untuk mengurangi terjadinya nekrosis, diperlukan hemodialisis. Hemodialisis ini berguna untuk mengurangi asidosis, memperbaiki uremia, dan mengontrol hiperkalemia.

Jika gejala pemulihan telah ditemukan, maka pemulihan ini akan memakan waktu 2-3 pekan. Tahap pemulihan (diuretik) pertama-tama ditandai oleh kenaikan output urin dan selanjutnya oleh kembalinya eliminasi racun dalam tubuh. Selama periode ini, dialisis masih diperlukan dan perhatian yang cermat harus diberikan terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit.

4 February 2010

Ranomi Kromowidjojo

 Photo by: www.regiosportaktueel.nl
 
Ranomi Kromowidjojo adalah olahragawati cabang renang dari Negeri Belanda. Ia lahir di Groningen 20 Agustus 1990, dikenal sebagai spesialis gaya bebas meskipun sering pula terjun dalam gaya punggung dan kupu-kupu. Ranomi adalah juara Olimpiade 2008 nomor estafet 4 x 100m gaya bebas.

Mulai karir senior pada usia 15 tahun dalam Kejuaraan Eropa 2006 di Budapest, Hungaria. Dalam debutnya itu, Ranomi langsung meraih medali Perak 4 x 100m gaya bebas.

Photo by: img05.beijing2008.cn

Berikut ringkasan raihan medali internasionalnya.

Medali Emas:
Olimpiade 2008 Beijing,
Kejuaraan Eropa 2008 Eindhoven,
Kejuaraan Eropa 2008 Rijeka,
Kejuaraan Dunia 2009 Roma,
Kejuaraan Eropa 2009 Istanbul.

Medali Perak:
Kejuaraan Eropa 2006 Budapest,
Kejuaraan Eropa 2009 Istanbul.
Medali Perunggu:
Kejuaraan Dunia 2007 Melbourne,
Kejuaraan Eropa 2008 Rijeka.

Well done, Ranomi, ... :)

1 February 2010

Masjid di Jerman

Masjid Ahmadiyya, Berlin (1924)
Masjid Fazle Omar, Hamburg (1957)
Masjid Nuur-ud-Din, Hesse (2003)
Masjid Salimya, Niedersachsen (2008)
Masjid Mevlana, Baden Wuerttemberg
Masjid Fatih, Bremen (1999)

Masjid Gazi Husrev-beg, Sarajevo



Masjid besar Gazi Husrev-beg terletak di jantung kota tua Bascarsija, yang merupakan bagian wilayah ibukota negara tersebut, Sarajevo. Masjid ini merupakan bangunan terpenting dan bersejarah bagi umat Islam di Bosnia. Gazi Husref-beg dibangun oleh seorang arsitek berkebangsaan Persia pada tahun 1531. Arsitekturnya lekat dengan gaya Istanbul, Turki.

Semakin menguatnya pengaruh Islam pada abad XVI membuat Dinasti Usman (Ottoman) tergerak untuk membangun banyak monumen Islam di Bosnia. Selain masjid, dinasti ini juga membangun sejumlah jembatan. Nama masjid ini adalah juga nama Gubernur Bosnia. Arsitek yang membangun masjid ini juga membangun Masjid Selimiye di Edirne (atas perintah Sultan Selim I). Masjid Gazi Huzrev-beg direkonstruksi pada tahun 1996 setelah mengalami kerusakan akibat perang saudara.

Masjid Gazi Husrev-beg memiliki menara minaret setinggi 45 meter dan kubah setinggi 19 meter. Masjid ini memiliki bagian-bagian seperti abdesthana (tempat wudhu), sadrvan (air mancur), mekteb (sekolah dasar), dan muvekithana (rumah muadzin). Halaman sebelah kiri masjid terdapat dua buah makam besar peninggalan abad XVI yang disebut turbe.

Sumber: kawan-kawan Facebook dari Bosnia dan Herzegovina
Sumber poto: www.esiweb.org

Seven Wonders of Ukraine



 







Terima kasih kepada BelajarInggris.Net atas kepercayaannya memilih tulisan saya menjadi salah satu pemenang dalam Lomba Blog 2010.